
Mamoru POV
Ternyata dia yang telah membatu ku untuk lepas dari para musuh, tak kukira dia sehebat itu. Tapi entah mengapa setiap melihat dia dengan jurus-jurusnya, semua itu mengingatkan ku akan wanita yang telah menyelamatkan ku dulu.
"Ada yang Anda pikirkan Tuan Mamoru?" tanya seorang wanita dia adalah kak Santi, wanita yang mengurus rumah singgah ini.
"Tidak ada apa-apa Kak! Oia bisakah kau memanggilku Mamoru saja tanpa embel-embel sebutan Tuan! Dan aku memanggil mu sama seperti Alexa memanggil mu?"
Dia tersenyum mendengar perkataan ku dan menjawab, "tentu saja boleh, kau boleh memanggilku Kaka sama seperti Lexa manggil ku! Dan aku pun akan memanggilmu Mamoru."
Aku senang dengan sikap ramahnya, dia terlihat sekali aura keibuannya. Pantas saja dia mau mengurus rumah singgah ini, saatataku menyapu sekeliling ruangan. Aku terkejut sekali melihat sebuah foto, dimana di dalam foto tersebut ada wajah wanita yang ku kenal. Ku melangkah mendekati foto itu, ternyata benar dia adalah wanita yang sama yang telah menyelamatkan ku.
Plak!
Kak Santi menepuk pundak ku dengan lembut dan bertanya, "apakah kau menganalisis wanita yang ada di dalam foto tersebut?" Aku menganggukkan kepala, dengan arti iya.
"Aku mengenali dia, tapi aku tidak mengenal namanya! Dia yang telah menyelamatkan ku dari kematian!" ucapku pada kak Santi.
Kak Santi pun menceritakan semuanya, ternyata wanita ini adalah nyonya Rosalina (Alin) dia adalah bunda dari Alexa dan Alexi. Aku terkejut setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah bundanya Alexa. Itu kenapa sebabnya aku merasakan ada sesuatu yang membuatku nyaman padanya.
Kak Santi berkata, bahwa nyonya Alin adalah wanita yang sangat baik. Namun banyak musuh yang selalu mengganggunya hingga akhir hayatnya. Aku pun terkejut untuk kedua kalinya, bahwa nyonya Alin telah tiada. Seketika kaki ku terasa lemas dan aku memutuskan untuk duduk.
"Begitu beartikah Nyonya Alin di mata mu Mamoru?" tanya kak Santi padaku.
"Iya! Aku mencarinya bertahun-tahun, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Tapi tak kusangka dia sudah tiada dan lagi ternyata Alexa adalah putri dari wanita yang menolongku!" jawabku pada kak Santi.
Kak Santi pun bercerita, mungkin ini sudah takdir aku bertemu dengan Alexa. Mungkin tujuannya adalah agar aku bisa membalas semuanya dengan melindungi Alexa. Dan aku mulai mengetahui sedikit demi sedikit masalah yang di hadapi Alexa. Dia mengalami trauma yang sangat menyakitkan, dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang dengan kak Santi, akupun melihat ke luar di sana ada Alexa dan anak-anak sedang asik bermain. Sungguh pemandangan yang begitu cantik. Dia benar-benar putri dari wanita itu, kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Padahal aku sudah merasakan akan hal itu sejak pertama kali bertemu dengannya.
Mungkin ini memang takdir ku, seperti apa yang di katakan kak Santi. Bahwa aku harus melindunginya dari semua musuh-musuhnya. Jika harus mengorbankan nyawa demi mu Lexa, aku rela karena nyawa ini adalah pemberian dari bunda mu.
Kulihat Lexa duduk di sebuah kursi putih, mungkin dia lelah tapi dia tak henti memandangi anak-anak yang bermain. Sepertinya anak-anak tidak lelah sama sekali padahal mereka sangat aktif.
"Temani dia dan ajaklah dia berbicara!" ucap kak Santi padaku, aku pun mengiyakan.
Kumelangkah keluar dan mendekati Lexa, aku pun duduk disampingnya. Dia tidak menyadari kehadiranku, apa yang sedang kau lamunkan? Apakah kau merindukannya? Pasti sangat sakit dan sedih kehilangan orang yang kau cintai? Rasanya ingin ku tarik semua kesedihan mu dan biarkan aku saja yang merasakan kesedihannya.
Lexa menyadari keberadaan ku, dia berkata "rupanya kau masih di sini? Aku pikir kau sudah pergi dengan pengawal mu?"
"Aku belum ingin pergi dari sini, biarkan mereka menunggu ku sejenak! Ada apa dengan mu? Kau terlihat sedih?" Aku berkata ingin tahu apa yang menjadi jawabannya.
Dia hanya diam sambil memperhatikan anak-anak bermain, terkadang muncul senyum tipis dari bibirnya yang merah merona. Aku hanya bisa memandangi wajah gadis ini, yang dimatanya penuh dengan kesedihan.
Aku menarik tangan Alexa dan mengajaknya bermain bersama anak-anak, aku tidak ingin melihatnya bersedih. Meski aku tidak bisa membalas kebaikan nyonya Alin, tapi aku bisa melindungi putrinya meski aku harus mengorbankan nyawa ku. Lexa terkejut karena aku menarik tangannya, tapi dia bisa bersikap sewajarnya dan kembali bermain bersama anak-anak.
Di hotel aku memikirkan semua yang baru saja terjadi. Apakah ini takdir ku yang selalu bertemu dengan Alexa. Kalau dilihat secara seksama dia memang mirip dengan nyonya Alin, wanita yang menyelamatkan ku dari penculikan di Jepang. Usiaku dulu baru 12 tahun, aku sangat ketakutan saat itu.
Flash Back on
Entah dari mana wanita itu datang, dia menghajar satu persatu penjahat. Mereka terus saja saling menyerang, aku masih saja menangis. Wanita itu mendekati ku dia tersenyum dan berkata, "tenanglah, aku akan membawamu ke ayah dan bunda! Dan kau adalah anak laki-laki tidak boleh lemah!"
Setelah mendengar perkataan wanita itu aku berhenti menangis, aku berusaha kuat. Karena dia pun begitu kuat menghadapi para penjahat. Meski tangannya terluka dia tetap melawan mereka, ada seorang penjahat yang akan memukulnya dari belakang. Aku tidak rela jika wanita baik itu terluka.
Buggg!
__ADS_1
Brugggg!
Aku mengambil kayu balok di sampingku dan ku pukul penjahat itu, seketika penjahat itu jatuh. Aku langsung menjatuhkan kayu balok yang sudah berlumur darah penjahat. Dan mundur beberapa langkah kebelakang, aku takut dengan darah segar yang mengalir banyak.
Aaaaaaaaa!
Aku berteriak sekeras mungkin dan menutup mataku, aku tak tahan melihat darah segar yang mengalir dari tubuh seseorang. Itu mengingatkan ku akan peristiwa yang membuatku trauma akan darah. Aku memanggil "Ayah!! Ayah!!" Tapi tidak ada yang mendengarkan ku, aku masih menangis dan terus mengingat tragedi itu.
Beberapa saat kemudian ada seseorang yang memeluk ku, dia memeluk dengan erat. Terasa hangat pelukannya, ku buka mataku dan aku ingin melihat siap yang memelukku. Ternyata dia wanita yang bertarung melawan para penculik. Dia tersenyum lembut padaku dan terus memelukku. Aku merasa nyaman dengan pelukannya, dia tidak berkata apa-apa hanya senyuman dan pelukan hangat yang dia berikan.
"Seorang pria tidak boleh takut akan hal seperti itu, aku pun memiliki putra dan putri mungkin kalian seumuran. Jika kita bertemu lagi, aku harap kalian bisa berteman! Pasti kalian akan saling menyukai, hilangkan rasa takut mu terhadap darah! Karena kau harus melindungi orang-orang yang kau sayangi! Jangan biarkan kelemahan mu menjadi senjata bagi musuhmu! Semoga kita bisa bertemu kembali!"
Beberapa saat kemudian datanglah polisi dan Ayah yang sudah menunggu ku. Aku langsung memeluk ayah, saat aku hendak menanyakan siapa nama wanita yang menyelamatkan ku. Ternyata dia sudah pergi tanpa meninggalkan informasi tentangnya. Setelah kembali ke rumah aku meminta ayah untuk membawa seorang psikiater, aku ingin menyembuhkan traumatis ku terhadap darah.
Setelah mendengar perkataan ku ayah langsung menyuruh seorang psikiater untuk memeriksa ku dan menyembuhkan ku. Aku berjanji pada diriku, jika bertemu kembali dengan wanita itu aku akan mengucapkan terimakasih. Tapi selama bertahun-tahun aku tak berhasil menemukannya.
Flash back off
Ternyata kau adalah wanita itu nyonya Alin, dan sekarang kau sudah tiada. Aku berjanji padamu aku akan melindungi putri tercinta mu dan aku akan membantu Alexa untuk mencapai misinya. Mencari dan membalaskan dendam atas kematian mu! Itu adalah janjiku, meski aku akan kehilangan nyawaku.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab selanjutnya 😉
Jangan lupa kasi author semangat ya biar makin semangat melanjutkan ceritanya 😙
Dan jangan lupa like, komen dan love nya ya 😉
__ADS_1
Author sayang kalian 😘😘
jangan lupa vote ya biar berada di barisan teratas 😘😘