
Lexi POV
Sebenarnya aku juga tidak ingin ayah kembali ke Indonesia, namun aku tidak bisa dengan egois tidak menyetujui keputusannya. Aku tahu ayah sangat menyayangi bunda, sehingga sampai detik ini pun ayah masih merindukannya.
Aku juga tidak tahu apakah aku akan bertahan lama di Jepang atau kembali ke Indonesia. Aku lihat Lexi sudah menikah dengan pria yang bisa melindunginya. Itu terlihat jelas dia sangat berbeda dengan Mamoru, aku harap Mamoru tidak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri atau Lexa.
Ponselku berdering, ku ambil ponsel di atas nakas lalu mengangkatnya. Yang menghubungiku adalah Himawari, dia memintaku untuk bertemu. Aku bertanya padanya apakah dia ada masalah atau tidak, karena aku mendengar suaranya sangat berbeda. Lebih baik aku bergegas menemuinya.
"Mau kemana kamu?!" Ayah bertanya padaku.
"Aku ada urusan sebentar, sebelum makan malam aku sudah kembali." Jawabku pada ayah sembari mencium punggung telapak tangannya.
"Ok, hati-hati!" Ayah berkata singkat lalu tersenyum.
Aku melangkah ke luar rumah lalu memasuki mobilku, kunyalakan mesin mobil dengan perlahan berjalan keluar dari halaman rumah. Setelah itu kutambah kecepatan mobilnya, dalam perjalanan menuju tempat yang di tentukan Himawari aku merasa ada yang aneh dengannya.
Dan lagi kenapa dia memintaku menemuinya di sebuah area pemakaman. Tibalah aku di lokasi yang dikatakan oleh Himawari, aku berjalan menelusuri setiap jalanan yang di kanan dan kiri sudah berjejer makam-makam.
Ku memendarkan kedua mataku untuk menyapu semua lokasi di sini guna mencari keberadaan Himawari. Ku ambil ponsel lalu menghubunginya, karena sudah lima belas menit aku mencarinya namun tidak berhasil.
Tidak membutuhkan waktu yang lama setelah aku menghubunginya, kulihat dia sedang duduk di sebuah makam. Ku melangkah untuk mendekatinya, aku melihat dia hanya terdiam. Aku tidak berkata apa-apa, lalu aku duduk di sampingnya.
"Ayo kita pergi dari sini!" Himawari berkata sembari berdiri setelah itu dia berjalan meninggalkan pemakaman.
Aku mengikutinya dari belakang, ku percepat langkahku sehingga sejajar dengannya. Wajahnya terlihat sedih, sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya.
"Dimana kau parkiran mobilmu?" Dia bertanya dengan nada dingin.
Aku berjalan mendahului Himawari menuju mobilku seingga dia bisa mengikutiku dari belakang. Setelah memasuki mobil, samar-samar aku mendengar isakan tangis. Semakin lama isakan tangis itu semakin jelas, aku melihat ke arah Himawari rupanya dia yang sedang menangis.
"Ada apa denganmu?" tanyaku padanya karena aku sungguh tidak tahu apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Dia tidak menjawab pertanyaaku, akan aku tunggu hingga dia sudah bisa tenang. Kunyalakan mesin mobil lalu berjalan perlahan untuk keluar dari kawasan pemakaman. Kujalankan mobil secara perlahan sembari berpikir kemana tujuanku agar bisa bicara dengannya.
Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah taman agar kami bisa bicara dengan santai di sana. Akhirnya aku menemukan sebuah taman yang tidak dikunjungi banyak orang.
"Ayo kita turun dan bicara sembari berjalan di taman!" ucapku padanya, kulihat dia sudah tidak menangis lagi.
Dia mengangguk lalu keluar dari mobil, aku pun keluar dari mobil. Aku berjalan perlahan guna menyeimbangkan kangkung dan langkahnya. Aku tidak akan banyak bertanya padanya, akan aku tunggu hingga dia mau menceritakan apa yang terjadi padanya.
Kami berjalan menelusuri taman, kulihat dia sangat menikmati pemandangan. Dia masih terlihat sendu, ingin rasanya aku langsung memeluknya. Namun aku urungkan niatku itu, entah apa yang menghalangiku untuk melakukan semua itu.
Himawari berjalan mendekati sebuah kursi putih yang bertengger di pinggir taman, di bawah pohon yang rindang sehingga terasa teduh meski terik matahari begitu kuatnya. Dia duduk di atas kursi tersebut, aku pun ikut duduk dengannya.
"Aku pikir ibuku sudah tiada, tetapi aku salah. Rupanya dia masih hidup!" Himawari berkata padaku dengan lirih.
Aku sedikit terkejut mendengar apa yang dia katakan, karena yang aku tahu bahwa dia sudah tidak memiliki orangtua dan kehilangan kakanya. Dia menceritakan semuanya, bahwa dia mendapatkan sebuah surat dari Indonesia. Yang isinya mengatakan bahwa ibunya masih hidup dan sekarang berada di Indonesia.
"Apa kau mau menungguku? Setelah semua ini selesai aku ingin belajar lebih dalam mengenai agamamu, setelah itu aku siap jika kau mau mengikatku!" ucap Himawari.
"Apakah kau mau menungguku?" Himawari berkata untuk kesekian kalinya.
"Baiklah aku akan menunggumu atau aku juga bisa membantumu untuk mencari Ibumu," aku berkata padanya.
Dia tersenyum lalu mengatakan terimakasih, akan tetapi dia memutuskan untuk pergi sendiri ke Indonesia. Aku tahu mungkin dia membutuhkan waktu, yang pasti aku akan selalu ada dengannya.
Aku akan membiarkan dia pergi sendiri ke Indonesia, setelah itu aku akan menyusulnya ke sana. Mungkin ini sudah jalannya harus seperti ini, tadi siang ayah mengatakan akan kembali ke Indonesia. Sekarang dia mengatakan akan ke Indonesia.
Aku juga sudah merindukan bunda, dengan ini aku juga akan berkunjung ke makam bunda. Masalah perusahaan di Jepang aku percaya Lexa bisa mengatasinya sendiri.
"Kapan kau akan ke Indonesia?" Aku bertanya padanya.
"Aku belum tahu." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Setelah pembicaraan ini aku memutuskan untuk kembali ke rumah, sebelum itu aku mengantar Himawari ke apartemennya. Sekarang dia terlihat tenang dari pada tadi.
Sampailah aku di apartemen Himawari, aku hanya melihat dia berjalan memasuki apartemennya. Setelah tidak terlihat oleh kedua mataku, aku pun pergi untuk segera pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang aku memikirkan sesuatu tentang Lexa, aku ingin memberikan sebuah kejutan untuknya sebelum ayah kembali ke Indonesia. Namun apa yang akan kulakukan untuknya? Apakah sebuah pesta pernikahan mereka, karena mereka belum mengadakan pesta pernikahan.
Apakah Lexa mengijinkan aku membuatkan pesta untuknya, karena yang aku tahu dia tidak pernah menyinggung masalah pesta pernikahan. Lebih baik aku bicarakan semua ini dengan ayah saja mungkin ayah akan membantu rencanaku.
Saat tiba di rumah, aku melihat Hinoto sudah bersiap untuk pergi, dia menawarkan travel bag. Apakah dia akan pergi keluar kota? Lebih baik aku tanyakan langsung padanya.
"Kau mau pergi kemana?" Aku bertanya pada Hinoto.
"Korea, ada urusan bisnis sehingga aku harus kesana!" jawabnya padaku.
Aku berpikir kembali untuk acara Lexa, lebih baik setelah kembalinya Hinoto dari Korea pestanga akan di selenggarakan. Aku melihat Lexa tidak ikut bersamanya ke Korea.
"Kenapa kau tidak ikut dengannya?" tanyaku pada Lexa.
"Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" jawab Lexa yang sudah mengantar Hinoto memasuki mobilnya.
Setelah itu Lexa melangkah masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarnya, aku melihat dia biasa saja. Sebenarnya dalam hatinya ingin ikut, karena aku tahu bagaimana Lexa. Paling juga nanti dia akan menyusulnya ke Korea, aku hitung paling dua hari dia tidak tahan dan mengejarnya ke Korea.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉
__ADS_1