
Still Lexa POV
Aku tiba di perusahaan, semua karyawan menyambutku dan Aiko dengan ramah. Meskipun aku baru pertama kali kemari sepertinya mereka sudah diberitahu tentang kedatanganku.
Salah seorang karyawan pria mempersilahkanku untuk mengikutinya menuju ruang seorang pimpinan. Di sana sudah menunggu seorang yang ditunjuk ayah sebagai pengurus perusahaan. Dia adalah tuan Young Jin.
Dia mengatakan semuanya tentang permasalahan yang terjadi, sekarang aku sudah mengerti rupanya ini adalah rencana sekelompok orang yang ingin menghancurkan perusahaan.
Acara rapat sudah akan dimulai, para pemegang saham sudah tiba dan duduk dengan santai di kursinya masing-masing. Aku memperhatikan satu per satu dari mereka.
Aku hanya berdiri, memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Ada satu kursi yang kosong dan itu adalah kursi yang selalu ayah duduki jika sedang berada di perusahaan cabang di Korea.
Kulihat beberapa orang selalu menatap kursi tersebut dengan tatapan yang begitu sinis. Ada beberapa orang yang memandang ke arahku dan Aiko, mereka berpikir bahwa kami adalah karyawan biasa.
Aku mendengar beberapa orang membicarakan tentang kinerja buruk aku dan Lexi. Mereka mengatakan bahwa perusahaan lebih bagus di saat ayah yang memegang tampuk kepemimpinan. Aku tersenyum dengan apa yang mereka katakan, begitupun dengan Aiko.
Tuan Young Jin memasuki ruangan, dia melihatku berdiri dia berkata padaku. "Silahkan Nona," sembari tersenyum.
Aku pun duduk di kursi itu, kulihat beberapa orang sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Terutama orang yang telah membicarakan keburukan tentangku dan Lexi.
"Baiklah, saya akan perkenalkan diri saya. Nama saya Alexa Wibowo!" ucapku dengan nada tegas.
Ada beberapa orang yang tidak menyangka bahwa aku adalah putri dari ayah. Aku melihat seseorang yang menatapku dengan tatapan sinis.
"Apakah seorang wanita muda sepertinya sanggup untuk mengurus semuanya, Tuan Young Jin?!" tuan Park berkata
"Tuan Young Jin, apakah Tuan Alex tidak salah menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Putranya?" timpal tuan Ji
Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang mereka berdua lontarkan, aku hanya diam untuk melihat sampai dimana mereka akan merendahkanku. Begitupun dengan tuan Young Jin, dia diam dan tersenyum. Jangan tanya Aiko, dia sudah tidak tahan ingin menghajar mereka dengan semua bukti kebobrokan mereka.
"Aku tidak mau, jika perusahaan ini hancur di tangan seorang wanita muda yang tidak berkompeten!" tuan Park berkata dengan nada meremehkanku.
Brakk!
Aiko menggebrak meja, kurasa dia sudah sangat kesal. Terdengar hentakan langkah dari hells-nya, dia menyodorkan dokumen yang sudah dia siapkan ke semua peserta rapat. Kumeoihat tuan Young Jin tersenyum melihat kelakuan Aiko.
"Silahkan Tuan-tuan membaca dokumen yang sudah saya siapkan!" Aiko berkata dengan lembut namun ada penekanan di dalamnya.
__ADS_1
Semua mata terbelalak saat membaca dokumen yang baru saja di berikan Aiko. Terlihat jelas mereka terkejut, dalam dokumen tersebut berisikan semua kebusukan dari perilaku mereka.
"Apa hanya ini yang bisa Anda lakukan Nona Alexa Wibowo?!" ucap tuan Park.
"Apa yang Anda inginkan dari saya Tuan Park? Apakah saya harus membeberkan semuanya?!" Aku berkata dengan.
Dia terdiam tetapi dia kembali menyerangku, aku tersenyum melihatnya tidak menyadari bahwa aku memiliki sesuatu yang bisa membuatnya mundur dari perusahaan. Aku tahu tuan Park adalah seorang pengusaha handal, dia memiliki banyak bisnis di luar perusahaanku. Tetapi aku tidak takut dengannya, siapa yang berani mengacaukan perusahaan yang telah dirintis ayah dari nol aku akan membuatnya menyesal.
"Jika itu mau Anda Tuan Park? Saya harap setelah Anda melihat ini, Anda bisa langsung pergi dari hadapan saya!" Aku berkata dengan penekanan.
Kulihat wajahnya biasa saja, dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Aku suka dengan sikapnya itu, andai saja dia setia pada perusahaan mungkin dia bisa membuat perusahaan semakin maju.
Aku menyuruh Aiko untuk menyalakan proyektor, disana terlihat jelas semua data, foto dan Vidio kebusukannya. Dia sudah melakukan pelanggaran yang memberikan data perusahaan serta menyabotase semua proyek yang sedang di garap perusahaan.
Aku melihat perubahan raut wajahnya, yang semula penuh rasa percaya diri. Namun sekarang merasa gugup, aku tersenyum melihat semua itu. Semua peserta rapat berbisik-bisik membicarakan ini, sehingga membuat tuan Park
Tuan Park beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar ruangan, sebelum dia keluar aku menyuruhnya untuk menyerahkan semua saham yang dia miliki. Setalah mendengar apa yang kukatakan dia pergi tanpa sepatah katapun.
Semua yang berada di dalam ruangan terdiam, mereka tidak menyangka dengan apa yang aku perbuat. Aku mengatakan pada Aiko untuk mengurus mereka semua, lalu aku pergi bersama tuan Young Jin ke ruangannya.
Aku melangkah ke luar ruangan bersama tuan Young Jin, setibanya di ruangannya dia menyuruh sekertarisnya untuk membuatkan minuman untukku dan Aiko yang sebentar lagi bergabung bersama kami.
"Anda bisa saja Tuan, aku putri mereka tentu saja aku meirp dengan mereka." Jawabku sembari tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian sekertaris tiba dengan membawa minuman tidak lama dari itu Aiko pun masuk ke ruangan. Kami membicarakan semua hal yang akan dilakukan selanjutnya. Aiko sudah memberikan rencana yang harus dilakukan.
"Nona Lexa, saya memiliki undangan pesta malam ini. Apakah Nona bersedia untuk menghadirinya? Karena saya sudah mengatakan pada istri saya jika Nona sedang berada di Korea." Ucap tuan Young Jin padaku.
"Baiklah Tuan kami akan menghadiri pesta Anda nanti malam, anda bisa menghubungi Aiko untuk alamatnya." Jawabku.
Setalah pembicaraan kami selesai aku dan Aiko memutuskan untuk makan siang di luar setelah itu kembali ke hotel untuk mempersiapkan diri menghadiri pesta nanti malam.
"Lexa, kita makan siang di hotel saja ya? Aku sedikit lelah!" Aiko berkata dengan menyandarkan tubuhnya pada pundakku.
Aku tersenyum lalu menyetujui apa yang dia inginkan, sepertinya dia memang terlihat lelah. Jika tidak mana mungkin dia bersikap seperti anak kecil padaku.
Setibanya di hotel, aku memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu setelah itu aku kembali ke kamar begitupun dengan Aiko.
__ADS_1
"Istirahatlah, ingat kita ada undangan pesta malam ini!" Aku berkata pada Aiko.
"Ok!" jawabnya singkat.
Aku berjalan meninggalkannya lalu menuju kamar, aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Aku merasa lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Mereka begitu menyepelekanku karena aku wanita yang masih sangat muda.
Aku tidak suka di rendahkan atau di sepelekan, jika aku mampu melakukan semua itu dengan kekuatanku sendiri. Maka jangan ada yang meragukan kemampuanku dalam mengurus perusahaan.
Aku terbangun dari tidurku setelah mendengar ponselku berdering, kumelihat siapa yang menghubungiku ternyata itu adalah ayah. Ayah bertanya padaku bagaimana hasilnya, aku mengatakan apa yang sudah terjadi.
Ayah terkekeh-kekeh mendengar apa yang aku katakan, menurutnya aku mirip dengan bunda. Yang hanya memperhatikan dulu baru bertidak kejam. Apakah aku seperti bunda? Tanyaku pada ayah yang sudah tahu semua ceritanya dari tuan Park.
"Jika Ayah sudah tahu semuanya mengapa bertanya padaku? Pasti Tuan Park sudah melapor pada Ayah, 'kan?" tanyaku pada ayah.
Ayah tersenyum menandakan apa yang aku tanyakan benar, aku menghela napasku. Setelah selesai berbincang dengan ayah, aku memutuskan untuk menutup teleponnya. Namun ayah mengatakan sudah menyiapkan gaun untukku dan juga Aiko.
Aku sungguh senang dengan ayah, karena dia tahu apa yang aku butuhkan. Tidak begitu lama dari ayah mengatakan itu ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku membukanya seorang pria berjas hitam memberikan sebuah kotak yang berisikan gaun.
"Apakah kau sudah memberikan gaun yang satunya lagi pada Aiko?!" tanyaku pada pria itu.
"Sudah Nona, Tuan Alex menyuruh saya melakukan semuanya!" jawabnya dengan hormat.
Setelah itu dia berjalan meninggalkanku, aku pun mulai bersiap untuk pesta malam ini. Aku menghubungi Aiko dan menanyakan apakah gaun yang ayah belikan pas dengannya.
Aiko merasa takjub bahwa ayahku bisa mengetahui seleranya dalam memilih gaun, dia berkata jika saja ada pria seperti ayah maka dia akan langsung menikahinya.
Aku terkekeh mendengar apa yang dia katakan, tetapi apa yang dia katakan memang benar ayah sangat pengertian dan hangat. Aku selalu melihat bagaimana perlakuan ayah pada bunda.
Aku jadi teringat dengan Hinoto, hari ini dia belum menghubungiku sama sekali. Apakah dia sedang sibuk sehingga tidak bisa menghubungi aku. Lebih baik aku bersiap saja, aku pun menutup sambungan telepon dengan Aiko.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉