
Hinoto POV
Awwww ...
Dia sungguh berani menyikutku dengan sangat keras, aku tidak akan melepaskannya kali ini. Aku tidak mengira dia akan menghampiriku, dia mendekatkan dirinya padaku.
"Kau, tidak apa-apa?" ucapnya padaku.
Dengan cepat aku menangkapnya, sehingga dia tidak akan pernah bisa lepas lagi. Kutatap wajahnya dengan lekat, apakah dia sudah tahu siapa aku sebenarnya. Sehingga dia melakukan hal seperti tadi.
"Apa kau tidak akan menyesal? Dengan apa yang kau lakukan barusan?" lirihku pada Lexa.
"Lepaskan aku! Kau bukan suamiku! Kau tidak berhak menyentuhku!" Lexa berkata tetapi aku melihat senyum tipis dari bibirnya.
Aku tahu, dia pasti sudah mengetahui siapa diriku ini. Kupandangi kedua bola matanya yang begitu jernih dari balik topeng yang aku kenakan. "Lantas jika aku suamimu, apa aku boleh dengan bebas menyentuhmu?"
Mulutnya sedikit terbuka begitu mendengar pertanyaan yang aku lontarkan barusan. Tubuhnya menegang untuk sepersekian detik lalu kembali menormal. "Apa makβ"
Aku langsung menyerang bibirnya, membungkamnya dengan bibirku. Menyela kalimat yang akan ia ucapkan. Awalnya aku hanya mengecupnya saja tetap entah mengapa, ada perasaan lain yang kini merasuk ke dalam tubuhku. Sebuah perasaan yang sulit untuk aku jelaskan dengan gamblang.
Perlahan aku mendorong tubuhnya hingga menempel ke dinding, agar dia tidak bisa lari dariku lagi. Kemudian dengan lembut kuselipkan lidahku di antara kedua bibirnya, mencari celah untuk mencecap rasa manis yang ada di sana.
Tiba-tiba tangan Lexa meraih topengku, lalu membukanya. Membuat kecupan itu berakhir dengan cepat. "Hinoto?" pekiknya yang masih berpura-pura melihat aku yang berada di balik topeng itu.
"Ya, ini aku," lirihku yang kemudian menarik tengkuk lehernya dan kembali mengecupnya.
Kali ini Lexa membalas kecupanku. Lidah kami saling bertaut hingga menghasilkan suara-suara kecil yang merdu sampai ke telinga. Mendadak Lexa mengalungkan kedua tangannya pada pundakku dengan salah satu jemarinya yang menyelip ke dalam rambut belakangku. Membawaku masuk lebih dalam untuk mencecapnya, hingga napas kami tersengal.
Aku melepaskan kecupan itu dan menempelkan keningku pada keningnya, sambil mencoba menghirup udara, mengatur pola pernapasan kami masing-masing.
"Kau begitu bodoh," desis Lexa di sela napasnya yang terputus.
__ADS_1
"Kau bilang? aku bodoh!" Tanganku langsung meraih pinggangnya dan mengangkat tubuhnya. Membawanya untuk berpindah tempat.
Dengan pelan, aku rebahkan dirinya di atas ranjang berukuran king size, lalu aku kembali mengecup bibirnya. Kedua tangannya kini kembali menangkup leherku dengan begitu lembut. Membuatku semakin tidak sanggup lagi untuk menahan rasa untuk menikmatinya.
Kini aku mengalihkan kecupanku pada ceruk lehernya, menyesap lembut hingga meninggalkan tanda kepemilikanku di sana. Ya, dia istriku dan dia milikku, hanya milikku. Aku terus menyesap di sana hingga perlahan merambat turun, menuju lebih ke bawah. Menikmati bagian dadanya hingga kudengar sayup-sayup suara desahan yang lolos begitu saja dari mulut mungilnya itu.
Tanganku juga tidak mau ketinggalan peran, perlahan bergerak membuka kancing bajunya. Hingga kuselipkan salah satu tanganku ke belakang punggungnya untuk membuka sebuah pengait yang menutupi kemolekan tubuhnya itu. Lalu aku menyibaknya. Menikmati tubuhnya dengan penuh kelembutan.
Sesekali aku mengangkat wajahku, menatap Lexa yang kini memejamkan kedua matanya. Bibirnya masih sedikit terbuka, sepertinya juga ia gunakan untuk bernapas di sana. Dia menikmati permainanku, merasakan setiap sentuhan yang aku berikan padanya. Hingga dengan nakalnya aku menyelipkan salah satu tanganku masuk ke dalam pakaian dalamnya di bawah sana.
Lagi-lagi Lexa melenguh, saat jariku menyentuh bagian sensitifnya. Bahkan kali ini ia sedikit membusungkan dadanya hingga leher jenjangnya harus sedikit tertarik dibuatnya.
Aku benar-benar terhanyut akan sikapnya kali ini. Begitu penurut dan begitu berbeda. Ya, dia memang Lexa-ku. Hanya aku yang boleh melihatnya seperti ini, tidak lelaki lain.
Malam semakin larut, kami berdua terhanyut dalam permainan kami. Tidak ada penolakan yang Lexa katakan, bahkan mata sayunya dan reaksi tubuhnya seakan menjadi bukti bahwa dia menikmatinya.
Akhirnya dia tertidur di pelukanku, aku sungguh bahagia malam ini. Aku sungguh bodoh mempercayai apa yang dikatakan oleh Mamoru, sekarang aku sudah menyadarinya bahwa Lexa seutuhnya adalah milikku. Akan kubuat dia semakin mencintaiku sehingga tidak ada niat dalam hatinya untuk lari dariku.
Aku terbangun karena sinar matahari yang menerobos tirai, kulihat di sampingku masih ada wanita yang semalam telah membuatku merasa bahagia. Kusentuh rambutnya yang menutupi matanya, dia merubah posisi tidurnya karena silau oleh sinar mata hari yang masuk ke dalam kamar.
Saat kulihat dia menggeliat dan membuka kedua matanya, aku berpura-pura masih tertidur. Kurasakan dia sedang menatapku, aku berusaha untuk bersikap tenang agar sandiwaraku tidak diketahuinya. Dia menyentuh rambutku lalu menyibakkannya, entah apa yang akan dia lakukan padaku.
"Kau begitu bodoh Hinoto sehingga membuatku kesal, kenapa juga kau percaya apa yang di katakan Mamoru tanpa mengklarifikasi padaku!" lirih Lexa padaku.
"Apa aku bodoh? Jika aku bodoh mengapa kau mau bermain denganku?" ucapku padanya lalu membuka kedua mataku untuk melihat reaksinya.
Matanya terbelalak karena melihatku sudah terbangun lalu dia memalingkan wajahnya. Dia berniat lari dariku, akan tetapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Kutarik lengannya sehingga di kembali masuk ke dalam dekapanku.
Dia menggeliat seperti ikan yang mau melepaskan diri, semakin dia ingin berusaha melepaskan diri maka aku akan semakin mendekapnya.
"Lepaskan aku, jika tiβ"
__ADS_1
Sebelum dia melanjutkan ucapnya aku kecup bibirnya dengan lembut, sehingga dia hanya terdiam menerima kecupanku di pagi hari. Aku terus bermain dengan kecupanku sehingga dia tidak bisa melawanku lalu dia mulai mengikuti permainanku. Aku melepasakan bibirku dari bibirnya, aku melihat dia tersengal-sengal.
"Apa kau ingin membunuhku?!" Lexa berkata dengan napas yang tidak beraturan.
Aku terkekeh mendengar apa yang dia katakan, setelah itu aku berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. "Apakah kau mau membantuku membersihkan diri?" Aku bertanya padanya.
Bug!
Dia melemparkan bantal padaku lalu berkata, "Mandi saja kau sendiri, kalau membantumu yang ada kau menyerangku terus-menerus!"
Aku tersenyum lalu melanjutkan langkahku menuju kamar mandi, sungguh aku sangat menikmati semua ini. Dia begitu menggemaskan sehingga aku tidak ingin melepaskannya.
Setelah aku selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangku. Aku melihat dia masih terduduk dengan menutup sebagian tubuhnya yang tidak mengenakkan pakaian sama sekali.
"Aku sudah selesai, bersihkan dirimu!" Aku berkata padanya, lalu dia berdiri dengan menutupi tubuhnya dengan selimut dan berjalan memasuki kamar mandi.
Aku pun mengambil pakaian di almari, lalu memakainya setelah itu aku berjalan menuju pantry guna menyiapkan sarapan untuk kami. Aku terkejut melihatnya keluar dari kamar, dia hanya menggunakan kemejaku yang terlihat kebesaran di tubuhnya.
"Kau memasak?" ucapnya padaku dengan nada tidak percaya.
Aku tersenyum lalu menyodorkan sarapan yang sudah tertata rapi di atas piring. Kutuangkan jus jeruk di gelas kosong yang bertengger di atas meja. Lalu aku memberikannya pada Lexa, dia tersenyum.
"Bagaimana rasanya?" tanyaku dengan memberikan senyuman.
Dia beranjak lalu mengecup pipiku dan berkata, "Sarapannya enak."
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
__ADS_1
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya ππ