
Still Lexa POV
Aku tidak boleh gegabah dengan mengikuti Rosetta tanpa persiapan karena dia bukan wanita biasa tanpa penjagaan. Lebih baik aku kembali ke hotel saja, dari pada harus melihat Hinoto dengan para wanita.
"Lexa!"
Seseorang memanggilku, saat aku memalingkan wajah aku melihat Mamoru yang berjalan menghampiri diriku. Dia tersenyum lalu bertanya mengapa aku berada di sini. Aku mengatakan jika sedang menemani Hinoto. Dia berkata apadaku jika dia juga ada acara makan malam, apakah acara itu sama dengan Hinoto.
"Ayo kita kedalam, aku ingin bertemu dengan Hinoto!" ucap Mamoru padaku sembari tersenyum.
Aku terpaksa mengikutinya untuk masuk, biarlah aku akan bertahan dengan Hinoto yang sedang asik berbincang-bincang dengan para wanita. Saat aku masuk bersama Mamoru, kumelihat Hinoto sedang berbincang dengan teman pria dan ada Shoera pula. Wanita itu masih terus saja berusaha dekat dengan Hinoto.
"Apa kau cemburu?!" tanya Mamoru padaku.
Mendengar ucapannya itu membuatku tersenyum lalu aku mengatakan jika tidak ada gunanya cemburu. Karena aku yakin dia hanya mencintaiku dan tidak akan pernah berpaling dariku.
Mamoru terkekeh mendengar ucapanku lalu dia mengatakan jika aku sudah berubah. Terlihat jelas jika aku begitu percaya diri dengan apa yang baru saja kukatakan.
"Hentikan tawamu! Yang aku katakan itu memang benar apa adanya!" Aku berkata padanya dengan penekanan.
Namun, dia masih terkekeh untuk menghentikan tawanya aku memukul pundaknya. Seketika dia terdiam tetapi kembali terkekeh, sungguh dia membuatku sangat kesal.
"Mana istrimu? Mengapa dia tidak hadir bersamamu?" tanyaku padanya untuk menghentikan tawanya.
Mamoru mengatakan jika istrinya sedang tidak enak badan sekarang sedang berada di kamar hotel. Aku mengatakan mengapa dia tidak menjaganya malah bersenang-senang di sini. Rupanya istrinya yang sudah memaksanya untuk hadir malam ini.
"Bagaimana kabarmu Mamoru?!" Hinoto bertanya dengan nada dingin dan sorot mata yang begitu menakutkan.
Aku tidak peduli dengannya karena aku masih kesal dengan sikapnya yang seperti itu. Aku tidak menyangka jika dia akan melupakanku jika sudah bersama teman wanitanya.
"Aku baik— bagaimana kabarmu?" jawab Mamoru lalu bertanya kembali pada Hinoto.
Hinoto mengatakan jika dia baik-baik saja dan juga dia bertanya dengan istrinya. Mamoru mengatakan jika istrinya sedang tidak sehat dan sekarang sedang ada di kamar hotel. Aku melihat Shoera berjalan mendekati kami, sebenarnya ingin rasanya membawa Hinoto dari sini.
"Hai Mamoru— bagaimana kabarmu?!" Shoera bertanya dengan nada genitnya.
Jika melihatnya aku merasa muak, ingin rasanya menyiram dengan air putih agar semua make-up tebalnya bisa terkikis. Aku terkekeh saat membayangkan bagaimana jika yang aku bayangkan terjadi.
"Kenapa, sayang?" Hinoto berbisik padaku.
Aku terkejut karena Hinoto sudah ada di samping dan berbisik padaku, mengapa aku tidak menyadari bahwa dia sudah berada di sampingku. Dia berbisik kembali karena aku tidak menjawab apa yang di tanya tadi, sekarang dia berbisik dengan nada penuh penekanan.
"Hentikan itu! Jangan selalu berbisik padaku— geli tahu!" Aku berkata pada Hinoto.
Hinoto tersenyum mesum padaku tetapi aku merasa ada sorot mata yang begitu tajam padaku. Aku melihat Shoera yang sedang menatapku dengan tatapan yang ingin menerkamku.
Namun, yang membuatku tidak mengerti adalah Mamoru kenapa dia semakin terkekeh-kekeh melihatku dan Hinoto. Namun, dia juga melirik pada Shoera, sepertinya dia menyadari sesuatu yang membuatnya tertawa.
"Hentikan tawamu, Mamoru!" Aku berkata dengan nada kesal lalu berjalan meninggalkan mereka.
Lebih baik aku pergi saja dari sini, langkahku terhenti saat ada yang memegang tanganku. Terdengar alunan musik yang begitu indah, aku melihat siapa yang memegang tanganku. Saat hendak melihatnya aku langsung ditariknya sehingga tubuhku masuk ke dalam dekapannya. Yang bisa melakukan ini hanya ada satu orang yaitu Hinoto.
Hinoto mengajakku untuk berdansa, dia memegang pinggangku lalu menggerakkan kakinya dengan perlahan agar aku bisa mengikuti semua gerakannya.
"Lepaskan aku! Mengapa kau tidak mengajak saja Shoera untuk berdansa— bukankah kau menyukainya!" Aku berkata dengan lirih.
Dia malah tersenyum mendengar apa yang baru saja aku katakan, melihatnya seperti itu semakin membuatku kesal. Langsung saja aku menginjak kakinya, setelah itu pergi meninggalkan dirinya. Meski terdengar suara dia yang kesakitan tetapi aku tidak peduli.
"Aku antar kau pulang!" Mamoru berkata padaku sembari terkekeh.
__ADS_1
Mungkin mamoru menertawakan sikapku pada Hinoto tetapi aku juga tidak peduli dengannya yang selalu saja menertawakan aku. Sekarang dia ingin mengantarku ke hotel. Namun, aku menolaknya saat sudah berada di luar karena aku tidak ingin menimbulkan masalah antara Mamoru dengan istrinya.
"Pulanglah, temani istrimu— kasihan dia ditinggal sendirian di hotel! Aku bisa memesan taxi." Aku berkata pada Mamoru.
Dia terus memaksaku tetapi aku tetap pada keputusan yang sudah kukatakan tadi. Akhirnya dia pergi meninggalkan diriku, beberapa saat kemudian tibalah taxi yang aku pesan. Aku langsung masuk kedalam taxi dan mengatakan kemana tujuannya.
Ponselku terus berdering, kulihat siapa yang menghubungiku tertera nama Hinoto. Aku abaikan semua panggilan darinya, biar dia tahu rasa tidak semudah itu membuatku memaafkannya.
Aku memutuskan untuk ke suatu tempat, aku mengambil ponsel lalu mencari suatu tempat yang ingin aku kunjungi. Aku menemukan yang ingin aku kunjungi saat ini, lalu mengatakan pada sopir untuk menuju sungai Kamo. Sopir pun langsung memutar arah dan menuju ke sungai Kamo.
Tibalah aku di sungai Kamo, setelah membayar sopir tersebut pergi. Aku berjalan menikmati suasana sungai di malam hari, terlihat banyak orang yang berjalan-jalan di sini. Ada yang berjalan dengan pasangannya, jika melihat mereka aku teringat dengan Hinoto. Namun, malam ini dia membuatku sangat kesal.
Ponselku terus saja berdering, aku melihat pada layar ponsel tertera nama Hinoto. Aku mematikan ponselku sehingga dia tidak menggangguku. Biar dia merasakan rasa kesal yang aku rasakan tadi, lebih baik aku menikmati malam ini.
Setelah puas dengan jalan-jalan, aku memutuskan untuk kembali ke hotel. Lagi pula ini sudah sangat larut, tidak baik juga bagiku untuk berada di luar. Aku memesan menunggu taxi yang lewat, muncul satu mobil taxi lalu aku masuk dan mengatakan menuju hotel.
Aku merasa ada yang aneh dengan sopir taxi ini, aku mengambil ponsel lalu mangaktifkannya dan membuka google map untuk melihat posisiku apakah sudah benar akan menuju hotel. Benar saja jalan yang dilalui oleh sopir tidak menuju hotel. Mungkin dia akan bertindak jahat padaku.
Ckitttt!
Mobil berhenti di suatu tempat yang sunyi, kulihat di luar sudah ada beberapa orang yang menunggu. Sepertinya mereka adalah kawanan penjahat dari sopir ini. Aku ingin lihat sampai dimana kemampuan mereka.
"Nona— jika ingin selamat cepat keluar dari mobil!" ucap sopir padaku.
Aku tersenyum lalu keluar dari mobil, melihat mereka satu per satu untuk mengetahui apakah mereka memiliki kemapuan yang hebat. Sepertinya mereka hanya penjahat biasa, mereka tersenyum mesum melihatku. Aku tahu jika mereka bukan saja perampok melainkan para pria tidak tahu diri dan tidak memiliki hati.
Salah satu dari mereka mendekatiku lalu tangannya berniat menyentuh tubuhku. Aku tidak akan membiarkan tubuhku di sentuh oleh tangan kotornya.
Bug!
Bug!
Whussss!
Brugggg!
Baguslah malam ini akan aku keluarkan semua kekesalanku terhadap Hinoto dengan menyerang para bajingaan ini. Aku bertahan dari setiap serangan mereka, jika sudah saatnya aku akan menyerang mereka tanpa ampun.
Sekarang saatnya aku menyerang balik mereka, ternyata hanya seperti ini kemampuan mereka. Meski semuanya menyerangku, mereka masih belum bisa membuatku kewalahan.
Bug!
Bug!
Whussss!
Brugggg!
Aku melayangkan pukulanku dengan cepat pada mereka satu per satu lalu melayangkan tendanganku. Sehingga satu per satu dari mereka terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi. Aku melihat sopir taxi, dia terlihat ketakutan.
Mereka hanya penjahat kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Aku harap setelah ini mereka tidak lagi melakukan kejahatan dan kembali ke jalan yang benar.
"Apa ini kali pertama kalian melakukan hal ini?!" tanyaku pada mereka.
Semuanya mengangguk, aku memberikan pilihan pada mereka. Jika mereka berhenti melakukan ini maka aku tidak akan melaporkannya pada polisi. Namun, jika mereka melakukannya lagi maka aku tidak akan diam saja. Setelah beres dengan mereka aku mendekati sopir taxi tersebut.
"Kau berani sekali melakukan ini padaku! Kau bisa pilih mengantarku kembali ke hotel atau aku memghajarmu seperti mereka!" ucapku padanya.
"Baik, Nona." jawabnya dengan terbata-bata lalu dia membukakan pintu mobil untukku. Setelah itu dia menjalankan taxi menuju hotel dimana aku menginap.
__ADS_1
Dalam perjalanan, aku bertanya mengapa mereka melakukan semua itu. Sopir mengatakan jika mereka semua adalah teman yang sangat baik, mereka melakukan semua ini karena ingin membantu para anak-anak yatim yang terlantar. Mendengar itu aku terenyuh, meski mereka melakukan hal yang jahat tetapi niat di balik itu ada kebaikan.
Namun, itu tidak boleh dilakukan karena sama saja dengan berbuat kejahatan. Lebih baik mereka bekerja keras untuk membatu orang-orang yang mereka anggap penting.
"Hentikan semua pekerjaan kotor kalian! Carilah pekerjaan yang baik untuk merawat anak-anak. Karena anak-anak lebih baik diberi makan oleh uang yang bersih!" ucapku pada sopir.
Mobil terhenti, sebelum keluar dari mobil aku bertanya alamat anak-anak yatim itu berada. Aku ingin melihat apakah mereka berkata jujur atau hanya kebohongannya yang lain. Dia memberikan sebuah alamat, aku mengambilnya lalu memberinya ongkos taxi. Sopir itu tidak mau menerimanya tetapi aku memaksanya. Dan akhirnya dia menerima uang yang aku berikan.
Aku berjalan lalu menekan tombol lift, menunggu beberapa saat hingga pintu lift terbuka. Setelah terbuka aku masuk lalu menekan tombol lantai yang di mana kamarku berada. Tidak begitu lama lift berhenti di lantai yang aku tuju, aku keluar dan berjalan menuju kamar.
Untung saja aku memiliki kartu untuk masuk ke kamar, jika Hinoto yang memegangnya maka aku tidak akan bisa masuk. Aku membuka pintu kamar, apakah dia belum pulang? Lampu kamar masih gelap. Aku berjalan menuju sakelar untuk menyalakan lampu.
Brettt!
Sebelum berhasil menuju saklar ada yang menarik tanganku, aku sungguh terkejut dengan itu. Mengapa ada orang di dalam kamarku, apakah orang ini berniat jahat? Apakah dia orang suruhan dari Rosetta? Semua pikiran buruk melyanag di otakku.
Bug!
Aku memukul perutnya dengan Kuta, sehingga aku bisa lepas darinya. Terlihat bayangan yang sehingga aku bisa menyerangnya tanpa ampun, pukulan terus aku layangkan padanya. Namun, dia berhasil menangkisnya dan sesekali dia menghindar dari seranganku.
Yang membuatku penasaran mengapa dia tidak menyerangku, dia hanya menghindar dan menangkis seranganku. Dia cukup hebat karena berhasil bertahan cukup lama, tanganku terasa sakit apakah ini akibat perkelahian aku sebelum tiba di hotel.
Awwww! Aku meringis kesakitan saat pergelangan tanganku yang sakit di cengkeram olehnya.
"Kenapa dengan tanganmu?!" ucapnya padaku sembari melepaskan cengkeramannya.
Suara ini sangat aku kenal, dia pasti Hinoto. Tidak berapa lama ruangan menjadi terang benderang. Hinoto melangkah mendekatiku setelah dia menyalakan lampu. Terlihat rasa khawatir dalam raut wajahnya, aku masih kesal dengannya.
"Bagaimana tanganmu bisa terluka?" tanyanya padaku sembari memegang lembut pergelangan tanganku.
"Bukan urusanmu!" jawabku sembari menghempaskan lengannya lalu aku berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Langkahku terhenti kala dia memelukku dari belakang, dia membisikkan kalimatnya yang selalu diucapkan saat dia sudah melakukan kesalahan. Aku bertanya padanya apakah dia sudah melakukan kesalahan sehingga meminta maaf padaku.
Aku melepaskan kedua tangannya yang melingkar di tubuhku lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri aku berjalan keluar dari kamar mandi menuju almari guna mengambil pakaianku.
Aaaa....
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" ucapku pada Hinoto dengan nada kesal karena dia sudang menggendongku.
Dia tidak mengatakan apa-apa, yang membuatku semakin kesal hanya ada senyum di bibirnya. Dia menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, yang dia lakukan hanya melihatku dengan saksama. Apa yang hendak dia lakukan kali ini, aku sedang tidak ingin melakukan dengannya.
"Apa kau cemburu, sayang?" lirihnya padaku sembari mendekatkan tubuhnya padaku.
Sebelum aku menjawab, dia langsung menyerang bibirku dengan kecupannya. Permainannya sangat lembut tetapi rasa kesal dalam hatiku tidak mengizinkan aku untuk menikmati setiap permainannya. Dia menghentikan permainannya lalu menatapku dengan lembut dan akhirnya dia tersenyum kembali.
Hinoto merebahkan tubuhnya di sampingku, lalu dia mulai bercerita jika apa yang dia lakukan hanya untuk mencari informasi mengenai Rosetta. Karena Shoera merupakan teman dari Rosetta dan dia yakin jika Shoera ditugaskan oleh Rosetta untuk mendekatinya agar aku merasa kesal dan marah.
"Mengapa kau tidak mengatakan itu padaku sedari awal?" tanyaku padanya.
"Karena aku ingin melihatmu seperti ini! Merasa kesal jika aku mengabaikannya dan cemburu jika aku dekat dengan wanita lain!" ucapnya padaku sembari tangannya berjalan di tubuhku.
Aku berpikir apakah ini balasan atas kenakalanku tadi pagi, belum sempat aku bertanya kembali. Dia sudah memelukku dan melancarkan serangannya.
___________________________________________
Sampai jumpa pada bab berikutnya...
Beri like, komen yang menentramkan hati hihihi. Serta jadikan favorit ya 😉
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram @macan_nurul