Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 168


__ADS_3

Aldo POV


Makan siang kali ini aku menemani Lexi dan Lexa, sebenarnya aku sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Aiko bersama kami. Bukan karena aku membencinya tetapi aku merasa bersalah juga padanya dengan semua apa yang terjadi padanya.


Buat apa aku merasa bersalah padanya, semua itu bukan salahku sepenuhnya. Karena dia juga sama bersalahnya, akibat peristiwa itu membuatku merasakan mati rasa hingga kini.


Tibalah kami di sebuah restoran yang sudah aku pesan sebelum jam makan siang. Kami memasuki restoran tersebut lalu memesan menu makanan, saat menunggu makan yang dipesan tiba kami berbincang-bincang.


"Bagaimana apakah sudah ada informasi tentang Rosetta yang terbaru?!" Lexa bertanya padaku dan semuanya.


Lexi mengatakan semua informasi yang sudah dia dapatkan dan digabung oleh informasi yang aku temukan. Beberapa saat kemudian beberapa pramusaji tiba membawa makanan yang kami pesan. Setelah semuanya tertata rapi di atas meja, kami semua menyantap makanan yang sudah ada di atas meja.


"Sampai kapan kalian akan seperti ini? Apakah kalian tidak bisa bersikap seperti dulu?!" Lexa berkata.


Mungkin yang dia katakan adalah padaku dan Aiko, aku juga tidak tahu mengapa masih merasa kesal kepadanya. Mungkin dia juga masih merasa kesal padaku.


Aku melihat Lexa dan Lexi menatap ke arahku tetapi aku tidak bisa menjawabnya. Entah mengapa ini terasa berat, apakah aku belum berdamai dengan diriku sendiri.


"Hentikan semua ini! Kalian membuatku kesal!" Aiko berkata sembari berjalan meninggalkan kami.


"Aiko— tunggu!" teriak Lexa dengan berlari mengejarnya.


Dasar kau Aiko kekanak-kanakan, itulah yang membuatku kesal terhadapnya hingga saat ini. Dan aku pun sulit untuk bicara dengannya untuk membicarakan semua masalah di antara kita berdua.


"Mengapa kau tidak memperbaiki hubunganmu dengan Aiko? Sampai kapan kalian akan bermusuhan seperti ini? Karena yang aku tahu semua itu bukanlah kesalahan kalian berdua?" tanya Lexi padaku dengan ada nada sedih dari setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya.


"Entahlah— aku juga tidak ingin seperti ini tetapi dia seperti anak kecil!" jawabku.


Setelah selesai makan siang aku dan Lexi kembali ke perusahaan, kembali dengan rutinitas pekerjaanku. Tidak terasa matahari sudah tenggelam. Melihat jam yang melingkar di tangan, menandakan sudah waktunya Lexi kembali ke rumah.


Aku merapikan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjaku. Setelah itu berjalan keluar ruangan menuju ruangan Lexi, kukunya dia sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Saat aku masuk kedalam ruangan, rupanya Lexa sudah duduk di atas sofa. Mungkin dia sudah menunggu sedari tadi.


"Ayo kita pulang!" ucap Lexa padaku dan Lexi.


Mendengar perkataan Lexa, aku menunggu Lexi berjalan di depanku sedangkan aku masih seperti biasa mengikuti mereka dari belakang. Namun, Lexi memperlambat langkahnya— aku tahu apa yang dimaksudkan olehnya. Dia ingin aku berjalan di sampingnya dan tidak terlalu berada di belakangnya.


Baik Lexa atau Lexi, mereka tidak pernah membeda-bedakan status. Itulah yang aku sukai dari mereka berdua, bukan hanya mereka saja tetapi seluruh keluarga Wibowo terutama nyonya Alin.


Nyonya Alin sangat baik padaku dan dia selalu menjagaku dikala aku membutuhkan sosok seorang ibu. Terkadang dia sering membelaku di depan Lexa serta Lexi. Meski begitu mereka berdua tidak pernah merasa iri padaku atau marah. Mereka semakin dekat denganku.


Kulihat mobil sudah siap lalu aku berjalan dengan cepat untuk membukakan pintu mobil. Lexa mengatakan jika aku harus menghentikan semua itu. Karena aku bukanlah seorang pelayan, seketika aku menghentikan gerakannya untuk membuka pintu mobil.


Terdengar dari nada perkataan Lexa, dia sedang kesal terhadapku. Apakah ini ada hubungannya dengan makan siang tadi, saat aku sedang berpikir Lexi malah terkekeh melihat sikap Lexa yang marah padaku.


"Siap-siap saja kau!" ucapnya padaku sembari terkekeh kembali.


Dalam perjalanan pulang suasana di dalam mobil sangat sunyi, aku tahu Lexa masih marah padaku. Namun, aku belum bisa berbaikan sebelum Aiko menghentikan tingkahnya seperti anak kecil. Perjalanan menuju rumah mengapa terasa sangat lama sekali, apakah karena Lexa dan Lexi hanya diam saja. Biasanya jika mereka sudah berada dalam mobil yang sama selalu beradu argumentasi.


Mobil terhenti dan kami sudah tiba di rumah, terlihat Rosalina dan Zeroun yang sudah menanti kedatangan kedua orangtuanya. Mereka terlihat sangat bahagia, jika melihat semua ini aku pun ikut bahagia.


"Paman Aldo— apa kau tidak mau memelukku?" tanya Zeroun padaku begitu pula Rosalina dia ikut mendekat.


Aku tersenyum lalu mengatakan, "Paman mau sekali."


Mereka berdua langsung berlari ke arahku, sungguh aku menyayangi mereka. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mereka, akan aku lindungi mereka dengan sekuat tenaga bahkan dengan nyawaku ini.


Mereka mengajakku untuk ke taman karena ingin menunjukkan sesuatu padaku. Aku bertanya bagaimana dengan ayah dan bunda, mereka berkata bahwa sekarang sedang ingin bersama denganku.

__ADS_1


Tidak aku sangka mereka berdua memperlakukan aku dengan sangat baiknya. Mereka juga tidak menganggap diriku sebagai seorang asisten ayah dan bundanya. Mereka benar-benar keturunan Wibowo sejati.


Tidak terasa sudah 30menit mereka menunjukkan sebuah tanaman yang berhasil mereka rawat. Setelah itu terdengar suara Himawari yang memanggil Rosalina dan Zeroun. Mungkin sudah waktunya bagi mereka membersihkan diri dan beristirahat.


"Pulanglah— kau perlu istirahat!" Lexi berkata padaku sembari duduk tak lama kemudian datang Hinoto.


Aku mengangguk lalu berpamitan padanya dan Hinoto, setelah itu aku berjalan menuju mobilku yang terparkir di halaman rumah. Aku memasuki mobilku lalu menjalankan mobil secara perlahan keluar dari rumah. Setelah keluar dari area rumah Lexi, aku menambah kecepatan mobil. Sehingga melesat menembus jalanan.


Saat melewati sebuah taman, aku melihat Aiko yang sedang duduk sendirian. Apakah aku harus menghentikan mobilku dan mengatakan padanya kejadian yang sebenarnya, akankah dia percaya pada apa yang aku katakan. Lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali.


Aku menginjak pedal rem sehingga mobil berhenti secara perlahan, setelah itu aku keluar dari mobil. Dan berjalan mendekati Aiko yang sedang duduk termenung. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, mungkin dia sedang memikirkan Isamu.


"Kau...," Aiko menghela napas lalu berdiri, mungkin dia ingin pergi.


"Tunggu! Aku ingin bicara denganmu!" ucapku padanya.


Namun, dia tidak mendengar apa yang aku ucapkan, sungguh dia seperti anak kecil yang sedang marah. Dan aku sudah kesal dibuatnya, mau sampai kapan dia bersikap seperti ini.


Dia menghentikan langkahnya lalu berkata, " Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan! Aku masih marah padaku dan tidak akan pernah memaafkan dirimu!"


Setelah mengatakan itu dia pergi dengan rasa kesalnya padaku, aku menghela napas dengan kasar. Mungkin masih membutuhkan waktu yang lama agar dia mengerti semuanya.


Aku melanjutkan perjalanku menuju apartement, karena Aiko sudah pergi. Tibalah aku di apartemen yang dulunya akan aku tempati bersama Rein. Kami sempat merencanakan semuanya dan apartement ini dia sendiri yang menatanya. Masih terlihat kenangan tentangnya tetapi mengapa kau melakukan semua ini padaku Rein.


Ingin rasanya menghapus setiap jejak kenangan tentangmu tetapi aku belum bisa. Mungkin hati ini masih berharap jika kau kembali meski semua itu tidak mungkin.


Kuhempaskan tubuh ini di atas tempat tidur lalu mengingat kembali apa yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Di saat aku kehilangan akan cinta dan kepercayaan diriku terhadap cintanya.


"Aku tidak bisa bersamamu Aldo! Maafkan aku!" Rein berkata dengan nada sedatar-datarnya.


Apakah aku ada salah padanya sehingga dia memutuskan seperti ini? Seingatnya tidak pernah sedikit saja membuatnya kecewa. Aku berusaha untuk selalu membahagiakannya. Bahkan aku selalu mendahulukan kepentingan dirinya dibandingkan kepentingan diriku sendiri.


Aku selalu berusaha memenuhi semua keinginannya karena aku sangat mencintainya. Sekarang apa yang menjadikan alasan baginya untuk menghentikan acara pernikahan kami.


"Aku sudah tidak memiliki cinta untukmu! Lebih baik kita akhiri semuanya!" Dia berkata sembari pergi meninggalkan diriku dengan rasa yang tidak menentu.


Semua yang aku dengar ini apakah benar? Rein mengatakan semua itu padaku dengan santainya. Apakah aku sudah membuat kesalahan sehingga dia kehilangan rasa cinta padaku. Mengapa kau melakukan ini padaku Rein?


Tubuh ini terasa tidak memiliki tenaga, aku Aldo mengapa bisa merasakan kepedihan seperti ini. Ponselku berdering, aku berjalan perlahan menuju meja di mana ponselku tergeletak. Melihat layar ponsel tertera nama Himawari.


Aku mengangkatnya lalu dia mengatakan ingin bertemu denganku, sekarang apa lagi yang ingin dikatakan oleh Himawari setelah adiknya melakukan semua ini padaku.


Himawari mengajakku bertemu di sebuah cafe, aku pun menekuninya di sana. Aku kira hanya Himawari saja yang datang tetapi dia sedang bersama Rein. Aku berjalan perlahan menghampiri mereka berdua, terlihat Rein terduduk sembari menundukkan kepalanya.


"Ada apa? Kau memanggilku?!" tanyaku pada Himawari.


"Duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" ucap Himawari padaku.


Mendengar ucapannya aku duduk dan melihat mereka berdua duduk dihadapanku. Aku ingin tahu apa yang hendak mereka berdua katakan padaku. Terlihat dengan jelas jika Himawari sedang sangat kesal meski disampingnya duduk Rein.


Apakah Himawari sudah tahu apa yang dilakukan oleh Rein, lebih baik aku diam dan melihat apa yang akan terjadi. Aku masih sangat mencintai Rein jika dia mau kembali padaku, maka aku akan menerimanya kembali dan rencana pernikahan kami akan berlanjut.


"Maafkan aku Al— aku tidak bermaksud berkata itu padamu, aku sungguh menyesal!" ucap Rein dengan menundukkan kepalanya.


Sungguh berbeda dengan apa yang tadi kulihat di apartemen, sekarang dia terlihat penurut. Apakah Himawari sudah memarahinya sehingga dia mau meminta maaf padaku.


"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi?!" Aku berkata dengan menyelipkan pertanyaan dari setiap kata-kata.

__ADS_1


"Maafkan adikku ini, dia begitu bodoh sehingga menyakitimu! Aku berharap kau bisa memaafkannya dan melanjutkan rencana pernikahan kalian! Karena aku yakin denganmu Aldo jika kau bisa membuat Rein bahagia." Jawab Himawari dengan rasa penyesalan di dalamnya.


Sungguh aneh yang membuat masalah adalah Rein mengapa Himawari yang harus meminta maaf padaku. Namun, aku menghempaskan semua itu dan memaafkan semua perlakuan Rein padaku.


Setelah mendengar aku memaafkan Rein, terlihat ada sedikit rasa lega di wajah Himawari. Namun, masih ada sedikit rasa khawatir, entah apa yang dia pikirkan dan khawatirkan.


Aku menatap Rein kepalanya sudah mulai terlihat tetapi aku melihatnya merasa lega juga. Dia tersenyum lembut padaku, entah mengapa aku masih belum bisa sepenuhnya lupa akan perkataanya sebelum meninggalkan apartement.


Setelah semuanya terselesaikan aku kembali ke apartemen dan memikirkan semuanya. Seharusnya aku merasa senang jika twin kembali bersamaku dan kami akan menikah. Namun, aku tidak tahu mengapa hati ini masih belum bisa tenang.


Lebih baik aku membersihkan diri dan segera beristirahat, besok pagi aku harus bekerja. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, apakah Lexi tahu apa yang dilakukan Rein. Akan aku lihat besok pagi saja jika dia tahu maka aku akan mengatakan jika semuanya sudah kembali seperti semula.


Setelah membersihkan diri aku berusaha untuk memejamkan mata untuk beristirahat tetapi masih tidak bisa. Jadi aku putuskan untuk membuka laptop guna menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan.


***


Keesokan harinya.


Aku sudah berada di rumah Lexi untuk menjemputnya ke perusahaan, setelah itu kami pergi bersama ke perusahaan. Dalam perjalanan, dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa mungkin dia tidak mengetahui tentang Rein. Biarlah, aku tidak akan mengatakan padanya tentang sikap Rein padaku.


"Bagaimana untuk persiapan untuk pernikahanmu?!" Leci bertanya padaku.


Aku mengatakan jika semuanya sudah berjalan 70% sehingga tidak perlu mencemaskan pernikahanku. Dia tersenyum lalu mengatakan jika aku membutuhkan bantuannya langsung saja mengatakan padanya. Aku tersenyum lalu mengangguk, benar saja Lexi tidak mengetahuinya.


Tibalah kami di perusahaan, seperti biasa aku mengerjakan pekerjaan di ruanganku. Tidak terasa sudah jam makan siang, aku lupa jika Lexi ingin makan siang di rumahnya bersama Himawari. Aku berjalan menuju ruangannya. Dia terlihat sudah siap untuk pergi, saat aku mengatakan akan mengantarnya. Lexi mengatakan tidak perlu, aku memutuskan untuk ke sebuah cafe saja.


Aku tiba di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai kelihatannya, itu sangat bagus buatku kali ini. Aku masuk ke cafe tersebut dan mencari posisi yang enak untuk sendirian tanpa terganggu oleh pengunjung lain. Setelah menyapu seluruh ruangan akhirnya aku menemukan posisi duduk yang akan membuatku nyaman.


Saat sedang menikmati minuman dan camilan yang sudah aku pesan, betapa terkejutnya aku saat melihat Rein dengan seorang pria masuk kedalam cafe. Mereka terlihat sangat bahagia yang membuatku terkejut adalah pria itu merupakan kekasih Aiko.


Mengapa Isamu bisa datang bersama Rein, sebenarnya apa hubungan mereka berdua. Mengapa aku merasa jika mereka berdua memiliki hubungan lebih selain teman. Karena mereka berdua terlihat sangat dekat seperti sepasang kekasih.


Rein tidak pernah bersikap seperti itu padaku karena aku menganggapnya wanita terhormat. Jika menyentuhnya maka aku harus menikah dengannya. Namun, kenapa dia bisa bergandengan tangan dengan Isamu.


Mereka duduk di sampingku tetapi mereka tidak dapat melihatku karena terpisah oleh sekat bambu tipis. Sehingga aku bisa mendengar apa yang mereka berdua katakan.


Mendengar apa yang mereka katakan membuatku sangat muak, apakah mereka sudah tidak waras. Mengapa mereka bisa melakukan semua ini, bukankah mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Apakah aku sudah kurang menyayangimu Rein, mengapa kau bisa melakukan semua ini padaku? Bukankah kemarin kau sudah meminta maaf? Apa semua itu hanya sandiwara dirimu saja.


"Apa yang kau lakukan Isamu?! teriak seorang pria yang suaranya aku kenal.


Aku mendengarkannya secara saksama, benar suara ini adalah suara ayah Aiko. Dia sangat marah dengan apa yang dia lihat, mungkin dia merasa kesal dengan sikap Isamu dan Rein yang bermain dibelakang Aiko. Terjadi perdebatan antara mereka bertiga, aku sudah tidak tahan dengan perkataan Isamu dan Rein terhadap ayahnya Aiko.


"Hentikan perkataan kalian yang menjijikkan itu!" ucapku dengan nada dingin.


Seketika Rein dan Isamu terkejut setelah melihat dan mendengar perkataanku. Mungkin mereka tidak menyangka jika diriku ada di sini, kutatap Rein dengan lekat dia sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah. Inilah wajah aslimu Rein, sekarang aku sudah tahu kau yang sangat busuk ini.


"Aldo! Kau melihat kebusukan mereka! Lebih baik kau meninggalkan wanita seperti busuk seperti itu!" teriak ayah Aiko.


Rein tidak terima dengan perkataan ayah Aiko, dia membentak dan mengatakan perkataan yang sangat kasar dan tidak sopan menurutku. Aku tidak menyangka jika dia akan mengatakan semua ini, bukankah dia lulusan universitas di Kairo mengapa dia bisa berkata seperti ini.


"Sungguh disayangkan kau wanita yang tidak menghormati orang yang lebih tua darimu!" Aku berkata dengan nada dingin tetapi ada rasa kecewa.


Setelah mengatakan itu aku mengatakan pada ayahnya Aiko untuk pergi dari tempat ini. Tidak ada untungnya bicara pada manusia yang tidak mengerti arti kepercayaan dan kesetiaan. Ayahnya Aiko setuju denganku, aku berniat mengantarnya ke rumah karena saat ini ayahnya Aiko tidak membawa kendaraan. Karena istri sang sopir sedang sakit dan akan di bawa ke rumah sakit. Sehingga ayahnya Aiko mengizinkan sang sopir pergi membawa mobilnya.


Saat aku sedang menjalankan mobil menuju rumah Aiko, aku melihat dari belakang ada yang mengikuti. Aku terus memperhatikan mobil di belakang, mungkin hanya perasaanku saja. Lebih baik aku segera mengantar ayahnya Aiko ke rumah.


"Aldo— apa kau merasa jika ada yang mengikuti kita?" tanyanya padaku.

__ADS_1


__ADS_2