Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 167


__ADS_3

Lexi POV


"Kau baru pulang, sayang?" tanya Himawari padaku dengan senyum lembutnya padaku.


Aku mengangguk lalu membuka jas dan duduk sesaat di atas sofa, teringat akan kejadian tadi siang antara Aiko dan Aldo. Entah sampai kapan mereka akan seperti ini, dulu mereka selalu kompak untuk menggodaku.


"Apa yang kau pikirkan? Jika masalah Rein aku maafkan aku karena tidak bisa mengajarinya dengan baik!" Himawari bertanya padaku sembari duduk di sampingku.


Melihatnya merasa bersalah seperti ini membuatku merasa sedih karena semua ini bukan sepenuhnya salahnya. Semua perbuatan Rein adalah tanggung jawabnya sendiri sebab dia sudah dewasa dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Namun, yang aku sesali mengapa dia sampai hati melukai orang yang mencintainya.


"Sudahlah lebih baik kau lupakan masalah itu dulu!" Aku berkata pada Himawari lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi. Melihat Himawari yang sedang duduk termenung di atas sofa. Pasti dia sedang memikirkan kembali Rein, sudah aku katakan bahwa semua ini bukan salahnya dia masih saja merasa bersalah pada Aldo dan juga Aiko.


Aku berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya tetapi dia tidak menyadari bahwa aku sudah duduk di sampingnya. Niat nakal kembali merasuki diriku, membisikkan kata-kata yang akan membuatnya tersipu malu rasanya itu menyenangkan.


"Sayang, lebih baik kita memberikan seorang adik pada Rosalina!" bisikku padanya lalu menggigit lembut daun telinganya.


Dia terkejut tetapi wajahnya mulai memerah, apakah diaasih merasa malu jika aku mengatakan ingin memberikan adik pada Rosalina. Padahal kita sudah menikah kurang lebih lima tahun lamanya, melihat dia seperti itu membuatku semakin ingin menggodanya.


Himawari menatapku dengan lembut, aku mengangkat dagunya secara perlahan lalu mengecup dengan lembut bibirnya yang terlihat menggoda dan manis bagiku. Aku memainkan lidahku di rongga mulutnya dengan lembut. Lama kelamaan dia menikmati setiap permainanku lalu dia pun ikut bermain bersamaku.


Selain bibirku bermain dengan lembutnya, tangan ini juga ingin ikut bermain. Aku membelai dengan lembut setiap lekuk tubuhnya lalu melepaskan satu per satu pakaiannya. Menghentikan sesaat kecupanku guna melihat bagaimana wajahnya saat ini.


Aku mendorong tubuhnya secara perjalan sehingga dia terlentang di atas sofa. Menatapnya sejenak lalu kedua mataku menyapu dari atas hingga bagian bawah tubuhnya. Aku tidak bisa menahan bibir ini untuk menyapu dari setiap lekuk tubuhnya yang membuatku tergoda.


Mengecup dari kening dengan lembut, kedua matanya tak luput dari kecupanku. Berlanjut mengecup bibirnya dengan lembut tetapi aku bermain agak lama di sana. Setelah puas bermain dengan bibirnya, kecupanku berlanjut ke lehernya yang jenjang. Dia merasa kegelian tetapi menikmati setiap kecupanku.


Terdengar suara merdu yang sempat dia tahan agar tidak berhembus keluar. Namun, dia tidak bisa menahannya sehingga hembusan dari suara yang lembut itu keluar begitu saja. Sehingga membuatku semakin terprovokasi ingin menikmati semuanya.


Hembusan napasnya membuatku tidak bisa menahannya lagi dan akhirnya aku pun memulai permainan secara perlahan. Agar dia bisa menikmatinya dan akan mencapai titik kenikmatan, begitu pula denganku.

__ADS_1


Setelah selesai dengan permainan kami, kulihat dia begitu lemas tertidur di atas sofa. Aku menggendongnya dengan lembut lalu berjalan perlahan menuju tempat tidur. Aku menidurkannya secara perlahan di atas tempat tidur. Dia tersenyum lembut padaku dan aku pun membalas senyumnya.


"Tidurlah dengan nyenyak, aku akan selalu ada bersamamu!" lirihku padanya lalu merebahkan tubuhku di sampingnya.


Aku mendekatkan tubuhku pada tubuhnya sehingga dia bisa tertidur di dalam pelukanku. Aku bersyukur memiliki Himawari sebagai istri dan ibu dari anakku. Dia sudah tertidur aku pun menutup kedua mataku berusaha untuk tidur setelah pergulatan kami tadi.


Keesokan harinya.


Himawari membantuku dalam merapikan dasi dan kemeja yang aku kenakan untuk pergi ke perusahaan. Dia tersenyum lembut , aku suka jika dia terus tersenyum seperti ini. Aku tidak ingin melihatnya bersedih dan termenung memikirkan permasalah beberapa tahun lalu.


"Aku akan ke kamar Rosalina dulu," ucapnya padaku dengan lembut dan senyumnya yang manis.


Setelah selesai dengan persiapanku, aku memutuskan untuk melihat Himawari yang sedang berada di kamar Rosalina. Membuka pintu kamar lalu berjalan menuju kamar Rosalina. Terdengar tangisan dari putri kecilku sehingga membuat khawatir. Aku bergegas menuju kamarnya dan masuk guna melihat mengapa dia menangis di pagi hari.


"Ada apa?!" tanyaku pada Himawari dan Rosalina.


"Ayah— Ibu jahat padaku!" jawab Rosalina dengan beruraian air mata dan tangisnya kembali menyeruak.


Aku menatap Himawari guna mencari tahu sebab Rosalina menangisi dan berkata seperti itu. Dia menceritakan semuanya, jika Rosalina tidak mau membersihkan diri. Sehingga membuatnya kesal lalu dia memarahi Rosalina karena tidak mau menurutinya.


"Aku ingin mandi bersama Zeroun tetapi dia sudahandi terlebih dahulu!" jawabnya dengan terisak-isak.


Aku tersenyum lalu mengatakan jika Zeroun sudah mandi, itu tandanya Rosalina harus segera mandi juga. Dia bertanya mengapa harus bergegas mandi, aku menjawabnya kembali karena jika tidak bergegas mandi maka Zeroun akan pergi terlebih dahulu untuk belajar dengan guru yang akan tiba nanti.


Mendengar itu Rosalina turun dari pangkuanku dan menarik lengan Himawari dengan maksud mengajaknya untuk membantu membersihkan dirinya. Namun, sebelum masuk kedalam kamar mandi Rosalina meminta maaf pada Himawari karena sudah tidak menurut.


Himawari tersenyum lalu dia mengatakan jika dia sudah memaafkan semuanya, lalu mereka berdua masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan aku berjalan keluar untuk mengambil dokumen di ruang baca. Saat berjalan menuju ruang baca aku melihat Aldo sedang bicara dengan beberapa pengawal. Mungkin dia membicarakan semua tentang penjagaan rumah yang harus diperketat.


Lebih baik aku biarkan dia mengurus semua pekerjaannya dan aku kembali melanjutkan langkahku menuju ruang baca. Setelah mengambil beberapa dokumen yang aku perlukan, aku kembali keluar untuk menunggu Lexa dan yang lainnya untuk sarapan pagi ini.


"Lexi, apa kau sudah mendapatkan semua informasi mengenai Rosetta?!" Hinoto bertanya padaku.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala karena belum menemukan semua informasi yang dia butuhkan. Aku tahu jika dia merasa khawatir karena Rosetta sudah mulai berani menyerang kami. Setelah mendapatkan jawaban dariku, aku mengajaknya untuk ke meja makan.


Kami berjalan bersama menuju meja makan, terlihat di sana sudah ada Lexa dan Zeroun. Sedangkan Himawari serta Rosalina baru terlihat berjalan mendekati meja makan. Aku duduk di tempat biasanya sembari menunggu istri dan anakku.


"Lexi, aku ikut denganmu ke perusahaan— ya!" Lexa berkata padaku lalu aku mengangguk karena semua itu ada baiknya juga sehingga kami bisa saling melindungi.


Setelah selesai sarapan aku pergi bersama Lexa dan Aldo, sedangkan Hinoto pergi menggunakan mobilnya. Sebelum dia pergi, dia mengatakan pada Lexa jika dia akan menjemputnya nanti sore.


***


Setibanya di perusahaan, aku langsung menuju ruanganku begitu pula dengan Aldo dan Lexa. Namun, sebelum Aldo ke ruangannya aku menyuruh Aldo untuk menyiapkan semua dokumen yang aku butuhkan. Saat aku masih bicara dengan Aldo, aku melihat Aiko berjalan mendekatiku.


"Lexi, ini dokumen yang kau butuhkan!" ucapnya padaku sembari memberikan dokumen yang ada di tangannya. Setelah itu dia pergi begitu saja.


Setelah itu Aldo, bertanya padaku apakah ada yang dibutuhkan lagi. Aku mengatakan tidak lalu dia pamit untuk menyiapkan semua dokumen yang aku butuhkan hari ini.


Aku masuk ke ruangan kerja, lalu duduk guna memeriksa dokumen yang tadi Aiko berikan padaku. Membaca secara perlahan semua informasi yang ada di dalamnya. Rupanya dia sudah bekerja keras, sehingga mendapatkan semua informasi ini.


Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar diketuk, aku langsung menyuruhnya masuk. Pintu terbuka, ternyata itu adalah Aldo yang membawa dokumen di tangannya. Dia menyodorkan dokumen yang ada di tangannya lalu bertanya padaku apakah ada yang aku butuhkan lagi.


"Aldo— makan siang kali ini kita akan makan siang bersama Lexa dan Aiko!" ucapku pada Aldo.


Dia terlihat tidak menyukai apa yang aku katakan tetapi dia pun tidak bisa menolak perintahku. Aldo pergi meninggalkan ruanganku dengan wajah dinginnya. Yang aku inginkan saat ini adalah dia bisa kembali seperti Aldo yang aku kenal. Begitu juga dengan Aiko.


Sebelum jam makan siang tiba lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Setelah itu baru aku bisa sedikit santai dan mencari informasi yang aku butuhkan.


"Lexi— apa kau sudah siap?!" tanya Lexa yang baru saja masuk ke ruanganku.


Aku melihat jam yang melingkar di tanganku rupanya sudah waktunya makan siang. Karena Lexa yang sudah tidak sabar menunggu aku bergegas merapikan dokumen yang ada di atas meja. Setelah itu aku berjalan mendekati Lexa dan berjalan bersama menuju mobil.


Terlihat Aiko yang sedang berjalan ke arah kami, dia tersenyum pada Lexa dan kami pun berjalan bersama menuju mobil. Aku tidak melihat Aldo apakah dia lupa dengan janji makan siang kali ini. Namun, saat aku melewati ruangannya dia tidak terlihat ada di dalamnya.

__ADS_1


Rupanya Aldo sudah berada di dekat mobil menunggu kami, dia sudah membukakan pintu mobil. Aku masuk ke dalam mobil begitu pula Lexa dan Aiko. Setelah kami masuk Aldo pun masuk kedalam mobil. Kami pun langsung berangkat menuju sebuah restoran.


Bersambung...


__ADS_2