
Lexa POV
Hinoto sudah tidak jujur padaku, dia bilang hanya menjalankan misi satu kali. Ternyata dia sudah melakukan misi berkali-kali dan tersebar juga jika mereka menjalin hubungan.
Sebenarnya mengapa dia tidak jujur padaku, apakah aku tidak berhak untuk mengetahui masa lalunya. Apakah dia masih mencintai Rosetta sehingga di tidak berkata jujur padaku.
"Ada apa?!" Aiko bertanya padaku.
"Tidak ada apa-apa," jawabku singkat.
Dia terus bertanya padaku, mungkin dia tidak percaya padaku. Aku ingin menyelesaikan semua ini sendiri. Kita lihat nanti Hinoto, apakah kau masih akan berbohong padaku atau tidak.
"Bagaimana kabarmu dengan Isamu?" tanyaku pada Aiko guna mengalihkan pembicaraan.
Dia menghela napasnya lalu berkata, "Dia pria yang penuh kejutan, aku selalu dibuatnya kesal sekaligus senang."
Aku tersenyum mendengar Aiko berkata seperti itu, apakah dia sudah mulai menyukai Isamu. Terus bagaimana nasib Azura, bukankah dia berniat untuk mengejar Aiko.
"Kau mulai menyukainya?!" Aku bertanya karena penasaran apa yang ada di hatinya.
"Entahlah— aku belum bisa memutuskan apa aku mulai menyukainya atau tidak!" Aiko menjawab lalu mengambil dokumen yang sudah aku bubuhi tanda tangan.
Sekarang aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku, sore ini aku akan memberinya pelajaran sehingga dia tidak akan berbohong lagi. Apa yang harus aku lakukan sehingga dia tidak bisa berkutik lagi.
Ponselku berdering, saat aku melihat layar ponsel tertera nama Mamoru. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, ada apa dia menghubungiku.
Aku mengangkat telepon dari Mamoru lalu mendengarkan apa yang dia ingin bicarakan. Dia memintaku untuk bertemu besok karena hari ini dia masih ada di luar kota.
Ada apa dia ingin bertemu denganku, apakah ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan denganku. Dan aku pun menyetujuinya untuk bertemu besok.
Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Mamoru, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengannya atau bisnisnya. Karena semenjak pertemuan terakhir, dia sudah memilih untuk melanjutkan perusahaan ayah.
Tidak terasa hari sudah sore, Aiko sudah bersiap untuk segera pulang ke rumahnya. Dia saat ini tidak bisa pergi kemana-mana karena ibunya sedang sakit. Aku tidak terlalu khawatir dengan ibunya karena kemarin aku sudah menjenguk ibu. Dan sekarang kesehatannya sudah membaik.
Aku memutuskan untuk kembali ke rumah tetapi rasanya ingin mengendarai motor kesayanganku. Lebih baik sekarang aku kembali ke rumah setelah itu pergi lagi dengan mengendarai motor kesayanganku yang sudah tidak kugunakan.
Saat tiba di rumah, aku menyuruh salah satu pengawal untuk menyiapkan motorku. Dia pun bergegas melaksanakan perintahku, aku berjalan menuju kamar. Lalu mengganti pakaianku dengan pakaian yang bisa membuatku nyaman mengendarai motor balapku.
Setelah selesai bersiap, ponselku bergetar rupanya ada pesan dari Hinoto. Dia tidak akan kembali ke rumah selama 2 atau 3 hari, aku tidak membalas pesannya hanya membaca setiap pesan yang dia kirim.
Hinoto juga menuliskan pesan yang mengatakan bahwa dia sedang menjalankan misi. Sehingga dia tidak bisa menghubungiku setiap saat, aku tidak masalah dengan apa yang dia lakukan.
Mungkin saat ini aku sedang kesal dengannya karena dia sudah tidak berkata jujur mengenai Rosetta. Lebih baik malam ini aku mengendarai sepeda motor, mungkin bisa menenangkan pikiranku.
"Mau kemana kau?!" tanya Lexi padaku.
"Kau membuatku kaget saja! Aku ingin berkeliling dengan motor, katakan pada ayah jika aku keluar." Jawabku pada Lexi.
Dia mengangguk lalu mengatakan padaku untuk berhati-hati, setelah mendengar perkataan Lexi aku segera menuju motorku yang sudah disiapkan oleh seorang pengawal.
Motor sudah siap, aku menyalakan mesin motor lalu kutarik gas motor sehingga melesat meninggalkan halaman rumah. Kupacu motorku dengan kecepatan tinggi menembus jalanan kota Tokyo.
Entah mengapa jika aku sedang menghadapi masalah lebih enak jika aku mengendarai motor kesayanganku. Aku merasa ada yang tidak beres, sepertinya ada yang mengikutiku dari belakang.
Lebih baik aku mempercepat laju motor, jika mereka tidak mengikuti bearti itu hanya perasaanku saja. Namun, jika mereka masih mengikutiku maka mereka mengincarku.
Setalah beberapa menit aku melaju dengan kecepatan tinggi, kulirik spion motor. Rupanya mereka masih mengikutiku, sebenarnya siapa mereka. Bukannya aku sudah tidak berurusan dengan orang, semenjak aku menyelesaikan misiku melawan Rey Hirasaki.
Apakah mereka pengawal Rey Hirasaki yang ingin membalas dendam padaku. Namun, itu tidak mungkin karena aku sudah lama tidak mendengar mengenai pengawal Rey Hirasaki.
Ckitttt!
Aku mengerem dengan kekuatan penuh karena sudah ada mobil yang berhenti dengan depanku. Aku turun dari motor lalu mereka mendekatiku.
"Nona, lebih baik ikut dengan kami!" ucap seorang pria padaku.
Jika dilihat dengan seksama mereka merupakan pengawal yang terampil. Pakaian mereka pun sangat rapi, mereka seperti pengawalku dan ayah. Namun, mereka bukan pengawalku atau pengawal ayah. Sebenarnya siapa mereka, mengapa mereka ingin aku mengikutinya.
"Jangan harap! Aku tidak akan ikut bersama kalian!" jawabku dengan tegas.
Bug!
Bug!
Whussss!
Tanpa mengucapkan kata-kata mereka mulai menyerangku, aku berhasil menangkis pukulan dan tendangan mereka. Kalian pikir bisa dengan mudah menangkapku.
Aku terus bertahan dari serangan mereka sembari melihat celah untuk melawan balik. Setelah melihat ada celah aku langsung membalas serangan mereka tanpa ampun.
Bug!
Bug!
Whussss!
Brugggg!
Aku layangan pukulan ku bertubi-tubi lalu di akhiri dengan tendanganku, sehingga satu per satu musuhku tersungkur di atas jalanan beraspal.
Mereka masih bisa berdiri lalu bersiap untuk menyerangku, aku melihat dengan seksama mereka semakin banyak. Apakah mereka benar-benar berniat untuk membawaku dengan paksa.
Melihat mereka yang menatapku membuatku merasa ingin segera menghajar mereka tanpa ampun. Aku tidak akan dengan mudah kalian tangkap, kulihat mereka meremehkan kemampuanku.
__ADS_1
Aku terus bertahan dan menyerang mereka, rupanya mereka sangat tangguh sehingga aku hampir kehabisan tenagaku. Sedangkan mereka terlihat sama saja. Jumlah mereka tidak berkurang atau bertambah.
Bug!
***
"Di mana ini? Kepalaku sakit sekali!" gumamku.
Aku membuka kedua mataku meski terasa berat tetapi aku harus memaksakan membuka mataku. Aku ingin melihat sebenarnya ruangan apa ini. Karena ini bukanlah kamarku atau juga kamar apartemen Hinoto.
"Kau sudah bangun?!" ucap seorang pria padaku, aku mendongak guna melihat siap yang bicara padaku.
Saat melihat pria yang berjalan mendekatiku, sungguh aku tidak menyangka jika dia adalah Takeda. Bukankah dia sedang dalam jeruji besi, mengapa dia bisa keluar.
"Kau...," Aku berusaha melanjutkan perkataanku tetapi dia menarik tanganku lebih dulu.
Badan ku terasa lemas entah apa yang dia berikan padaku sehingga aku tidak memiliki tenaga. Dia menggendongku lalu mendudukan aku di atas sofa secara perlahan.
"Apa yang kau inginkan? Bukankah kau sedang berada di penjara?!" tanyaku padanya.
Takeda tersenyum, lalu dia mengatakan jika jeruji besi itu tidak sanggup menahannya untuk jangka waktu lama. Sehingga setelah terbebas, dia mencari keberadaanku.
Dia mengatakan jika aku sudah membuatnya tidak bisa tidur dan tidak bisa melupakanku. Aku sungguh muak mendengar apa yang dia ucapkan. Aku harap bisa cepat keluar dari sini, mudah-mudahan Lexi bisa menemukan keberadaanku.
"Ikutlah denganku, tinggalkan suamimu yang pembohong itu! Jika kau berada disampingku— aku akan membahagiakanmu!" Takeda berkata dengan yakin.
Tunggu dulu— dia mengatakan jika suamiku berbohong? Dari mana dia tahu jika Hinoto tidak jujur padaku. Apakah dia sudah menguntit ku sejak awal? Apakah sekarang aku berhadapan dengan pria yang tidak waras.
"Sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan suamiku! Meski kau mengenalku di sini!" Aku berkata dengan nada dingin padanya.
Dia masih saja tersenyum, meski aku mengatakan hal-hal yang membuatnya sakit hati. Aku terus berusaha membuatnya emosi dengan perkataan menusuk. Namun, dia masih tidak marah.
"Terus berkata setajam pisau— aku tidak peduli! Karena aku akan menjadikanmu milikku!"
"Kau sudah tidak waras! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjadi milikmu!" jawabku padanya.
Aku berusaha berdiri tetapi tenagaku belum pulih sehingga aku kembali terduduk di atas sofa. Dia tersenyum lalu menggendongku kembali dan membaringkan ku di atas tempat tidur.
"Istirahatlah malam ini! Besok pagi kau akan kembali segar." Takeda berkata dengan lembut lalu dia pergi meninggalkan diriku sendiri dalam kamar.
Lalu aku mendengar suara pintu terkunci, rupanya dia mengunci pintu kamar. Mungkin dia tidak ingin aku pergi tetapi jika aku sudah pulih, jangan harap kau bisa mengunciku di kamar ini.
Aku harap Lexi atau ayah menyadari aku tidak kembali ke rumah, ponsel— benar ponselku dimana? Aku harus bisa menemukan ponselku agar aku bisa menghubungi ayah atau Lexi.
Dasar pria tidak waras! Dia pasti sudah mengambil ponselku. Aku tidak akan menyerah jika aku sudah pulih. Akan aku balas kau Takeda karena sudah berani menyekapku disini.
Jika ayah dan Lexi tahu aku tidak ada rumah, mereka pasti sangat khawatir dengaku. Aku ingin bersama ayah dan Lexi, kembali ke rumah dari pada di tempat ini.
Aku terbangun saat mendengar suara kicauan burung dari luar, lalu tersadar jika aku bukan berada di kamarku. Mengingat kejadian semalam membuatku merasa ingin segera lepas dari penyekapan ini.
Rupanya dia seorang pelayan wanita, aku membuka kedua mataku secara perlahan. Pelayan itu tersenyum lalu dia menyiapkan pakaian untukku dan sadapan sudah tersimpan di atas meja.
Brugggg!
Aku memukul pundak pelayan wanita itu lalu berjalan perlahan menuju keluar kamar. Melihat sekeliling apakah ada pengawal yang sedang berjaga-jaga. Rupanya penjagaan disini begitu ketat, aku memiliki sebuah ide.
Ide ini lumayan bagus untuk kali ini, jika Lexi tahu mungkin dia akan menertawakan ideku ini. Aku membuka pakaian pelayan itu lalu menggunakannya.
"Maafkan aku! Sebenarnya aku tidak berniat membuatmu tak sadarkan diri!" ucapku pada pelayan yang sedang tak sadarkan diri.
Setelah aku bersiap lalu aku berjalan keluar dengan santai, agar tidak ada orang yang mengenaliku. Aku tersenyum tipis rupanya mereka tidak mengenali diriku sama sekali.
Brettt!
Seseorang menarik tanganku sehingga aku terjerembab dalam dekapannya. Saat aku melihat siapa yang menarik tanganku, sungguh aku terkejut karena dia adalah Takeda.
Bagaimana dia bisa mengenali diriku padahal aku sudah menyamar sebagai pelayan wanita. Sungguh aku tidak beruntung langgar menuju kebebasanku sudah di depan mata tetapi aku tidak bisa menjangkaunya.
"Lepaskan aku!" Aku bergandengan nada tinggi.
"Tidak akan aku lepaskan! Kau sungguh cerdik juga, menyamar sebagai pelayan wanita tetapi aku tidak bisa kau bodohi. Karena aku bisa mengenalimu meski kau menyamar." Takeda berkata padaku dengan senyum yang membuatku muak.
Bug!
Aku mengepalkan tanganku lalu meninjunya dengan sekuat tenaga tetapi dia bisa bertahan dan tidak melepaskan dekapannya. Sekarang aku akan menginjak kakinya dengan sekuat tenaga, apa kau bisa bertahan.
Dia meringis kesakitan, rupanya injakan kakiku begitu kuat, akhirnya aku bisa melepaskan diri dari dekapannya. Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju pagar yang sudah terlihat jelas di depan mata. Namun, beberapa pengawal sudah menghadangku, mungkin aku harus menghajar mereka hingga tidak bisa berdiri lagi.
Bug!
Bug!
Whussss!
Aku melayangkan tinjuanku secara bertubi-tubi lalu diakhiri oleh tendangan yang mematikan. Sehingga satu per satu pengawal Takeda berhasil aku tumbangkan.
Setelah dilihat mereka tidak bisa berdiri lagi, saat aku hendak melangkahkan kakiku. Tiba-tiba pandanganku kabur, sepertibada yang menyuntikan sesuatu pada leherku.
***
"Kau cukup membuatku kesusahan tetapi aku menyukaimu yang seperti ini! Kau seperti macan yang sulit di tundukkan!" ucap Takeda padaku yang baru saja tersadar.
Aku hanya bisa mendengarnya secara samar, aku melihat sekeliling rupanya ini kamar yang berbeda dengan yang kemarin. Kamar ini lebih besar dari yang kemarin.
__ADS_1
"Mulai malam ini kau akan tidur di kamarku! Sehingga aku bisa mengawasiku dan kau tidak bisa lari lagi dariku!" Dia berkata seperti itu semakin membuatku muak.
Sudah berapa hari aku disekap olehnya, apakah ayah dan Lexi sedang mencariku. Apakah Hinoto juga menyadari bahwa aku tidak ada di rumah.
Jika teringat Hinoto aku masih kesal dengannya, mengapa dia tidak jujur padaku. Apa susahnya berkata jujur kecuali jika dia masih mencintai Rosetta dan tidak bisa melupakannya. Maka aku akan mundur.
Karena yang dia lakukan merupakan suatu pengkhianatan bagiku, aku tidak suka di khianati. Itu juga alasan mengapa aku meninggalkan Mamoru sebab dia sudah berkhianat.
Badanku masih terasa lemas dan terasa lengket, ingin rasanya aku merendam tubuhku di dalam bhatup. Namun, ini bukan di rumah aku takut jika Takeda melakukan hal-hal yang akan membuatku jijik.
Terdengar suara pintu diketuk, lalu dia menyuruh masuk. Terlihat dua orang pelayan wanita masuk. Lalu mereka memberi hormat pada Takeda.
"Bantu wanitaku membersihkan dirinya!" Takeda memerintahkan kedua pelayanan wanita itu untuk membantu diriku membersihkan diri. Lalu dia berjalan keluar dari kamar.
Dua orang pelayan itu membatuku berdiri lalu memapah ku masuk ke kamar mandi. Seorang pelayan membantuku melepaskan pakaianku satu per satu. Sedangkan pelayan yang satunya lagi menyiapkan air hangat di dalam bhatup.
Setelah semuanya siap mereka membantuku masuk kedalam bhatup, dengan lembut mereka membantuku membersihkan diri. Lalu aku bertanya pada mereka apakah mau membantuku pergi dari tempat ini.
Seorang pelayan mengatakan jika keluar dari tempat ini sangat sulit karena penjagaannya sangat ketat. Pernah ada salah satu peluang yang mencoba lari dari sini tetapi dia berhasil tertangkap lalu Takeda menghabisi pelayan itu.
Rupanya para pelayan disini bukan hanya bekerja tetapi ada juga sebagai alat pembayaran atas hutang orang tua mereka pada Takeda. Ternyata Takeda sangat kejam, mengapa pria seperti dia yang tidak memiliki perasaan ingin memilikiku.
Setelah mereka membantuku membersihkan diri lalu mengenakan pakaian. Mereka pergi, tidak begitu lama Takeda tiba dengan membawa pelayan yang sudah membawa berbagai macam makan malam.
Meski dia bersikap baik padaku, aku tidak akan berpaling dari suamiku. Jika memang suamiku berkhianat aku pun tidak akan jatuh kedalam pelukan pria sepertinya.
"Kau terlihat sangat cantik, sayang!" Takeda berkata sembari duduk dan menyuruh pelayan menghidangkan makanan malam.
Aku hanya diam karena tidak ingin banyak bicara padanya, jika aku bicara dengannya mungkin aku akan semakin emosi. Saat ini aku tidak boleh membuatnya emosi karena tenagaku belum pulih, entah obat apa yang dia suntikkan pada tubuhku sehingga tubuh ini terasa lemas.
Takeda menggendongku karena dia tahu pasti aku tidak bisa berjalan karena lemah. Ini semua ulahnya sehingga aku tidak bisa berdiri dengan kedua kakiku.
Dia mendudukanku dengan lembut di atas sofa, di depanku sudah tersedia berbagai macam menu makanan. Meski aku merasa lapar tetapi aku tidak ingin memakannya.
"Makanlah! Sebelum aku memaksamu untuk makan dari mulutku!" Takeda berkata padaku dengan nada mengancam.
"Sebaiknya kau lepaskan aku! Jika ayahku dan Lexi menemukanku, maka kau akan habis!" ucapku padanya semabari memakan makanan yang sudah ada di atas piring.
Takeda terkekeh mendengar apa yang aku ucapkan, dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Dia berpikir jika ayah sudah tidak sanggup lagi berperang sedangkan Lexi tidak memiliki kemampuan untuk menyerangnya.
"Kau terlalu percaya diri Tuan Takeda! Kau tidak tahu kekuatan yang dimiliki oleh Alex dan Lexi Wibowo! Jika mereka mau kau tiada secara mengenaskan, mereka bisa melakukannya dengan mudah." Aku berkata dengan nada dingin.
Sungguh aku kesal dengan apa yang dia katakan, dia begitu meremajakan kekuatan ayah dan Lexi. Aku yakin Lexi bisa menemukan keberadaanku. Maka dari itu aku akan mencari cara keluar dari sini sembari menunggu Lexi menemukanku.
Setelah makan malam, dia kembali menggendongku lalu mendudukanku di atas tempat tidur. Sedangkan dia kembali duduk di atas sofa lalu membuka Notebook-nya.
Dia fokus dengan pekerjaannya sedangkan aku berpikir mencari cara untuk lepas dari cengkeramannya. Aku tidak ingin berada di dekatnya lebih baik aku berada di samping ayah selamanya. Sudah pukul 10 malam mataku mulai merasa ngantuk, kumelirik Takeda yang masih fokus dengan pekerjaannya.
Aku membuka mataku saat mendengar suara ponselku, melihat sekeliling ruangan. Aku melihat Takeda yang tertidur dibatas sofa, aku tidak mengerti sebenarnya bagaiman sifat pria itu.
Mungkin jika dia tipe pria yang sangat bengis dan mesum mungkin aku sudah dilecehkan olehnya. Namun, dia tidak melakukannya padahal saat ini aku sedang tidak berdaya.
Meski aku berpikir seperti itu tidak mengubah pemikiran ku yang pertama yaitu pergi dari cengkeramannya. Suara ponselku berbunyi kembali, aku berusaha berdiri guna mencari ponsel.
Aku memfokuskan pendengaran untuk mencari dimana suara ponselku berbunyi. Ada sebuah meja kecil di dekat sofa dimana Takeda tertidur. Sepertinya dia kelelahan sehingga tidak mendengar suara ponselku yang terus berdering.
Lebih baik aku berjalan secara perlahan mendekati laci meja itu agar Takeda tidak terbangun. Aku berhasil mendekat, secara perlahan aku membuka laci tersebut. Untung saja lacinya tidak terkunci sehingga aku bisa membukanya dengan mudah.
Saat membuka laci, aku melihat ponselku lalu mengambilnya dan mengangkatnya. Namun, aku berjalan mundur agar melihat apakah Takeda terbangun atau tidak.
Setelah mengangkat ponselku, aku mendengar Lexi bertanya keberadaanku. Lalu aku mengatakan semuanya pada Lexi tetapi belum aku memberitahukan semuanya Takeda sudah bangun.
Dia berjalan dengan cepat mendekatiku, aku tahu dia pasti akan mengambil ponselku. Aku mudur lalu mengatakan pada Lexi untuk segera melacak keberadaanku.
Takeda berusaha mengambil ponselku tetapi aku berhasil menghindar darinya. Terjadi perkelahian kecil diantara kami tetapi aku tidak akan menyerahkan ponselku. Aku berusaha mengikuti waktu agar Lexi bisa mengecek keberadaanku.
Bug!
Brugggg!
Dia memukul tanganku dengan kuat sehingga ponselku terjatuh dan hancur. Sehingga ponselku itu tidak bisa digunakan lagi, aku berharap Lexi sudah berhasil melacakku.
Aku berdiri sembari memegang tanganku, dia terlihat sangat marah. Saat ini lebih baik aku menghindarinya, meski aku harus melukai diriku demi melindungi diri sendiri.
Aku mengambil sebuah pena di atas meja, lalu menempelkannya di leherku. Aku mengatakan padanya untuk menjauh jika tidak aku akan menusuk leherku dengan pena yang tajam ini.
Takeda tersenyum dia berlari ke arahku dengan cepat dia memegang tanganku lalu melepaskan pena yang ada di tanganku. Dia berhasil menangkapku dan dia menggendongku lalu menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur.
"Jangan kau bertidak bodoh! Jika kau melakukan hal yang menjijikan maka aku semur hidup tidak akan memaafkan dirimu!" Aku berteriak padanya.
"Hahaha, kau ingin aku melakukan apa hah! Jangan kau menganggapku seperti monster, meski aku monster itu hanya bagi wanita murahan saja! Bagiku kau adalah wanita yang spesial, sehingga aku akan menyentuhmu jika kau sudah benar-benar menjadi milikku!" jawabnya sembari terkekeh.
Ponsel Takeda berdering lalu dia berjalan pergi meninggalkan diriku di dalam kamar. Aku berharap jika Lexi berhasil menemukan keberadaanku. Jika tidak aku akan mencari cara untuk pergi dari tempat ini.
Aku tidak menyangka akan bertemu dengan pria seperti dia, Takeda terlihat kejam tetapi dia bisa bersikap hormat padaku. Namun, aku masih tidak bisa menerima dengan semua sikapnya yang mengurungku di rumahnya. Karena aku sudah menikah dan dia tidak berhak melakukan semua ini padaku.
Tanganku masih terasa sakit akibat dipikulnya, tidak berapa lama seorang pelayan masuk. Dia membawa sesuatu ditangannya, setelah mendekat terlihat dia membawa obat untuk tanganku.
Sepertinya Takeda menyuruh pelayanannya untuk mengobati luka di tanganku. Secara lembut pelayan itu mengoleskan salep pada luka di lenganku.
Setelah itu dia pamit padaku untuk pergi karena dia sudah selesai mengobati lukaku. Dia juga mengatakan jika Takeda terlihat khawatir dan langsung menyurhnya untuk mengobati lukaku.
Rasa nyeri di lengan terasa tetapi rasa ingin pergi dari rumah ini begitu kuat. Aku tidak ingin berada di sini, aku ingin kembali bersama ayah. Entah mengapa aku menjadi lemah seperti ini, jika saja bunda berada di posisiku apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Mungkin bunda akan terus berjuang hingga akhir untuk kembali pada orang-orang yang dicintainya. Maka aku pun akan berjuang sampai akhir untuk kembali pada ayah, Lexi dan Hinoto.
Untuk masalah ketidak jujuran Hinoto lebih baik aku kesampingkan dulu. Sekarang yang terpenting adalah aku pergi dari sini. Setelah itu jika bertemu dengan binti, aku akan bertanya padanya dan aku ingin dia berkata jujur padaku.