Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 158


__ADS_3

Still Lexa POV


Hari berikutnya setelah peristiwa penyelamatanku suasana rumah kembali menjadi hangat. Namun, Hinoto masih belum memberikan kejelasan padaku.


Aku melihat dia sedang terbaring di atas tempat tidur, mungkin dia masih merasakan nyeri di bagian tangannya. Luka jahitan akibat pengambilan perlu di tangannya masih belum kering.


Sebenarnya ingin rasanya memarahinya saat bertemu dengannya kemarin. Namun, semua itu aku urungkan karena dia sudah menyelamatkan diriku dan menerima tembakan dari Takeda.


Duduk disampingnya sesaat tidak masalah lalu aku meletakan tangan di atas keningnya guna mengecek apakah dia demam atau tidak. Karena semalam aku tidak bisa tidur melihatnya begitu kesakitan dan dekan tinggi.


Saat aku melepaskan tangan dari keningnya dan hendak berdiri dia memegang tanganku. Lalu menarik tanganku dengan kuat sehingga aku terjatuh dalam pelukannya.


"Lepaskan aku! Jika tidak— aku akan menekan luka di lenganku!" Aku berkata dengan nada mengancam.


"Apa kau masih marah padaku? Aku menyukai kau marah jika merasa cemburu?!" ucap Hinoto padaku sembari mengecup keningku.


"Siapa yang cemburu? Kau terlalu percaya diri!" Aku berkata lalu melepaskan diri dari pelukannya.


Dia tidak bisa mendekapku dengan erat mungkin tangannya masih terasa sakit. Hinoto mengatakan padaku jika semua yang aku baca dan lihat itu tidak benar.


"Aku benar-benar hanya sekali menjalankan misi dengan Rosetta sebelum bertemu denganmu. Setelah itu aku baru bertemu dengannya saat pesta di Indonesia untuk penangkapan Takeda." Hinoto berkata padaku dengan tegas.


Terdengar dari setiap kata yang dia ucapakan benar tanpa ada sesuatu yang disembunyikan. Namun, aku masih penasaran bagaimana Lexi menemukan informasi yang salah.


"Lalu— bagaimana dengan informasi yang Lexi dapatkan? Mana mungkin itu salah karena dia mendapatkannya dari jaringan agen rahasia?!" tanyaku kembali padanya.


"Rosetta telah menyuap seorang agen lalu dia membuat informasi yang sesuai dengan keinginannya. Aku telah memberikan hukuman pada agen tersebut dan dia sudah dihukum oleh pihak tertinggi dalam agen rahasiaku! Apakah kau ingin tahu apa alasan Rosetta melakukan semua itu?!" Hinoto berkata lalu bertanya padaku.


Aku merasa dia mulai menggodaku, lebih baik aku tidak bertanya apa yang dia katakan tadi. Lalu aku mengatakan jika aku tidak perlu tahu itu.


Brettt!


Dia menarik tanganku kembali lalu berkata dengan lirih, "Rosetta menginginkanku menjadi miliknya!"


Mendengar apa yang dia katakan membuatku sedikit terkejut, apa mungkin jika Rosetta menyukai Hinoto.


"Lalu?" tanyaku padanya karena dia mulai membuatku penasaran.


Dia terkekeh lalu berkata, "Kau ingin tahu? Serius ingin tahu?"


Hinoto kembali membuatku kesal, lebih baik aku pergi saja dari sini. Mending aku berbincang-bincang dengan Himawari dan Aiko yang ada di taman.

__ADS_1


Aku melepaskan tangannya yang masih memegang tanganku, lalu aku berjalan dengan wajah masam meninggalkan Hinoto sedniri di kamar. Aku sudah tidak peduli jika dia terus saja memanggil namaku tetapi dia masih terkekeh.


"Ada apa? Kau terlihat kesal!?" tanya Lexi padaku tetapi aku menghiraukannya. Aku langsung berjalan menuju taman guna bertemu dengan Aiko dan Himawari.


Saat berjalan menelusuri anak tangga aku melihat Rosetta yang baru saja tiba. Sebenarnya dia mau apa bukankan dia sudah kembali ke Indonesia.


Dia melihat ke arahku lalu tersenyum, aku hanya memberinya senyum tipis. Karena aku sudah tahu dari Lexi tentang semau yang sudah dilakukan oleh Rosetta. Jika ayah tidak melarangku mungkin saat ini aku langsung berlari kearahnya dan langsung menghajarnya.


"Bagaimana kabarmu? Aku dengan Takeda membuatmu kesulitan?!" Rosetta bertanya.


Mendengar pertanyaan itu apakah dia tahu jika aku disekap oleh Takeda. Apakah dia telah bekerja sama dengan Takeda untuk menyekapku. Jika benar aku tidak akan melepaskannya, akan aku buat kau menderita. Apa yang kau miliki dan banggakan akan aku hancurkan.


"Kau bisa lihat sendiri— aku baik-baik saja dan sudah ada di rumah bersama keluarga yang mencintaiku. Termasuk suami yang sangat mencintaiku sampai akhir hayat kami!" Aku mengatakan itu sembari melangkah melewatinya.


Dan aku tidak peduli dengan apa yang sedang dia pikirkan. Aku berjalan menuju taman guna mencari Aiko serta Himawari. Namun, aku tidak menemukan mereka.


Mengapa aku teringat Hinoto ditambah lagi ada Rosetta yang baru saja tiba. Aku bergegas menuju kamar, entah mengapa hatiku merasakan ingin segera melihat Hinoto yang berada di kamar.


Saat aku membuka pintu kamar, betapa terkejutnya diriku melihat Rosetta yang sedang memeluk Hinoto.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!" tanyaku dengan nada dingin.


Dia meneteskan air matanya lalu dia berkata jika dia dan Hinoto dulu saling mencintai. Jadi pelukan ini adalah ketidak sengajaan saja karena dia melihat Hinoto terluka.


Lexi dan yang lain berdatangan ke kamarku mereka mendengar tangisan yang dibuat-buat oleh Rosetta. Dia terlihat seperti wanita yang sudah tersakiti. Aku hanya bisa tersenyum melihat sandiwaranya, jika dia menjadi aktris mungkin dia akan mendapatkan sebuah piala.


Aku mendekati Rosetta yang enggan menjauh dari Hinoto. Lalu aku melepaskan tangannya yang masih menggenggam lengan Hinoto dengan sangat keras. Aku tersenyum padanya lalu membisikkan kata-kata jika sampai kapan pun dia tidak bisa memiliki Hinoto.


Rosetta merasa kesal dengan apa yang aku katakan lalu dia melancarkan serangannya padaku. Dia mengatakan jika dia sudah pernah berhubungan badan dengan Hinoto dan hamil.


"Jika kau hamil oleh Hinoto— dimana sekarang anak itu?!" tanyaku dengan nada dingin.


Ingin rasanya aku mencabik-cabik mulutnya yang penuh dengan racun, jika aku tidak tahu kebenarannya mungkin saja aku bisa berpisah dengan Hinoto.


Dia terdiam saat aku bertanya padanya tentang anak yang dia kandung dari hasil hubungannya dengan Hinoto. Terlihat jelas di wajah Hinoto rasa kesal, aku tahu dia hendak meledak. Namun, aku tidak membiarkan dia marah seperti itu pada Rosetta karena itu yang diinginkannya.


"Bayi itu sudah tiada— karena Hinoto yang membunuh bayiku di saat masih dalam kandungan!" pekiknya lalu dia menangis guna mencari simpati dari orang.


"Hentikan sandiwaramu itu! Karena semua itu tidak ada gunanya! Aku memiliki semua bukti kebusukkan yang kau kerjakan selama ini!" Hinoto berkata dengan nada dingin.


Namun, ada penekanan dari setiap kata yang diucapkan oleh Hinoto. Aku baru pertama kali melihat Hinoto seperti ini, aura yang dia keluarkan bukan Hinoto yang selalu bersikap mesum padaku. Terlihat jelas dari sorot matanya kemarahan yang sudah memuncak, mungkin dia tidak melakukan apa yang dikatakan oleh Rosetta.

__ADS_1


Rosetta terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Hinoto, sedangkan aku melihat Aiko dan Himawari yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung mendekati Rosetta.


Mereka menarik lengan Rosetta lalu membawanya keluar dari kamar. Lexi tersenyum padaku dan berkata akan membereskan Rosetta dan dia tidak akan berani kembali ke rumah lagi.


Aku melihat Hinoto yang sedang menahan emosinya sehingga luka di lengannya kembali mengeluarkan darah. Aku berusaha menenangkan dirinya. Namun, dia terlihat masih emosi dan mengepal tangannya.


Kukecup bibirnya sekilas dengan lembut guna menenangkannya, sembari aku memegang lengannya agar dia melepaskan kepalanya tangannya.


"Tenangkan dirimu, aku sepenuhnya percaya padamu, sayang!" Aku berbisik padanya dengan lirih.


***


Tidak terasa sudah sebulan setelah peristiwa itu, aku sudah kembali beraktivitas dengan pekerjaan di perusahaan. Ayah memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Karena perusahaan di Indonesia tidak bisa dilepaskan begitu saja.


Sedangkan Lexi sekarang bersamaku mengurus perusahaan ayah di Jepang. Ayah lebih tenang jika kami berusaha selalu bersama mengurus perusahaan pusat di Jepang.


"Sayang, hari ini kau jangan bekerja ya?!" Hinoto berbisik padaku lalu dia menggigit lembut daun telingaku.


"Hentikan itu! Kau selalu menggodaku!" Aku berkata pada Hinoto sembari mendorongnya perlahan kebelakang.


Aku tidak tahu mengapa dia semakin mesum saja kali ini, dia kembali memeluk dengan erat lalu dia mengatakan jika dia menginginkan seorang gadis mungil yang akan menemaninya bermain.


Mendengar itu aku tersenyum, dia menginginkan seorang gadis kecil. Tanpa memberikan aba-aba dia langsung menggendong diriku dan dia menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur.


Dia mulai mengecupku dengan lembut tangannya tidak ketinggalan ikut bermain. Permainan semakin lama semakin membuatku menikmati semuanya. Sehingga aku mengikuti permainan yang dia lakukan.


Setelah bergulat dengannya kurang lebih selama dua jam membuatku tubuhku terasa lemas. Dia selalu melakukan permainannya sangat lama. Entahlah, apa dia memang serius ingin memiliki seorang gadis kecil untuk menemaninya.


Setelah itu aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pagi ini aku sudah dua kali membersihkan diri. Semua ini gegara Hinoto, awas saja jika aku masuk angin karena banyak membersihkan diri. Aku akan membalasnya.


"Mau kemana kau sudah bersiap?! Apa kau tidak merasa lelah, sayang?!" Hinoto terus saja menggodaku meski dia sudah menuntaskan permainannya.


"Aku harus ke kantor— ada pekerjaan yang tidak bisa Lexi lakukan! Hari ini apakah kau akan ke perusahaan?!" Aku menjawab sekaligus bertanya padanya.


Hinoto memelukku kembali lalu dia berkata jika dia akan ke perusahaan untuk membicarakan tentang sebuah kerjasama. Aku melepaskan lengannya yang melingkar di tubuhku lalu mengecupnya sekilas. Setelah itu aku pamit untuk pergi duluan ke kantor.


Sebelum aku ke kantor aku mengatakan pada Hinoto akan bertemu dengan Mamoru terlebih dahulu. Dia terlihat tidak khawatir karena dia percaya padaku dan Mamoru sudah tidak memiliki rasa.


Aku pun bertemu dengan Mamoru, dia mengatakan untuk membantunya melamar seorang wanita yang akan menjadi istrinya. Aku sungguh bahagia mendengar itu, akhirnya dia mendapatkan seorang wanita yang akan menjadi pasangan seumur hidupnya.


Mamoru tersenyum, dia merasakan jika Mamoru yang sekarang sudah berubah. Dia sudah menjadi pria yang baik dan bertanggungjawab, ayah pun sering menceritakan jika Mamoru sudah menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2