Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 131


__ADS_3

Lexa POV


Setelah selesai urusanku di Korea, aku memutuskan untuk kembali ke Jepang. Karena tidak bisa lama-lama meninggalkan perusahaan, aku tidak mau jika ada masalah yang bisa membuat ayah pusing memikirkannya.


Sedangkan Hinoto masih berada di Korea untuk beberapa hari lagi, kesibukkan diperusahan membuat aku teringat akan Lexi. Apakah dia baik-baik saja di Indonesia.


"Lexa, ini semua dokumen yang harus kau periksa lalu bubuhi tanda tanganmu!" Aiko masuk ke ruanganku dengan setumpuk dokumen yang akan membuatku pulang larut malam ini.


"Apa tidak salah? Dia ingin membunuhku secara perlahan?" gunamku.


Aiko terkekeh, sepertinya dia mendengar apa yang aku gumamkan tadi. Terlihat dia sangat menikmatinya, entah mengapa semenjak kembali dari Korea. Dia sering membuatku bekerja sangat keras, sebenarnya apa yang sudah aku lakukan padanya? Sehingga dia dendam padaku.


"Sudahlah, kerjakan semua tugasmu! Aku akan melanjutkan tugas yang belum selesai!" ucapnya lalu berjalan keluar dari ruanganku.


Aku menghela napas dengan kasar, sepertinya benar dia sedang balas dendam padaku. Namun aku tidak tahu apa yang membuatnya marah padaku.


Apakah dia marah karena Isamu selalu mendekatinya sewaktu di Korea dan aku tidak menolongnya untuk lepas dari Isamu. Ahh tidak mungkin, masa dia marah hanya karena itu. Apakah dia sudah memiliki kekasih? Arrrgggh semua pertanyaan itu menggelayut di otakku.


Sepertinya aku harus bertanya langsung padanya, kutinggalkan dokumen yang sedang di baca. Lalu berjalan keluar untuk menemui Aiko di ruangannya.


Karena rasa ingin tahu yang begitu besar sehingga aku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Tetapi langsung membukanya, Aiko terlihat sangat terkejut.


"Katakan padaku? Kamu marah padaku?" Aku langsung bertanya tanpa basa-basi pada Aiko.


Aiko terkekeh mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibirku, tawanya itu membuat aku semakin kesal saja. Aku menatap tajam dia yang masih terkekeh.


Aku mengulang sekali lagi pertanyaan tadi, karena ingin tahu apa penyebab dia melakukan semua itu padaku. Setalah dia berhenti tertawa, barulah mengatakan alasannya membuatku kesal.

__ADS_1


"Aku kesal padamu, karena kau tidak membantuku untuk melepaskan diri dari gangguan Isamu." Jawabnya padaku.


Sudah kuduga dia kesal dengan Isamu, aku menghela napas dengan kasar. Lalu aku bertanya padanya apakah dia sudah memiliki seseorang yang sangat penting baginya.


Dia menggelengkan kepalanya, saat ini yang dia inginkan adalah fokus pada pekerjaannya. Tidak pernah terbersit dalam pikiran untuk masalah cinta, menurutnya cinta itu rumit.


"Cinta tidak seindah yang kita kira, aku bisa melihat cinta Hinoto padamu. Namun aku tidak bisa mengatakan cinta itu indah, karena adakalanya cinta akan membuat kita menderita." Ucap Aiko padaku.


"Hai Aiko, apakah kamu baru putus dari pacarmu?" Aku bertanya padanya, karena mendengar apa yang dia ucapkan tadi.


Dia tersenyum, lalu mengatakan bahwa dia belum pernah berpacaran. Namun dia melihat beberapa pasangan yang jatuh cinta lalu mereka berpisah hanya karena perbedaan pendapat saja. Atau bisa juga karena mereka tidak bisa menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangannya.


Setelah selesai berbicara dengannya, aku memutuskan untuk kembali ke ruang kerja. Karena masih banyak dokumen yang harus diperiksa lalu di bubuhi tanda tanganku.


"Oia, pesankan makan siang untukku. Karena aku tidak akan pergi keluar!" Ucapku pada Aiko sembari pergi meninggalkan ruangannya.


Saat memasuki ruangan, aku melihat begitu banyak dokumen yang harus diselesaikan hari ini. Lebih baik dikerjakan langsung dan tidak boleh membuang waktu begitu saja, batinku.


Tok!


Tok!


Setelah meletakan makan siangku, dia membujuk lalu pamit pergi meninggalkan ruangan. Setelah selesai dengan beberapa dokumen, perutku terasa lapar. Akhirnya aku memutuskan untuk menyantap makan siangku terlebih dahulu.


Selagi aku menyantap makan siang, tidak begitu lama Aiko masuk ke ruanganku dengan membawa makan siangnya. Dia duduk di hadapanku lalu dia langsung menyantap menu makan siangnya.


Setalah selesai menyantap makan siang kami berbincang-bincang sebentar. Kami membicarakan mengenai perusahaan yang ada di Indonesia.

__ADS_1


Aiko mengatakan bahwa perusahaan parfum milik bunda dalam masalah. Ada seseorang yang ingin menghancurkannya, sehingga saat ini perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar.


Mungkin itu alasan ayah dan Lexi kembali ke Indonesia sebelum aku kembali ke Korea. Apakah Lexi bisa mengatasi semua ini, aku mengatakan pada Aiko untuk terus memperhatikan perusahaan tersebut. Karena aku ingin membatu Lexi jika dia dalam kesulitan.


Setelah selesai berbincang-bincang Aiko kbali ke ruanganya sedangkan aku kembali menyelesaikan semua pekerjaan yang terlihat sedikit lagi. Kuperhatikan ponsel yang tersimpan di atas meja, menunggu seseorang untuk menghubungiku. Namun tidak ada panggilan masuk maupun pesan.


"Apakah dia sedang sibuk? Sehingga dia tidak bisa menghubungi diriku, padahal tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan pesan singkat." Gumamku.


Tidak kusangka pekerjaan ini akhirnya selesai, Aiko sudah duduk di atas sofa guna menemaniku bekerja. Dia terlihat sangat lelah, aku langsung menghampirinya dan berkata agar dia pulang untuk istirahat. Lagi pula pekerjaanku sudah selesai.


Lelah rasanya, hari ini begitu banyak pekerjaan yang diselesaikan. Namun aku merasa khawatir dengan Lexi, apakah dia bisa menangani semuanya dengan baik. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan perusahaan yang telah bunda jaga sepenuh hati.


Lebih baik besok saja aku menghubunginya, sekarang lebih baik aku pulang ke rumah dan berendam di dalam air hangat dengan aroma terapi. Mungkin itu bisa membuat tubuhku menjadi kembali segar.


Akhirnya tiba di rumah, untung saja aku meminta sopir untuk menjemput di kantor. Karena aku sangat kelelahan sehingga tertidur selama dalam perjalanan pulang.


Aku melangkah perlahan memasuki kamar, tidak biasanya keadaan kamar gelap gulita. Apakah pelayan lupa untuk menyalakan lampu di kamar. Sudahlah mungkin mereka banyak pekerjaan sehingga lupa dengan lampu di kamarku.


Kaki ini melangkah perlahan guna mencari saklar untuk menyalakan lampu, sehingga akan menjadi terang benderang. Jika gelap aku takut tersandung lalu terjatuh 'kan itu sakit.


Sebelum sampai pada kotak saklar, ada seseorang yang memelukku dari belakang. Dengan refleks aku menyikut perutnya, sehingga terdengar erangan kesakitan. Namu dia kembali memegang tangan yang telah menyikutnya.


"Siapa kau?! Berani sekali masuk ke kamarku hah!" aku berkata dengan nada tinggi.


Aku tidak menyangka bahwa akan ada penjahat yang bisa memasuki kamar. Karena rumah ini memiliki penjagaan dan pengamanan yang sangat ketat. Lexi pasti sudah mengatur pengaman sebelum dia pergi lalu ayah pasti sudah mengatur para pengawal untuk berjaga.


Mengapa dia bisa masuk dengan mudah ke rumah, jika dia musuh itu artinya pengamanan yang di buat Lexi sudah gagal. Begitupun para pengawal yang sudah disiapkan oleh ayah.

__ADS_1


"Siapa kau?!" Aku bertanya sekali lagi, karena keadaan ruangan kamar yang gelap gulita sehingga tidak bisa melihat orang yang masuk kedalam kamar.


Dia masih tidak bersuara tetapi tangannya masih memegang erat lenganku. Aku menunggu jawabannya tetapi dia tidak bersuara sedikitpun. Sungguh membuat hati ini kesal saja, di saat lelah bekerja mengapa ada musuh yang bisa memasuki kamar.


__ADS_2