
Mamoru POV
Wanita aneh aku minta maaf dan hendak membantunya, malah bersikap sombong. Tapi dia cantik juga dan dia wanita pertama yang menolak uluran tanganku. Padahal selama ini banyak wanita yang mendekati ku. Hah kenapa pula aku memikirkannya, lebih baik aku segera masuk ke ruangan pesta.
Ku melangkahkan kaki ku untuk memasukki ruangan pesta, ku melihat sekeliling untuk mencari seseorang. Dia berjanji padaku akan menghadiri pesta malam ini, awas saja kalau dia tidak menepati janjinya, ku hajar dia sampai tak bisa bangun. Disini banyak sekali para gadis, mereka mulai memperhatikan ku.
Sekilas aku melihat wanita yang ku tabrak di depan toilet, ku perhatikan dia dari kejauhan. Rambutnya panjang berwarna hitam berkilau, badannya begitu ramping, kulitnya putih seputih air susu. Senyumnya begitu menggoda, aku harus mencari tahu siapa wanita itu. Aku menyuruh seorang pelayan untuk memberikan segelas minuman untuknya. Sungguh aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi.
"Malam Tuan Muda Mamoru!" sapa seorang wanita yang bersikap genit padaku. Mengapa setiap melihat wanita bersikap seperti itu diriku merasa muak. Aku pun tersenyum tipis menanggapi sapaan wanita itu.
Tidak ada niat sedikitpun aku untuk melayani wanita genit seperti kalian. Lebih baik aku pergi saja dari sini, ku berjalan meninggalkan para wanita yang menyapa ku tadi. Mereka berbisik dengan tingkah sombong ku, meski niat mereka berbisik, tapi aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Dan aku tidak perduli dengan yang di gunjingan mereka.
Ku mencari keberadaan wanita bergaun merah tadi, mata ku terus berkeliling mencari keberadaannya. Akhirnya ku temukan wanita berbaju merah ini, rupanya dia sedang duduk manis di seberang sana. Dia menyibakkan gaun merahnya, kupikir aku akan melihat kulit kakinya yang putih itu. Ternyata dia menggunakan leging yang warnanya senada dengan gaun merehnya.
Dia membuka high heels apakah kakinya terluka? Mungkin kah dia terluka saat aku menabraknya di depan toilet tadi? Lebih baik aku mendekatinya saja. Aku mulai melangkahkan kaki ini untuk mendekatinya. Dia melihatku! Dia mulai berdiri dan berjalan berlainan arah dengan ku. Apakah dia sedang menghindar dari aku? Lebih baik aku cepat mendekatinya, kalau tidak dia keburu menghilang.
Ku percepat langkah kaki agar dia tidak bisa menghindar dariku lagi. Aku berhasil mengejarnya, sepertinya dia tak menyadari bahwa aku sudah berada di depannya. Dia terkejut melihat ku sudah berada di depannya. Aku tersenyum tipis, 'kau tidak bisa lagi menghindar dari ku nona!'
"Hallo Nona perkenalkan namaku Mamoru! Bolehkah saya tahu nama Nona?" Dia tidak bergeming dengan ucapan perkenalanku, sekaget itu kah dia melihatku.
Sebelum menjawab pertanyaan ku, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku kenal dengan suaranya ternyata dia Alan, orang yang ku tunggu-tunggu kedatangan. Dia berjalan menghampiri ku, dengan senyum ciri khasnya. Kami memang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu.
Aku teringat wanita bergaun merah ini belum menjawab pertanyaan ku. Aku pun bertanya sekali lagi, guna mengingatkan atas pertanyaan ku. Dia akhirnya menjawab pertanyaan ku dengan singkat, "namaku Alexa!" Setelah itu dia pergi meninggalkan ku dan Alan.
__ADS_1
Alan memandangi Alexa, apakah dia sudah kenal dengannya. Aku pun bertanya padanya, "apa kau mengenalnya Alan?"
Alan terdiam sesaat, entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku bertanya sekali lagi padanya, dengan menepuk pundaknya. Dia terbangun dari lamunannya.
"Aku belum mengenalnya dengan baik, karena baru tadi siang aku bertemu dengannya! Di saat aku sedang bertugas, mencari seorang pencuri!" Apa aku tidak salah dengar, tidak mungkin Alexa seorang pencuri. Wanita secantik itu adalah pencuri, mungkin Alan salah paham tentang gadis itu.
Aku pun mencari tempat yang nyaman untuk kami berdua berbincang-bincang. Kutemukan sebuah tempat duduk yang nyaman, dan yang pastinya aku bisa melihat wanita bergaun merah Alexa. Kami berbincang dengan asyiknya.
Tapi semua itu tidak berlangsung lama, beberapa saat kemudian datanglah para wanita. Mereka mulai bersikap genit pada kami, dan aneh Alan melayani para wanita itu. 'Dasar kau Alan! Semua wanita kau layani!' gumamku.
Alan hanya tersenyum mendengar itu, dia terus berbincang dengan wanita-wanita itu. Ada seorang wanita yang ingin berbincang dengan ku. Tapi aku tidak merasa nyaman dengan wanita seperti ini. Karena mereka bertidak sangat murahan, mudah sekali di dapatkan.
Aku merasakan ada yang sedang memperhatikan kami, aku mulai mencari siapa yang memperhatikan kami. Tak sengaja mata ku bertubrukan dengan matanya. Ternyata dia yang memperhatikan ku dari tadi. Aku tersenyum tipis, dia langsung memalingkan wajahnya.
"Tuan Muda Mamoru, kenapa anda melamun saja?" Seorang wanita bertanya dengan nada menggodanya. Aku hanya tersenyum dingin padanya. Aku tidak ingin berlama-lama dengan para wanita ini.
Aku beranjak dari tempat duduk ku dan pergi meninggalkan mereka bersenang-senang. Saat aku akan pergi mengambil minuman, seorang clinet datang menghampiri ku. Kami pun berbincang-bincang sesaat.
Plak...
Seseorang menepuk pundak ku, aku terperanjat ku lihat siapa yang sudah berani melakukan itu padaku. Ku menengok ke belakang ternyata Alan. Kalau bukan dia, sudah ku hajar orang itu karena sudah berani mengagetkan aku.
"Ada apa dengan mu?"
__ADS_1
Alan bertanya padaku, dia mengetahui jika aku memikirkan sesuatu. Dia tahu persis bagaimana aku karena dia sudah mengenalku sejak kami masih kecil. Dia satu-satunya sahabat ku, yang mengerti tentang diri ku. Bisa di bilang Alan seperti saudara ku.
"Tadi aku sempat teringat dengan tragedi itu, dan wanita yang telah menyelamatkan ku dari keamtian!"
"Apakah kau melihat wanita itu?" Rasa penasaran Alan semakin menguat, karena dia sudah berjanji ingin menemukan wanita itu demi aku.
Aku ingin berterimakasih pada wanita itu, kalau tidak ada dia mungkin aku sudah tidak bisa ada di sini. Aku sudah mencari bertahun-tahun tentang wanita yang menyelamatkan ku itu. Tapi semuanya sia-sia, tidak ada informasi tentang wanita itu.
"Aku tidak melihat wanita itu!" jawabku pada Alan.
"Sudahlah tidak usah kau pikirkan kembali tragedi itu! Seharusnya kau bersyukur kalau tidak ada dia kau tidak akan ada disini bersama ku! Jadi nikamti hidupmu."
Yang dikatakan Alan memang benar, seharunya aku bersyukur atas semuanya. Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan mengucapkan rasa terimakasih ku padanya. Sampai kapan pun wajahnya tidak akan aku lupakan.
____________________________________________
*** Hallo para pembaca semuanya,
Terima kasih yang masih bertahan membaca cerita ku dari tiga bulan yang lalu. Aku tidak menyangka dari novel pertama ku, sekarang berlanjut ke novel kedua ku. Sungguh di luar dugaan ku, ya aku tahu meskipun masih banyak kekurangan ku.
Aku selalu membaca komentar-komentar kalian dan belum lama ini aku menemukan komentar bahwa kalian menyayangi author dan memberi ku semangat. Terimakasih aku juga menyayangi kalian semua 😊
Dan aku ingin bertanya, mungkinkah diantara kalian yang mengusulkan sesuatu untuk cerita ini? kalian bebas mengekspresikan apa yang kalian inginkan. Mungkin ada yang kurang terpuaskan dengan ceritanya, aku hanya ingin berbagi pendapat 😊😉**
__ADS_1