
Setelah Satu batang dupa berlalu
Shringgggggg
"Untuk Paman-paman yang sering membantu ku." Gumam Ling Feng. Dun Cao sudah tidak bisa lagi berteriak sejak beberapa menit yang lalu, namun ekspresi kesakitan masih terpampang jelas diwajahnya.
Selama hampir satu jam lamanya Ling Feng menyiksa Dun Cao. Ling Feng memotong seluruh bagian anggota yang bisa ia potong, bahkan tumpukan kaki dan lengan Dun Cao sudah menjulang tinggi setinggi setengah meter.
Ling Feng sendiri masih acuh tak acuh, namun dirinya juga sudah bosan ketika Dun Cao sudah tidak bisa berteriak lagi. Jiwanya sudah terkena tekanan yang sangat berat selama satu jam ini, bahkan Ling Feng tidak memberikan belas kasihan apapun. Ling Feng membiarkan Dun Cao merasakan dua kali lipat rasa sakit akibat dari anggota tubuh yang ditebas serta menyakitkannya proses regenerasi.
"Terakhir untuk teman-teman ku yang kalian bunuh." Ucap Ling Feng. Saat-saat terakhir Ling Feng tidak menebasnya ia hanya membakar seluruh tubuh Dun Cao dengan api yang cukup besar, ia membakar habis Dun Cao yang sudah berubah menjadi mayat hidup serta tumpukan anggota tubuh yang ia potong menjadi abu.
Setelah selesai membuat Dun Cao menjadi abu, Ling Feng terdiam sejenak disana ia langsung jatuh bersujud dengan keadaan menatap langit yang sebentar lagi akan hujan.
Ling Feng menatap langit dengan mata yang sendu dan berkaca-kaca. "Ayah, ibu, Paman-paman, bibi-bibi, teman-teman ku, serta seluruh warga desa. Aku telah membalaskan dendam untuk kalian. Oleh karena itu, hiduplah dengan tenang di alam sana." Ucap Ling Feng dengan suara parau. Ia lantas menutup kedua matanya, karena sudah tidak kuat.
Pada saat ia menutup kedua matanya, tiba-tiba ia merasakan sebuah sentuhan diwajahnya. Reflek ia membuka kedua matanya dan terkejut melihat bayang-bayang yang selama ini ia rindukan.
"Ayah…Ibu…" Kata yang keluar dari mulutnya sembari berusaha menggenggam telapak tangan sang ibu. Wajah dingin acuh tak acuh kini telah diganti dengan wajah yang sangat rapuh, wajah yang sangat tidak berdaya, wajah seseorang yang merindukan orang-orang ya ia sayangi.
Wujud bayang-bayang Ibu dan ayah Ling Feng tersenyum kepada Ling Feng, Perlahan bayang-bayang warga desa yang lain muncul juga sembari memasang Ekspresi senyum di wajah mereka masing-masing. Ling Feng yang melihat itu tidak kuat lagi untuk menahan air matanya. Ia menangis sekencang-kencangnya meluapkan emosi dan perasaan yang ia pendam saat ini.
"Akhhhhhhhhhhhh" Teriak Ling Feng sekencang-kencangnya. Ia menangis saat itu juga bayang-bayang warga desa serempak mendekati Ling Feng dan mengerubungi Ling Feng. Ling Feng yang berada ditengah-tengah menangis sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian bayang-bayang itu bangkit dan terbang ke langit. Ling Feng yang melihat itu ingin menggapainya, namun seakan bayangan, tidak dapat disentuh.
Bayang-bayang ibunya pun turun kembali lalu membelai wajah Ling Feng dengan senyum manis tercetak diwajahnya lalu kembali ke langit dan naik kembali bersama bayang-bayang ayahnya dan para warga disana. Ling Feng menangis kembali, karena emosinya masih tidak stabil.
tiba-tiba ada orang yang datang dan langsung memeluk Ling Feng. Ling Feng sadar sebentar dan kembali menangis sekencang-kencangnya, meluapkan emosi yang ia tahan selama ini.
Long Tian menatap langit-langit disana, dan terfokus dengan pria yang disamping ibu dari Ling Feng. Bayang-bayang pria tersebut bergumam sesuatu, Long Tian yang paham akan gumaman tersebut menganggukkan kepalanya dan menundukkan kepalanya hormat.
Sedikit kemudian Bayang-bayang Ibu dan ayah Ling Feng, serta para warga desa hilang di langit-langit. Long Tian menatap cukup lama langit-langit itu, sementara Ling Feng masih tidak bisa berhenti menangis ketika mengalami kejadian tadi.
Bahkan ia sampai tertidur, setelah menangis sekencang dan seemosional itu. Long Tian membaringkan tubuh Ling Feng disampingnya, ia sekali lagi melihat wajah Ling Feng yang masih bersedih walaupun sudah terlelap tidur, karena kelelahan menangis.
Alam Mimpi Ling Feng
Terlihat seorang pemuda meringkuk seluruh tubuhnya. Pemuda itu adalah Ling Feng masih terbalut dengan kesedihannya. Tempat disana gelap, hampa, dan sunyi sekali. Kejadian yang terjadi tepat didepan matanya benar-benar membuat Ling Feng teringat kembali tentang kejadian beberapa tahun lamanya.
"Bagaimana mungkin anak dari Ling Cao akan selemah ini." Ucap sosok tersebut yang tidak lain adalah Ling Cao ayah dari Ling Feng. Tanpa pikir panjang, Ling Feng bangkit dan memeluk sang ayah sembari berteriak. "Ayah bodoh! Feng'er sangat merindukan ayah selama ini tau tidak?!." Teriak Ling Feng sembari memeluk erat tubuh sang ayah dan sekali lagi air matanya lolos saat itu.
Sosok ayah dari Ling Feng itu hanya tersenyum sembari mengelus-elus puncak kepala Ling Feng. "Nampaknya kau sudah menjadi sedikit dewasa sekarang anakku. Mungkin sekarang kau sudah saatnya kau menjadi dewasa sepenuhnya deng-" Ucap Ling Cao langsung terpotong oleh suara lainnya.
"Ling Cao bren*sek apa yang ingin kau lakukan terhadap anak ku." Ucap sosok wanita terdengar dari mimik suaranya yang tiba-tiba muncul dan langsung meninju tengkuk Ling Cao dan merebut Ling Feng kedalam pelukan wanita tersebut. Sosok wanita itu adalah Ling Yan Ibu dari Ling Feng.
Dalam pelukan sang Ibu, Ling Feng tidak bisa berhenti menangis sama sekali. Ling Yan melihat Ling Feng yang seperti itu hanya tersenyum lalu mengelus-elus puncak kepala Ling Feng. "Anakku sayang, apa yang dikatakan oleh ayah bodoh mu itu tadi sampai-sampai Membuat mu menangis kencang seperti ini." Ucap Ling Yan.
__ADS_1
Ling Feng tersenyum dalam pelukan sang ibu lalu menghapus air matanya dan mengubah ekspresinya. "Ayah tadi bilang bahwa ibu bukanlah yang pertama, dan aku disuruh untuk mengikuti jejak seperti ayah." Ucap Ling Feng dengan ekspresi wajah sedih. Ling Cao membelalakkan matanya, sedangkan Ling Yan terdiam sejenak lalu memasang ekspresi wajah tenang dan tersenyum.
Melihat ekspresi itu, Ling Cao langsung bergidik ngeri. Ling Feng pun yang yang melihat itu juga merasakan hal yang sama dengan Ling Cao. Lalu pembantaian sepihak pun terjadi dimana Ling Cao hanya bisa pasrah dipukuli oleh sang istri.
Ling Feng yang melihat kebersamaan itu tersenyum lebar kembali mengingatkan tentang hari-hari bahagia mereka sebagai keluarga sederhana. Canda, tawa, marah, sedih, senang, semua itu ada didalamnya.
Namun sayang hal itu tidak bertahan lama, setelah setengah jam berlalu, tubuh Ling Cao dan Ling Yan pun mulai bercahaya.
"Sepertinya sudah hampir waktunya." Ucap Ling Cao. Ling Feng yang mendengar itu rasa semangatnya perlahan-lahan memudar digantikan ekspresi sedih.
"Anak ku ini, yang besar sepertinya hanya bagian bawahnya saja, tidak dengan sikapnya." Ucap ambigu Ling Cao. Ling Yan yang mendengar itu langsung menyikut perut Ling Cao, kesal dengan perkataan yang dilontarkan suaminya itu.
"Anakku Feng'er, ada satu hal yang harus kau ketahui. aku, ibumu dan ayah bodoh mu ini, serta para warga desa. Kami semua tidak akan pergi kemanapun. Kami semua selalu ada bersama denganmu nak, kami semua selalu ada disini dan tetap bersamamu." Ucap Ling Yan dengan senyuman menunjuk hati Ling Feng.
"Ayah dan Ibu ada disini?" Ulang Ling Feng. Ling Yan yang mendengar itu menjawab kembali, "Ya kami selalu ada disini, di hatimu. Selama Feng'er tidak melupakan kami dihari Feng'er kami akan terus hidup." Ucap Ling Yan memeluk anak semata wayangnya itu.
"Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri lagi nak, dan kembalilah ke pribadi mu, lepaslah topeng yang selama ini membelenggu mu, dan hiduplah dengan bahagia. Lalu tentang masalah percintaan pesan ibu masih sama yang seperti dulu, jangan pernah melupakan itu." Ucap Ling Yan tersenyum kepada Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu pun tanpa sadar mengiyakan permintaan sang ibu. Ling Feng lalu melirik Ling Cao.
Ling Cao yang paham akan lirikan tersebut maju memeluk sang isteri seraya berkata, "Perkataan ayah sudah diwakili oleh ibumu. Pesan ayah, jangan pernah puas akan sesuatu hal dan jangan pernah sombong akan sesuatu hal, dan juga carilah istri yang mau mendampingi mu baik susah maupun senang aku yakin kau bisa memenuhi ekspektasi ku." Ucap Ling Cao tersenyum dan memberikan isyarat jempol.
Ling Feng yang paham akan maksud jempol tersebut, membalasnya dengan isyarat jempol pula dan tersenyum lebar. Ling Yan sendiri tidak akan paham dengan isyarat itu, karena hanya pasangan anak dan ayah saja yang tau.
Cahaya ditubuh Ling Cao dan Ling Yan semakin terang. menandakan bahwa waktu mereka sudah habis. "Jangan pernah lupakan perkataan ibu ya nak." Ucap Ling Yan tersenyum. Ling Feng juga tersenyum lembut menanggapi kata-kata sang ibu.
__ADS_1
"Jangan lupa dengan kesepakatan kita, ayah yakin kau bisa." Ucap Ling Cao memasang senyum Pepsodent. Ling Feng sedikit terkekeh dan mengiyakan perkataan sang ayah.
>>>>>> Bersambung