
“Begitulah sekiranya apa yang ingin ku bahas pada pertemuan mendadak ini. Jadi, aku ingin meminta pendapat kalian mengenai hal ini, tidak, lebih tepatnya bagaimana kalian akan merespon hal ini?” Tanya Chang Jin seraya menyapu pandanganya ke seluruh tetua yang ada di ruang pertemuan. Hening sejenak aula pertemuan, sampai beberapa detik kemudian, tetua yang duduk di sebelah kiri tetua ke empat berdiri yaitu, tetua ketiga.
“Bukankah jawabannya sudah jelas patriark. Mana mungkin kita akan diam saja, ketika melihat ras iblis yang datang dengan niat memperbudak kita. Jelas-jelas jawabannya adalah melawan.” Ucap tetua ketiga yang mengutarakan pendapatnya yang pertama. Ling San sebagai tetua pertama, ikut bangkit dari tempat duduknya juga dan berkata, “Aku setuju dengan Tetua ketiga. Para tetua yang lainnya pun saling berpandangan dan tersenyum, ikut bangkit juga menandakan bahwa semuanya setuju untuk melawan.
Chang Jin tersenyum simpul lalu melirik kembali ke arah Ling Feng seraya berkata, “Nah Feng’er kami semua sudah setuju sesuai dengan tebakan mu. Jadi bisa kita dengar lebih detail lagi tentang tujuan dari iblis ini sebenarnya.” Ucap Chang Jin seraya tersenyum simpul penuh arti kepada Ling Feng.
Ling Feng yang mendengar itu, membalasnya dengan senyuman juga. “Seperti yang di harapkan dari Ketua Sekte Naga Langit. Tidak ada yang bisa kusembunyikan darinya.” Batin Ling Feng terkekeh pelan, lalu Ling Feng pun mulai mengatakan semuanya, termasuk dengan tujuan dari iblis seperti yang dikatakan Chang Jin.
>>>>>_____
“Jadi begitu ya... Aku mengerti sekarang maksud dari perkataan mu Feng’er.” Ucap Chang Jin ketika selesai mendengarkan serta memahami penjelasan yang di ucapkan oleh Ling Feng. Bukan hanya ketua sekte saja, para tetua yang mendengar penjelasan Ling Feng pun serentak menganggukan kepala mereka masing-masing, memahami apa yang di katakan oleh Ling Feng dan tidak ada yang menolak dari usulan yang di sarankan oleh Ling Feng.
Ling Feng menganggukan kepalanya, tersenyum kembut kepada Chang Jin setelah selesai menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi saat ini. Lalu, tetua ke empat tiba-tiba berkata, “Tidak kusangka kau dapat memikirkannya sampai seperti itu Feng’er. Bukan hanya informasi-informasi dasar saja, kau bahkan mendapatkan informasi yang terbilang sangat penting dan sudah memikirkan langkah selanjutnya. Sungguh orang tua ini tidak bisa untuk tidak memuji mu.” Ucap tetua ke empat tiba-tiba memuji. Tetua ke empat memanggil Ling Feng dengan panggilan akrab, karena Ling Feng sendiri yang memintanya kepada para tetua untuk tidak terlalu formal kepadanya.
Mendengar tetua ke empat yang secara tiba-tiba memuji, membuat para tetua yang hadir di sana tersentak terkejut, karena pasalnya tetua ke empat ini dikenal sebagai tetua yang jarang memuji seseorang. Bahkan ia tidak segan-segan memarahi murid-murid, jika mereka melakukan kesalahan, bahkan jika kesalahan yang di buat itu hanya sebesar biji gandum. Tentunya menjadi pemandangan yang sangat mengejutkan bagi para tetua dan ketua sekte sekalipun.
Ling Feng yang mendengar itu melirik ke arah tetua ke empat dan menunjukkan senyumannya seraya berkata, “Tetua ke empat terlalu memuji Feng’er. Feng’er masihlah kurang akan pengalaman.” Ucap Ling Feng dengan sopan, membuat tetua ke empat yang mendengar itu tersenyum lebih lebar. Tetua ke empat pun bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Ling Feng, tentunya hal itu menarik perhatian para tetua termasuk Ling San dan Chang Jin yang penasaran dengan apa yang hendak di lakukan oleh orang tua tersebut.
“Tidak hanya pintar dalam menganalisis keadaan dan mampu mengambil keputusan dengan kepala dingin, sikap sopan santun mu itu benar-benar nilai yang lebih membuat ku jadi lebih tertarik kepada mu anak.” Ucap Tetua ke empat yang seketika membuat wajah para tetua yang lainnya berkedut termasuk dengan Ling San dan Chang Jin yang terkejut dengan perkataan tetua ke empat. Tepat Ling San, Chang Jin, dan para tetua yang lainnya hendak mencegah tetua ke empat untuk berbicara lebih lanjut, Tetua ke empat dengan cepat langsung berkata kepada Ling Feng.
__ADS_1
“Feng’er apakah kau ingin menjadi murid resmi ku?” Ujar tetua ke empat yang langsung mengutarakan tujuannya sebelum para tetua, Ling San, dan Chang Jin memotong perkataannya. Bahkan Feng’er pun sampai terkejut ketika mendengar hal itu, dan seketika aula pertemuan pun menjadi riuh seketika.
Para tetua yang mendengar pertanyaan itu tentunya tidak terima dengan tetua ke empat yang menurut mereka tidak adil, karena berusaha untuk mengklaim secara sepihak mendahului yang lainnya. “Hei, apa-apaan tingkah tidak tahu malu mu itu?! Jangan coba-coba untuk berbuat curang kau pak tua.” Ucap tidak terima salah satu tetua dari tempat duduk yang Ling Feng ketahui adalah milik dari tetua ke enam. Tetua ke enam sendiri adalah salah satu tetua perempuan, yang keduanya itu antara lain, tetua ke tujuh dan ke lima.
Tetua ke enam melangkah cepat dan langsung menghempaskan Tetua ke empat yang tidak siap akan di hempaskan itu, dari hadapan Ling Feng tanpa rasa ampun sedikit pun.
Booommmm
Setelah melakukan itu, tetua ke enam lalu melirik ke arah Ling Feng seraya tersenyum, walaupun sudah menjadi seorang tetua, tidak terlihat kerutan di wajah cantiknya. Seakan-akan kecantikan tetua ke enam ini adalah keabadian itu sendiri. Tetua ke enam yang tersenyum manis itu pun berkata, “Tidak perlu mendengarkan pria tua pemarah tadi Feng’er, lebih baik kau menjadi muridku saja.” Ucap Tetua ke enam kepada Ling Feng
Baru saja ia selesai mengatakan itu, sama seperti ia menghempaskan tetua ke empat, tetua ke enam pun mendapatkan perlakuan yang serupa dari sosok tetua perempuan cantiknya lainnya, bahkan cara menghempaskannya saja tidak dengan cara biasa seperti tetua ke enam, Tetua perempuan tersebut adalah tetua ke tujuh yang langsung melancarkan tendangan yang cukup kencang membuat tetua ke enam terpental ke samping ke sisi ruangan aula pertemuan.
Booommmm
“Cihhhh... Jika Feng’er menjadi murid mu, bakat alami petarungnya akan menjadi sia-sia.” Kata tetua ke tujuh setelah menghempaskan tetua ke enam. Tetua ke tujuh pun dengan cepat melirik ke arah Ling Feng dan tersenyum. Tidak, sebuah seringai mungkin lebih tepat untuk mengekspresikan nya. “Feng’er jadilah murid ku. Aku tahu kau mempunyai otot yang padat di balik pakaian longgar mu itu. Akan kutempa dirimu menjadi sosok kultivator yang kuat di bawah bimbingan ku.” Ucap tetua ke tujuh kepada Ling Feng dengan sangat bersemangat membuat Ling Feng secara refleks melangkah ke belakang, karena wajah tetua ke tujuh sangat dekat dengan wajahnya. Baru saja Ling Feng ingin mengatakan sesuatu kepada tetua ke tujuh, secara tiba-tiba tetua ke enam yang tadi ia hempaskan, melesat cepat ke arahnya dengan pedang yang sudah ia gengam.
Tetua ke tujuh juga tidak tinggal diam, ia dengan cepat mengeluarkan pedang besarnya juga dari cincin ruangnya dan menahan serangan pedang dari tetua ke enam.
Ctaannngggg
__ADS_1
“Hohhh kau bangkit sangat cepat wanita lemah, padahal kukira kau akan membutuhkan waktu yang lama, tapi tidak secara di duga ya.” Ucap tetua ke tujuh dengan nada mengejek. “Cihhh... Aku tidak ingin mendengar hal seperti itu, dari seorang wanita bar-bar tanpa keanggunan sama sekali.” Ucap tetua ke enam membalas ejekan dari tetua ke tujuh. Tetua ke tujuh yang tidak terima pun berkata dengan nada tidak senang, “Hahhh...?! Apa kau bilang tadi wanita jala*g.” Kata Tetua ke tujuh yang tidak terima dengan ejekan dari tetua ke enam. “Aku bilang, wa-ni-ta bar-bar. Apakah kurang jelas.” Ucap tetua ke enam mengeluarkan seringai mengejeknya.
“Hohhh... Sepertinya kau memang harus dipukul terlebih dahulu dengan pedang ku ya, supaya kau sadar kembali dari kesombongan mu itu.” Ucap Tetua ke tujuh dengan seringai lebar. “Maju sini, kau kira aku takut dengan wanita bar-bar seperti mu, hahhh?!” Balas cepat tetua ke enam.
Ctaannngggg
Begitulah aula pertemuan yang mendadak berubah drastis menjadi medang perang antara para tetua. Bahkan Chang Jin, Ling San, dan dua tetua yang tersisa pun termasuk ke dalamnya, membuat Ling Feng yang awalnya berniat untuk memisahkan mereka dengan baik-baik, terpaksa harus mengeluarkan kekuatannya. Sontak para tetua yang awalnya hendak bertarung itu, refleks melangkah mundur, karena serangan tebasan Ling Feng yang mengadung aura pedang tepat ter arah kepada mereka.
Shrinngggg
Booommmm
Para tetua termasuk Ling San dan Chang Jin, melompat mundur cukup jauh, sesaat tebasan yang Ling Feng lancarkan itu mengenai mereka dan para tetua. Para tetua yang awalnya hendak saling bertarung seketika terdiam ketika merasakan aura pedang yang sangat intens keluar dari tebasan yang Ling Feng lancarkan.
“Sebelumnya aku minta maaf, karena aku terpaksa melakukan ini. Karena jika tidak seperti ini, para tetua sekalian pasti tidak akan berhenti sampai bangunan ini hancur.” Ucap Ling Feng yang langsung menyimpan kedua pedangnya kembali ke dalam cincin ruangnya lalu meminta maaf. Mendengar permintaan maaf dari Ling Feng, para tetua pun merasa malu dengan diri mereka masing-masing, karena bersikap egois, lalu yang lebih memalukannya lagi adalah mereka kalah tenang, dari sosok pemuda.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.
__ADS_1