
“Benar-benar pemuda yang luar biasa.” Ucap takjub Zhang Ling yang dianggukki oleh Yin Mei, Hu Yan, dan Cai Lan.
>>>>>>______
“Ayo kita pergi.” Ucap Zhang Ling seraya melangkah terlebih dahulu.
“Baik Tetua.” Ujar Yin Mei, Hu Yan, dan Cai Lan serempak seraya menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga mengekor di belakang Zhang Ling melangkah dengan tenang, sampai beberapa saat kemudian Cai Lan pun berhenti melangkah seraya berbalik menatap ke arah tujuan Ling Feng.
Wanita itu entah mengapa menghela nafas, sampai beberapa saat kemudian ia pun berbalik dan menyusul kedua saudarinya. Dirinya tidak sadar, ada sosok Ling Feng yang sedang mengawasinya dari sebuah pohon paling tinggi cukup jauh dari sana.
“Gadis kecil itu sepertinya berniat untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, namun dirinya tidak terbiasa berinteraksi dengan pria. Jadinya ia kesulitan untuk mengucapkan terima kasih dengan benar kepadamu.” Jelas Long Tian yang memang kebetulan mendengar nama Ling Feng dalam percakapan antara Cai Lan, dan kedua saudarinya waktu dirinya baru selesai memburu beberapa ikan di laut.
“Biarkan saja. Lagipula aku bukan orang yang tergila-gila akan hal seperti itu.” Ucap Ling Feng lalu dirinya kembali menghilang dari pohon tersebut.
>>>>>>______
Sementara itu Zhang Ling dan ketiga murid sekte gadis suci pergi ke arah barat. Zhang Ling juga menceritakan beberapa hal tentang Pulau Tanjung kepada ketiga murid sekte nya tersebut. Mulai dari asal usulnya, orang yang pertama kali menguasai pulau tersebut, dan masih banyak lagi hal lainnya. Cai Lan dan kedua saudari nya itu menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Zhang Ling.
Walaupun pulau tersebut besar, namun hanya ada satu kota saja di pulau tersebut yang terletak di tengah pulau. Sisanya adalah beberapa desa kecil yang berada di sekitar kota tersebut. Kota tersebutlah yang menjadi tujuan dari keempat wanita tersebut. Dipulau tanjung hanya ada beberapa keluarga tingkat dua dan satu orang ahli ranah langit tingkat puncak yang memimpin kota sekaligus penguasa Pulau Tanjung tersebut.
__ADS_1
Mengingat Pulau Tanjung terlalu jauh dengan daratan utama, alhasil jarang orang-orang datang ke sana. Jadi tidak banyak ahli kuat yang yang menetap di pulau tersebut. Walaupun dapat dikatakan tempat di pulau tersebut bagus, namun jaraknya dari daratan utama lah yang menjadi faktor Pulau Tanjung sepi pengunjung.
Zhang Ling juga memberitahukan kepada Cai Lan dan kedua gadis lainnya, bahwa kota tersebut berada di naungan dan tunduk di bawah sekte mereka. Ketiganya nampak terkejut ketika mendengar hal itu, mereka tidak menyangka bahwa sekte mereka mempunyai pengaruh juga di Pulau Tanjung ini.
“Ya terjadi beberapa hal antara sekte kita dan pemimpin pulau ini, alhasil Pulau Tanjung ini pun juga masuk ke dalam perlindungan sekte kita.” Jelas Zhang Ling. Jarak dari pelabuhan menuju ke tengah pulau tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu setengah jam saja keempat wanita itu pun sudah sampai di kota yang mereka tuju.
Kedatangan keempat wanita cantik itu tentu saja menarik perhatian semua orang yang ada di kota. Bahkan tidak sedikit yang menatap kagum keempat wanita itu dengan terang-terangan. Walaupun begitu keempatnya tetap acuh dengan sekitarnya, dan terus melangkah ke arah sebuah mansion besar yang ada di kota tersebut.
Terlihat ada dua orang prajurit yang berjaga di sana, awalnya kedua prajurit tersebut terpesona dengan kecantik empat wanita tersebut, sampai beberapa saat kemudian mereka pun tersadar dan langsung bersiaga.
Tepat salah satu prajurit penjaga mansion itu hendak mengatakan sesuatu, Zhang Ling langsung menunjuk sebuah plakat Tetua Sekte Gadis Suci seraya berkata, “Aku datang kemari untuk memenuhi permintaan dari pemimpin kota.” Ucap Zhang Ling singkat. Kedua prajurit tersebut langsung terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Zhang Ling.
“Selamat datang Tetua. Mari saya antar ke dalam, pemimpin kota sudah menunggu Anda dan ketiga murid lainnya.” Ucap prajurit tersebut memberi hormat kepada Zhang Ling.
“Tolong tunjukkan jalannya.” Ucap Zhang Ling dianggukki oleh prajurit tersebut.
“Mohon ikuti saya.” Ucap ramah sang prajurit lalu membawa Zhang Ling dan yang lainnya masuk ke dalam mansion tersebut. Sang prajurit mengantarkan mereka ke depan sebuah pintu besar. Sebelum masuk, prajurit tersebut pun kembali berkata, “Salam pemimpin. Tamu-tamu Anda sudah datang.” Ucap sang prajurit seraya mengetuk pintu besar tersebut beberapa kali.
“Bawa mereka semua masuk.” Ucap suara di balik pintu besar tersebut. Sang prajurit pun langsung melaksanakan perintah dari suara di balik pintu tersebut, membuka pintu besar itu lalu mempersilahkan Zhang Ling dan ketiga murid sekte gadis suci masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Terlihat ruangan tersebut sangatlah luas dimana ada dua sosok pria juga berada di ruangan tersebut. Terlihat seorang pria paruh baya tengah berdiri di hadapan sebuah meja panjang lalu diikuti seorang pemuda yang juga berdiri di salah satu kursi yang tersedia di hadapan meja tersebut.
Terlihat pria paruh baya itu tengah tersenyum lebar ke arah Zhang Ling dan yang lainnya lalu berkata, “Selamat datang di Kota Tanjung Tetua Zhang. Perkenalkan, namaku adalah Wang Hei. Lalu pemuda di samping ku adalah putarku yang bernama Wang Yang. ” Ucap pria paruh baya itu menyambut seraya mendekat ke arah Zhang Ling dan yang lainnya memberi salam sekaligus memperkenalkan dirinya.
“Salam juga pemimpin kota. Namaku Zhang Ling salah satu dari Tetua Sekte dan ketiga gadis ini adalah murid dari sekte gadis suci yang ikut bersamaku.” Ucap Zhang Ling balas menyapa pria paruh baya tersebut yang tidak lain adalah pemimpin Kota Pulau Tanjung. Cai Lan dan kedua saudarinya pun juga ikut memberi salam kepada pemimpin kota tersebut.
“Aku sudah mendapatkan instruksi dari sekte. Aku dan ketiga muridku datang kemari untuk memenuhi permintaan mu untuk membantumu menyelidiki orang-orang yang hilang di Kota Tanjung. Jadi bagaimana jika kita langsung membicarakan nya Walikota Wang. ” Ucap Zhang Ling lagi yang dianggukki oleh Wang Hei.
“Aku mengerti Tetua. Memang benar lebih cepat, lebih baik. Kalau begitu aku akan menceritakan semuanya.” Ucap Wang Hei lalu meminta Zhang Ling dan lainnya untuk duduk terlebih dahulu di kursi yang telah tersedia di raungan tersebut. Setelah itu Wang Hei pun mulai menceritakan insiden tersebut mulai dari awalnya sampai akhir.
Pria paruh baya itu bercerita panjang lebar tentang insiden orang hilang yang sering terjadi beberapa minggu pekan ini. Bukan hanya terjadi di kota saja, di hampir di seluruh desa yang ada di sekitar kota juga terjadi hal yang sama.
Zhang Ling sendiri menyimaknya dan hanya sesekali mengangguk kepalanya. Hu Yan dan Yin Mei tidak terlalu memperhatikan apa yang di bicarakan oleh Wang Hei. Hanya Cai Lan yang merasa ada yang janggal dari cerita Wang Hei.
Pasalnya dari cerita yang disampaikan oleh Wang Hei. Kebanyakan orang-orang yang menghilang di Kota Tanjung adalah para wanita dan anak-anak. Awalnya ia berpikir bahwa itu adalah ulah dari bandit laut atau Tetua Racun, namun mengingat sekelompok pembuat onar tersebut telah di musnahkan, dirinya pun membuang jauh-jauh pemikiran tersebut.
Sampai Cai Lan pun mendapatkan sebuah spekulasi yang tidak ia duga sama sekali. Ia berspekulasi bahwa insiden orang hilang di Kota Tanjung ini ada kaitannya dengan wanita dan anak-anak yang di culik kelompok bandit laut.
>>>>>> Bersambung
__ADS_1
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.