
“Hahahaha... Terima ini sampah tidak berguna!” Teriak bocah itu.
“Ckckckck... kau tidak boleh melakukan hal seperti itu, tindakan mu itu berbahaya loh bocah.”
Swussshhh.... Taapppp...?!
>>>>>>______
“Seranganku di tahan?!” Batin bocah yang melancarkan serangan. Bocah yang hendak menyerang kakak beradik itu terkejut dengan kehadiran sosok berjubah yang secara tiba-tiba menahan serangannya. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menghempaskan tangan orang berjubah itu seraya mundur beberapa langkah ke belakang.
“S-siapa kau berani memanggilku bocah! Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur urusan orang lain!”
“Siapa aku itu tidak penting. Juga, kau ini belum berumur lima belas tahun, kalau bukan bocah apalagi memang namanya.” Timpal sosok berjubah itu membuat bocah yang sombong itu terdiam membisu, tidak bisa membalas perkataannya sama sekali.
“K-kau...”
“Terlebih lagi sifatmu itu sangat buruk untuk seukuran bocah. Kau dan kawan-kawanmu itu harus diberi sedikit pelajaran, supaya mengerti cara menghargai orang lain.” Ucap orang berjubah itu lagi seraya memasang gestur melemaskan jari-jari tangannya, selangkah demi selangkah mendekati bocah sombong dan kawan-kawannya itu. Mendengar apa yang dikatakan orang berjubah itu, bocah sombong itu pun merasakan firasat buruk sebentar lagi akan datang kepadanya.
“T-tunggu aku adalah...” Ucapan dari bocah sombong itu langsung berhenti, karena orang berjubah itu secara tiba-tiba muncul di hadapan nya, dan dalam sekejap langsung menampar salah satu pipi bocah itu, sampai-sampai ia langsung terhempas jatuh.
Plaakkkk...! Baaammm...!
“Aku tidak peduli kau itu anak siapa. Bahkan jika kau anak raja sekalipun, jika kau melakukan tindakan salah dihadapanku, maka aku akan tetap memukul wajah mu.” Kata orang berjubah itu dengan nada acuk tak acuh. Bocah sombong dan anak buahnya yang mendengar hal itu, masing-masing dari tubuh mereka bergetar.
“Baiklah... Aku baru mulai pelajarannya. Pastikan diri kalian semua tetap sadar saat menerima pelajaran dari diriku ini. Sekelompok bocah nakal.” Ujar orang berjubah itu dengan penekanan setiap katanya, membuat kelompok dari bocah sombong itu langsung jatuh bertekuk lutut, lemas.
>>>>>>_______
__ADS_1
Beberapa saat Kemudian
Orang berjubah itu pun langsung memberikan beberapa pelajaran yang cukup lumayan, kepada bocah sombong dan kelompoknya itu, dengan bermaksud, supaya mereka semua kapok untuk melakukan hal buruk lagi. Setelah dirasa cukup, orang berjubah itu pun melepaskan bocah itu dan kelompok nya. Tanpa pikir panjang, bocah itu dan kelompoknya pun langsung pergi dari tempat itu tanpa menoleh sama sekali kepada orang berjubah itu.
“Kalian berdua tidak apa-apa? Apa kalian berdua bisa berdiri?” Tanya orang berjubah itu kepada sepasang kakak beradik.
“A-ah iya. Kami berdua baik-baik saja. Terima kasih tuan, karena telah menolong diriku dan adikku.” Sang kakak yang merespon ucapan dari orang berjubah itu, lalu sedikit menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih kepada orang berjubah itu di ikuti dengan adiknya juga.
“Sama-sama, juga jangan panggil aku tuan. Aku tidak setua itu, sampai-sampai di panggil tuan.” Kata orang berjubah itu seraya membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajah seorang remaja pria. Melihat wajah dari penolong mereka, kakak beradik itu pun terkejut, pasalnya mereka tidak menduga bahwa penolong mereka ternyata masih sangat muda.
“Namaku Hao Xiang. Kalian berdua?” ucap orang berjubah itu yang tidak lain adalah Hao Xiang.
“Ah namaku Lin Yu dan ini adikku Lin Ru’er.” Ucap sang kakak yang memperkenalkan dirinya dan sang adik.
“Ru’er ucapkan salam kepada tuan muda Hao Xiang.” Kata Lin Yu kepada Lin Ru’er.
“Hallo tuan muda. Terima kasih sudah menolong ku dan kakakku dari kelompok yang menindas kami berdua.” Ucap Lin Ru’er seraya menunduk kan kepala nya berterima kasih kepada Hao Xiang.
“Eummm... Aku mengerti Kakak Xiang.” Timpal dari Lin Ru’er yang langsung mendapatkan acungan jempol dari remaja pria itu. Tepat kedua belah pihak saling memperkenal diri, tiba-tiba muncul suara yang membuat ketiga itu menoleh ke arah sumber suara. “Xiang’er bukankah apa yang kamu lakukan kepada anak-anak itu sedikit berlebihan?” Ucap suara yang tiba-tiba muncul. Sepasang kakak beradik itu pun menatap bingung dengan orang berjubah lainnya yang baru datang.
“Aku sengaja melakukan itu guru. Supaya mereka kapok tidak mengulangi hal buruk seperti penindasan lagi, ya walaupun aku juga tidak bisa berharap banyak sih, karena aku sempat merasakan tatapan permusuhan dari salah bocah yang merupakan pemimpinnya.” Kata Hao Xiang seraya mengedikan kedua bahunya.
Tepat setelah berkata seperti itu, Lin Yu pun tersadar dengan hal apa yang akan terjadi sebentar lagi.
“Ini gawat. Kalian berdua harus pergi dari sini sekarang juga, jika tidak tamatlah riwayat kalian.” Ujar Lin Yu yang seketika berubah menjadi sangat panik dan gelisah. Hao Xiang yang mendengar itu pun berkata, “Kenapa aku dan guru ku harus pergi dari sini?” Tanya Hao Xiang.
Lin Yu pun langsung menjelaskan alasan keduanya harus pergi dari sini secepatnya. Anak kecil yang tadi menindas Lin Yu dan Lin Ru’er adalah anak dari pemimpin desa. Lin Yu juga menjelaskan, bahwa pemimpin desa adalah orang yang kuat, kabarnya ia adalah seorang kultivator yang berada di Ranah Bumi dan mempunyai anak buah yang bekerja di bawah perintah langsungnya, oleh karena itulah tidak ada yang berani menentang keputusan dari pemimpin desa, karena ia memiliki otoritas tertinggi di desa.
__ADS_1
“Oleh karena itulah, kalian berdua harus pergi dari sini secepatnya. Jika sekarang kalian pergi, mungkin pemimpin desa dan anak buahnya tidak akan bisa mengejar kalian. Masih ada kesempatan lolos.” Kata Lin Yu selesai menjelaskannya.
Akan tetapi, ucapan dari Hao Xiang membuat Lin Yu membelalakkan kedua matanya.
“Kenapa juga harus lari, aku dan guruku sudah berjalan cukup jauh untuk sampai kemari.” Timpal Hao Xiang dengan raut wajah biasa saja membuat Lin Yu terkejut dengan respon Hao Xiang yang biasa saja.
“T-tunggu. Aku benar-benar tidak bercanda. Jika kalian tidak pergi dari sini, kalian berdua akan mati oleh pemimpin desa dan anak buahnya. Pergilah mumpung sekarang masih sempat. Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena telah menolong ku, jadi aku akan menahan mereka di sini, dan kalian berdua pergilah sekarang.” Ujar Lin Yu seraya membujuk Hao Xiang dan Ling Feng untuk pergi, namun Hao Xiang sekali lagi berkata,
“Aku menolaknya, berjalan kembali lagi itu sangat melelahkan. Terlebih lagi, aku jadi semakin yakin untuk tidak pergi dari sini.” Kata Hao Xiang sekali lagi membuat Lin Yu benar-benar frustrasi, karena kehabisan cara.
“Ugkhhhh... Kau ini, kenapa sangat keras kepala sekali! Aku melakuan itu, karena kamu penyelamatku! Aku tidak punya apa-apa sebagai ganti dari kamu yang menyelamatkan ku, oleh karena itu, setidaknya aku akan menahan mereka sebentar di sini supaya kamu dan guru mu bisa pergi dari sini!” Teriak Lin Yu, dirinya benar-benar terlihat sangat frustrasi. Hao Xiang yang mendengar itu diam sejenak lalu melangkah ke arah Lin Yu dan berkata kepadanya.
“Dasar bodoh. Aku yang telah menghajar anak-anak nakal itu. Jadi, aku juga yang akan bertanggung jawab akan hal itu, bukan dirimu bocah sok kuat. Kau itu cukup melihat perhatikan saja dari belakang, bagaimana aku mengurusnya.” Kata Hao Xiang seraya menyentil dahi Lin Yu. Mendengar hal itu, Lin Yu sontak menahan nafasnya sejenak mencerna maksud dari apa yang dikatakan oleh Hao Xiang. “Lalu, Ranah Bumi itu bukanlah apa-apa di hadapan diriku.” Katanya lagi seraya menyeringai tipis.
Ling Feng yang melihat cara Hao Xiang menangani nya, tersenyum penuh arti, “Ya setidaknya ia sudah mengerti apa itu tanggung jawab.” Gumam Ling Feng.
Tidak lama kemudian benar saja, sebuah teriakan sangat lantang membuat Lin Yu, Lin Ru’er, Hao Xiang dan Ling Feng menoleh ke arahnya.
“Siapa diantara kalian berempat yang telah berani melukai putraku!” Teriak dari seorang pria yang terlihat tidak begitu muda, namun juga tidak terlalu tua. Pria tersebut tidak lain adalah ayah dari bocah yang menindas Lin Yu dan Lin Ru’er, dan juga dikenal sebagai pemimpin desa.
“Tidak perlu teriak-teriak orang tua. Aku tidak tuli.” Timpal Hao Xiang dengan nada acuh tak acuh.
“Itu ayah orangnya! Itu orang yang telah membuat diriku menjadi seperti ini.” Ucap sang anak seraya menunjuk-nunjuk kepada Hao Xiang. Pemimpin desa yang mendengar hal itu, sontak menoleh ke arah Hao Xiang dengan pandangan yang tajam dan berkata, “Nak... Berani kau melakukan hal seperti itu kepada putraku, apakah kau ingin mati sekarang juga?!” Kata pemimpin desa seraya melepaskan tekanan seorang Ranah Bumi.
“Kenapa juga tidak berani, bahkan jika kau di sini, aku tetap akan melakukan hal yang sama.” Kata Hao Xiang mengangkat satu tangannya, dimana secara tiba-tiba anak dari pemimpin desa tiba-tiba sudah berpindah ke cengkeraman tangannya.
“Sin’er!” Teriak pemimpin desa yang terkejut, melihat putranya sudah berada di tangan Hao Xiang.
__ADS_1
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.