
Suatu Tempat Yang Gelap
Suasana gelap dan sunyi membuat suasa mencekam di tempat tersebut. Pencahayaan yang minim dan udara malam yang berhembus kencang di sekitar tempat tersebut, serta merta sebuah kelompok yang nampak sedang saling bersintegang, menambah suasana yang awalnya mencekam menjadi sangat menegangkan.
"Hachuuu... Brrrrr. Udara malam ini entah mengapa lebih dingin dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya." Gumam salah satu sosok seraya meraba-raba tubuhnya menciptakan kehangatannya sendiri. Teman yang berada di sebelahnya menanggapinya dengan tawa kecil seraya berkata, "Ya mau bagaimana lagi. Kau yang paling tau bukan alasan mengapa udara yang berada di sekitar sini menjadi lebih dingin ketimbang dari biasanya." Timpal teman yang berada di sampingnya seraya terkekeh pelan.
Selang beberapa detik lalu terdengar suara yang cukup keras dari dalam, membuat salah satu dari kedua sosok tersebut menoleh ke dalam dan satunya hanya diam tidak bereaksi. Lebih tepatnya tidak mengacuhkan suara keras tersebut. "Meng Disi seperti biasa selalu tidak mau mengalah ya..." Ucap sosok yang menoleh ke belakang seraya terkekeh pelan.
"Ya memang seperti itulah sifatnya. Selama itu berkaitan dengan kebaikan beliau ia akan menjadi sangat keras kepala tanpa memikirkan konsekuensinya sama sekali. Aku sangat memahami dirinya yang seperti itu."
"Hohhhh... Kau memang sangat perhatian kepada Meng Disi ya Bei Ger. Bahkan sampai sangat mengenal asal sifat dari keras kepalanya itu. Ahhh~ enak ya jadi Meng Disi. Aku jadi iri kepadanya, karena mendapatkan perhatian lebih darimu."
"Berisik kau Li Tan. Perkataan yang keluar dari mulut mu itu, terkesannya jadi menjijikan ketika di dengar."
"Xixixi... Kau yang malu-malu saat ini benar-benar sangat menarik. Sangat disayangkan jika aku hanya diam saja tidak menggoda mu."
Mendengar perkataan dari Li Tan, Bei Ger membuang wajahnya ke samping tidak berniat menanggapi ucapan menggoda yang keluar dari mulut Li Tan. Dirinya pun bangkit untuk masuk ke dalam meninggalkan Li Tan yang masih terus berbicara menggoda dirinya. Melihat Bei Ger yang meninggalkannya, Li Tan hanya terkekeh lalu mengikuti dirinya masuk ke dalam.
__ADS_1
Tepat ketika keduanya beriringan masuk dengan Li Tan yang masih tidak berniat untuk diam, tiba-tiba sebuah meja yang cukup besar berkecepatan tinggi melesat ke arah mereka berdua. Refleks keduanya langsung menghindari meja tersebut dengan bergerak ke samping.
Boooommmmm
Bei Ger dan Li Tan langsung melirik ke arah sumber dari meja besar tersebut terbang, nampaklah dua sosok yang saling berhadapan, dimana salah satunya sedang berdiri dengan wajah yang tegang di sertai aura dingin yang mencekam terpancar dari sosok tersebut, sedangkan sosok satunya hanya duduk di hadapannya dengan raut wajah yang tenang tanpa memancarkan aura sedikit pun dari tubuhnya.
Li Tan terkekeh kedua sosok yang sedang bersintegang itu, sedangkan Bei Ger hanya menatap lelah seraya menghela nafas panjang melihat kedua sosok tersebut. Lebih tepatnya pandangannya lebih ke condong ke arah sosok yang sedang berdiri dengan wajah yang tegang.
"Sudah kubilang kita harus melakukannya dengan cepat. Beliau saat ini sedang menunggu kita untuk di bangkitkan. Kita juga sudah menemukan tempat di mana Bie Xibo di segel. Lalu kita harus menunggu apa lagi?!" Ucap sosok berdiri tersebut dengan nada yang tinggi. Sosok tersebut adalah Meng Disi yang berdiri dihadapan Cai Shen.
Mendengar penjelasan masuk akal dari Cai Shen, Meng Disi masih tidak bisa menerima nya dan kembali berkata, "Omong kosong macam apa itu?! Kau takut dengan ras manusia?! Yang benar saja?! Kita ini iblis sekelas jendral! Bagaimana kau bisa takut dengan kultivator manusia yang jauh di bawah kita?!" Kata Meng Disi yang masih keukeh dengan pendiriannya.
"Aku lebih condong ke waspada daripada takut. Memang benar mereka itu lemah, tapi kualitas tidak hanya di nilai dari kekuatan saja. Bahkan segerombolan semut yang lemah pun, bisa melumpuhkan seekor gajah yang kuat jika mereka bekerja sama." Ucap Cai Shen dengan tenang tanpa merasa emosi ataupun tersinggung dengan perkataan yang di lontarkan oleh Meng Disi yang di tujukan kepada diri nya.
Meng Disi yang mendengar itu pun menggertakkan giginya tidak terima. Secara logika, ia memahami penjelasan kiasan yang di sampaikan oleh Cai Shen dan setuju bahwa itu masuk akal, namun baginya hal itu bukanlah menjadi penghalang untuk mempercepat rencana pembangkitannya. Ia berpikir bahwa Cai Shen hanya terlalu menilai tinggi ras manusia saja, dan terlalu takut kepada manusia.
Melihat perdebatan yang berpotensi tidak akan selesai itu, Li Tan pun akhirnya angkat bicara. "Sudahlah Disi. Cai Shen melakukan itu pasti, karena ia sudah memikirkan langkah baiknya. Walaupun raut wajah yang di tampilkan nya nampak acuh tak acuh, ia juga sama seperti mu. Melakukan yang terbaik untuk beliau juga sama seperti mu." Ucap Li Tan yang turun tangan untuk menengahi perdebatan diantara keduanya.
__ADS_1
Mendengar perkataan itu, Meng Disi refleks melirik ke arah Li Tan dengan pandangan yang tajam. Melihat di tatap seperti itu, Li Tan hanya terkekeh menggoda dan berkata, "Kau ini, tidak ada imut-imut nya sebagai wanita. Terlalu kasar kepada laki-laki, itu tidak baik loh~." Ucap Li Tan dengan nada menggoda, mendengar hal itu, tentunya membuat Meng Disi hanya berdecak kesal seraya membuang muka tidak berkata-kata lagi, atau lebih tepatnya ia memilih untuk diam.
Melihat Meng Disi yang sudah diam, terdengar suara yang cukup lantang menggema di sana. Seluruh perhatian pun tertuju kepada sumber suara lantang tersebut.
"Cihhhhh... Li Tan kau mengganggu saja tau. Padahal tadi lagi seru-serunya, karena jarang-jarang melihat Meng Disi yang meluap-luap." Kata sosok yang keluar dari kegelapan sudut ruangan.
"Sa Dan seperti nya kau sudah melupakan sensasi pukulan ku beberapa hari yang lalu ya." Ucap Meng Disi dengan nada sengit kepada sosok yang berkata mengenai dirinya.
Mendengar hal itu, Sosok tersebut yang adalah Sa Dan hanya terkekeh geli dan berkata, "Kekeke... Entah mengapa, hanya sifat mu saja yang sangat bertolak belakang dengan julukan yang tuan berikan kepada mu." Ucap Sa Dan dengan suara yang cukup lantang dan nada mengejek.
"Tutup mulut mu jika kau masih ingin hidup Sa Dan." Ucap Meng Disi dengan nada serius seraya mengeluarkan senjata nya yang berupa cambuk berduri. Aura yang keluar pun tidak tanggung-tanggung, yang bertanda bahwa Meng Disi cukup tersinggung dengan ucapan Sa Dan.
Melihat itu, Sa Dan menyeringai lebar dan berkata, "Majulah... Akan ku balas beberapa hari yang lalu." Ucap Sa Dan menyeringai lebar seraya mengeluarkan senjata berupa pedang besar serta bergerigi.
>>>>>> Bersambung
( Salam hangat semuanya...!!!! Author kembali lagi nihh.... Terimakasih atas segala macam dukungan para Readers sekalian. Author sungguh sangat berterima kasih kepada kalian semua. Oleh karena itu, jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )
__ADS_1