
Pada saat Ling Feng ingin mengeluarkan Qi nya dan hendak menyerang pemuda tersebut, tiba-tiba datang pria sepuh dengan pakaian yang sama dengan segerombolan pemuda tersebut. "Mohon ampuni anak didik ku tuan pendekar." Ucap tiba-tiba pria sepuh tersebut dengan lantang.
"Tetua tolong aku tetua! Orang gila ini ingin membu…"
Shringgggggg
Ucap pemuda yang tangannya di potong oleh Ling Feng terhenti. Sesaat perkataan nya terhenti, Ling Feng langsung berkata. "Berisik. Tidak ada yang menyuruh mu untuk bicara." Kata Ling Feng dan sedetik kemudian kepalanya pun terpisah dari tubuhnya mati.
Pria sepuh yang dipanggil tetua itu terdiam melihat hal itu. Instingnya berkata bahwa Ling Feng bukanlah orang yang bisa ia ganggu.
Pemuda yang paling kuat itu sudah berkeringat dingin ketika telapak tangan Ling Feng berhenti tepat di wajahnya. "Kenapa aku harus melepaskan nya, sementara anak murid mu ini sudah melancarkan dua kali tebasan pedang ke arah?" Ling Feng balik bertanya kepada pria sepuh tersebut.
Pria sepuh tersebut, menggertakkan giginya terdiam tidak bisa menyangkal hal tersebut. Ia lalu berkata kembali, "Sekali lagi mohon ampun atas kesombongan murid ku ini tuan pendekar, lain kali aku sebagai guru akan mendisiplinkan nya dengan benar." Kata Pria sepuh tersebut dengan tulus. Ling Feng yang melihat sikap tulus tersebut terdiam tidak berkata apa-apa. Namun…
"Ehhhhh…" Kata yang keluar dari mulut pemuda tersebut dan…
Booooommmm
Swusssshhhh
__ADS_1
Pemuda tersebut terpental keluar menembus dinding rumah makan tersebut melesat mulus ke toko sebrang. Tentunya perbuatan itu membuat terkejut semua orang baik yang di dalam rumah makan, maupun para warga yang sedang lalu lalang di depan rumah makan.
"Apa maksud anda tu-" Perkataan nya langsung terhenti ketika melihat tatapan mata yang di layangkan oleh Ling Feng ke arahnya. Bahkan tatapan yang dilayangkan oleh Ling Feng ke arahnya Membuat nya samar-samar melihat bayangab yang mengerikan dari Ling Feng.
" Masih untung aku hanya mematahkan beberapa tulangnya saja, Apa kau masih ingin protes kepada ku hahhh…?!" Kata Ling Feng menekankan kata setiap katanya disertai nada dingin. "H-hamba berterima kasih atas kemurahan anda tuan pendekar." Kata pria sepuh tersebut berkeringat dingin di paksa berlutut oleh aura penindasan Ling Feng.
Setelah berkata seperti itu Ling Feng menarik auranya kembali lalu mengalihkan pandangannya ke arah putra walikota. "Jadi sekarang bagaimana kau mengurus kompensasi terhadap ku." Kata Ling Feng dengan nada acuh. Bergetar seluruh tubuhnya bahkan ia menatap takut Ling Feng saat ini.
Pria sepuh yang melihat itu ingin berkata lagi, namun Ling Feng dengan cepat berkata. "Jika kau memohon pengampunan untuk bocah ini, maka aku ingin nyawa mu sebagai gantinya." Kata Ling Feng membuat Pria sepuh itu terdiam tidak bisa berkata secara alami dirinya perlahan mundur.
"Bagus kau tau diri juga. Maka sekarang…" Ucap Ling Feng kembali mengalihkan pandangannya ke putra walikota. "Bagaimana putra walikota, jika kau memberi sesuatu yang menarik sebagai timbal baliknya mungkin aku akan mempertimbangkan nyawamu." Kata Ling Feng masih dengan nada yang sama membuka tudung kepalanya memperlihatkan wajah nya
"Kau kira aku sebodoh itu hahhhh…Dari raut wajah yang kau sembunyikan saja aku sudah tau bahwa kau ingin melakukan sesuatu kepada ku." Kata Ling Feng masih dengan nada dingin membuat putra walikota itu mundur perlahan kebelakang. "T-tunggu aku sungguh dengan perkataan ku percayalah…" Katanya sembari perlahan mundur berniat kabur, tapi Ling Feng Mengeluarkan sedikit auranya membuat nya tertekan tidak bisa bergerak.
Pria sepuh yang memperhatikan itu hanya bisa diam saja, di satu sisi ia tidak bisa bergerak, karena pemuda di depan nya sudah pasti lebih kuat darinya hal itu jelas terbukti dari ranahnya yang tidak bisa ia ketahui. Sedangkan jika tidak di ia tidak menyelamatkan putra dari walikota tentunya juga tidak berujung baik. Saat ini ia benar-benar bingung setengah mati. "Aku harus menunggu…Sekuat apapun dia, tetap saja ia tidak akan bisa menang jika sendirian." Batinnya.
Pada saat ia sedang berpikir, tiba-tiba sekumpulan anak panah melesat cepat. Tanpa pikir panjang ia menyingkir menghindari sekumpulan anak panah itu dan berujung melesat ke arah Ling Feng.
Ling Feng yang menyadari itu hanya melirik dan seketika anak panah itu pun berhenti di udara dan jatuh ke lantai. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki bergemuruh dari luar. "Sepertinya datang lagi orang bodoh lainnya." Gumam Ling Feng tepat ia bergumam seperti itu terdengar suara langkah masuk tergesa.
__ADS_1
"Aku ingin tau siapa yang telah berani-beraninya mengacau di kota milik ku, dan mengganggu anak ku." Kata sosok pria dengan pakaian yang sangat mencolok lalu refleks melirik pemuda yang tidak lain adalah anaknya. "Yuen'er!" Teriak pria tersebut yang mana adalah dari putra Walikota.
Ia lalu melirik menatap tajam marah kepada Ling Feng. "Bocah bren*sek apa yang telah kau lakukan terhadap anak ku." Walikota berinisiatif maju menyerang ke arah Ling Feng.
"Teknik Harimau Bumi: Pukulan Guntur." Walikota maju menyerang Ling Feng. Pada saat walikota bergerak menyerang Tetua berteriak lantang kepadanya. "Walikota jangan menyerang nya secara gegabah! pemuda itu sangat kuat…!" Teriak tetua, tapi sudah terlambat.
Ling Feng menyeringai melihat teknik itu dan…
Booooommmm
Seketika Rumah makan itu pun sudah tidak kuat menahan benturan energi dan hancur saat itu juga. Walikota terkejut bukan main melihat pemuda seumuran anaknya dengan mudah menahan serangan nya. "Tuan Walikota segera mundur sekarang!" Teriak tetua lagi. Mendengar hal itu Walikota itu pun secepat mungkin langsung mundur dan berdiri di samping tetua.
"Kau cepat sekali mundurnya nya." Kata Ling Feng yang terhalang asap dan perlahan-lahan memudar menampakkan dirinya dan Putra Walikota yang tidak bisa bergerak di injak olehnya.
"Bocah Kep*rat! Tidak akan ku maafkan kau!' Teriak Walikota marah memancarkan aura membunuh yang sangat pekat hendak menyerang lagi, namun di tahan oleh Tetua. "Tolong sabar dahulu Walikota Pemuda itu hanya memprovokasi anda." Kata Tetua tersebut menahan Walikota untuk menyerang kembali.
"Lalu kau ingin aku bagaimana hahhh?!" Teriak Walikota kepada Tetua tersebut, ia benar-benar tidak bisa menahan kendali amarahnya. Tetua tersebut pun mengirimkan transmisi suara kepada Walikota.
"Aku mempunyai ide untuk melawannya Walikota." Kata tetua melalui transmisi suara. "Jelaskan dengan singkat." Balas Walikota serius dengan nada marah tertahan.
__ADS_1
\=> Bersambung