Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Tetua Kelima


__ADS_3

Ling San pun mulai menyampaikan pesan Qing Xian kepada Ling Feng. Pemuda itu menyimak dengan baik, pesan yang dikatakan oleh Ling San kepadanya.


>>>>>>______


Ling Feng langsung pergi ke kediaman Tetua kelima setelah mendengar pesan yang di sampaikan oleh Qing Xian melalui Ling San. Tidak membutuhkan waktu yang lama ia pun sampai di kediaman tetua kelima. Ling Feng melihat wanita cantik yang sedang duduk di depan halaman dan ia pun turun mendekat ke arahnya.


“Salam tetua kelima.” Ucap Ling Feng ketika di hadapan wanita cantik tersebut yang tidak lain adalah tetua kelima. Walaupun umur aslinya sudah melebihi angka seratus, namun penampilannya memang senantiasa terlihat cantik.


“Oh nak Feng’er kamu datang. tidak biasanya. Nah, kemarilah dan duduk terlebih dahulu.” Ucap tetua kedua. Ling Feng yang mendengar itu tersenyum tipis menganggukkan kepalanya melangkah ke arah tetua kelima dan duduk di sampingnya. “Apakah ada suatu keperluan dengan muridku?” Tanya tetua kelima seraya tersenyum. Tetua kelima tentunya sudah mengetahui hubungan antara Ling Feng dan Qing Xian, dan tentunya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut dan masalah senang, ketika mengetahui fakta bahwa Qing Xian adalah kekasih Ling Feng selain Bing Jiao.


“Awalnya seperti itu, tapi aku lebih baik datang kemari lagi setelah mereka selesai berlatih saja.” Ucap Ling Feng. Pemuda itu menyadari, bahwa Qing Xian sedang berlatih saat ini. Ia juga menyadari bahwa Qing Xiang tidak sendiri, dimana ia merasakan dua hawa keberadaan yang familiar.


“Kalau begitu, bagaimana jika kamu menemaniku bermain catur sembari menunggu wanita-wanita itu selesai dengan latihan mereka. Kebetulan aku juga sedang tidak melakukan apapun setelah selesai melaksanakan pelatihan tertutup.” Ucap Tetua kelima seraya tersenyum ramah kepada Ling Feng.

__ADS_1


Jika dibandikan dengan tetua keenam dan tetua ketujuh, tetua kelima mempunyai ciri khas nya tersendiri. Terlebih lagi ia dikenal sebagai orang sangat ramah dan rendah hati, ia senantiasa memberikan senyuman hangat kepada siapapun yang ia temui, baik itu para murid ataupun para tetua. Karena sikapnya yang ramah dan bersahabat itu, membuat orang-orang di sekitarnya menjulukinya “dewi kebaikan”.


Akan tetapi, di balik sikap tenang nya itu ada sosok naga yang tertidur. Tetua kelima yang awalnya ramah dan baik hati, bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan jika ada sesuatu kejadian yang mengharuskannya untuk bersikap demikian. Kehadirannya memberikan kehangatan dan ketenangan, dan di satu sisi bisa berubah menjadi tegas dan tanpa pandang bulu jika itu menyangkut ketidakadilan.


Ling Feng yang di pinta seperti itu, tentu tidak kuasa menolaknya, ia pun mengiyakan tawaran tetua kelima untuk menemaninya bermain catur. Tetua kelima pun langsung mengeluarkan sebuah papan catur dari cincin ruangnya di meja kecil antara dirinya dengan Ling Feng.


Setelah beberapa saat menyusun bidak catur, permainan pun di mulai. Benar-benar hening ketika permainan catur itu berjalan, sampai kemudian tetua kelima pun memecah keheningan dengan bertanya kepada Ling Feng, “Feng’er, menurut mu manusia itu apa.” Ucap Tetua kelima memecah keheningan seraya menjalankan bidak caturnya.


Ling Feng yang mendengar itu terdiam sejenak melirik sekilas wanita cantik tersebut yang pandangannya terfokus pada papan catur, sampai dirinya pun kembali fokus ke papan catur menggerakkan bidak caturnya seraya berkata, “Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Ia adalah manifestasi dari energi universal yang mengalir harmoni dengan alam.” Jawab Ling Feng seraya menggerakkan bidak caturnya.


“Tetua, tangan mu diam loh.” Ucap Ling Feng menyadarkan tetua kelima. Wanita cantik itu pun sedikit tersentak lalu tersenyum manis kembali dan mulai menggerakkan bidak caturnya. Selang beberapa menit kemudian, dirinya pun kembali bertanya kepada Ling Feng, “Lalu bagaimana menurutmu dengan sifat manusia?” Tanya tetua kelima lagi.


Ling Feng terdiam sejenak, lalu ia pun tersenyum tipis dan menjawab pertanyaan Tetua kelima, yang mana jawabannya itu membuat tetua kelima benar-benar dibuat terdiam, karena jawaban tidak terduga Ling Feng. “Manusia mempunyai sifat dualistik, mudahnya seperti elemen Yin dan Yang. Ada Kebaikan dan Kejahatan, lalu Kelemahan dan Kekuatan. Kedua elemen yang saling berlawanan itu ada di dalam setiap individu manusia.” Jawab Ling Feng singkat dan jelas, namun mengandung arti yang sangat dalam.

__ADS_1


“Hehhhhh menarik, lalu menurut mu esensi manusia itu sendiri apa?” Tanya tetua kelima. Kali ini ia mengubah postur duduk nya, menjadi lebih serius menunggu jawaban Ling Feng. “Esensi manusia itu sendiri merujuk pada hakikat atau inti yang mendasari keberadaan manusia. Dalam sudut pandang Feng’er, esensi manusia itu terletak pada kemampuan kita untuk berpikir, merasa, dan bertindak. Kemampuan untuk memiliki pemikiran, emosi, dan kehendak. Itulah salah satu karakteristik yang membedakan manusia dengan dengan makhluk yang lainnya.” Jelas Ling Feng panjang lebar, dirinya mengambil nafas sejenak lalu kembali berkata.


“Esensi manusia adalah Dapat dikatakan sebagai sebuah usaha seorang manusia guna mendalami tentang tujuan hidup, makna diri sendiri, dan hubungan kita dengan alam semesta. Oleh karena itulah manusia dikenal sebagai makhluk yang bisa mencapai potensi tertinggi melalui perkembangan nya.” Ucap Ling Feng mengakhiri penjelasan nya seraya selesai menggerakkan bidak terakhirnya sekaligus tanda berakhirnya permainan tersebut.


“Apakah kamu benar-benar seorang pemuda berumur dua puluh tahunan?!” Ucap tetua kelima yang sudah tidak tahan untuk bertanya seperti itu. Ling Feng yang mendengar itu terkekeh pelan dan menjawab nya, “Ya tetua, aku masih berumur dua puluh lebih beberapa tahun saja. Hanya saja, wawasan dan pengalaman ku lebih luas dari kebanyakan pemuda yang berumur sama denganku.” Ucap Ling Feng tersenyum ramah, membalas senyum tetua kelima.


“Fufufu... Aku memang tahu kamu memang ahli dalam seni bela diri dan semacamnya, tapi aku tidak menyangka kamu juga mempunyai wawasan dan cara pandang seperti itu terhadap suatu objek. Aku benar-benar mendapatkan pencerahan darimu nak.” Ucap tetua kelima seraya tertawa pelan.


“Aku hanya mengatakan apa adanya sesuai dengan apa yang aku alami tetua. Tidak ada sesuatu yang besar dari apa yang aku katakan.” Ucap Ling Feng seraya memberi hormat kepada Tetua kelima. “Benar-benar pemuda yang sangat mengagumkan. Kalau begitu, mari kita akhiri saja di sini, mereka juga sepertinya sudah selesai berlatih di belakang. Terima kasih Feng’er sudah mau menemaniku.” Ucap Tetua kelima yang dianggukki oleh Ling Feng.


“Sama-sama tetua kelima. Aku juga berterima kasih kepadamu, karena telah mengingatkan ku apa yang penting bagiku.” Ucap Ling Feng memberi hormat sekali lagi kepada tetua kelima. Tetua kelima tersenyum tipis menganggukkan kepalanya. Dirinya pun bangkit melangkah ke area belakang bersama Ling Feng yang mengekor di belakangnya.


>>>>>> Bersambung

__ADS_1


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.


__ADS_2