Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Alasan Pengkhianatan


__ADS_3

"Mengapa paman melakukan hal ini? Kenapa paman mau menjadi pengkhianat keluarga Qing dan membocorkan semuanya kepada keluarga Guan." Tanya Qing Xian kepada Qing Shuang. Mendengar hal itu Qing Shuang pun menatap Qing Xian lalu mengalihkan pandangannya ke Qing Lao juga yang tidak terkena efeknya.


"Begitu ya…Sepertinya kalian masih belum sempat menerima apa yang telah kuberikan. Ya lagipula kalian tidak bisa berbuat apa-apa disaat situasi seperti ini." Kata Qing Shuang bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan melangkah mendekati Qing Fei yang tidak bisa bergerak sama sekali dan hanya bisa menggerakkan kedua bola matanya saja.


"Kepa*at pengkhianat! Jangan kau sentuh ayahku!" Teriak Qing Lao maju menendang Qing Shuang. Tapi sayang, Qing Shuang dengan mudahnya menahan serangan tersebut lalu melancarkan serangan telak tepat dibagian perutnya.


Bammmmmm


Booooommmm


"Ughhkkk." Qing Lao langsung mengeluarkan darah dari mulutnya melesat cepat dan baru berhenti ketika membuat replika dirinya di dinding ruangan pertemuan tersebut.


"Kakak!" Teriak Qing Xian lalu mendekati sang kakak dan memapahnya. "Kakak! Kakak!" Teriak Qing Xian sembari memukul pelan wajah Qing Lao. "Uhukkk…Uhukkk…Kau memukul wajah ku terlalu kencang adik bodoh." Kata Qing Lao serak sesekali batuk darah.


"Diam! aku ini khawatir padamu bodoh! Paman Shuang adalah Ranah Mahaguru Bintang 9 sama seperti ayah. Kau yang cuma ranah Mahaguru Bintang 1 ingin menyerangnya?! Kau gila apa?!" Teriak Qing Xian marah kepada Qing Lao.


Qing Lao yang dimarahi seperti itu hanya terkekeh saja. Sampai suara tepuk tangan mengalihkan pandangan mereka berdua.


Prok…Prok…Prok

__ADS_1


"Kakak adik yang sungguh dekat aku sedikit takjub melihat persaudaraan kalian yang erat ini." Kata Qing Shuang tersenyum. Qing Xian menggertakkan giginya kuat-kuat menatap marah Qing Shuang.


"Jangan layangkan tatapan mata seperti itu kepada ku Xian'er kau tidak sopan terhadap yang lebih tua." Kata Qing Shuang. Qing Xian yang mendengar itu membalasnya dengan sarkas. "Setelah apa yang telah kau lakukan saat ini ?! dan kau masih meminta ku untuk tetap menghormati mu?! Kau ini gila atau tidak waras?!" Balas sarkas Qing Xian yang sudah tenggelam dalam amarahnya.


"Watak yang kau miliki sungguh sangat mirip sekali dengan ayah mu. Oleh karena itu aku tidak tahan untuk menyingkirkan mu." Kata Qing Shuang terang-terangan lalu ia berkata kembali. "Kau ingin mengetahui, kan alasan mengapa aku berbuat seperti ini?" Kata Qing Shuang lagi.


"Alasan aku melakukan hal ini bukanlah karena keluarga Guan bukan…Aku melakukan hal ini karena aku sudah bosan menjadi bawahan dari ayah mu. Aku bosan tinggal dalam bayang-bayang ayah mu itu. Ayah mu terlalu baik, hal inilah yang membuat Keluarga Qing tidak pantas ia pimpin." Kata Qing Shuang.


"Aku yang selalu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, ayah mu dengan mudahnya mendapatkan hal yang mana aku sendiri harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu itu. Dimana aku harus mati-matian berusaha dia hanya perlu duduk santai saja mendapatkannya." Kata Qing Shuang lagi.


"Lalu pada saat itu juga. Saat dimana aku bertemu dengan seorang wanita yang langsung membuat ku jatuh hati dan pada saat itu aku pun mulai melupakan rasa iri kepada ayah mu namun sayang, lagi-lagi hal tersebut dihancurkan oleh pemandangan dimana ayahmu lah yang mendapatkan wanita itu." Kata Qing Shuang masih belum selesai.


"Sampai pada akhirnya ia mati tepat saat aku kembali dari tugas yang mengharuskan ku keluar dari kota kala itu. Aku melihatnya terbaring di tanah dengan banyak bersimbahan darah. Kala itu hujannya deras sangat deras sekali." Kata Qing Shuang.


Qing Xian dan Qing Lao yang mendengar itu tau siapa wanita yang dimaksud dari Qing Shuang ini. Wanita yang dibicarakan oleh Qing Shuang sudah pasti adalah ibu mereka. Yang membuat mereka tidak menyangka adalah alasan mengapa Qing Shuang melakukan hal ini.


"Awalnya aku ingin melupakan kemarahan ini, namun sayang aku tidak bisa melupakan hal ini begitu saja. Jika aku berusaha untuk melupakannya, aku kembali teringat dan membuat ku semakin marah. Sampai datang hari dimana aku memutuskan untuk mengakhiri kemarahan ini." Kata Qing Shuang sembari mengangkat sebelah tangannya lalu keluar aura hitam dari tangannya tersebut.


Qing Xian yang melihat aura hitam itu tersebut merasakan perasaan yang tidak enak, sampai Qing Lao yang sedang berbaring berteriak keras. "Akhhhhhhhhhhh." Teriak Qing Lao kesakitan. Membuat Qing Xian terkejut melihatnya sekaligus khawatir.

__ADS_1


Qing Xian lantas mengalihkan pandangannya ke perut dimana Qing Lao terkena pukulan dari Qing Shuang. Ketika Qing Xian menyingkap pakaian Qing Lao, sebuah tapak tangan berwarna hitam tercetak mulus di perut Qing Lao dan itu mengeluarkan aura hitam yang sama persis dengan aura hitam Qing Shuang.


Qing Xian juga terkejut ketika melihat sosok hitam keluar dari bayangan Qing Shuang. Sosok hitam itu pun berkata yang mana dapat didengar juga oleh Qing Xian. "Qing Shuang Jangan lupa dengan perjanjian kita." Kata Sosok tanpa wujud itu.


"Tenang saja aku tidak akan melupakan hal itu, sejak wanita itu mati, tempat ini sudah bukan sesuatu yang kusebut rumah lagi." Kata Qing Shuang tanpa beban. Mendengar hal itu Qing Xian terkejut bukan main dengan perjanjian diantara keduanya itu.


Qing Shuang terdiam ketika melihat tatapan Qing Xian yang didalam tatapan tersebut mengandung harapan. Melihat tatapan itu, Qing Shuang menjadi tidak nyaman. "Baiklah sesi bercerita sudah habis. Saat ini waktu pergantian kepala keluarga." Kata Qing Shuang berjalan melangkah mendekati Qing Fei yang tidak bisa bergerak sama sekali.


"Qing Shuang! Jika kau berani menyentuh ayahku! Aku akan memburu mu bahkan jika kau berada di ujung dunia sekalipun!" Teriak Qing Xian Membuat langkah Qing Shuang terhenti.


Mendengar teriakkan itu seketika hening lalu beberapa saat kemudian Qing Shuang tertawa. "Kau? ingin membunuh ku? Kakak mu saja hampir mata terkena satu pukulan ku. kau yang sendiri memangnya bisa apa?" Kata Qing Shuang meremehkan lalu tertawa keras.


Ketika ia sedang tertawa tiba-tiba ada perkataan yang menimpalinya. "Kata siapa dia sendiri." Kata sosok pria datang tanpa beban membuka pintu ruangan pertemuan.


Qing Xian yang melihat kehadiran sosok itu tersenyum senang. Berbeda dengan tatapan yang dilayangkan Qing Shuang dan Sosok tanpa wujud itu.


"Paman Mu." Kata Qing Xian tersenyum senang.


>>>>>>> Bersambung

__ADS_1


__ADS_2