Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Pengakuan dan Kepergian


__ADS_3

"Kau sudah tenang sekarang heummm…" Kata Ling Feng. Qing Xian menyembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya. Wajahnya merah padam saat ini, namun ia tetap menjawabnya. "Terima kasih." Kata Qing Xian singkat.


Ling Feng yang mendengar itu tersenyum simpul lalu merebahkan tubuhnya di Padang rumput tersebut. Qing Xian yang melihat Ling Feng berbaring pun berkata lagi. "Jawaban mu." Kata Qing Xian singkat. Ling Feng yang mendengar itu mengerti dengan jawaban yang Qing Xian maksud, tapi…


"Hehhhh…Jawaban tentang apa ini? Aku tidak mengerti sama sekali." Kata Ling Feng dengan nada menggoda. Qing Xian yang mendengar itu menjadi kesal, namun ia tidak berani menoleh kepada Ling Feng sebab masih merasa malu.


"Jangan berpura-pura bodoh. Aku tau mengerti tentang apa yang kubicarakan saat ini." Kata Qing Xian dengan nada kesal, tapi dengan kepala yang menunduk. Ling Feng yang mendengar itu terkekeh kecil lalu menarik salah satu lengan Qing Xian dan menariknya. Sang empu yang di pegang lengannya kemudian di tarik itu. Awalnya merasa terkejut, tapi tidak melawan sama sekali.


Ling Feng Membuat Qing Xian berbaring disebelahnya dan keduanya pun saling beradu tatapan. "Jika sedang berbicara dengan seseorang, alangkah baiknya kau menatap lawan bicara mu itu." Kata Ling Feng. Membuat Qing Xian semakin malu mendengarnya.


Melihat tingkah Qing Xian yang malu-malu tapi mau tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi Ling Feng yang melihatnya. Ia bahkan terkekeh melihat sifat Qing Xian yang seperti itu. "Kenapa sih kau selalu tertawa seperti itu." Kata Qing Xian yang kesal tidak nyaman.


"Hehhhhh kenapa? Bukankah sudah jelas karena kau itu imut dan lucu ketika bersikap seperti itu. Aku masih tidak bisa membayangkan saja, orang yang terkenal dingin acuh tak acuh kini berubah seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik." Kata Ling Feng terkekeh.


"Qing Xian yang mendengar itu berdecak kesal. "Cihhhhh sesuka hati mu saja." Kata Qing Xian kesal. Ling Feng yang mendengar nada kesal keluar dari Qing Xian hanya menggelengkan kepalanya saja melihat perubahan sikap yang sangat cepat itu.


"Baiklah, baiklah aku mengalah." Kata Ling Feng ia lalu membawa salah satu lengan Qing Xian dan meletakkannya di dadanya yang bidang itu. "Kau tadi bertanya, kan tentang apa jawaban ku. Maka debaran jantung ini adalah jawaban ku." Kata Ling Feng tersenyum manis. Membuat Qing Xian yang melihat senyuman tersebut menjadi salah tingkah, karena Senyuman yang dipadukan dengan sinar rembulan membuat Ling Feng semakin bercahaya.

__ADS_1


Ling Feng lantas membawa lengan Qing Xian mendekatkan ke wajahnya dan tanpa basa-basi langsung mencium lembut tangan Qing Xian. Qing Xian yang diperlakukan seperti itu benar-benar salah tingkah. Apalagi saat ini suasana sepi dengan hembusan angin malam yang tenang sangat mendukung suasana hatinya.


"Ah Qing Xian bodoh! Kenapa kau hanya diam saja saat ini bod…" Batinnya terhenti karena ada sesuatu yang merengkuh tubuhnya.


Ling Feng tidak berhenti di situ saja, ia langsung membawa Qing Xian kedalam pelukannya sembari membisikkan kata-kata ditelinga Qing Xian. "Ya aku mengakuinya. Aku pun merasakan hal yang sama dengan mu. Aku Ling Feng juga mencintai dan sayang kepada mu Qing Xian." Bisik Ling Feng tepat ditelinga Qing Xian.


Qing Xian yang mendengar itu berdetak kencang jantungnya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa hari dimana mereka akan saling mengungkapkan perasaan masing-masing akhirnya tiba. "Aku lebih daripada mu." Balas Qing Xian lalu ia semakin memperdalam pelukannya ketika berkata seperti itu. Bahkan sangat erat memeluk Ling Feng.


Ling Feng yang mendengar itu tersenyum lembut. Serta merasakan pelukan Qing Xian yang semakin erat hanya membiarkannya saja sembari mengelus-elus puncak kepala Qing Xian.


Ling Feng pun melepaskan pelukannya begitu pula dengan Qing Xian. Keduanya saling tatap menatap sembari mendekatkan wajahnya serta perlahan-lahan menyatukan kedua bibir masing-masing. Malam itu rumput yang bergoyang, hembusan angin malam, Detak jantung yang sama-sama terpacu, serta sang rembulan menjadi saksi untuk pengungkapan perasaan mereka berdua..


Matahari sudah mulai naik, namun belum sepenuhnya terlihat sempurna. Akan tetapi di gerbang kota Anyi terlihat banyak orang berkumpul disana serta seorang pemuda dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya.


"Apakah tidak ada yang tertinggal Feng'er?" Tanya Long Tian ambigu. Ling Feng yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya heran. "Memangnya apa yang harus aku bawa Paman…Kau sudah mengatakan hal itu berulangkali tau." Kata Ling Feng heran.


"Kau terlalu berlebihan kak." Kata To Mu menghela nafas malas. "Cihhhhh kau tidak tau seberapa cerobohnya dia ya. Kalau hal yang tidak diinginkan terjadi bagaimana." Kata Long Tian. "Ya kakak jangan beranggapan seperti itu lah…Aku yakin Feng'er baik saja." Kata To Mu santai.

__ADS_1


Long Tian masih tidak bisa berhenti ia pun mulai berdebat dengan To Mu. Ling Feng yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja lalu beralih kepada Pang Lang dan berkata. "Paman aku titip anak-anak latih mereka dengan benar, waktu itu aku sudah mengajarkan mereka dasarnya. Biarkan mereka saja berkembang sendiri dan tuntun kembali jika ada yang menyimpang." Kata Ling Feng.


"Dimengerti tuan muda anda tenang saja dan fokus terhadap pelatihan tertutup anda. Untuk anak-anak biar saya saja yang urus dan tidak akan mengecewakan anda." Kata Pang Lang dengan tegas. Ling Feng tersenyum mendengarnya menganggukan kepalanya.


Ia lantas mengalihkan pandangannya ke sepuluh anak-anak yang ikut mengantar kepergiannya. "Kakak pergi dulu ya. Kalian berlatih lah dengan benar, serta jangan merepotkan paman-paman yang lainnya jika tidak ada yang sangat penting. Fokus saja berlatih dan jadilah kuat untuk diri masing-masing." Kata Ling Feng tersenyum kesepuluh anak-anak tersebut menganggukkan kepalanya kecuali satu anak yang masih menundukkan kepalanya.


Ling Feng pun mensejajarkan tingginya dengan anak tersebut yang tidak lain adalah Lin kecil. "Kenapa adik kecil ku kau terlihat sangat murung." Kata Ling Feng tersenyum mengelus-elus puncak kepala Lin kecil.


"Kakak akan pergi jauh ya." Kata Lin kecil dengan kepala menunduk. Ling Feng yang mendengar itu sedikit menghela nafas lalu tersenyum lagi. "Tidak, kakak tidak pergi jauh. Kakak hanya berlatih saja di hutan sana." Kata Ling Feng tersenyum.


"Tapi kakak akan pergi sangat lama." Kata Lin kecil. Xiao yang mendengar itu berkata. "Lin'er bukan-" Perkataan Xiao langsung di potong oleh Lin kecil. "Lin'er pasti akan merasa sepi jika kakak tidak ada. Akan tetapi, Lin'er sadar. Jika Lin'er seperti ini terus menerus akan membuat kakak menjadi khawatir. Oleh karena itu, Lin'er akan mengantar kepergian kakak dengan senyuman supaya kakak tidak khawatir dengan Lin'er. Lalu ketika kakak kembali, pada saat itu Lin'er sudah menjadi kuat dan kakak akan sangat bangga dengan Lin'er." Kata Lin kecil lalu mendongakan kepalanya menatap Ling Feng dengan senyuman.


Ling Feng yang mendengar itu terguncang hatinya. Anak yang belum genap sepuluh tahun sudah bisa berkata seperti itu. Tanpa aba-aba Ling Feng langsung memeluk Lin kecil dan berkata. "Jangan bodoh mau sampai kapanpun kau tetap menjadi kebanggaan kakak." Kata Ling Feng. Membuat air mata yang telah Lin kecil tahan pun akhirnya lepas. Lin kecil menangis saat itu juga. Ling Feng mengelus-elus puncak kepala Lin kecil menenangkan anak tersebut.


Sontak Long Tian dan To Mu pun berhenti berdebat ketika mendengar suara tangisan tersebut. Keduanya saling pandang lalu menghela nafas tidak lagi berdebat.


Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa atau bisa dibilang langkah kaki yang terburu-buru. Sosok tersebut berlari kencang menuju ke arah Ling Feng yang sedang memeluk Lin kecil. Ia tidak peduli saat ini walaupun sedang jadi pusat perhatian disana. Ling Feng tidak menyadari langkah kaki tersebut, akan tetapi tiba-tiba ada sebuah rangkulan tangan mengalungkan lehernya.

__ADS_1


"Pergilah biar Lin'er aku yang jaga disini." Bisik sosok tersebut sembari ikut meneteskan air mata juga. Ling Feng yang mendengar itu tersenyum memejamkan matanya. "Ya aku serahkan kepada mu Xian'er." Kata Ling Feng.


>>>>>> Bersambung


__ADS_2