
“Uwahhh... Lututku benar-benar mati rasa... Aku seperti tidak mempunyai kaki saja.” Ucap Han Shen yang memang benar tidak dapat merasakanya sama sekali, saking mati rasanya. Bahkan untuk berdiri saja sulit saat ini.
>>>>>>______
Setelah selesai dengan pelatihan Han Sheng, waktu pun tidak terasa menunjukkan sudah tengah hari. Ling Feng pun memutuskan untuk pergi ke kamar yang telah ia pesan membersihkan dirinya. Pada saat hendak menuju kamarnya, Ling Feng mendapati Seorang wanita sedang berdiri di sisi pintu kamarnya.
“Ren Hu? Apakah kau sudah lama menungguku di sini?” Tanya Ling Feng seraya medekati wanita tersebut yang tidak lain adalah Ren Hu.
“Ah tuan muda.T-tidak kok. Saya baru beberapa menit menunggu anda di sini.” Ucap Ren Hu berbohong. Sebenarnya ia telah berdiri di sana sekiranya hampir dua jam lebih tidak bergerak sama sekali dari tempat yang sama. Ling Feng mengetahui bahwa Ren Hu berbohong, hanya tersenyum masam saja dan tidak mengungkit nya.
“Kau ini ya... Jika memang ada yang ingin di bicarakan, padahal, kan kau bisa menyusul ku saja atau mengirimkan transmisi suara tanpa harus repot-repot lama menungguku di sini.” Ujar Ling Feng. Setelah berkata seperti itu, ia pun balik bertanya kepada Ren Hu, “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan ku memangnya?” Tanya Ling Feng.
Namun, alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ling Feng, Ren Hu malah terlihat gelisah. Hal itu terlihat sangat jelas dari kedua bahunya yang naik turun, dan raut wajahnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ling Feng yang melihat itu pun mengangkat sebelah alisnya heran lalu kembali berkata, “Katakan saja apa adanya.” Ujar Ling Feng lagi.
“A-aku ingin pergi keluar tuan muda.” Ucap setelah berdiam membisu selama beberapa menit. “Begitu, kah... Kalau begitu ya pergi saja.” Ucap Ling Feng yang langsung menyetujuinya. “Eh. Memangnya tidak apa-apa tuan muda?” Ren Hu yang terkejut mengajukan pertanyaan balik kepada Ling Feng. Ia sendiri terkekeh kecil ketika melihat reaksi Ren Hu yang terkejut, dimana itu terlihat lucu dalam pandangan nya.
“Justru sebaliknya. Kenapa aku harus melarang mu? Jika memang ingin pergi ke suatu tempat yang kau suka, ya tinggal pergi saja, kau tidak perlu meminta izinku jika ingin pergi keluar untuk berjalan-jalan.” Ucap Ling Feng lagi lalu melangkah lagi, meraih knop pintu kamarnya. Sebelum masuk ia melirik ke arah Ren Hu yang masih menatap dirinya dengan pandangan tidak percaya.
“Sekali lagi, kalau kau memang ingin pergi sekedar membeli makanan ringan dan berjalan-jalan, kau tidak perlu meminta izin kepadaku. Pergi saja, dan semisal aku membutuhkan mu, aku akan mengirimkan transmisi suara kepadamu.” Ucap Ling Feng lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Ren Hu.
__ADS_1
Selang beberapa menit, raut wajah bahagia pun tercetak di wajahnya, namun hal itu di tutupi dengan cadar putihnya yang cukup tebal. Ren Hu pun bergumam pelan sebelum ia beranjak dari pintu kamar Ling Feng. Terima kasih tuan muda telah bersikap baik kepadaku. Gumam Ren Hu lalu pergi turun ke lantai dua.
Ling Feng tentunya mendengar hal itu, ia hanya menggeleng-geleng kan kepalanya saja lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sepuluh menit kemudian ia pun telah rapih dengan pakaian gantinya dan sekarang ini, ia sedang berbaring memandang langit-langit kamarnya.
“Ah bosannya... Sebaiknya apa yang harus kulakukan ya.” Gumam Ling Feng menghela nafas kasar memandang langit-langit kamar. Turnamen empat benua, setidaknya akan di selenggarakan lusa nanti, jadi sekarang dan esok masihlah tidak ada kegiatan apa-apa selain mengajar ketiga perwakilan di pagi hari. Tengah hari setelah nya, benar-benar tidak ada kegiatan sama sekali.
“Ah itu dia.” Ucap Ling Feng yang secara tiba-tiba mendapatkan pencerahan di otaknya. Ia sontak bangkit dari posisi tidurnya dan langsung mengambil sikap lotus. Tidak hanya itu saja, ia juga mengeluarkan sebuah tungku dari cincin ruangnya dan beberapa tanaman serta bahan-bahan yang lain nya.
“Rasanya sudah lama aku tidak membuat pil lagi. Pas sekali untuk mengisi waktu luangku dan mencari sedikit kekayaan di kota ini.” Ucap Ling Feng tersenyum puas. Terakhir kali ia membuat pil itu, pada saat sedang melakukan pelatihan tertutup di Kekaisaran Wei dan pil terbaik yang dapat ia hasilkan pada saat itu adalah Pil Tingkat Bumi Kualitas Tinggi.
“Baiklah... Kita asah kembali kemampuan yang sudah tumpul ini.” Gumam Ling Feng menjentik kan jarinya, memulai pemurnian pil nya. Ling Feng juga memasang sebuah penghalang di sekitarnya untuk mecegah hal yang tidak di inginkan terjadi dan hal yang membuat heboh tentu nya.
>>>>>>_____
Lima Jam berlalu Kemudian
Tidak terasa berjam-jam pun berlalu begitu saja, Terlihat Ling Feng pun telah berhasil membuat beberapa pil yang telah di masukan ke dalam botol yang khusus di buat untuk meletakkan pil di dalamnya.
“Fyuhhh selesai juga... Tidak buruk. Dua buah Pil Tingkat Bumi kualitas rendah, Tiga buah Pil Tingkat Bumi kualitas menengah, dan Sebuah Pil Tingkat Bumi kualitas tinggi.” Gumamnya seraya menyeka keringat di dahi nya. Ia menatap enam buah pil yang ia hasilkan dengan tatapan yang puas. Awalnya Ling Feng memang terlalu kaku, karena sudah lama tidak melakukan pemurnian, namun setelah beberapa kali penyesuaian, dirinya pun perlahan terbiasa kembali.
__ADS_1
Lalu, pada saat pemurnian yang terakhir, ia pun berhasil membuat Pil Tingkat Bumi Kualitas Tinggi. “Dua buah pil pemulih, tiga buah pil fondasi, dan satu pil peningkatan.” Gumamnya melihat pil-pil yang ia hasilkan. Ia menyapu pandangannya dan menarik kembali penghalang yang telah ia buat. Ling Feng pun bangkit dari posisi lotusnya berjalan ke arah jendela untuk membukanya.
“Masih ada waktu.” Ucapnya lalu memasukkan kembali tungku beserta pil yang telah ia buat ke dalam cincin ruangnya, lalu keluar dari kamarnya. Pada saat ia keluar dari kamarnya, secara tiba-tiba sosok wanita telah berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu pun terkejut dengan Ling Feng yang secara tiba-tiba keluar dari kamarnya.
“H-hallo kak.” Wanita tersebut menyapa dengan canggung kepada Ling Feng.
“Jiao’er? Ada perlu apa menemui kakak?” Tanya Ling Feng kepada wanita tersebut yang tidak lain adalah Bing Jiao. “Ah i-itu... Se-sebenarnya Jiao’er ingin mengajak kakak keluar jalan-jalan, karena sejak tengah hari tadi, kakak tidak keluar kamar. Jiao’er pikir untuk mengajak kakak keluar, karena mungkin kakak bosan berkultivasi.” Ucap Bing Jiao menyampaikan niatnya. Terlihat jelas bahwa ia sedikit gugup setelah mengatakan itu kepada Ling Feng.
“Begitu, kah... Terima kasih, karena selalu memperhatikan kakak. Kalau begitu, apakah Jiao’er ingin ikut dengan kakak sekarang? Kebetulan kakak ingin pergi ke suatu tempat di kota ini.” Kata Ling Feng mengajak Bing Jiao.
Walaupun saat ini wajahnya tertutup oleh cadar, namun Ling Feng sangat yakin bahwa Bing Jiao saat ini sedang tersenyum sumringah di balik cadarnya, karena sorot mata yang ia tunjukan saat ini adalah sorot mata yang berbinar-binar, dirinya pun menganggukkan kepalanya dengan polos seperti anak kucing.
“Tentu kak... Aku mau menemani mu.” Jawab Bing Jiao dengan tawa yang renyah. Ling Feng terkekeh pelan melihat respon Bing Jiao yang terlihat sangat lucu di matanya saat ini. Telapak tangannya tanpa sadar naik dan mengacak-acak puncak kepala Bing Jiao. Bing Jiao awalnya terkejut diperlakukan seperti itu oleh Ling Feng secara tiba-tiba.
Namun, seiring detik berlalu, ia pun mulai merasa nyaman, karena Ling Feng beralih jadi mengelus-elus puncak kepalanya. Ling Feng kali ini benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi, ia tertawa lepas, karena Bing Jiao benar-benar terlihat seperti anak kucing sekarang.
Sampai setelah hampir puluhan menit mengelus-elus puncak kepala Bing Jiao, Ling Feng pun menyudahi tindakan nya itu, terlihat jelas bahwa Bing Jiao menyayangkan itu, Ling Feng pun secara tiba-tiba membisik kepadanya, “Nanti lagi ya... Sekarang kita keluar saja dulu.” Bisik Ling Feng yang seketika membuat Bing Jiao menegang, dan wajahnya pun langsung berubah semerah tomat, saking malunya. Ling Feng sekali lagi tertawa, karena Bing Jiao benar-benar sangat lucu baginya, ketika sedang salah tingkah.
>>>>>> Bersambung
__ADS_1
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.