
“Melihat responmu itu, aku anggap kamu setuju untuk berbicara denganku.” Ujar Ling Feng dengan tenang, namun hanya ditanggapi biasa saja oleh Cai Lan. “Cepat katakan apa yang kamu ingin bicarakan denganku.” Kata Cai Lan seraya menatap dingin Ling Feng.
>>>>>>______
“Bagaimana bisa kamu berada di pulau ini?” Tanya Ling Feng membuat Cai Lan mengangkat sebelah alisnya, ia tidak menyangka bahwa Ling Feng akan bertanya mengenai hal tersebut. Cai Lan pun menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Aku juga tidak tahu.” Jawab Cai Lan seraya menggelengkan kepalanya. Walaupun di tutupi oleh wajah dinginnya, Ling Feng dapat melihat ada perasaan sedih terpancar dari raut wajahnya saja.
“Kalau begitu akan bertanya yang lain, apa yang kamu lakukan sebelum sampai di pulau ini?” Ujar Ling Feng mengajukan pertanyaan berbeda namun inti pembicaraan masih sama. Cai Lan menganggukkan kepalanya dan mulai menjelaskan apa yang ia lakukan sebelum datang ke pulau tersebut.
Walaupun sudah hampir satu tahun berlalu, Cai Lan masih mengingatnya dengan jelas. Dirinya bercerita, bahwa sebelumnya ia tengah berlatih di pulau kecil yang ada di sebelah Pulau Tanjung guna menghabiskan waktunya, karena kapal yang akan menjemput mereka akan datang lusa nanti. Oleh karena itu, dirinya memilih untuk menghabiskan waktu yang tersisa dengan melakukan pelatihan tertutup, dan tempat pelatihan tertutup itu berada di Pulau kecil.
“Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya, karena pada saat hendak kembali ke Pulau Tanjung bersama Tetua Zhang aku tiba-tiba sudah berada di pulau ini.” Jelas Cai Lan.
Medengar hal itu, Ling Feng manggut-manggut, walaupun saat ini di dalam hatinya saat ini sudah sangat kesal. Ketika mendengar penjelasan Cai Lan, Ling sudah mempunyai beberapa asumsi. Namun untuk memastikan nya ia pun berniat mencoba sesuatu kepada Cai Lan. Ling Feng mengangkat satu tangannya dan pada saat itu lah robekan ruang tercipta di sisinya.
“Kekuatan Ruang?!” Batin Cai Lan yang terkejut ketika melihat robekan ruang yang di ciptakan oleh Ling Feng, terlebih lagi Cai Lan bisa menyadarinya, pemahaman Ling Feng terhadap kekuatan ruang sudah sangat tinggi. Hal itu bisa di lihat dari sikap pria tersebut yang nampak santai tidak kesulitan sama sekali.
“Cobalah masuk ke dalam robekan ruang tersebut.” Ucap Ling Feng yang membuat lamunan Cai Lan pudar seketika. Wanita itu mengangkat sebelah alisnya.
Melihat raut wajah Cai Lan yang waspada, Ling Feng pun kembali berkata, “Aku hendak memastikan sesuatu dari penjelasan mu tadi. Jika tebakan ku benar, maka kamu bisa kembali ke Pulau Tanjung.” Jelas Ling Feng yang membuat kedua mata Cai Lan langsung bersinar dan secara tidak sadar langsung bergerak ke arah Ling Feng.
__ADS_1
“Benarkah itu? Kau tidak bercanda, kan?” Ujar Cai Lan dengan kedua matanya sudah berbinar dan secara tidak sadar sudah mendekatkan wajahnya dengan wajah Ling Feng, sampai-sampai membuat pria itu sedikit menjauh kan wajahnya.
“Aku tidak bercanda.” Jawab Ling Feng singkat walaupun dalam hatinya sudah tidak bisa tenang, karena wajahnya terlalu dekat membuat dirinya kembali mengingat adegan panas keduanya beberapa waktu yang lalu.
Cai Lan baru sadar setelah beberapa saat kemudian, pada saat itu rona merah di pipinya terlihat sangat jelas. Walaupun ia sudah mengenakan cadarnya, namun cadar putih nya sangat kontras dengan pipinya yang berubah merah padam.
Wanita itu langsung menjauhkan wajahnya seraya memalingkan wajahnya, karena mendadak sadar dan merasa sangat malu. “M-maaf aku terlalu bersemangat.” Ucap Cai Lan yang sudah gugup sekaligus merasa malu.
“Ekhhmmm... Kita kembali ke topik pembicaraan nya. Jadi cobalah masuk ke dalam robekan ruang tersebut.” Ujar Ling Feng setelah berdeham. Cai Lan yang mendengar itu tidak berkata apa-apa, namun dirinya tetap melakukan apa yang di pinta oleh Ling Feng.
Ia pun masuk ke dalam robekan ruang dan beberapa saat kemudian keluar kembali dari robekan ruang tersebut. “Bagaimana? Apakah kamu merasakan perasaan familiar ketika kamu di pindahkan ke pulau ini?” Ujar Ling Feng bertanya kepada Cai Lan dan wanita itu pun menganggukkan kepalanya.
“Sudah kuduga.” Ucap Ling Feng seraya mengendurkan kedua bahunya dan menatap ke langit-langit. Mendengar perkataan itu, Cai Lan tentunya tidak mengerti dengan maksud perkataan Ling Feng.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali?” Kata Cai Lan yang memang tidak mengerti. Mendengar hal itu, Ling Feng pun mendongakkan kepalanya menatap ke arah Cai Lan yang sudah memasang raut wajah penasaran ketika mendengar perkataan Ling Feng.
“Kamu mungkin secara tidak sadar telah melewati sebuah portal, yang mana portal tersebut adalah pintu masuk menuju pulau ini.” Jelas Ling Feng secara singkat membuat Cai Lan terkejut ketika mendengarnya.
“Mendengar penjelasan mu tadi, serta perasaan familiar yang kamu katakan ketika masuk ke dalam robekan ruang yang ku buat. Itulah yang membuat ku yakin, bahwa kamu secara tidak sadar telah melewati sebuah portal. Penjelasan mu itu hampir mirip seperti cara kerja portal jarak jauh dan retakan ruang yang ku buat adalah untuk memastikan bahwa itu adalah memang sebuah portal.” Jelas Ling Feng.
__ADS_1
“Jadi maksudmu, aku bisa kembali ke Pulau Tanjung jika menemukan portal tersebut?” Ujar Cai Lan yang dianggukki oleh Ling Feng dengan senyuman tipisnya.
“Kalau begitu, dimana keberadaan portal tersebut sekarang?” Ujar Cai Lan seraya menatap Ling Feng dengan pandangan berbinar. Ia terlihat sangat bahagia ketika mengetahui bahwa ada cara untuk keluar dari pulau ini.
“Apakah kamu ingat tempat dimana kamu pertama kali muncul di pulau ini?” Tanya Ling Feng. Cai Lan yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ling Feng tersenyum tipis lalu berkata, “Maka disanalah portal untuk kembali ke Pulau Tanjung berada.” Jelas Ling Feng seraya tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Cai Lan benar-benar sangat senang sekaligus bersyukur ketika dirinya mendengar itu. Bahkan saking senangnya ia, kedua matanya pun berkaca-kaca dan air mata pun lolos dari sudut matanya. Sudah hampir satu tahun ia terjebak di pulau ini, dan tidak terhitung jumlahnya ia menghadapi situasi hidup dan mati demi keyakinannya yang percaya pasti akan bisa keluar dari pulau tersebut. Bahkan beberapa minggu terakhir ini dirinya hampir putus asa untuk mencari cara keluar dari pulau tersebut.
Namun perasaan putus asa itu hilang sepenuhnya ketika mendengar penjelasan dari seorang pria di depannya ini. Entah mengapa dirinya tidak merasa ragu akan kata-kata yang di ucapkan oleh Ling Feng.
Ling Feng yang melihat Cai Lan yang begitu bahagia, ikut merasa senang juga di dalam hatinya. “Ia terlihat sangat bahagia ya... Ya wajar saja, dirinya sudah berada di sini hampir satu tahun lamanya. Jika itu wanita pada umumnya, pasti sudah pasrah akan keadaan nya. Akan tetapi wanita mu tidak seperti itu. Tekad bertahan hidup serta kepercayaan nya benar-benar sangat kuat.” Ucap Long Tian mengirimkan transmisi suara kepada Ling Feng.
“Ya begitulah. Aku memang sudah tahu bahwa dirinya adalah pekerja keras. Aku sangat yakin ia sudah beberapa kali memaksakan dirinya untuk bertahan hidup di pulau ini. Melihatnya senang seperti itu, aku juga ikut senang entah mengapa.” Timpal Ling Feng.
Mendengar itu, Long Tian mengangkat sebelah alisnya lalu kembali mengirimkan transmisi suaranya seraya melirik wajah Ling Feng. “Begitu, kah... Tapi yang aku lihat saat ini. Alih-alih merasa senang, kau sepertinya merasa sangat kesal nak.” Ucap masam Long Tian melirik wajah Ling Feng yang sudah sangat gelap dan urat-urat di wajahnya pun terlihat sangat jelas di sana.
“Tidak kok paman. Itu hanya perasaan mu saja. Aku hanya sedikit kesal saja.” Jawab Ling Feng, namun dirinya sudah menggertakkan giginya ketika berkata seperti itu. “Dasar senior sia*an! Jika ada portal menuju Pulau Ujung Benua, untuk apa aku susah-susah melewati retakan dimensi?!” Batin Ling Feng.
>>>>>> Bersambung
__ADS_1
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.