Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Kediaman Walikota?


__ADS_3

"Kakak sudah mau pergi lagi? Kenapa tidak menginap dulu untuk beristirahat dan baru berangkat keesokan harinya saja kak?" Kata Jia dengan tutur kata yang lemah. Reunian mereka tidak bisa terlalu lama, karena Ling Feng juga yang di kejar oleh waktu. Terlebih lagi, Pang Lang sudah mendapatkan kabar dari Long Tian yang saat ini sedang berada di ibu kota kekaisaran saat ini. Oleh karena itu, tentunya tidak bisa berlama-lama lagi di sini.


"Lain kali kakak akan mampir lagi. Kita akan jalan-jalan lagi seperti yang biasanya kakak lakukan ketika mengantarmu jalan-jalan di kota." Ucap Ling Feng seraya mengacak-acak pelan rambut Jia.


"A-aku sudah bukan anak kecil lagi. Tahun ini aku berumur tiga belas tahun tau. Oleh karena itu, Jia sekarang sudah dewasa bukan anak kecil lagi." Sangkal Jia dengan wajah cemberut, karena Ling Feng masih memperlakukan dirinya seperti anak kecil. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Ling Feng tentunya.


"Iya, iya, sekarang kau sudah tumbuh dewasa." Ucap Ling Feng yang memilih untuk tidak memperpanjang urusan dengan mengiyakan perkataan Jia. Mendengar ucapan Ling Feng yang dengan nada bercanda itu, Jia mengembungkan pipinya kesal.


"Oh ya sebelum itu ada sesuatu yang ingin kakak berikan kepada mu." Ucap Ling Feng membuat Jia yang awalnya cemberut merubah raut wajahnya menjadi penasaran. "Sesuatu yang ingin di berikan?" Kata Jia mengulang ucapan Ling Feng.


Ling Feng lantas mengibaskan tangannya dan muncullah sebuah plakat berwarna emas cerah. "Ini ambilah." Ucap Ling Feng seraya memberikan plakat emas itu kepada Jia. Jia menerima plakat yang terlihat mewah itu, ia lantas membaca ukiran yang tertulis di plakat tersebut.


Pada saat membaca ukiran tersebut kedua mata Jia terbuka lebar saking terkejutnya ketika membaca ukiran di plakat tersebut 'Paviliun Qiancheng'. "K-kakak benda ini terlalu berlebihan untuk ku. Aku tidak layak untuk mendapatkan benda berharga seperti ini." Ucap Jia yang berusaha menolak benda tersebut seraya menyodorkan plakat itu kembali kepada Ling Feng.


"Tidak apa-apa. benda itu tidak terlalu berguna di tangan kakak. Kau bisa pergi ke tempat cabang yang ada di kota ini. Kalau tidak salah tempatnya tidak terlalu jauh dari sini." Kata Ling Feng lagi. Ia lalu mengeluarkan selembar kertas lalu menggunakan qi nya menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai ia lantas memberikan tulisan tersebut kepada Jia.


"Ini juga berikan bersamaan dengan plakat itu, dan jangan di buka sekarang." Ucap Ling Feng yang menghentikan gerakan Jia yang hendak membuka dan membaca apa yang tertulis di sana. "Pergilah esok hari, lalu berikan plakat beserta dengan kertas tersebut. Kepala cabang Paviliun Qiancheng pasti akan langsung mengerti setelah membaca nya." Kata Ling Feng.


"Memangnya apa yang kakak tulis di sini?" Tanya Jia seraya melirik-lirik kertas terlipat itu seraya mengangkat nya tinggi-tinggi menerawang nya menggunakan sinar matahari, namun naasnya tidak terlihat sama sekali.

__ADS_1


"Hanya pesan kecil saja. Kalau begitu kakak pergi dulu ya." Ucap Ling Feng seraya mengacak-acak rambut Jia. "Sekali lagi terima kasih telah membantu anak ku tuan muda." Ucap Ibu Jia menundukkan kepalanya kepada Ling Feng.


"Tidak apa-apa. Apa yang saya lakukan saat ini tidak terlalu besar. Jangan terlalu sungkan dengan saya." Jawab Ling Feng dengan senyuman tipis di wajahnya. Ibu Jia yang mendengar itu pun membalas nya dengan senyum lembut dan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya kepada Ling Feng.


Ling Feng yang di perlakukan seperti itu hanya bisa pasrah menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kalau begitu saya pamit sekarang. Jia kecil jaga kesehatan mu sampai pertemuan kita yang berikutnya." Ucap Ling Feng.


"Aku bukan anak kecil yang harusnya di ingatkan seperti itu. Lalu kakak yang seharusnya menjaga diri. Aku tau kakak kuat, namun tidak ada salahnya berhati-hati." Ucap Jia kedua tangannya bersedekap.


Ling Feng menanggapi nya dengan tawa kecil dan langsung di balas dengan kedua matanya menatap tajam Ling Feng, 'Aku serius tau'.


"Iya, iya, kakak mengerti." Ucap Ling Feng lalu beranjak dari penginapan milik Jia. "Kakak pergi dulu. Jaga diri mu serta ibu mu Jia." Ucap Ling Feng diikuti dengan Pang Lang dan Ren Hu sedikit membungkukkan tubuhnya pamit, lalu mengekori Ling Feng.


"Dia gadis yang baik dan polos ya tuan muda." Ucap Ren Hu tiba-tiba, tepat ketiga nya sudah melangkah cukup jauh dari penginapan Jia dan Ibunya.


"Ya begitulah. Ia tidak banyak berubah semenjak beberapa tahun yang lalu." Timpal Ling Feng.


"Begitu, kah... Bagiku ia sudah berubah loh tuan muda. Hanya saja ia bersikap seperti tadi hanya kepada mu saja tau." Ucap Ren Hu.


"Begitu, kah... Dalam pandangan ku ia tidak berubah sama sekali padahal." Ucap Ling Feng meletakkan satu tangannya di dagu manggut-manggut.

__ADS_1


"Selain daripada itu. Apakah tidak apa-apa tuan muda meninggalkan Jia dan Ibu nya begitu saja. Kurasa Bangsawan tadi, tidak akan membiarkan nya begitu saja." Pang Lang yang tiba-tiba ikut bicara.


"Ya tentu saja ia pasti akan bergerak. Harga diri bangsawan itu sangat tinggi. Mana mungkin ia akan membiarkan hal yang telah menghinakannya begitu saja." Jawab Ling Feng. Ia lalu kembali berbicara.


"Oleh karena itu, aku memberikan plakat yang aku dapatkan dari Paviliun Qiancheng dan menuliskan sebuah pesan untuk di sampaikan kepada Kepala cabang Paviliun." Lanjutnya berbicara. Pang Lang dan Ren Hu pun mengangguk-anggukan kepalanya paham dengan rencana yang telah di buat oleh Ling Feng.


"Jadi kita akan langsung pergi ke ibu kota kekaisaran tuan muda?" Tanya Ren Hu yang di balas oleh gelengan kepala Ling Feng.


"Ah anda masih mempunyai kenalan lagi di sini?" Tanya Ren Hu. "Sebenarnya pertemuan dengan Jia dan Ibunya itu hanyalah sebuah kebetulan semata, dan bukan kenalan yang kumaksud." Jawab Ling Feng. Ren Hu pun ber oh ria ketika mendengar pernyataan Ling Feng itu.


Setelah mendengar itu, Ren Hu tidak bertanya lagi. Ia hanya diam saja seraya memperhatikan berbagai jenis toko yang menjual berbagai macam jenis barang maupun makanan sepanjang jalan. Pang Lang sendiri tidak tertarik dan hanya fokus mengekori di belakang Ling Feng.


Sampai kemudian ketiga nya pun sampai di sebuah pintu gerbang yang cukup besar. Ren Hu cukup kaget ketika sampai di tempat yang tidak terduga ini.


"Jadi kenalan tuan muda maksud itu, berada di balik gerbang besar ini?" Tanya Ren Hu diangguki oleh Ling Feng.


Lalu terdengar suara cukup lantang dari balik pintu gerbang tersebut, "Siapa kalian bertiga? Ada urusan apa datang ke kediaman Walikota?" Tanya prajurit yang tidak lain adalah penjaga kediaman Walikota.


>>>>>> Bersambung

__ADS_1


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.


__ADS_2