Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Petir Kesengsaraan


__ADS_3

Jdeerrrrr


Booooommmm


Petir berwarna biru cerah melesat cepat menghantam Ling Feng disana. Sang Empu yang di sambar petir kesengsaraan tidak bergeming, namun pakaiannya yang sudah acak-acakan robek sana sini, sekarang bertelanjang dada.


"Petir kesengsaraan ini lebih kuat daripada ketika aku berhasil mengolah manual tubuh dewa surgawi pertama kali." Batin Ling Feng memasang wajah sedikit masam. "Jangan sia-siakan energi itu. Petir mengandung elemen murni langit serap kedalam tubuh mu itu akan bermanfaat nanti nya." Kata Tua Tao yang memperhatikan dari samping dengan serius.


Ling Feng langsung menyerap sisa-sisa petir kesengsaraan yang tersisa di sekitar nya. Petir pertama berhasil di lalui Ling Feng. "Kira-kira berapa banyak bencana kesengsaraan yang ia tarik. Aku jadi penasaran akan hal ini." Batin Tua Tao manggut-manggut memperhatikan.


"Bersiaplah lagi, tidak mungkin kekuatan petir kesengsaraan hanya seperti ini." Kata Tua Tao mengingatkan Ling Feng. "Tidak perlu diberitahu aku juga tau bahwa ini hanyalah awal guru." Balas Ling Feng mendongakan kepalanya menatap serius kegelapan tersebut.


Jdeerrrrr


Jdeerrrrr


"Ughhkkk ini cuma perasaan ku saja atau memang aura menekankan nya semakin kuat ya." Gumam Ling Feng merasakan aura alam yang lebih kaya nan menekan dari langit-langit Jurang Keabadian. Tua Tao langsung menimpalinya. "Tidak. Itu memang bertambah kuat jadi tahan sebisa mungkin dan jangan lupa serap esensial daripada petir kesengsaraan itu." Kata Tua Tao mengingatkan nya kembali.


"Aku juga tau guru tengik." Teriak Ling Feng bertepatan dengan Petir berwarna Biru kehitaman melesat ke arahnya.


Jdeerrrrr


Booooommmm


Kepulan asap langsung menutupi seluruh pandangan mata. Tua Tao lantas berteriak dengan lantang. "Feng'er murid ku…Kau masih hidup, kan." Kata Tua Tao tanpa beban kini ia sudah tidak terlalu serius memperhatikan nya dan bahkan bersandar pada dahan pohon.


Asap tebal yang menghalangi pemandangan pun mulai menghilang dan terlihatlah kawah sedikit bertambah dalam lagi. Ling Feng masih berdiri tegak dengan celananya mulai robek sana sini dan tinggal menghitung jam untuk tidak menggunakan sehelai benang pun. Petir kesengsaraan kedua berhasil dilalui nya juga.


"Eh…Masih hidup ternyata kerja bagus." Kata Tua Tao sembari memberikan tepuk tangan antusias kepada Ling Feng. Ling Feng yang mengetahui reaksi Tua Tao pun sudah tidak tahan lagi dan berkata, "Orang Tua tengik tidak bisakah kau membantu murid mu ini?! bisa-bisanya kau tenang dimana murid mu sedang mengalami bencana surgawi yang sedahsyat ini." Keluh Ling Feng.


"Ahhhh…Kau yang memicu bencana kesengsaraan itu kenapa aku harus ikut membantu juga." Kata Tua Tao tanpa beban sembari membersihkan telinga nya. "Selesaikan apa yang telah kau mulai aku sudah banyak menghabiskan energi mu untuk membantu menyerap kedua pil tersebut. Jika lebih dari itu mungkin aku akan pingsan tidak sadarkan diri." Kata Tua Tao beralasan.


"Ughhkkk orang tua ini…" Kata Ling Feng tertahan bingung ingin berkata apa lagi.


Jdeerrrrr

__ADS_1


Jdeerrrrr


"Daripada mengoceh tidak jelas seperti itu lebih baik kau bersiap untuk petir yang berikutnya." Kata Tua Tao membuat Ling Feng mendongakan kepalanya. "Cihhhhh apa boleh buat." Ling Feng mengalirkan Qi nya kali ini bersiap menahan petir kedua yang datang.


Tekanan nya empat kali lebih kuat dari yang kedua. Benar-benar sangat mendominasi


Roaaarrr


"Ah bahkan ini baru petir ketiga, tapi kenapa harus yang mengambil bentuk fisik." Batin Ling Feng. "Bertahanlah Feng'er kau pasti bisa." Teriak Tua Tao menyemangati Ling Feng. Sang Empu yang di semangati berkata, "Setidaknya jika ingin menyemangati beri aku sebuah artefak, jimat dan sejenisnya." Teriak Ling Feng dan sebuah Naga Petir berwarna jingga melesat membuka rahangnya menerjang ke arah Ling Feng.


Jdeerrrrr


Roaaarrr


Booooommmm


Seketika daerah sekitar langsung berguncang lumayan hebat disertai sengat-sengat petir yang keluar dari kepulan debu yang sangat tebal. "Bocah kau belum mati, kan." Teriak Tua Tao.


Tidak ada sahutan sama sekali sampai Tua Tao pun mengibaskan tangannya dan debu yang menghalangi pandangan hilang seketika menampilkan daerah yang acak-acakan. Wajah Tua Tao diam tidak bergerak melihat pemandangan itu.


"Hei kau lebih mementingkan gubuk reyot mu itu daripada murid mu yang setengah babak belur ini?!" Teriak Ling Feng protes kepada gurunya yang lebih mementingkan gubuk daripada dirinya sendiri. Tapi, Tua Tao langsung menimpalinya. "Berisik bocah tengil…Gubuk itu sudah sangat lama menemani ku sebelum kau datang. Bagaimana itu bisa digantikan." Balas Tua Tao sarkas.


Ling Feng benar-benar tidak habis pikir dengan isi otak yang berada di kepala guru nya ini. "Baiklah akan ku perbaiki nanti." Kata Ling Feng dan Tua Tao dengan sigap berkata. "Jangan lupa yang bagus dan enak ditempati." Kata Tua Tao tidak lagi dramatis dan kembali tenang lagi.


"O-orang tua sia*an ini…?!." Batin Ling Feng benar-benar selalu di uji kesabarannya. Petir Kesengsaraan ketiga berhasil di lalui.


Jdeerrrrr


Jdeerrrrr


Swusssshhhh


Ling Feng langsung merasakan beban berat di punggung nya ketika mendengar suara petir keempat ini. Bahkan ia hampir di buat jatuh jika tidak langsung refleks menggunakan Aliran Qi untuk menahan tekanan tersebut.


Jdeerrrrr

__ADS_1


Jdeerrrrr


Swusssshhhh


Angin sangat kencang datang dari atas. "Aku punya firasat buruk tentang hal ini." Batin Ling Feng mendongakan kepalanya menggertakkan giginya. "Feng'er tahan dengan benar, kali ini mungkin sedikit sulit jika tidak bergerak." Kata Tua Tao dengan nada serius memberitahu Ling Feng.


Ling Feng menganggukkan kepalanya memasang kuda-kuda. Kali ini tidak berniat untuk bertahan lagi, melainkan berniat untuk menghadapi nya dengan serangan. Hening sejenak sampai kemudian, "Datang." Batin Ling Feng langsung lompat ke atas dengan tinju terkepal.


Jdeerrrrr


Jdeerrrrr


Swusssshhhh


Petir Kesengsaraan keempat kali ini mengambil bentuk tombak dengan petir yang berwarna hitam legam mengarah ke arah Ling Feng. Ling Feng tidak mundur sekali pun dan berteriak, "Makan ini petir sia*an…!" Teriak Ling Feng melancarkan tinjunya dan beradu dengan tombak petir hitam tersebut.


Jdeerrrrr


Booooommmm


Booooommmm


Tua Tao langsung mengibaskan tangannya menghilangkan debu disana. Daerah tersebut benar-benar berantakan sama sekali. Dirinya menyapu pandangannya, sampai sebuah tangan muncul dari sebuah kawah. "Uhukkk…Uhukkk…Kukira aku benar-benar akan mati tadi sesaat menerima nya langsung." Kata sosok yang sudah sangat babak belur di seluruh tubuhnya memanjat naik dari kawah tersebut.


Pemuda tersebut langsung menelan pil pemulih sesaat keluar dari kawah tempat dirinya menerima petir Kesengsaraan sembari berbaring. Dirinya mengira sudah berakhir setelah petir hitam yang berwujud tombak tadi.


Baru saja dirinya memejamkan mata berniat memulihkan kondisinya, tetapi…


Jdeerrrrr


Jdeerrrrr


"Oh ayolah…Kau benar-benar berniat membunuh ku ya langit sia*an." Decak Ling Feng kesal setengah mati.


>>>>>> Bersambung

__ADS_1


__ADS_2