
Malam Harinya
“Kau benar-benar akan pergi besok ke Kaisaran Shu Feng’er?” Tanya Ling San yang diangguki oleh pemuda di hadapannya. “Ya kakek aku akan pergi besok. Lagipula Kakek Patriak siang tadi memberikan ku sebuah plakat seraya meminta ku untuk ikut serta dalam turnamen empat benua, karena masih ada satu kursi yang kosong dari sekte kita.” Kata Ling Feng.
Siang tadi, Chang Jin tiba-tiba datang ke puncak, dimana kediaman Ling San berada. Awalnya Ling Feng sedikit bingung dengan kedatangan Chang Jin, yang secara tiba-tiba datang langsung untuk menemuinya. Ia lantas menyampaikan niatnya seraya memberikan sebuah plakat kepada Ling Feng. Ling Feng yang mendapatkan tawaran itu, tentunya tidak menolak dan dengan senang hari menerimanya. Terlebih lagi ia hendak melakukan penyelidikan nya lebih lanjut, dan mungkin saja ia mendapatkan sebuah petunjuk dari Kekaisaran Shu.
“Ya jika memang kau tidak keberatan, maka pergilah.... Dengan ini kau bisa bertemu Jiao’er lebih cepat.” Ucap Ling San seraya menyesap teh yang ada di hadapannya. Ling Feng yang mendengar sudut mulutnya tiba-tiba berkedut, namun langsung ia sembunyikan dengan menyesap teh. Ling San yang menyadari itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis penuh arti.
Sementara Itu Di Kekaisaran Shu
Terlihat suasana Ibu Kota dari Kekaisaran Shu lebih ramai daripada biasanya. Bahkan menjelang malam tiba pun, antrian para pedagang yang hendak masuk ke dalam kota masih terlihat sangat panjang. Hal itu terjadi, karena Kekaisaran Shu terpilih menjadi tempat di selenggarakannya turnamen empat benua dan hal itu tentunya di manfaatkan oleh banyak orang untuk meraup keuntungan, terutama para pedagang.
“Jadi ini Kekaisaran Shu ya... Benar-benar sangat ramai dan indah, bukan Saudari Jiao’er?” Ucap sosok perempuan dengan pandangan mata berbinar melihat lampion-lampion malam yang telah di nyalakan, karena memang sebentar lagi malam akan datang.
“Ya saudari Ying’er... Kota ini memang sangat indah.” Timpal singkat sosok perempuan yang bernama Bing Jiao itu. Raut wajahnya begitu dingin sangat berbeda dengan Bing Jiao yang hangat beberapa tahun lalu. Mendapatkan respon seperti itu, wanita yang bernama Han Ying itu pun diam-diam tersenyum getir.
Bing Jiao yang ia kenal sangatlah hangat dan mudah di ajak bicara, namun selang beberapa tahun kemudian pada saat ia kembali dari sebuah misi, ia membawa pedang biru langit yang memancarkan aura dingin yang sangat kuat. Pada saat itulah sifat Bing Jiao berubah seratus delapan puluh derajat, berbanding terbalik dengan sifatnya yang hangat dan mudah di ajak bicara, kini dirinya menjadi dingin dan acuh tak acuh dengan sekitar. Membuatnya menjadi lebih sulit untuk di dekati dan hanya berkata apa adanya saja.
Tentunya perubahan sifat itu membuat Han Ying menjadi khawatir dengan Bing Jiao dan meminta guru yang sekaligus pamannya itu untuk memeriksa tubuh Bing Jiao, namun ketika di periksa tubuhnya baik-baik saja, sebaliknya Tetua Han malah bereaksi terkejut ketika memeriksa tubuh Bing Jiao, karena ia melihat ranah Bing Jiao yang meningkat drastis kala itu. Semenjak hari itu, kecepatan kultivasi Bing Jiao benar-benar meningkat dua kali lipat dan saat ini ia telah berhasil mencapai ranah Kaisar Bintang Sembilan. Hanya butuh setengah langkah lagi untuk menembus ranah berikutnya.
__ADS_1
Akan tetapi, di balik kecepatan kultivasinya yang meningkat drastis, sifat Bing Jiao semakin buruk seiring berjalannya waktu. Seakan-akan dirinya berubah menjadi sosok yang lain dan hal itulah yang membuat Han Ying dan Tetua Han khawatir. Mereka sudah berusaha untuk melakukakan yang terbaik untuk hal itu, dengan cara menjauhkan pedang yang Bing Jiao bawa, namun hasilnya seberapa keras mereka berusaha menjauhkan Bing Jiao dari pedangnya itu. Pedang Biru Langit itu seakan-akan sudah menjadi satu dengan Bing Jiao dan akan kembali kepadanya setiap saat.
Melihat bahwa tindakan mereka percuma, mau tidak mau keduanya pun hanya membiarkannya saja dan meminta Bing Jiao untuk tidak terlalu sering menggunakan Pedang Biru Langit itu, kedua nya yakin bahwa penyebab Bing Jiao berubah drastis adalah Pedang Biru Langit yang ia bawa pada saat ia kembali dari misi. Oleh karena itu, keduanya meminta untuk tidak terlalu sering menggunakan pedang tersebut.
“Bagaimana Tetua ke lima? Apakah sudah ada kabar dari patriak tentang siapa yang akan menempati posisi yang kosong?” Tanya Tetua Han.
“Beliau sudah membalasnya dan menjawab sudah mendapatkan kandidat untuk posisi yang kosong. Ia juga berkata bahwa sang kandidat itu akan berangkat esok hari.” Jawab perempuan di sebelah Tetua Han yang tidak lain adalah Tetua ke lima. “Begitu, kah... Senang mendengarnya kalau seperti itu.” Ucap Tetua Han bisa bernafas lega ketika mendapatkan kabar baik tersebut.
Kekaisaran Han sendiri mendapatkan empat slot untuk mengikuti turnamen empat benua. Dua diantaranya di ambil oleh pihak kekaisaran yaitu, Han Ying dan pangeran kedua dari kekaisaran sekaligus kakak dari Han Ying. Sementara itu, dua kursi lainnya diambil oleh pihak sekte naga langit yaitu, Bing Jiao dan salah satu murid sekte elit lainnya, namun secara tiba-tiba murid elit itu tidak bisa pergi menunju Kekaisaran Shu. Tentunya Pihak sekte bingung akan hal itu dan tidak mempunyai pilihan lain untuk memberangkat tiga kandidat saja, dan untuk yang satunya lagi menjadi urusan sekte mencari kandidatnya.
>>>>>>_____
“Saudari apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Han Ying kepada Bing Jiao. “Aku akan berlatih sebentar lalu istirahat setelahnya.” Jawab Bing Jiao dengan nada datar dan wajah acuh tak acuh.
“Ehhh. Saudari tidak ingin berjalan-jalan sebentar mengelilingi kota begitu? Mumpung malam ini baru datang. Pasti banyak kios makanan di pinggir jalan.” Ucap Han Ying mendadak lesu ketika mendengar Bing Jiao yang tidak ingin pergi keluar. “Maafkan aku saudari. Aku sedikit merasa lelah dan ingin beristirahat lebih awal.” Ucap Bing Jiao sekali lagi. Han Ying yang hendak berkata sesuatu lagi, mulutnya langsung di tutup oleh pemuda di sampingnya yang tidak lain adalah pangeran kedua sekaligus kakak dari Han Ying.
“Kalau begitu. Selamat malam, selamat beristirahat nona Bing.” Ucap pangeran kedua seraya menutup erat mulut Han Ying yang meronta-ronta meminta untuk di lepaskan. Bing Jiao menganggukkan kepalanya dan berkata singkat, “Selamat malam juga Pangeran Kedua, Saudari Ying.” Ucap singkat Bing Jiao lalu beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya.
Pada saat itulah baru pangeran kedua melepaskan tangannya di mulut Han Ying. Han Ying pun langsung memprotes tindakan kakaknya itu. “Apa yang kau lakukan hahhh kakak bodoh?! Kau ingin membunuh adik mu yang imut ini, kah?!” Kata Han Yin dengan nada tidak senang. “Diam kau adik bodoh. Jika kau terus memaksa Nona Bing seperti tadi, ia tidak akan merasa nyaman dan kemungkinan besar akan menjauhimu. Apakah kau mau seperti itu?” Kata pangeran kedua seraya menyentil pelan dahi adiknya itu.
__ADS_1
Han Ying pun langsung cemberut seraya mengelus-ngelus pelan dahinya yang di sentil oleh kakaknya itu. Ia pun berkata, “Aku tidak bermaksud seperti itu kepada saudari Jiao kakak.” Ucap Han Ying seraya membuang mukanya ke samping enggan menatap wajah dari saudaranya itu.
“Sudahlah tidak perlu marah-marah seperti itu, sebagai gantinya Kakak Tian yang tampan ini akan mengantarkan mu untuk berkeliling kota.” Ucap pangeran kedua yang bernama Han Tian. Ia sontak mengelus-ngelus pelan rambut adiknya yang sedang cemberut itu.
“Hmmphhh tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Ucap Han Ying yang masih kesal dan pergi meninggalkan Han Tian di belakang. Melihat dirinya di tolak oleh adiknya sendiri, Han Tian tentunya merasa sedikit tidak senang. Walaupun sudah di tolak, Han Tian tetapi mengikuti tepat di belakang sang adik.
Kamar Bing Jiao
Tepat ketika ia masuk ke dalam kamar, Bing Jiao langsung melepas jubah hitamnya dan meletakan di tempat yang tersedia. Ia lalu melirik Pedang Biru Langit di pinggangnya, yang saat ini sudah di bungkus oleh kain putih tebal, guna mencegah aura dingin yang terus-terusan memancar dari pedang tersebut. Setelah menatapnya cukup lama, Bing Jiao meletakan pedang yang telah di bungkus itu di meja dekat tempat tidur dan dirinya pun lantas berbaring di tempat tidur.
Pada saat ia memandang langit-langit, secara tiba-tiba air mata pun lolos dari sudut mata Bing Jiao. Ia pun bergumam pelan dengan suara yang parau. “Kakak Feng... Kau dimana? Seiring berjalannya waktu, aku semakin merasa aneh dengan diriku sendiri... Kakak Feng... Kumohon... Tolong... Ak...” Gumam Bing Jiao dengan suara yang sesegukkan lalu secara tiba-tiba ia tertidur.
>>>>>_____
Keesokan Harinya di Sekte Naga Langit
“Kalau begitu para tetua dan semuanya, aku pergi dulu sekarang. Paman Tian, Paman Lang aku pergi dulu.” Ucap Ling Feng berpamitan lalu pergi meninggalkan sekte naga langit pergi menuju Kekaisaran Shu.
>>>>> Bersambung
__ADS_1
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.