
“Sudahlah kalian berdua hentikan itu, yang ada malah tidak jadi makan malam.” Ucap kepala Keluarga Qing melerai kedua anaknya menjadi penengah. Barulah saat itu makan malam berjalan semestinya.
>>>>>>______
Setelah selesai dengan makan malam, Ling Feng dan yang lainnya pun berpamitan untuk kembali ke sekte. Hari kala itu sudah malam hari, awalnya kepala Keluarga Qing meminta Ling Feng yang lainnya untuk menginap terlebih dahulu dan kembali esok hari saja. Akan tetapi, mereka tidak bisa karena hanya mendapatkan izin keluar seharian saja. Terlebih lagi mereka juga harus melanjutkan pelatihannya masing-masing.
“Ya jika memang seperti itu, maka apa boleh buat.” Ucap kepala Keluarga Qing yang dianggukki oleh Ling Feng dan mereka pun pamit.
“Lain kali kemari adik ipar dan temani aku latihan!” Teriak Qing Lao seraya melambai-lambaikan tangannya. Qing Xian yang mendengar itu hanya bisa menahan untuk mengumpat kepadanya, karena ia merasa malu dengan tingkah kakaknya yang begitu bebas saat ini. Bing Jiao dan Han Ying hanya bisa terkekeh, ketika melihat Qing Xian yang biasanya tenang, kini terlihat sangat berbeda.
Ling Feng tersenyum ramah menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Aku kembali dulu kakak ipar, ayah mertua.” Ucap Ling Feng tiba-tiba membuat Qing Lao yang mendengar itu tersenyum cerah seraya mengacungkan ibu jarinya kepada Ling Feng dan kepala Keluarga Qing tertawa senang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Qing Xian sendiri sudah merasa sangat malu ketika mendengar itu, ia bahkan tidak berani mendongakkan kepalanya, sebab kedua pipinya sudah berubah merah bak kepiting rebus saat itu. Setelah berpamitan mereka pun kembali menaiki gunung untuk kembali ke sekte. Dalam perjalanan mereka semua pun saling berbincang santai, Han Ying juga menanyakan beberapa pertanyaan seputar kultivasinya. Tidak hanya Han Ying, Yang Sun pun juga sama.
Ling Feng sendiri tidak keberatan untuk memberikan jawabannya dari pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh kedua orang tersebut. Untuk Bing Jiao dan Qing Xian sendiri tidak mengalami hambatan sedikit pun dalam berlatih, karena keduanya senantiasa meminta arahan kepada Ling Feng. Oleh karena itulah, keduanya bisa meningkat cepat tanpa hambatan sedikit pun.
Tentu Ling Feng tidak hanya mengkhususkan kedua kekasihnya saja jika seputar kultivasi dan sejenisnya, ia juga senantiasa membantu murid yang lainnya dan memberikan arahan. Entah itu seniornya maupun juniornya, Ling Feng memperlakukan semuanya sama rata tanpa membanding-bandingkannya. Sehingga semua dari mereka bisa berkultivasi dengan baik dan lebih efektif serta meningkatkan lebih pesat.
Oleh sebab itu juga kesan para murid sekte naga langit kepada Ling Feng begitu hormat dan kagum. Mereka juga tidak pernah mempermasalahkan apa yang Ling Feng lakukan kepada mereka, karena apa yang ia lakukan tentunya untuk kebaikan-kebaikan mereka juga. Ya walaupun metode pelatihannya sedikit ekstrem dan di luar nalar manusia.
__ADS_1
>>>>>>______
Setelah berjalan beberapa saat menaiki gunung, mereka pun sampai di sekte. Tepat sebelum bubar, lalu memanggil Bing Jiao dan Qing Xian.
“Jiao’er, Xian’er.” Panggil Ling Feng membuat kedua wanita itu pun berbalik ke arahnya menatap Ling Feng menunggu apa yang ia bicarakan. Ling Feng pun lantas menunjukkan senyuman hangat seraya berkata, “Terima kasih untuk semua. Terima Kasih sudah selalu memperhatikan ku.” Ucap Ling Feng penuh arti dan membuat Bing Jiao dan Qing Xian sempat tersentak, karena mereka kira Ling Feng sudah mengetahui rencana dibalik mengajak Ling Feng.
Han Ying bahkan sempat tersentak ketika medengar hal itu lalu dirinya pun secepat kilat langsung izin pamit. Yang Sun juga langsung izin pamit untuk mulai kembali berlatih. Tersisa hanya Ling Feng, Bing Jiao, dan Qing Xian. Beberapa saat kemudian keduanya pun biasa kembali, dan Bing Jiao pun berkata seraya tersenyum, “Sama-sama kak. Terlebih lagi ada juga Jiao’er dan Saudari Xian yang berterima kasih kepada kakak.” Ucap Bing Jiao seraya tertawa renyah lalu diangguki oleh Qing Xian.
“Terima kasih sudah mau mengabulkan permintaan kami berdua.” Ucap Qing Xian seraya tersenyum manis. Ling Feng yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya dan berkata, “Kalau begitu akan kembali dulu. Jika ada sesuatu yang di butuhkan jangan ragu untuk datang kepadaku.” Ucap Ling Feng lalu terbang dari sana kembali ke kediaman kakeknya.
Bing Jiao dan Qing Xian menatap ke arah Ling Feng terbang baru kemudian keduanya pun kembali ke kediaman bersama-sama, mengingat asramanya bersamaan.
Terlihat ketika keduanya berjalan beriringan, ada Han Ying yang sedang menunggu di pintu masuk asrama. Tepat ketika Han Ying menoleh ke arah mereka, dirinya pun mendekati kedua wanita itu seraya bertanya, “Apakah Saudara Feng mengetahui rencana kita?” Tanya Han Ying penasaran.
“Sudahlah tidak perlu di pikirkan lagi saudari, kalaupun ketahuan yang penting sudah berlalu. Dirinya hanya berterima kasih dan sepertinya ia juga menikmatinya. Jadi sekalipun ia mengetahuinya juga tidak apa-apa.” Ucap Qing Xian masuk akal.
“Ya benar juga sih.” Ucap Han Ying setuju dengan apa yang di katakan oleh Qing Xian. Ketiga wanita itu pun lantas masuk ke dalam asramanya dan pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Untuk murid wanita sendiri tidak ada kegiatan latihan malam, kecuali mereka sendiri yang ingin berlatih dan para tetua tidak melarang hal tersebut.
>>>>>>______
__ADS_1
Kembali Kepada Ling Feng
Ling Feng sendiri tidak langsung kembali ke kediaman kakeknya melainkan ia pergi ke tempat pelatihan, karena ia merasakan cukup banyak hawa kehadiran dari sana. Lalu ketika ia sampai di sana, dirinya cukup terkejut, karena masih banyak yang masih berlatih di sana.
“Hehhhh... Menarik juga.” Gumam Ling Feng menatap ke bawah di mana, ada setidaknya tiga puluh lebih murid yang masih berlatih di sana. Mulai dari yang berlari-lari mengitari tempat latihan, naik turun gunung, dan mengayunkan pedangnya secara berulang kali.
“Sudah ada tiga puluh lima orang kah. Ya tidak buruk, dan ini akan menjadi awal serta pemicu bagi murid-murid yang lainnya untuk melewati batas dirinya masing-masing.” Gumam Ling Feng lalu terbang dari sana kembali ke kediaman kakeknya.
Ketika ia sampai di kediaman kakeknya ia cukup terkejut, karena merasakan hawa keberadaan patriak sekte dari arah sana dan benar saja. Tepat ketika dirinya sampai di puncak gunung, kakeknya sedang bersama Chang Jin tengah berada di halaman depan seraya menikmati teh dan berbicang-bincang serius.
Keduanya pun juga menoleh ke arah Ling Feng yang sedang terbang ke arah mereka. “Salam kakek, salam kakek patriak.” Ucap Ling Feng langsung memberi hormat kepada dua orang tersebut ketika sampai di puncak kediaman.
“Tidak perlu sungkan, tidak perlu sungkan.” Ucap Chang Jin kepada Ling Feng. Ling Feng lantas melirik ke arah kakeknya dimana ia menatap ke arahnya dengan pandangan cemas.
“Kenapa kakek? Wajah mu terlihat sangat sedih seperti itu. Ada apa?” Tanya Ling Feng dengan lembut seraya tersenyum menenangkan, lalu duduk di sebelah Ling San. Melihat raut wajah dari cucunya yang begitu tenang, membuat Ling San semakin cemas.
“Cucuku, apakah kamu benar-benar akan pergi ke tempat seperti itu?” Tanya Ling San yang membuat Ling Feng sedikit membelalakkan kedua matanya lalu menoleh ke arah Chang Jin, dan pria sepuh itu langsung memalingkan wajahnya dengan tanpa merasa bersalahnya.
Ling Feng hanya berdecak kesal di dalam hatinnya, lalu melirik ke arah Ling San kembali masih dengan senyuman yang sama. “Begitu, kah... Jadi kakek sudah dengar dari kakek patriak ya.” Ucap Ling Feng.
__ADS_1
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.