Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Mengajak Pergi ke Pelelangan


__ADS_3

“Sama-sama tetua kelima. Aku juga berterima kasih kepadamu, karena telah mengingatkan ku apa yang penting bagiku.” Ucap Ling Feng memberi hormat sekali lagi kepada tetua kelima. Tetua kelima tersenyum tipis menganggukkan kepalanya. Dirinya pun bangkit melangkah ke area belakang bersama Ling Feng yang mengekor di belakangnya.


>>>>>>______


“Xian’er apakah kamu sudah selesai berlatih? Jika sudah, Feng’er sudah datang kemari loh.” Ucap Tetua kelima dengan nad lembah lembut, membuat ketiga wanita yang baru saja selesai berlatih, langsung serempak menoleh ke arah sumber suara. Ketiga wanita itu adalah Qing Xian, Bing Jiao, dan Han Ying.


Ketiga wanita itu pun langsung mendekati tetua kelima dan memberi salam kepadanya. Tetua kelima menganggukkan kepalanya, lalu dirinya pun pamit dari sana setelah mengantarkan Ling Feng. Ling Feng sekali lagi berterima kasih kepada tetua kelima sesaat dirinya pergi.


“Jadi ada perlu apa sampai kamu mencariku?” Tanya Ling Feng seraya melirik ke arah Qing Xian. Akan tetapi, ketika Ling Feng bertanya seperti itu, raut wajah Qing Xian terlihat sedikit gelap yang membuat Ling Feng sedikit kaget sekaligus bingung. “Ada apa dengan wanita ini? Tidak biasanya ia bersikap seperti itu? Apakah aku menanyakan sesuatu hal yang salah?” Batin Ling Feng di dalam benak hatinya, ia pun melirik ke arah Han Ying dan Bing Jiao, dimana kedua wanita itu juga menunjukkan ekspresi yang tidak terduga, membuat Ling Feng semakin bingung.


“Itukah yang pertama kali tanyakan kepadaku setelah jarang bertemu denganku dan saudari Jiao." Ucap Qing Xian dengan nada bicara yang jelas terdengar kesal. Ling Feng yang mendengar itu pun mengerti dengan maksud perkataannya, “Oh ayolah, baru lima hari berlalu sejak aku berkultivasi. Sebelum-sebelumnya kalian berdua juga sering datang menemuiku untuk meminta saran dariku, kan. Jadi tidak bertemu dengan ku selama lima hari, seharus nya bukan masalah.” Ucap Ling Feng terkekeh pelan.


Selama tiga bulan terakhir, memang Bing Jiao dan Qing Xian akan datang menemuinya tepat ketika selesai berlatih. Tidak sering memang, namun keduanya memang sering datang untuk berlatih dengan Ling Feng. Tentu Ling Feng tidak menolak permintaan keduanya, namun memang tidak sering, karena ia juga punya hal yang harus di urus.


Qing Xian berdecak membuat Ling Feng tertawa kecil, karena tidak biasanya ia menang berbicara dengan wanita tersebut. “Jadi Xian’er, apa yang ingin kamu bicarakan denganku, rasanya tidak mungkin hanya ingin membicarakan hal ini saja, kan.” Ucap Ling Feng lagi.

__ADS_1


“Nanti siang di kota akan diadakan sebuah pelelangan. Aku, Saudari Ying, dan Saudari Jiao ingin pergi ke sana. Jadi apakah kamu ingin ikut kami juga pergi ke pelelangan?” Ujar Qing Xian kepada Ling Feng. Mendengar itu Ling Feng sejujurnya tidak terlalu tertarik dengan pelelangan tersebut, namun ketika ia melihat tatapan tajam dari Qing Xian dan tatapan berharap dari Bing Jiao, membuat Ling Feng hanya bisa menghela nafas kasar, lalu mengiyakannya saja.


“Bagus sekali. Kalau begini, kan kami bertiga bisa tenang. Karena, jika ada yang berusaha untuk mengganggu kami, ada kamu yang bisa mengurusnya.” Ucap Qing Xian dalam sekejap mengubah wajahnya menjadi lebih senang dan hawa menusuk yang keluar dari tubuhnya pun telah sepenuhnya hilang.


“Aku berani bertaruh, jikapun ada yang mencoba untuk mengganggu kalian, maka nasib dari pengganggu itu pastinya akan sangat menyedihkan. Terlebih lagi ada putri dari pemilik kekaisaran ini, mana mungkin ada yang berani mereka kecuali sudah siap mati.” Batin Ling Feng dalam hatinya. Seraya menghela nafas pendek, dan itu di sadari oleh Qing Xian membuatnya mengangkat sebelah alisnya seraya berkata, “Apa-apaan raut wajah itu? Apakah kamu memikirkan sesuatu tentang kami bertiga?” Ujar Han Ying dengan tatapan menyelidik.


“Tidak kok, aku tidak berpikir seperti itu.” Ucap Ling Feng berniat untuk tidak memperpanjangnya, namun hal itu terlambat, karena Qing Xian sudah menatap tajam ke arahnya. “Benarkah itu?” Tanya Qing Xian dengan tatapan tajam menyelidik. “Daripada itu, apakah kalian baik-baik saja? Memangnya kalian tidak apa-apa jika pergi nanti siang? Bagaimana dengan latihan rutinnya?” Tanya Ling Feng mengalihkan pembicaraan, menghindari tatapan tajam dari Qing Xian.


“Ah kalau mengenai itu, tidak perlu khawatir kak. Tetua ketujuh sudah mengizinkan kok, bahwa kami bertiga bisa izin hari ini untuk tidak berlatih.” Jawab Bing Jiao. “Ya mengingat seberapa keras kalian berdua berlatih, tidak heran jika tetua ketujuh memberikan izin kepada kalian berdua. Mengingat kalian berdua sudah bekerja keras melewati pelatihan nya.” Timpal Han Ying.


“Lalu kamu memang tidak apa-apa? Kamu tidak kabur, kan dari pelatihan beliau?” Ucap Ling Feng pada Han Ying. “Oi mulut siapa yang berbicara seperti itu hahhh?! Aku juga sudah bekerja keras tahu. Hanya saja, tidak sampai sekeras kedua wanita mu. Sembarangan saja kau ya.” Ucap Han Ying dengan nada kesal, ketika mendengar perkataan Ling Feng.


Ling Feng pun menyetujui ajakan dari ketiga wanita itu untuk pergi ke pelelangan bersama dengan mereka, namun ia juga akan mengajak seseorang juga, mendengar hal itu ketiganya tentu tidak masalah dan membiarkan Ling Feng untuk mengajak seseorang tersebut.


Setelah menentukan kapan mereka akan berangkat dan kumpul di mana, Ling Feng pun langsung izin pamit untuk kembali ke kediaman kakeknya. Walaupun kala itu ia masih sedikit curiga, karena merasa masih ada yang disembunyikan darinya. Akan tetapi, ia tidak mempermasalahkan itu dan tidak bertanya. Tepat kepergian Ling Feng, ketiga wanita itu pun langsung bernafas lega.

__ADS_1


“Fyuhhhh... Rencananya benar-benar berhasil. Dirinya tidak curiga, kan?” Ujar Qing Xian seraya menoleh ke arah Bing Jiao. Bing Jiao memejamkan kedua matanya sejenak lalu membuka nya kembali seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, kakak sudah benar-benar kembali ke kediaman tetua pertama.” Jawab Bing Jiao.


“Syukurlah itu berhasil. Jujur saja, jika saja kita tidak bersikap seperti itu. Pria itu pastinya akan menolak untuk ikut ke pelelangan.” Kata Qing Xian yang dianggukki oleh Bing Jiao dan Han Ying. Tidak lama kemudian, tetua kelima pun keluar dari kediamannya mendekati ketiganya.


“Bagaimana? Apakah kalian bertiga berhasil mengajaknya pergi?” Tanya tetua kelima dan dianggukki oleh ketiga wanita itu seraya tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya alasan lain mereka bertiga mengajak Ling Feng ke pelelangan adalah permintaan dari patriak sekte dan para tetua. Walaupun sudah berkata untuk tidak bekerja keras, namun tetap saja pemuda itu tidak pernah beristirahat. Alhasil, mereka pun meminta Bing Jiao dan Qing Xian untuk membuat Ling Feng bisa beristirahat, walaupun hanya sejenak.


Untuk Han Ying sendiri adalah yang mengajukan ide tersebut, jadi Qing Xian dan Bing Jiao pun mengajak dirinya supaya ia tidak curiga dengan rencana mereka nantinya. Han Ying tentunya tidak menolak dan menerima permintaan dari keduanya dengan senang hati. Alasan ia menerima nya dengan senang hati, karena dirinya juga ingin berterima kasih kepada Ling Feng, karena dirinya sudah banyak membantu dalam kultivasinya.


“Baguslah, aku turut senang mendengar nya. Terima kasih dan maaf, karena sudah mau repot-repot membantu kami.” Ucap Tetua kelima. Dirinya juga berterima kasih kepada ketiga wanita itu, ketiga wanita itu pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tidak perlu berterima kasih guru, sebaliknya aku dan Saudari Jiao sangat berterima kasih kepada para tetua lainnya serta patriak sekte. Aku dan saudari memang sudah berniat untuk melakukan hal itu, dan berniat untuk izin dari pelatihan selama beberapa hari. Mengingat, pria itu memang terlalu memaksakan dirinya dan tidak pernah beristirahat sama sekali.” Ucap Qing Xian.


“Benar apa yang dikatakan oleh saudari tetua. Kakak memang seperti itu, ia akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang terpentingnya. Terlebih lagi, ia sudah menganggap sekte ini sebagai rumahnya, maka ia akan melakukan apapun untuk membuat keluarganya selamat. Orang seperti itulah kakak.” Ucap Bing Jiao seraya tersenyum manis.


“Ya kalau begitu, aku serahkan dirinya kepada kalian berdua.” Ucap tetua kelima yang dianggukki oleh mereka bertiga.

__ADS_1


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.


__ADS_2