Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Perbincangan Antara Putri dan Ayahnya


__ADS_3

"Sekarang mau di apakan orang ini kak?" Tanya Qing Xian. "Untuk sekarang kakak berniat membawanya terlebih dahulu ke penjara." Kata Qing Lao. Mendengar saran dari Qing Lao berkata. "Jangan sampai membunuhnya kak. Orang ini sangat penting untuk membuktikan kebenaran tentang pengkhianatan ini." Kata Qing Xian. "Iya, iya…Adik ku yang cantik. Tenang saja kakak tidak akan berlebihan jika orang ini tidak banyak tingkah." Kata Qing Lao lalu memanggul orang tersebut di pundaknya.


"Oh ya tentang yang ingin dibicarakan kepada ayah, aku rasa kau saja yang berbicara dengannya. Belakangan ini, kau jarang berbicara dengan ayah pergi temui dan berbincang-bincang lah. Aku yakin ayah sangat senang nantinya." Kata Qing Lao lalu pergi dari sana tanpa menoleh kebelakang.


Qing Xian yang mendengar itu pun termenung dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Ia menatap punggung kakaknya yang perlahan menjauh lalu berbalik pergi menuju ke tempat sang ayah. Qing Lao kembali menoleh sebentar dan melihat Qing Xian yang perlahan menjauh menuju ke ruangan sang ayah. Ia lantas tersenyum lega lalu kembali melanjutkannya langkahnya ke penjara.


"Oiii teman. Aku tau kau sudah sadar, jadi ketika aku bertanya…Sebisa mungkin untuk menjawabnya dengan benar ya." Bisik Qing Lao. Mata-mata yang berpura-pura tidak sadar itu pun langsung menunjukkan reaksi terkejut sesaat, namun langsung biasa kembali tidak menunjukkan tanda-tanda.


Mata-mata itu lantas menunggu reaksi Qing Lao, namun sang empu hanya biasa tetap melangkahkan kakinya biasa tidak menunjukkan tanda-tanda ia sadar. "Sepertinya bocah ini tidak sadar. Aku akan mencari kesempatan untuk kabur dari sini sebelum bocah ini melakukan keinginannya." Batin mata-mata tersebut.


Akan tetapi sayang, Qing Lao tersenyum lebar dibelakangnya. Ia bukannya tidak sadar, ia hanya bersikap acuh tak acuh saja membiarkan aksi apa yang akan diambil mata-mata tersebut. "Sejauh mana kau bisa melawan aku sangat menunggu hal itu." Batin Qing Lao tersenyum kemudian lalu meneruskan langkahnya.


Ia mempunyai kebiasaan buruk jika sedang berhadapan dengan sang musuh. Jika ia sudah mengetahui perbedaan antara dirinya dengan musuhnya, ia melakukan sesuatu yang membuat musuhnya itu merasa sangat terhina.

__ADS_1


Qing Xian Saat ini


Qing Xian sudah sampai di depan ruangan sang ayah. Awalnya ia ragu untuk mengetuknya, namun ia tetap mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok…Tok…Tok


Sekilas terdengar suara pria paruh baya terdengar dari dalam ruangan tersebut." Siapa disana?" Kata orang yang didalam. "Ini Xian'er ayah." Kata Qing Xian. Lalu terdengar kembali sahutan dari dalam ruangan tersebut. "Masuklah putri ku." Kata orang yang tidak lain adalah ayah dari Qing Xian kepala keluarga Qing, Qing Fei.


Qing Xian pun membuka pintu ruangan tersebut. Terlihat seorang Qing Fei sedang berdiri menghadap ke arah jendela. Ia lantas membalikkan tubuhnya sembari tersenyum manis kepada Qing Xian. "Ada angin apa gerangan sampai-sampai putri ku yang bunga es ini datang menemui ayahnya yang gagah perkasa? Apa jangan-jangan putri kecilku ini sedang rindu dengan ku. Karena setelah sekian lama tidak berbincang-bincang." Kata Qing Fei langsung secepat kilat berada disebelah Qing Xian.


"Aduh ayah…Wajah ayah terlalu dekat dengan Xian'er tau." Kata Qing Xian menjauhkan wajah sang ayah dari wajahnya. "Aku kemari ada hal yang ingin dibicarakan bukan rindu dengan ayah. Lagipula kita baru beberapa hari tidak berbincang-bincang saja, bukan tidak bertemu satu tahun." Lanjutnya berkata dan berhasil menjauhkan wajah sang ayah.


"Xian'er sekarang sudah berubah ya…Padahal waktu kecil selalu berkata, ("Xian'er akan berada disisi Ayah selamanya. Xian'er hanya ingin ayah saja.") Kata mu sembari memasang senyum lebar." Kata Qing Fei sembari menirukan cara bicara Qing Xian kala itu.

__ADS_1


"Ayah saat ini aku sedang tidak bercanda tau." Kata Qing Xian berkata acuh tak acuh menatap tajam Qing Fei. Qing Fei yang ditatap seperti itu seketika wajah sedih yang ia buat-buat berubah. Ia tertawa tanpa rasa bersalah sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Baiklah, baiklah aku mengalah. Cihhhhh…Putri kecil ku sudah tumbuh dewasa sekarang. Aku tidak tau apa kelebihan mu yang membuat tuan muda Feng tertarik dengan mu nak." Kata Qing Fei keceplosan dengan cepat menutup bibirnya lalu ia melirik Qing Xian yang sudah menetap lebih tajam disertai aura yang merembes keluar dari tubuhnya.


Qing Fei yang melihat itu langsung berusaha mengalihkan perhatian putrinya tersebut. "Oh ya tadi kau bilang ada yang ingin disampaikan dengan ku, katakan tentang hal apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah." Kata Qing Fei berusaha mengalihkan perhatian Qing Xian dengan tujuannya kemari.


Namun, sayang Qing Xian masih menatap tajam sang ayah. Jika diibaratkan, mungkin Qing Fei sudah mati ribuan kali jika itu bisa dilakukan hanya dengan tatapan saja. "Aku ingin berbicara serius dengan ayah. Ini juga bersangkutan dengan keluarga juga." Kata Qing Xian walaupun menggunakan nada sedikit tinggi.


"K-katakan apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah." kata Qing Fei langsung berubah serius walaupun masih sedikit gugup dengan tatapan tajam yang Qing Xian lancarkan kepadanya.


"Pengkhianat. Di keluarga kita ada seorang mata-mata sekaligus pengkhianat." Kata Qing Xian serius. Membuat Qing Fei yang mendengarnya langsung menghilangkan aura humorisnya dan digantikan dengan aura seorang kepala keluarga. "Jelaskan lebih rinci dan alasan Mengapa Xian'er berkata seperti itu." Kata Qing Fei dengan wajah serius.


Qing Xian pun menganggukkan kepalanya lalu mulai menjelaskan tentang asumsi yang ia pikirkan dan Qing Lao mengenai mengapa ia berasumsi tersebut.

__ADS_1


>>>> Bersambung


__ADS_2