
..."Cinta adalah gerak jiwa yang kosong tanpa pikiran"...
...(Thales)...
...>>>>>_____<<<<<...
"Oi, Tua aneh. Sepertinya Feng'er sudah naik tingkat sekarang. Aura kultivasi nya sudah tertutupi dengan sangat sempurna." kata Long Tian memandang Ling Feng yang masih tidak sadarkan diri.
"Tentu saja dan mungkin bukan hanya kultivasinya saja yang sudah naik tingkat." balas To Mu.
"Sungguh keberkahan dibalik Malapaetaka. Aku tidak menyangka Feng'er selalu beruntung" kata Long Tian membuat To Mu kesal mendengarnya.
"Jadi maksudmu dia harus tidak beruntung gitu hahhhhh naga tengik." kata To Mu kesal.
"Bukan seperti itu maksudku bodoh. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa ada orang seberuntung dirinya, bahkan tuan kita dulu tidak seberuntung ini." kata Long Tian.
"Jelaslah, tuanku itu tidak boleh biasa-biasa saja. Harus luar biasa tentunya." kata To Mu dan Long Tian hanya mendengus jengkel.
"Tuanmu itu juga tuanku bodoh." kata Long Tian dan tidak didengarkan oleh To Mu.
"Kau bilang apa tadi naga tengik ? aku tidak terlalu jelas mendengar soalnya ?" kata To Mu. Long Tian yang mendengar itu hanya mendengus jengkel dan langsung menarik pakaian belakang To Mu menyeretnya.
"Sudahlah abaikan saja dan kita sebaiknya memberikan ruang untuk muda-mudi itu." kata Long Tian sembari menyeretnya pakaian belakang To Mu.
"Cih, daripada aku ikut denganmu lebih baik aku kembali ke dunia jiwa Feng'er." kata To Mu hendak menghilang namun tertahan oleh perkataan Long Tian.
"Padahal aku ingin mengajakmu ketempat yang menarik." kata Long Tian sembari bersiul-siul tidak menyeret To Mu lagi dan berjalan cepat.
"Eh, kau mau kemana ?" tanya To Mu yang penasaran.
"Pokonya pergi ke tempat yang banyak hal M-E-N-A-R-I-K nya." kata Long Tian menekankan setiap huruf menarik untuk membuat To Mu penasaran.
__ADS_1
"Baiklah, awas saja tapi jika itu tidak menarik nantinya naga tengik." kata To Mu yang akhirnya tergoda juga karena, saking penasaran apa yang menarik.
"Cih, jika berbicara pada Feng'er saja, setiap katanya menggunakan kosa kata yang santun. Dasar orang aneh." kata Long Tian mendengus kesal.
"Sudah untuk omong kosong nya, kita pergi ketempat yang menarik menurutmu itu" kata To Mu yang tidak menggubris perkataan Long Tian. Long Tian yang mendengar itu hanya mendengus kesal sekaligus jengkel dengan To Mu yang aneh menurutnya.
...>>>>>_____<<<<<...
Tidak terasa siang berlalu digantikan kegelapan malam. Terlihat seorang pemuda yang sedang tidak sadarkan diri dipangkuan seorang wanita. kedua orang itu adalah Ling Feng yang tidak sadarkan diri di pangkuan Bing Jiao. Ling Feng tidak sadarkan diri sudah hampir sepuluh jam lamanya.
"Wajah polos kakak ketika tidur terlihat lucu dipandang hihihi." kata Bing Jiao mendekatkan wajahnya memainkan wajah Ling Feng yang terlelap dipangkuannya. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Ling Feng, bahkan saking dekatnya hembusan nafas tenangnya pun terasa oleh wajah Bing Jiao.
Hal itu membuat dirinya menjadi gugup dan merasa aneh. Bahkan Bing Jiao reflek lebih mendekati wajahnya. Kini jarak antara wajahnya dan Ling Feng hanya satu centimeter saja.
"Kakak aku menci-" kata Bing Jiao terhenti karena, Ling Feng menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Sekejap mata Bing Jiao langsung menegakkan tubuhnya. Bahkan Seluruh wajahnya sudah berubah menjadi merah tomat saking malunya, dan terlihat asap putih keluar dari atas kepalanya.
"Akhhhh, dimana ini." kata yang pertama kali keluar dari mulut Ling Feng. Dirinya hendak bangun namun entah kenapa seluruh tubuhnya sakit semua dan tidak mempunyai tenaga untuk bangkit. Sampai terdengar suara yang familiar di telinganya.
"Jiao'er kenapa kau ada disini ? jika kau ada disini berarti ini sudah bukan di dunia jiwa ku lagi." kata Ling Feng dengan suara yang masih lemah namun masih terdengar di telinga Bing Jiao.
"Sudahlah, kakak berbaring saja dulu. Tubuh kakak masih lemah sekarang." kata Bing Jiao sekali lagi meminta untuk Ling Feng tidak melakukan pergerakan apapun.
Memang benar apa yang dikatakan Bing Jiao tubuh Ling Feng sekarang seperti mati rasa. Mungkin karena, efek samping dari penempaan tubuhnya sehingga menguras mental dan fisiknya. Alhasil tubuhnya tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.
"Aku ceroboh sekali, jika tidak ada kamu entah apa yang terjadi padaku nantinya." kata Ling Feng menyesal atas kecerobohannya.
"Tidak hanya aku kakak, ada paman Tian juga yang membantu dan paman satunya lagi entah siapa aku tidak mengenalnya." kata Bing Jiao dan setelah berkata seperti itu Ling Feng penasaran dengan keadaan yang terjadi pada saat dirinya menempa tubuhnya. Bing Jiao dengan senang hati menceritakan semuanya mulai dari hawa yang tiba-tiba naik sampai ledakan yang sangat kuat.
"Terus setelah ledakan aura yang keluar dari tubuh kakak. Kakak yang awalnya dalam posisi lotus langsung jatuh tidak sadarkan diri." kata Bing Jiao. Ling Feng yang mendengar itu tidak menyangka bahwa akan tidak sadarkan diri selama itu.
"Tidak kusangka akan memakan banyak waktu" kata Ling Feng menutup matanya kembali. Ketika menutup matanya kembali, wajahnya terasa basah dan ketika membuka matanya ia terkejut melihatnya.
__ADS_1
"T-Tunggu Jiao'er apa yang terjadi ? kenapa kau menangis ?" kata Ling Feng panik melihat Bing Jiao menangis.
"Eh, kenapa ini ? aneh sekali kenapa aku tiba-tiba menangis ya." kata Bing Jiao yang mengusap air mata namun seberapa ia keras menghentikan malah sebaliknya, semakin deras. Ling Feng yang melihat itu ada perasaan aneh yang timbul dihatinya.
"Kenapa ini ? ada apa denganku ? kenapa aku merasakan sakit melihatnya menangis ? padahal ia bukan bagian dari keluarga ku tapi, kenapa aku merasakan sakit melihatnya seperti itu ?" batin Ling Feng merasa aneh dengan dirinya.
Ling Feng yang melihat Bing Jiao menangis entah kenapa refleks bangkit walaupun itu hanya sekedar duduk saja. Bing Jiao yang ingin mencegahnya namun tertahan oleh perkataan Ling Feng.
"Aku sudah baik-baik saja." kata Ling Feng menahan tangan Bing Jiao yang ingin mencegahnya.
"Maaf kakak, aku malah membuatmu menjadi tidak nyaman" kata Bing Jiao yang masih sesenggukan dan melanjutkan perkataannya, "akupun tidak tau kenapa, air mataku keluar dengan sendirinya. Saat mengulang kembali cerita yang kakak alami, entah kenapa aku merasa sakit jika mengulang cerita yang kakak alami. Padahal kita tidak lama bertemu namun entah kenapa aku merasa sangat dekat dengan kakak." kata Bing Jiao menutup wajahnya kembali menangis.
Ling Feng yang mendengar itu menghela nafas lalu mengelus-elus puncak kepala Bing Jiao dan berkata.
"Kau tidak perlu khawatir Jiao'er, aku tidak akan mati semudah itu. Kau tau sendiri bahwa kakakmu ini kuat. Kakak tidak akan mati semudah itu kau tenang saja." kata Ling Feng mengelus puncak kepala Bing Jiao untuk menenangkannya.
"Aku tau, aku tau, aku tau kakak kuat. Bahkan kakak sanggup mengalahkan apa yang tidak bisa ayah kalahkan sudah pasti kakak kuat. Namun aku merasa kakak semakin jauh dariku." kata Bing Jiao sesenggukan lalu melanjutkan perkataannya, "aku tidak ingin tertinggal dari aku ingin berjalan bersama kakak, bukan berjalan dibelakang kakak. Namun semakin aku berusaha kakak juga semakin kuat dan hal itu membuatku tidak yakin bisa selalu bersama kakak." kata Bing Jiao. Ling Feng yang melihat itu mulai paham dan dengan tegas berkata.
"Jangan menyerah Jiao'er, jika kau memang ingin bersamaku. Kejar aku dengan caramu. setiap orang mempunyai proses yang berbeda. Jadilah kuat jika kau memang ingin bersamaku adakalanya aku tidak bersamamu kau harus kuat untuk orang-orang yang kau sayangi." kata Ling Feng dengan tegas Membuat Bing Jiao terdiam mencerna perkataan Ling Feng.
"Jangan ragu, jangan lupa tujuanmu untuk menjadi kuat. Kalau kau berusaha semua pasti ada jalannya." kata Ling Feng memberi semangat namun dengan nada yang tegas.
"Jadilah kuat untuk orang yang kau sayang." kata Ling Feng diakhirnya membuat Bing Jiao terdiam mencerna perkataan Ling Feng.
"Jadilah kuat untuk orang-orang yang kusayang." kata Bing Jiao mengulang perkataan Ling Feng.
>>>>> Bersambung
( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit dan komennya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara serasku )
( Blizzardauthor)
__ADS_1