
Pintu Gerbang Kota Anyi
Terlihat antrian panjang, baik itu para pejalan kaki ataupun kereta-kereta kuda yang ingin melewati daripada gerbang besar itu memasuki kota tersebut. “Tuan muda aku punya pertanyaan.” Kata sosok wanita yang tidak lain adalah Ren Hu. “Katakan apa pertanyaan mu.” Timpal Ling Feng. “Kenapa tuan muda repot-repot harus mengantri seperti yang lainnya? Bukannya Anda bisa langsung memotong antrian hanya dengan menunjukkan plakat identitas itu?” Tanya Ren Hu. Ling Feng lalu menjawabnya, “Bukankah aku sudah berkata megenai alasan ku melakukan hal seperti ini?” Jawab Ling Feng.
Dirinya sempat melihat Ling Feng mengeluarkan plakat emas dengan tulisan daripada nama kota tersebut. Ren Hu sudah mengira bahwa, tuan mudanya ini bukanlah orang dengan latar belakang biasa saja. Akan tetapi, yang membuat dirinya bingung dengan sifat dari Ling Feng adalah pemuda yang diikutinya ini selalu tidak ingin terlihat mencolok. Bahkan ketika ia menyampaikan argumen perihal tersebut, Ling Feng dengan dalih yang tidak bisa dibantah berkata, “Jika kau bertanya seperti itu, jawaban ku hanya benci melihat sikap yang dibuat-buat.” Katanya yang membuat Ren Hu tidak bisa membantah lagi perkataan Ling Feng.
“Kau akan mengerti mengapa aku melakukan hal seperti ini.” Kata Ling Feng. Ren Hu yang mendengar itu pun hanya mengehela nafas saja, namun juga penasaran dengan maksud dari perkataan Ling Feng. Tidak lama kemudian giliran keduanya pun tiba. Ling Feng menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali, wajah dan tangan nya. Begitu juga dengan Ren Hu yang berpakaian seperti Ling Feng tentunya dengan penyamaran juga.
“Kartu identitas kalian.” Kata prajurit tersebut kepada Ling Feng dan Ren Hu. Ling Feng sontak memberikan satu kartu identitas lamanya yang hanya plakat biasa saja. “Satunya lagi?” Tanya prajurit tersebut yang merujuk kepada Ren Hu. “Plakat milik ku hilang dalam perjalanan menuju kemari.” Jawab Ren Hu. Awalnya Ren Hu tidak menyadari raut wajah daripada prajurit tersebut sampai...
“Maka untuk mu dua puluh koin emas, dan untuk wanita di sisi mu harus ikut dengan ku jika ingin membuat plakat identitas yang baru.” Kata prajurit tersebut yang sudah menyeringai. Ren Hu yang mendengar itu tentunya terkejut. Ia lantas berkata dengan nada yang cukup tinggi. “Bukankah itu terlalu banyak untuk sekedar biaya masuk saja? Dan lagi kenapa aku harus mengikuti mu yang mana tempat pembuatan identitas baru saja masih dalam jangkauan mataku?” Protes Ren Hu.
__ADS_1
Pada saat Ren Hu protes seperti itu, orang-orang yang berada di belakang mereka langsung saling berbisik membicarakan Ren Hu. “Habislah wanita itu, karena sudah berani membantah prajurit tersebut.” Bisik salah satu orang yang membicarakan Ren Hu tentunya. “Kasihan sekali...Nasibnya benar-benar sial.” Timpal orang disebelahnya. Ren Hu tentunya mendengar hal itu. “Sepertinya kau tidak tau aturan tidak tertulis di kota ini ya...Ya, Kalau kau memilih kota lain sebagai tempat singgah mungkin tidak menjadi masalah, akan tetapi jika kau sudah memilih kota Anyi sebagai tempat singgah...Baik sebelum masuk ataupun sudah, kau tetap harus mengikuti peraturannya.” Katanya sembari melirik tubuh Ren Hu dan menyeringai mesum.
Prajurit di sebelahnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, melihat tingkah laku daripada temannya itu yang memang suka seperti itu. Ia juga tidak menegurnya merasa hal tersebut bukanlah masalahnya. “Jadi begini ya sistem dari kota besar di kekaisaran Wei...Sungguh sekelompok sampah.” Ucap Ren Hu balik menantang. Orang-orang disana terkejut dengan sikap Ren Hu yang berani melawan.
Ren Hu sekarang mengerti maksud dari perkataan Ling Feng. “Hehh...Awalnya aku tidak ingin bersikap kasar, tapi sepertinya hal itu tidak perlu lagi.” Ucap dari prajurit mesum tersebut masih dengan seringainya. “Rakyat rendahan seperti mu berani menghina prajurit dari kota Anyi maka sama saja seperti menghina dari Walikota sendiri dan kau harus disiksa dan dihukum mati.” Kata Prajurit tersebut maju melangkah mendekati Ren Hu dan hendak meraih pergelangan tangan Ren Hu. Akan tetapi...
“Kenapa aku harus dihukum oleh sekelompok sampah seperti mu? Dan Lagi berani-beraninya tangan sampah mu hendak menyentuh ku” Kata Ren Hu pelan dengan penuh penekanan, namun dapat didengar oleh semua orang yang berada disana.
Bakkkkkkk
“Ehhh....” Satu kata yang keluar dari prajurit mesum tersebut serta, bertepatan dengan salah satu lengannya yang putus dalam sekejap. Semua orang disana tidak ada yang bergeming sampai teriakan dari prajurit mesum itu terdengar. “Ahhhh....! Tanganku! Tanganku putus ah...!” Teriak Prajurit tersebut mengagetkan semua orang yang disana. Prajurit yang tangannya putus seketika mundur kebelakang mengaduh kesakitan.
__ADS_1
Ren Hu menatap acuh tak acuh prajurit tersebut lalu melangkah mendekati prajurit tersebut sembari berkata, “Berani-beraninya kau ingin menyetuh tubuhku dengan tangan sampah mu itu hah.” Kata Ren Hu dengan penuh penekanan dan niat membunuh memancar dari tatapannya membuat prajurit tersebut menatap ngeri Ren Hu. Bahkan temannya yang awalnya tidak peduli seketika merasakan tekanan dari hasrat membunuh dari Ren Hu.
“J-jangan mendekat.” Kata prajurit tersebut bergetar ketakutan diketahui dari nada yang keluar dari mulutnya. “Hahhhh...Kenapa aku tidak boleh mendekat? Kau saja boleh mendekati ku, kenapa aku tidak bisa melakukan hal itu.” Ucap Ren Hu sembari membuka kupluk jubah menampilkan wajahnya cantik nan dinginnya. Walaupun menampilkan wajah yang cantik, semua orang disana menatap ngeri Ren Hu, karena niat membunuh yang dipancarkannya benar-benar sangat kental.
“Tuan muda apakah aku boleh membunuhnya sekarang?” Tanya Ren Hu yang membuat prajurit tersebut semakin bergetar ketakutan. “Pintaku jangan terlalu sadis.” Kata Ling Feng melangkah masuk ke dalam sembari melempar sesuatu kepada Ren Hu dan dengan sigap ditangkap oleh dirinya. “Serta kalau sudah segera susul diriku.” Katanya lagi tanpa menoleh kebelakang melewati pintu gerbang tersebut tanpa beban. Mendengar hal itu Ren Hu tersenyum manis, akan tetapi orang-orang dan kedua prajurit yang melihat senyuman itu merasakan kengerian bukan main.
“M-maafkan hamba yang hina ini nona...H-hamba yang hina ini mengaku salah, karena tidak mengenal nona yang agung.” Ucap prajurit mesum itu yang sifatnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
Ren Hu hanya diam saja mendengar hal itu. Lalu beberapa detik kemudian pun berkata, “Benar-benar sampah.” Katanya bersamaan dengan karma-karma yang sangat mengerikan akan diterimanya.
>>>> Bersambung
__ADS_1