
“Para anak buahku habisi tanpa sisa!” Teriak ketua bandit laut juga memerintahkan anak buahnya untuk maju menyerang.
>>>>>>______
Pertarungan pun pecah saat itu juga. Sekelompok bandit laut itu langsung melompat ke bagian depan kapal dan langsung menyerbu ke arah prajurit-prajurit komandan kota. Jual beli serangan pun tidak terelakkan antara dua kubu.
“Hahahaha komandan kota... Menyerah saja sekarang, prajurit mu tidak akan bisa bertahan melawan anak buahku.” Ujar ketua bandit laut dengan senyuman meremehkan. Walaupun begitu, komandan kota nampak tenang dan tidak panik membuat ketua bandit laut itu menjadi heran, karena baginya pria tersebut terlalu tenang.
“Masih terlalu cepat jika ingin menyimpulkan siapa pemenang nya.” Timpal komandan kota dengan wajah tenang membuat ketua bandit laut itu mengubah raut wajahnya menjadi serius lalu berkata, “Apa maksud mu?” Ujar sang ketua bandit laut dan bertepatan saat itu terdengar suara teriakan yang sangat familiar di telinga ketua bandit laut.
Ia pun refleks menoleh ke arah sumber teriakan dan mendapati salah satu lengan anak buahnya sudah terpotong. Tentunya ia terkejut ketika melihat itu, pasalnya orang yang tangannya terpotong itu adalah anak buahnya yang sudah berada di ranah langit bintang enam.
Ia pun langsung menatap lawan yang ia hadapi dan langsung mengerutkan keningnya ketika melihat lawan yang di hadapi oleh anak buahnya itu adalah seorang wanita berpenampilan biasa saja dan membawa pedang.
“Tunggu dulu?! Membawa pedang?!” Fikir ketua bandit laut itu terkejut dan sekita sadar bahwa wanita tersebut adalah seorang kultivator juga. Terlebih lagi kekuatan wanita tersebut juga, jauh lebih kuat dari anak buahnya mengingat wanita tersebut bisa menebas lengan anak buahnya dengan mudah.
“Kemana matamu melihat.” Ucap sang komandan kota berniat untuk melancarkan serangan kejutan, namun sayangnya itu di sadari oleh ketua bandit laut di seperkian detik terakhir. Ketua bandit laut itu pun menggertakkan giginya dan berteriak marah, “Dasar kepa*at tidak berguna!” Umpat ketua bandit laut berhasil menghindari serangan komandan kota dan langsung melancarkan serangan balik kepada komandan kota tersebut.
"Matilah kau bajing*n!" Teriak marah ketua bandit laut.
Komandan kota nampak terkejut ketika melihat serangan ketua bandit laut yang menjadi lebih cepat. Ia pun bersiap untuk mengambil ancang-ancang bertahan, akan tetapi ia terlambat. “Ckkkkk... Sepertinya tidak akan sempat.” Batin komandan kota yang sudah pasrah bahwa dirinya akan terkena serangan dari ketua bandit laut, akan tetapi suatu hal tak terduga terjadi.
Swoossshhhh...! Ctaannngggg...!
__ADS_1
“Apa?!” Ujar refleks ketua bandit laut ketika melihat serangannya berhasil di tepis oleh seorang wanita yang tiba-tiba muncul di hadapan komandan kota. Tidak berhenti di sana saja, sang wanita tersebut pun menghempaskan serangan ketua bandit laut membuat sang empunya pun terpental beberapa langkah ke belakang.
“Sangat cepat.” Batin ketua bandit menatap serius ke arah wanita yang tiba-tiba muncul menghadang serangannya.
“Nona Cai Lan.” Ucap komandan menatap terkejut ke arah wanita yang tiba-tiba menyelamatkan nya itu adalah Cai Lan. Cai Lan sendiri hanya menganggukkan kepalanya dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu tidak apa-apa komandan?” Tanya Cai Lan tanpa menoleh ke arahnya dan menatap lurus ke arah ketua bandit laut.
“Ah iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyelamatkan ku nona Cai Lan.” Ucap komandan kota seraya sedikit menundukkan kepalanya kepada Cai Lan.
“Aku yang akan mengurusnya. Komandan kota bantu para prajurit yang lain nya dan menjaga para penumpang kapal.” Ucap Cai Lan yang langsung dianggukki oleh komandan kota. Tinggallah Cai Lan dan ketua bandit laut saja.
“Menyerah saja. Maka hukuman mu mungkin akan menjadi lebih ringan.” Ucap Cai Lan dengan nada dingin acuh tak acuh. Mendengar hal itu membuat ketua bandit laut tertawa lebar dan lantas berkata, “Hahahaha dasar jala*g! Memangnya kau siapa berani memerintahkan ku untuk menyerah!” Teriak ketua bandit laut lalu maju kembali menyerang ke arah Cai Lan.
Cai Lan sendiri diam saja tidak berkata apa-apa lagi. Dirinya pun ikut maju juga menyerang ke arah ketua bandit laut. Jual beli serangan antara keduanya pun tidak terelakkan. Bahkan pertarungan keduanya lebih sengit ketimbang melawan komandan kota sebelumnya.
“Aku harus melakukan sesuatu jika seperti ini terus. Akan menjadi kekalahan ku.” Batin Ketua bandit laut seraya menggertakkan giginya. Cai Lan sendiri masih biasa saja. Raut wajahnya tidak berubah dan masih acuh tak acuh. Nafasnya bahkan masih teratur, walaupun saat ini ia sudah hampir puluhan kali bertukar serangan.
Tetua sekte gadis suci yang memperhatikan pertarungan Cai Lan tidak bisa untuk tidak heran. “Gadis ini... Sejak kapan ia menjadi meningkat sepesat ini.” Gumam Tetua wanita tersebut yang takjub dengan peningkatan Cai Lan. Dirinya memang tahu, bahwa gadis tersebut senantiasa rajin berlatih pedang dan berkultivasi. Namun dirinya tidak menduga bahwa perkembangan nya akan sepesat ini.
Bahkan Cai Lan sendiri terkejut akan perkembangannya yang meningkat pesat. Logikanya jelas-jelas menolak untuk bertarung dengan ketua bandit laut, namun entah kenapa insting tubuhnya berkata lain. Tanpa pikir panjang langsung melesat ke arah komandan kota untuk membantu nya.
Ling Feng yang melihat pertarungan Cai Lan pun juga sedikit kagum kepadanya, ia memang sudah menduganya tapi gadis tersebut telah melebihi ekspektasinya. “Ya setidaknya ia bukan gadis yang bodoh.” Gumam Ling Feng seraya terkekeh pelan lalu melihat kembali pertarungan keduanya. Sampai dirinya pun tiba-tiba mengerutkan keningnya ketika melhiat gelagat Ketua bandit laut yang aneh.
“Hehhhh racun, kah... Benar-benar sampah ya.” Gumam Ling Feng tertawa remeh.
__ADS_1
>>>>>>______
“Menyerah saja sekarang. Kau tidak akan pernah bisa menang melawanku.” Ucap Cai Lan dengan raut wajah acuh tak acuh dan sorot mata yang dingin menatap ke arah ketua bandit laut.
“Jala*g sia*an. Kau pikir aku takut kepadamu hahhhh!” Teriak ketua bandit laut kembali menerjang ke arah Cai Lan. Melihat itu Cai Lan hanya acuh tak acuh saja, namun seperkian detik berikut nya ia dikejutkan dengan transmisi suara yang masuk ke dalam kepalanya.
“Bergerak memutar secepat yang kau bisa, jika tidak ingin terkena racunnya.” Transmisi suara yang tiba-tiba terdengar di kepalanya membuat Cai Lan terkejut selama beberapa saat, sampai kemudian ia pun langsung bergerak sesuai dengan transmisi suara yang ia dengar.
“Apa?!” Ujar refleks ketua bandit laut tersebut. Tentu saja itu membuat dirinya terkejut bukan main. Pasalnya ia tidak menduga sama sekali bahwa Cai Lan akan bergerak dengan kecepatan seperti itu. Seakan-akan dirinya sudah mengetahui apa yang hendak ia lakukan dan langsung menghindarinya.
Shringggg...!! Craaasshhh...?!
“Akhhhhh... Jala*g! Tangan ku!” Teriak kencang ketua bandit laut membuat semua orang yang ada di sana tersentak kaget ketika mendengar suara teriakan tersebut. Terlihat ketua bandit laut itu langsung bertekuk lutut seraya memegangi salah satu pergelangan tangannya yang telah hilang. Cai Lan tanpa pikir panjang langsung memotong salah satu tangan ketua bandit laut dan benar saja ada sebuah botol kecil berwarna hitam jatuh dari genggaman tangannya.
“Menyerah saja sekarang. Jika masih terus melawan, maka aku tidak akan segan untuk membunuh mu saat ini juga.” Ucap Cai Lan dengan sorot mata dingin seraya menodongkan pedangnya tepat di leher ketua bandit laut tersebut.
“Cihhhh dasar gadis jal*ng. Kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu hahhhh! Tetua Racun Aku mengandalkan mu sekarang.” Ucap Ketua bandit laut seraya tersenyum mengejek kepada Cai Lan dan seketika membuat gadis tersebut langsung mengayunkan pedang nya hendak menebas kepala ketua bandit laut tersebut, akan tetapi...
Ctaannngggg...?!
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.
__ADS_1