
Suatu tempat di pedalaman hutan.
"Haih, kenapa malah aku yang ditunjuk oleh kakek untuk memimpin sekelompok orang ini. Padahal hanya meratakan desa kecil ini kenapa harus aku yang memimpinnya merepotkan saja." kata orang tersebut mengeluh dengan tugas yang diberikan kepadanya sembari menikmati anggur. Sampai terdengar suara teriakkan dan langsung menerobos masuk kedalam tenda tersebut.
"Ketua ada keadaan yang gawat." teriak orang tersebut sembari menerobos masuk kedalam tenda tersebut. Namun langsung ditekan oleh orang yang dipanggil ketua tersebut.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menerobos kedalam tendaku sebelum ku ijinkan masuk ? apakah kau ingin aku bunuh sekarang ?" kata ketua dari kelompok tersebut dengan nada penekanan disetiap katanya.
"M-Maafkan aku ketua, T-Tetapi ini adalah hal yang gawat." kata orang tersebut dengan tubuh yang sudah berlutut. Bahkan dirinya sudah bergetar ketika merasakan nada penekanan disetiap katanya.
"Sudahlah, jadi apa kabar buruknya ?" kata ketua tersebut tidak mempermasalahkan lagi dan menarik kembali aura penindasan sehingga anak buahnya yang melaporkan bisa bernafas lega kembali.
"Orang yang kita kirim untuk meratakan desa itu semuanya sudah mati ketua." kata orang tersebut memberi tahunya membuat ketua terkejut mendengarnya.
"Bagaimana bisa terbunuh semua ? kau tau sendiri konsekuensi dari membohongiku." kata ketua tersebut masih tidak percaya.
"Jika ketua tidak percaya, Lihatlah giok ini." kata anak buahnya yang melaporkan tersebut memberikan giok yang sudah terbelah dua kepada ketuanya tersebut.
"Ini giok milik orang yang kuperintahkan untuk membantai habis desa tersebut. Tapi, kenapa bisa seperti ini ? sepertinya ada yang tidak beres ini." kata ketua tersebut mengelus-elus dagunya memikirkan kemungkinan yang dialami oleh anak buah yang ia kirim itu. Lalu tersenyum dan sedikit terkekeh.
"Menarik, sepertinya ada pengganggu didalam desa tersebut." kata ketua dari kelompok tersebut sembari terkekeh kecil.
...>>>>>_____<<<<<...
__ADS_1
"Aku awalnya ingin langsung pergi namun jika dipikir-pikir kakak kan orang baru disini jadi mana tau rumahku dimana." kata Hao Xiang. Ling Feng sendri hanya diam saja tidak menyangka anak kecil itu mempunyai niat baik terhadapnya yang notebatenya baru pertama kali mengenal.
"Sudahlah, ayo kak mampir dulu dirumahku katanya kakak ingin mengajariku untuk menjadi seperti kakak dan yang lainnya." kata Hao Xiang yang antusias menarik-narik tangan Ling Feng menuntunnya ke rumah. Ling Feng sendiri hanya membiarkan anak kecil itu menuntunnya saja.
"Kakak apakah aku sungguh bisa menjadi seperti kakak dan yang lainnya ?" tanya Hao Xiang dengan kepala yang menunduk. Ling Feng yang mendengar itu mengkerutkan keningnya dan berkata.
"Apakah kau tidak percaya bahwa kakak bisa menyembuhkan mu ?" Ling Feng balik memberikan pertanyaan. Hao Xiang yang ditanya seperti itu langsung mendongakan kepalanya dan berkata dengan tegas.
"Aku yakin kakak pasti bisa, setelah melihat kemampuan kakak aku yakin kakak adalah orang yang sangat kuat." kata Hao Xiang dengan tegas dan terakhir kalimatnya memuji Ling Feng. Sang empu yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Jika kau percaya kepadaku maka bersabarlah, aku pasti akan menyembuhkan mu lalu kau bisa menjadi seperti aku dan ayahmu." kata Ling Feng sembari mengelus-elus puncak kepala Ling Feng.
Hao Xiang yang kepalanya dielus-elus merasa nyaman dengan tindakan Ling Feng tersebut.
"Kakak itu rumahku, ayo lebih bergegas lagi." kata Hao Xiang menarik-narik Ling Feng untuk mempercepat langkahnya. Ling Feng sendiri hanya mengiyakan saja permintaan anak kecil yang menuntunnya itu.
"Selamat datang dirumahku kak. . . . Sebentar aku panggilkan ayah terlebih dahulu." kata anak kecil itu lalu berlarian kecil masuk kedalam rumah yang bisa dibilang jauh dari cukup untuk dihuni, namun walau seperti itu rumah itu terlihat sangat bersih sehingga nyaman sekali memandangnya. Bagi Ling Feng entah besar atau kecil tidak ada bedanya asalkan itu nyaman untuknya, ia pasti akan betah ditempat tersebut tidak peduli itu besar atau kecil.
"Maafkan sikap anakku tuan muda yang malah membuatmu menunggu dihalaman rumah." kata ayah dari Hao Xiang yang tiba-tiba keluar dari rumahnya langsung membungkukkan badannya meminta maaf. Ling Feng yang awalnya sedang melihat-lihat cukup terkejut dengan tindakan Ayah Hao Xiang itu.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu santai saja, jangan terlalu formal denganku. Panggil saja Feng jangan ada tuan mudanya." kata Ling Feng menuntun ayah Hao Xiang untuk kembali berdiri.
"T-Tapi....." ayah Hao Xiang yang ingin membantah namun Ling Feng dengan cepat mengangkat sebelah tangannya untuk tidak memperpanjang hal yang tidak penting seperti itu.
__ADS_1
"Kita ganti topik saja Paman, sebelum itu aku belum mengetahui namamu ?" kata Ling Feng mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal yang lain.
"Sungguh dimana kesopanan ku ini. Namaku Hao Lang, aku asli penduduk dari kota ini tuan mu- maksudku Feng." kata ayah Hao Xiang mengenalkan dirinya.
"Panggil saja Feng, aku hanya seorang kultivator pengembara saja." kata Ling Feng memperkenalkan dirinya tidak dengan marganya.
"Aku ingin bertanya kepada paman. Apakah Hao Xiang bukan anak kandung paman." kata Ling Feng langsung kepada intinya. Hao Lang yang mendengar itu sangat terkejut bahwa Ling Feng mengetahui rahasia yang telah lama ia sembunyikan.
"B-Ba-Bagaimana kau mengetahui hal tersebut." kata Hao Lang yang gugup karena, ada fakta yang ia sembunyikan namun kini diketahui oleh orang lain yang bahkan bukan asli penduduk dari desa ini.
"Aku sudah mengetahui sejak awal melihat kalian berdua." kata Ling Feng dengan nada santai. Hao Lang yang mendengar itu hanya menghela nafas saja.
"Benarkah aku bukan anak kandung dari ayah ?" pertanyaan yang dilontarkan, namun itu bukan dari Ling Feng. Melainkan dari Hao Xiang yang mendengar dari balik pintu rumahnya. Hao Lang yang mendengar pertanyaan itu hanya diam saja dan berat hati dirinya menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Jika aku bukan anak ayah ? lalu aku anak dari siapa ?" kata Hao Xiang yang dilontarkan tiba-tiba. Hao Lang yang mendengar perkataan Hao Xiang hanya bisa tertunduk saja tidak berani mengatakan apapun.
"Hao'er biarkan ayah jelaskan dulu." kata Hao Lang yang berusaha membujuk Hao Xiang, namun Hao Xiang langsung berlari keluar entah pergi kemana.
"Hao Xiang ! Hao Xiang kembali ! Hao Xiang !" teriak Hao Lang memanggil-manggil ingin mengejarnya namun ditahan oleh Ling Feng.
"Biarkan dirinya sendiri dulu, paman sepertinya tau apa yang akan kutanyakan selanjutnya." kata Ling Feng menahan Hao Lang untuk tidak mengejar dan membiarkan Hao Xiang sendiri terlebih dahulu.
Hao Lang hanya menghela nafas panjang lalu berkata. "Kita bicarakan ini didalam." kata Hao Lang mengajak Ling Feng untuk masuk kedalam rumahnya untuk memberitahu kebenaran tentang Hao Xiang.
__ADS_1
>>>>> Bersambung