
Perhatian ada pengumuman baru di akhir cerita, mohon dibaca buat pembaca delovers π sangat penting.
___________________
Shua Xie terdiam saat para pasukan itu menarik paksa dia lalu mengikat dengan tali biasa, Shua Xie pasrah dirinya ditangkap di hadapan warga desa. Bukan mengalah, tapi karena Shua Xie tunggu waktu mainnya dia memiliki kejutan tersendiri. Chyou berniat berdiri menyelematkan Shua Xie, tapi Fengying menahan punggungnya dengan kakinya.
"Yo, pak tua. Apa kau mau menjadi pahlawan?" ucap Fengying dengan nada meledek, Fengying berdecak sinis lalu menendang punggung Chyou kuat hingga Chyou terlempar 2 meter ke belakang. Setelah itu Fengying langsung meninggalkan Chyou yang kini sedang merintis kesakitan.
Chyou meringis kecil sambil memegang perutnya yang sakit, lebih tepatnya punggungnya tapi efeknya sampai ke perutnya. Changyi dan Haocun yang baru saja tiba langsung berlari menuju Chyou, sebenarnya dari beberapa meter mereka berdua sudah melihat kumpulan pasukan prajurit berjirah, dan ketika melihat Chyou ditendang, ke dua sosok ini langsung berlari menuju Chyou.
Haocun melihat Ayahnya tengah begitu menahan rasa sakit, karena Chyou hanyalah manusia biasa tentu saja dia tidak akan sanggup menahan tendangan dari seorang ahli bela diri. Melihat sang Ayah diperlakukan tidak baik, Haocun berniat membalas Fengying karena telah melukai Ayahnya. Tapi Changyi langsung menarik tangan Haocun, sosok Ibu itu menggelengkan kepalanya saat Haocun menatapnya.
"Jangan, Hao'er." Air mata Changyi lolos jatuh membasahi pipinya, dia tidak ingin Haocun terluka karena membalas perbuatan Fengying, apalagi Haocun hanya manusia biasa yang masih kecil.
Melihat sang Ibu menangis sambil menggelengkan kepala, Haocun melemaskan kepalan tangannya, seketika rasa amarahnya mengurangi saat melihat sang Ibu. Haocun menghela nafas pelan, dia mendekati Ibunya dan Ayahnya itu.
Di sisi lain, Shua Xie berjalan mengikuti para prajurit yang membawanya. Shua Xie membalikkan kepalanya sejenak menatap Chyou dan keluarganya, melihat keluarga kecil itu juga tengah menatapnya dengan raut wajah khawatir dan sedih, Shua Xie langsung mengulum senyum tipis, seakan mengatakan lewat senyumnya -- jangan khawatir aku baik-baik saja. Tentu saja senyumannya itu membuat Chyou dan warga lainnya terdiam penuh kebingungan. Di kepala mereka hanya terlintas, apakah Shua Xie tidak takut ditangkap prajurit kerajaan?
Shua Xie kembali menoleh ke depan saat dia merasakan sentakan kuat dari tali yang mengikatnya.
"Kenapa? Apa kau mau minta tolong pada mereka? Heh, tidak ada satu pun yang bisa menolongmu sekarang," ucap Fengying dengan seringai khas menggoda bahkan alisnya naik ke atas. Dia berpikir kalau Shua Xie tadi sedang meminta bantuan pada warga.
Shua Xie menatap datar Fengying, "Tidak," balasnya singkat, padat dan jelas.
Fengying sedikit tersentak akan ucapan Shua Xie, walau pun tidak ada kata kasar, namun nada ucapan Shua Xie sungguh datar. Sangat memperlihatkan ketidaktertarikannya pada Fengying.
"Oh, baguslah kalau kau sadar." Fengying kembali menatap ke depan, berpura-pura bersikap keren seakan tidak sakit hati akan balasan Shua Xie yang datar.
Jauh di sisi hutan, seorang pria berpakaian putih berdiri di atas pohon memandang datar ke arah pasukan yang membawa seorang gadis. Wajah pria itu terpapar jelas di bawah
cahaya sinar bulan, membuat ke dua mata biru terangnya itu semakin bersinar, sorotan mata datar itu hanya menatap 1 orang saja, seorang gadis cantik yang kini pasrah diikat.
Pria bermata cantik itu tersenyum tipis, "Shua Xie, betapa kejamnya kau. Mempermainkan mereka, apakah kau pikir mereka adalah mainan?" gumam Pria sambil menggelengkan kepalanya pelan, senyumannya juga tidak pudar. Seakan tengah mentertawakan nasib para prajurit itu daripada Shua Xie.
"Sepertinya sifatmu memang tidak berubah ya?"
***
Fengying naik ke atas kudanya, sebelum dia menjalankan kudanya itu, dia berbalik menatap Shua Xie.
"Kau, ikutlah denganku. Aku tidak tega melihat Dewi manis sepertimu jalan kaki bersama prajurit. Nanti-"
"Tidak perlu." Shua Xie memotong ucapan Fengying tanpa menatap Fengying, pandangannya fokus ke depan. Sangat datar dan dingin.
Fengying mengangkat tangannya, jari telunjuknya menunjuk ke arah Shua Xie, berniat ingin mengumpati gadis itu, tapi Fengying langsung menahan amarahnya.
"Baiklah! Kalian semua, kalau gadis ini minta istirahat jangan berikan, kita tidak punya waktu beristirahat. Pagi nanti kita harus tiba di kerajaan Xuilin!" tegas Fengying keras, setelah itu dia naik ke atas kuda dengan wajah tidak bersahabat.
"Siap, Kopral!" balas semua prajurit.
Shua Xie memutar bola matanya, merasa tidak senang direndahkan Fengying. Dia minta waktu beristirahat? Itu, tidak pernah ada dalam kamusnya apalagi jarak desa Kayu Manis ke kota Xuilin tidaklah jauh. Kalau Shua Xie mau dia akan memilih terbang, mungkin 4 atau 5 jam sudah tiba di kota Xuilin. Kalau hanya berjalan kaki, bahkan sampai 3 hari pun dia tidak akan lelah.
'Apakah mereka meremehkanku hanya karena aku seorang wanita?' ucap Shua Xie dalam hatinya. Jujur saja, sebagai kaum wanita Shua Xie paling tidak suka diremehkan hanya karena dia seorang wanita, lalu kenapa jika dia wanita? Wanita tidak semuanya lemah, dan itu termasuk dirinya.
__ADS_1
Rombongan Fengying pun berjalan meninggalkan desa Kayu Manis, menuju kota Xuilin. Selama perjalanan tawa dari berbagai prajurit terus terdengar, membahas berbagai topik yang menurut Shua Xie tidak ada lucunya.
Waktu terus bergulir tak terasa matahari sudah hendak menyapa, Fengying sedikit terkejut karena tak terasa malam begitu cepat berganti. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Shua Xie masih berjalan santai tanpa terlihat lelah sama sekali, Bahkan selama perjalanan Shua Xie tidak mengeluarkan sepata kata pun. Seolah sednah berjalan seorang diri menuju kota Xuilin.
Fengying mungkin memang tidak terlalu cerdas dalam otak, namun dia masih berpikir, apakah gadis itu seorang ahli bela diri?
Pertanyaan itu terus mengiang di kepalanya, jika benar gadis itu ahli bel diri lalu kenapa gadis itu tidak memberontak saat dia menangkapnya, sudah bisa ditebak gadis itu tidak pandai bela diri karena sadar lawan lebih banyak dari dia. Namun anehnya, saat gadis itu ditangkap, dia hanya pasrah dengan wajah biasa saja, seolah tidak akan terjadi apapun nantinya. Dan juga terlebih lagi, gadis itu tidak ada lelahnya berjalan sampai subuh har menjelang.
Tapi bagi Fengying yang tidak berpikiran luas, dia merasa gadis itu tidak akan membawa masalah. Mungkin gadis itu sudah terbiasa berjalan kaki begitu lama tanpa istirahat, karena Fengying tahu gadis itu tinggal di desa Kayu Manis di mana desa itu di keliling banyak gunung. Kemungkinan gadis itu sering naik turun gunung berkerja.
Shua Xie memiringkan kepalanya sedikit, dia sudah bisa melihat gerbang kota Xuilin tidak jauh darinya. Shua Xie mengulum senyum tipis, sudah hampir dua tahun dia pergi meninggalkan kota Xuilin demi menjadi kuat, dan sekarang dia kembali dengan hasil memuaskan. Walau pun kota Xuilin bukan kota kelahirannya, tapi karena ada Chi Su menunggunya, Shua Xie merasa pulang ke rumah aslinya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka tiba di depan gerbang. Fengying yang memimpin pasukan langsung menghadap ke duaΒ prajurit yang menjaga gerbang kota.
Dua prajurit penjaga gerbang itu langsung memberi hormat kepada Fengying selaku Kopral kerajaan. Setelah berbicara beberapa kata, dua prajurit itu membukakan pintu gerbang dan masuklah Fengying bersama rombongannya.
Dua prajurit itu terus memandang rombongan Fengying, namun saat lihat seorang gadis berada di tengah pasukan itu, dua prajurit itu kebingungan. Siapa gadis yang bersama pasukan Kopral Fengying?
Namun dibalik rasa bingung mereka, mereka juga merasa terpana akan kecantikan gadis itu, walau pun gadis itu memasang wajah sangat datar tapi aura kecantikannya tidak bisa hilang.
Salah satu dari prajurit itu mengalihkan pandangannya menatap kawan seperjagaannya yang juga kini masih menatap ke arah gadis berparas cantik itu.
"Apakah kau tahu siapa gadis yang bersama Kopral, Fengying itu?"
Pria yang ditanya mengalihkan pandangannya menatap kawannya yang kini tengah menatapnya, "Tidak, tapi sepertinya gadis itu telah melakukan kesalahan sehingga dia tangkap," jawabnya seperti yang dia dugakan.
"Malang sekali gadis itu, dia cantik tapi hukum sangat kejam. Aku sungguh tidak tega melihat gadis itu dihukum mati."
Pria bermata coklat mengangkat tangannya, lalu memukul kawannya itu, "Hei! Apa yang kau katakan. Mungkin saja gadis itu tidak akan dihukum, bisa jadi Kaisar atau tidak pejabat hanya akan memenjarakannya saja, kita tidak tahu apa kesalahan gadis itu."
"Mau ke manakan dua istrimu lagi? Apa kau sudah tidak ingin hidup lagi, dua istri saja kau sudah kerepotan, apalagi menambah istri."
"Astaga ... demi gadis cantik itu aku rela menceraikan semua istriku. Bahkan jika harus hidup di tengah hutan pun aku mau, kecantikan gadis itu tidak boleh dipandang banyak orang. Hanya aku-" belum sempat pria berkulit coklat itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja sebuah batu yang entah dari mana datangnya masuk ke dalam mulutnya. Sontak pria itu terkejut bahkan hampir menelan batu itu, jika bukan karena bantuan kawannya batu itu pasti sudah nyangkut di tenggorokannya.
Setelah batu berukuran kepalan bocah keluar dari mulutnya, pria itu terus terbatuk-batuk akibat rasa nyeri di tenggorokannya. Sedangkan kawannya terus memukul punggungnya berusaha membantu kawannya ini.
"Uhuk, uhuk, sialan! Siapa yang berani melempar batu! An****!" seru pria berkulit coklat keras sambil memegang tenggorokannya yang sakit.
"Yogi apa kau tidak apa-apa?" tanya pria pria bermata coklat.
Yogi menegakkan kembali badannya lalu menatap kawannya dengan tatapan kesal, "Kau masih bertanya? Apa kau tidak lihat aku hampir saja mati!" balasnya setengah membentak.
"Yogi, mungkin itu karma karena kau mempermainkan wanita."
Yogi mengangkat tangannya memukul kawannya itu, sangat kesal saat mendengar kawannya mengatakan dirinya tertimpa karma. Seharusnya kawannya itu membantunya mencari si pelaku yang melempar batu, bukannya menceramahinya.
"Sialan Kau Xielu!"
Xielu meringis pelan saat merasakan pukulan mendarat di kepalanya, sambil mengusap kepalanya itu dia bergumam pelan, "Kan aku hanya berpikir, kalau Langit memberi karma."
Tengah asik pertengkaran kecil dua sosok prajurit itu, sosok pria bermata biru yang sejak tadi mengawasi dua prajurit itu melompat turun dari pohon. Pendaratan pria itu sangat mulus tidak meninggalkan suara sedikit pun. Sosok pria bermata biru itu berjalan melewati semak-semak menghasilkan bunyi yang membuat dua prajurit itu langsung berhenti bertengkar dan menjadi waspada saat melihat seorang pria datang dari dalam hutan.
Yogi tercengang melihat pria bermata cantik, tidak hanya memiliki mata biru cantik tapi juga memiliki ketampanan yang juga bisa dikatakan cantik. Apalagi pakaian pria itu sangat menawan, sangat serasi dengan wajahnya yang cantik itu.
__ADS_1
Di sisi lain Xielu mengerjapkan matanya beberapa kali, mimpikah dia melihat pria secantik ini, berambut merah muda, bermata biru terang, dan lebih modisnya pakaian pria itu seperti pakaian Kaisar.
Namun tidak beberapa lama dia memandang kagum pria itu, dia langsung tersadar kalau pria itu datang dari arah hutan dan lebih mencurigakannya lagi pria itu tidak dikenal identitasnya.
"Siapa kau!" tanya Xielu dengan mada sedikit mengancam.
Yogi juga baru tersadar saat Xielu berbicara, dirinya terlalu terkagum melihat pria secantik itu.
"Ya, benar. Siapa kau! Apa maumu mendatangi kota Xuilin, apakah kau seorang mata-mata yang dikirim dari kerajaan besar." Yogi ikut menggertak, bahkan suaranya lebih besar daripada Xielu.
Pria cantik itu tetap memasang wajah datar, cukup lama dia terdiam membuat dua pria itu mengira kalau dia bisu. Beberapa menit pria itu terdiam dia mengangkat tangannya, mengarahkannya kepada Yogi.
"Kau, ******** kecil. Berani sekali bermimpi menikahi Shua Xie-ku. Dia hanya milikku, dan kau hanyalah sampah rendah yang bahkan tidak pantas melihat Shua Xie." Setelah berucap demikian, pria itu mengepalkan tangannya dan bersamaan dengan itu juga kepala Yogi langsung pecah tanpa sebab. Xielu yang berada di samping Yogi membulatkan matanya sangat besar, sangat terkejut melihat kepala rekannya itu pecah tanpa sebab, bahkan darah Yogi terciprat ke wajahnya.
Seluruh badan Xielu mendadak bergetar hebat, bahkan celananya sampai basa karena terlalu takut. Xielu rubuh ke tanah, tak tahan lagi menahan berat tubuhnya. Giginya terus bergemelutuk kuat bersamaan itu tangan dan kakinya juga terus bergetar. Xielu dengan sangat takut mengangkat wajahnya, menatap pria cantik itu yang masih memasang wajah datar penuh rasa takut.
"Ka-kau, a-apa ka-kau yang mem-membunuh, Yo-Yogi?" tanya Xielu dengan suara terbata-bata. Walau pun dia sangat takut, tapi dia memberanikan dirinya bertanya, paling tidak saat dia menyusul temannya mati dia sudah mengetahui siapa yang membunuh Yogi.
Pria bermata biru itu mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang kini duduk bergetar di tanah dengan posisi duduk seperti wanita.
"Kau, selamat. Karena tidak menjelekkan Shua Xie-ku. Tapi jika kau berani berbicara yang tidak-tidak, kau akan bernasib sama dengan temanmu itu," ucap pria bermata biru itu datar.
Xielu paham, pembunuh temannya tanpa menyentuh adalah pria berparas cantik itu. Dan kemungkinan juga batu yang masuk ke dalam mulut Yogi juga ulah dari pria cantik itu. Xielu menundukkan kepalanya, merasa lega karena dia tidak akan dibunuh, padahal dia sudah pasrah jika akan dibunuh, tapi ternyata karena dia tidak menyebut gadis yang disukai pria itu dia tidak mendapat masalah.
Xielu berusaha berpikir keras gadis mana yang membuat pria berparas cantik itu sangat marah hingga membunuh Yoga. Saat teringat kalau sejak tadi dia hanya membahas tentang gadis cantik yang bersama pasukan Kopral Fengying, Xielu langsung paham.
"Tu-tuan, apakah gadis yang anda maksud adalah gadis bermata unik itu?" Xielu memberanikan diri bertanya lagi. Walau pun dia sangat takut, tapi dia sangat ingin tahu gadis mana yang membuat sosok monster tampan itu marah.
"Ya, kuharap kau jangan sampai membahasnya lagi. Dia adalah wanitaku, tidak boleh ada pria mana pun membicarakannya. Apa kau paham?" tegas pria itu.
Xielu mengangguk kepalanya cepat mengiyakan ucapan pria itu, tapi yang tidak habis dia pikir adalah kenapa pria itu tidak menolong gadisnya itu padahal dia sendiri memiliki kekuatan yang tidak bisa diprediksi. Seharusnya membebaskan gadisnya itu bukanlah masalah besar. Membunuh tanpa menyetuh, seberapa kuat pria itu? Bukankah dia sangat mudah menghancurkan kerajaan Xuilin jika dia mau?
Tapi pertanyaan itu hanya bisa dia pikirkan sendiri, dia sudah tidak berani bertanya lagi, yang ada nantinya pria itu akan membunuhnya karena banyak bertanya.
Tapi Xielu penasaran akan nama pria itu, mungkin dia akan tahu siapa pria itu dan dari mana asalnya setelah mengetahui namanya, Xielu pun memutuskan memberanikan diri lagi bertanya namanya pria itu, "Tu-tuan, bolehkah saya tahu nama Tuan?"
Sosok bermata biru terang itu memandang tajam ke arah Xielu, sedikit tidak suka pria itu bertanya begitu banyak padanya. Apakah dia tidak takut mati apalagi bertanya pada orang yang salah?
"Kau, apakah kau tahu, banyak bertanya bisa membuat nyawamu berakhir saat ini juga?" balas pria itu datar.
Xielu mendengar ucapan pria itu langsung bersujud beberapa kali meminta maaf, "Maafkan saya Tuan, saya tidak akan bertanya lagi! Saya bodoh!" Xielu merasa sangat bodoh, seharusnya dia tidak bertanya begitu lagiΒ mengetahui pria cantik itu memiliki perasaan yang sangat kejam, tidak peduli bahkan sebelah mencabut nyawa seseorang hanya karena telah membicarakan gadis yang dia suka.
Melihat Xielu terus bersujud meminta maaf, pria berparas cantik itu membuang wajahnya, lalu berjalan meninggalkan Xielu, dia sudah tidak ada urusan lagi dengan pria itu, sudah saat dia menonton pertunjukkan yang akan Shua Xie tampilkan nanti. Namun sebelum pria itu melangkah jauh, dia mengeluarkan suara yang membuat Xielu sedikit terkejut.
"Namaku, Lou Lian."
_______________
A/N : Lou Lian? astoge! apakah dia dari dunia Atas juga? gila, lagi-lagi Marga Lou yang mengincar Shua Xie. Lou Lian, kira-kira dia ini siapa gaes? Dan apa hubungan dia dengan Shua Xie sehingga pernah berkata tidak ingin kehilangan Shua Xie lagi. Penasaran gak? sama aku juga penasaran π
Yaps, maaf kemarin saya gak up. Saya lagi istirahat sekaligus mengurus kontrak yang adalah itu dari pihak MT/NT masih baru, up 2 episode perhari dengan jumkat maksimal 2000 kata, ya ... Aku ikut gituan biar pembaca semakin bertambah, do'akan ya gaes biar list up ku diterima pihak MT/NT. ππ jadi bersamaan dengan itu jadwal up cerita ini juga akan berubah.
Bab pertama akan up jam 4 atau 5 subuh, dan bab ke dua akan up jam 2 atau 3 siang.
__ADS_1
MOHON PERHATIANNYA
Buat kalian yang sering komen 'Thor kapan upnya? Gak up ya thor hari ini?' aku saranin masuk grup aku deh, biar kalian gak ketinggalan informasi, kadang aku gak up secara mendadak, jadi gak bisa kasih kabar selain di dalam grup. Nah, kalau gak mau capek nunggu yang tidak pasti, kan yang gak pasti selalu bikin sakit hati (eeaakk π) sebaiknya masuk grup saya, caranya? tuh kalau kalian bukan ceritaku di kanan covernya ada yang ayo chat. Tekan aja dan beri alasan ntar saya masukin π di dalam grup banyak temen juga kok, kita bisa saling kenalan di sana. Ya walau pun gak banyak2 amat, tapi aku jamin mereka semua asik dan ributnya orangnya ππ kalian pasti gak bakal kesepian π