
Shua Xie menggosok ke dua tangannya sampai panas lalu menempelkannya di ke pipinya yang terasa dingin. Entah cuma perasaannya saja seluruh tubuhnya terasa dingin, sangat dingin seakan Shua Xie sedang berendam di dalam tumpukan es. Tsakuya menyadari kalau Shua Xie sedang kedinginan, dengan sikap gentle man sebagai seorang pria, dia memeluk Shua Xie namun hanya dengan satu tangannya saja. Sedangkan tangan kirinya memegang hidungnya yang sakit akibat pukulan 3 pemuda sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan?!" Shua Xie sedikit panik ketika Tsakuya tiba-tiba merangkulnya. Pikiran Shua Xie gak bakal benar di saat seperti ini, di mana dia hanya memakai jubah pemberian Tsakuya. Dipeluk pria di saat dia tidak memakai baju lengkap, siapa yang tidak akan berpikiran buruk?
"Tenanglah, Achi, aku hanya membantumu mengurangi rasa dinginmu."
"Berhenti memanggilku, Achi! Namaku bukan Achi, namaku Shua Xie!" sahut Shua Xie cepat, tetap kesal jika Tsakuya memanggilnya dengan nama itu. Entah kenapa dia merasa nama itu terlalu imut untuknya.
"Baiklah, Shua Xie. Kau tetap saja keras kepala seperti biasanya." Tsakuya tersenyum tipis, merasa bahwa perkataannya itu sebuah lelucon yang bisa membuat Shua Xie tertawa. Namun alih-alih melihat tawa dari gadis cantik itu, justru dia mendapat tatapan tajam.
"Berhenti berlagak kenal denganku. Kau tidak tahu apa-apa tentangku," balas Shua Xie jutek. Sebenarnya dia ingin memukul kepala Tsakuya, namun melihat kondisi Tsakuya tidak sedang baik dia pun mengurung niatnya. Lagi pula tidak mungkin Shua Xie menyerang seseorang yang sudah menolongnya di saat seseorang sedang terluka.
Tsakuya tetap tersenyum namun tidak membalas perkataan Shua Xie. Pandangannya beralih ke depan, menelisik pepohonan yang sedang menari karena hembusan angin. Tsakuya merasa sedikit beruntung bisa bertemu Shua Xie, meski sikap gadis itu cukup galak dan dingin, tapi dia tidak pernah mendengar perkataan kasar yang menginginkan dirinya pergi jauh. Selain itu, Tsakuya juga tidak merasa menyesal telah memberi sebagian besar kekuatannya pada Shua Xie.
Dia jadi ingat bagaimana dirinya pertama kali bertemu dengan Shua Xie di dunia Roh. Saat itu Tsakuya baru saja menyelesaikan kultivasinya, berniat keluar dari dunia Roh, namun tidak dia sangka dia akan bertemu dengan Shua Xie. Roh yang terombang-ambing di dunia Roh dikawal 9 roh hebat yang membuat Tsakuya terkejut sekaligus kagum. Di sana Tsakuya juga dapat bertemu dengan Kakak pertamanya Kie Lie, Raja pertama ras Pheonix.
[Flash Back On]
Dunia Roh sebuah tempat yang sangat tidak ingin semua makhluk datangi. Siapa yang ingin mendatangi dunia Roh? Di tempat itu sangat gelap dan menyeramkan. Tempat di mana semua roh yang tidak rela akan kematiannya berkumpul, tempat seluruh roh penuh kebencian berkumpul. Yang menjadikan dunia Roh sangat mengerikan karena para penghuninya begitu kejam, saling membunuh satu sama lain agar bisa mendapatkan Qi memperkuat roh mereka sendiri, selain itu, membunuh satu sama lain juga merupakan metode cepat agar bisa keluar dari dunia Roh. Bagi roh yang lemah dunia Roh sangat mengerikan, di mana mereka bisa saja menjadi makan roh yang jauh lebih kuat dari mereka. Lebih buruk lagi jika roh itu penakut, dia akan lebih cepat dimakan roh yang lainnya.
Di dunia yang gelap itu, seorang pria berambut putih hitam, bagian kanan hitam dan bagian kirinya putih tertidur pulas sangat lama. Roh yang begitu memancarkan aura kuat yang menakutkan sehingga mengintimidasi banyaknya roh yang ingin mengincarnya. Tiba-tiba saja mata pria itu terbuka, iris matanya berwarna merah darah memancarkan aura tegas. Pria itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya dia bangun dan melihat ke sekelilingnya.
"Aura Kakak pertama? Dia ada di dunia Roh?" Pria itu masih menatap ke segala penjuru sambil menajamkan semua inderanya. Saat dia menatap ke satu tempat, dia bisa merasakan aura Kakaknya berasal dari sana. Tanpa berpikir panjang pria itu berjalan menuju di mana dia merasakan aura keberadaan Kakaknya.
"Kyakakakaka!!"
"Raaanggg!!"
"Huhuhuhu ... hiks ...."
"Hahahaha!!"
Berbagai suara terdengar dari segala sisi, karena sangat gelap dia tidak bisa melihat siapa yang bersembunyi di balik kegelapan itu. Dibandingkan dengan itu, dia lebih memprioritaskan tujuannya. Lagi pula suara-suara itu pasti roh yang sengaja ingin menarik perhatiannya, setelah berhasil menariknya dia pasti akan menjadi santapan mereka.
Paak!
Pria itu berhenti berjalan lalu melirik ke kakinya, sebuah tangan hitam legam memiliki kuku panjang dan runcing memukul kakinya, bahkan mengelus-elus seperti kucing. Dia tidak terkejut, melainkan tidak senang tangan menjijikan itu menyetuh kakinya yang bersih.
"Lepaskan!" tegasnya lantang. Seketika saja tangan itu melepaskan kakinya dan kembali masuk ke dalam kegelapan. Bagaimana tidak, pria itu langsung mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat, tentunya membuat pemilik tangan itu takut setengah mati. Untunglah pria itu tidak seperti roh lainnya yang saling memakan satu sama lain demi berjuang bisa keluar dari dunia Roh, dia lebih memilih berkultivasi dari pada memakan roh lainnya, baginya memakan roh lain adalah hal yang paling menjijikan yang pernah ada.
Setelah tangan itu hilang, dia kembali melanjutkan perjalanannya. Dan setiap langkah kakinya, pasti selalu ada gangguan meski tidak secara langsung, ada yang sengaja membunyikan suara tawa, suara gesekan atau bahkan suara cakaran. Namun percuma, sosok yang mereka inginkan tampak tidak peduli dengan perbuatan mereka.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya pria itu semakin dekat dengan aura Kakaknya, dia bisa merasakan aura Kakaknya semakin dekat dengannya. Dari kejauhan, dia melihat sembilan cahaya terang dengan warna berbeda, karena penasaran dia pun mendekati cahaya itu. Selain itu dia juga merasakan aura Kakaknya berasal dari cahaya-cahaya itu. Namun, Saat jaraknya hampir dekat, ke sembilan cahaya itu tiba-tiba berubah wujud menjadi roh dalam bentuk wujud manusia.
Pria itu terkejut hebat karena perbuatan sembilan cahaya itu, selain itu dia juga mengenal sembilan cahaya itu.
"Bocah Jangan mendekat! Atau kami akan membunuh. Segera pergi!" Salah satu dari roh sembilan itu langsung mengusirnya.
"Benar, selagi kami berbaik hati tidak menjadikanmu makanan kami."
"Tunggu dulu!" Salah satu dari mereka, seorang perempuan muda berbicara tegas membuat rekannya yang lain menatapnya kebingungan. "Aku mengenalnya, dia Adikku," jelas perempuan itu.
__ADS_1
"Adikmu? Siapa? Zusami atau Tsakuya?"
"Aku Tsakuya," jawab pria itu datar.
"Tsakuya, rupanya kamu terdampar di dunia Roh? Pantas aku merasakan auramu." Perempuan itu menatap pria bernama Tsakuya, tidak tersenyum atau pun sebaliknya, terlibat biasa saja, namun nada bicaranya seakan menyiratkan perasaan yang tidak bisa dia sampaikan.
"Aku juga merasakan aura keberadaan Kakak pertama sebab itulah aku datang kemari." Tsakuya menatap yang lain, dia masih terkejut melihat 9 pemimpin ras lainnya ada bersama Kakaknya. "Bagaimana Kakak pertama bisa bersama mereka?" tanya Tsakuya penasaran.
"Ceritanya panjang, tapi intinya kami semua akan bekerja sama."
"Bekerja sama?! Untuk apa?!" Tsakuya melotot tak percaya, bagaimana mungkin Kakaknya ini bisa bekerja sama dengan mereka, padahal dulu mereka saling bertarung satu sama lain demi merebut kekuatan ilahi. Tapi sekarang, entah apa yang dipikirkan Kakak pertamanya itu dia memilih bekerja sama.
"Kami memiliki tugas melindunginya gadis ini." Perempuan itu menyingkir ke kanan, memperlihatkan sebuah buang teratai putih yang di lindungi mereka bersembilan.
Tsakuya memperhatikan teratai putih berukuran besar itu dengan tajam, tepat pada saat itu kelopak teratai terbuka dan tampaklah sebuah roh kecil berwarna kuning emas di tengah bunga teratai. Roh itu roh perempuan, mengeluarkan aura hangat yang bisa memikat begitu banyak roh lain untuk mendekat, bukan untuk memakannya namun untuk melindunginya.
'Siapa roh itu? Kenapa aku merasakan sensasi hangat padanya yang membuatku ingin terus di dekatnya?' Tsakuya tidak melepaskan pandangannya dari roh perempuan kecil itu yang sedang tertidur memeluk ke dua lututnya.
"Dia adalah wanita yang menjadi pemimpin kami." Ucapan Kakaknya, Kie Lie, membuat Tsakuya langsung menatapnya.
"Apa maksudnya menjadi pemimpin kalian?"
"Kalau kamu pintar kamu pasti bisa menebaknya," sahut pria di samping Kie Lie. Tsakuya menatap pria itu kebingungan karena masih belum mengerti maksud ucapan mereka.
"Dia akan menjadi calon pemimpin seluruh dunia. Dia Ratu dari segala Ratu, pemimpin dari segala pemimpin. Kau harus tunduk padanya, Tsakuya," ujar Kie Lie lembut.
"Kenapa aku harus tunduk padanya? Aku bahkan tidak mengenal dirinya!" balas Tsakuya tegas, tidak berpikir akan setuju dengan perintah Kakaknya, dia bahkan tidak pernah tunduk pada siapapun selain ke dua orang tuanya yang telah lama mati.
"Karena dia adalah Ratu kita semua. Tidak ada alasan bagimu tidak tunduk padanya. Jika kamu tidak tunduk padanya, kamu akan menjadi musuh seluruh dunia karena dia pemegang dunia di masa depan nanti."
"Aku tidak percaya kalian akan tunduk kepada seorang perempuan yang berasal dari bangsa manusia," ketus Tsakuya menyindir.
"Awalnya kami juga tidak percaya kami akan tunduk kepada gadis ini. Dia bahkan tidak berasal dari dunia kita, tapi dari dunia yang sangat jauh dari pemikiran kita semua. Namun saat kami bersamanya, kami mengerti kenapa kami harus tunduk kepadanya. Dia memiliki keistimewaan yang tidak bisa dijelaskan. Kau akan mengerti jika terus bersamanya."
"Jadi maksud kalian aku harus ikut bersama roh perempuan itu?" Tsakuya menatap Kie Lie tajam. Sembilan roh itu menganggukkan kepala mereka bersamaan. "Aku tidak mau!" Tsakuya langsung menolak.
"Kau sudah ditakdirkan bertemu dengannya pada hari ini, dan sudah menjadi takdirmu juga menjadi penjaganya di dunia nanti," sahut perempuan lain.
"Takdir? Konyol sekali!"
"Apakah bangsa Elf pernah berbohong tentang takdir? Kamu pasti tahu bangsa kami bisa melihat takdir seseorang." Perempuan itu menatap Tsakuya tajam. Tidak suka akan perkataan Tsakuya barusan.
"Tapi kalian tidak bisa memaksaku!" balas Tsakuya tegas.
"Jika kami tidak bisa memaksa, maka kami hanya bisa memohon." Kie Lie berlutut, tentu saja mengejutkan Tsakuya selaku Adiknya. Dia bahkan tidak pernah melihat Kakaknya memohon untuk seorang manusia. Tidak hanya Kie Lie yang berlutut, delapan roh lainnya juga melakukan hal yang sama.
"Tolonglah jaga Tuan kami selama di dunia nanti, ikutlah bersamanya dan bantu dia."
"Kami tidak bisa menjaganya dari bahaya, kami hanya bisa membantunya dengan memberinya kekuatan."
"Kami membutuhkan seseorang yang bisa menjaganya."
__ADS_1
"Apa-apaan kalian! Kenapa kalian memohon padaku?" Tsakuya tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Bisa-bisanya sembilan roh ini bersimpuh di depannya hanya untuk seorang manusia.
"Tolonglah jaga Tuan kami!!" tegas sembilan roh itu bersamaan.
"Kalian." Tsakuya tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi, dia yakin meski dia menolak mereka semua tetap akan memohon padanya. Sejenak Tsakuya menatap bunga teratai itu, memperhatikan roh perempuan di sana dengan seksama. Lagi-lagi sensasi hangat dan ingin selalu dekat dengan perempuan itu kembali datang.
"Tsakuya, sebagai Kakakmu, aku memohon padamu," ujar Kie Lie lemah.
"Aku sebagai Raja Naga, Xiao Qin juga meminta hal yang sama."
"Raja Ular pun sama."
"Raja Qilin."
"Pemimpin Elf."
"Raja Iblis."
"Pemimpin singa."
"Raja Daratan Dewa."
"Pemimpin manusia."
"KAMI SEMUA MEMOHON PADAMU!!"
[Flash Back Off]
Shua Xie tiba-tiba berdiri, sedikit mengejutkan Tsakuya yang sedang melamun mengingat kejadian awal dia bertemu dengan Shua Xie. Shua Xie berdiri di depan Tsakuya sambil memeluk erat jubah yang menutupi tubuhnya. Kulitnya yang memang pucat semakin pucat, bahkan bibirnya membiru dan bergetar kentara sedang kedinginan.
"Sepertinya aku harus menyendiri," ujar Shua Xie, sekadar ingin memberitahukan Tsakuya kalau dia akan pergi dan tidak ingin diikuti.
"Dengan tubuh yang sekarang?" timpal Tsakuya, alisnya naik sebelah. "Kau terkena penyakit nadi dingin, rohmu masih belum sepenuhnya menyesuaikan diri di tubuh barumu," jelasnya.
"Ya, aku tahu, itu sebab itu aku butuh waktu sendiri," ketus Shua Xie kesal. Apalah Tsakuya pikir dia tidak tahu apa yang dia alami sekarang?
"Lalu kalau kau tahu kenapa masih berpikir ingin sendiri? Kau tahu kalau penyakit nadi dingin sangat sulit disembuhkan seorang diri, kau butuh bantuanku."
"Apa maksudmu kau ingin kita melakukan itu?!"
"Kau bisa menganggapnya seperti itu." Tsakuya tersenyum meledek, sengaja memancing kemarahan Shua Xie. Shua Xie mengerti apa yang dimaksud Tsakuya, dia pun melayangkan tendangan ke wajah Tsakuya, namun pria itu dengan cepat menghindari serangannya.
"Kau!" Shua Xie kesal Tsakuya berhasil menghindarinya. "Kau bisa mengindariku tapi tidak bisa menghindari tiga pemuda tadi. Apakah kau sengaja melakukannya?!"
"Apakah aku terlihat sengaja?" Tsakuya justru bertanya balik semakin membuat Shua Xie kesal ingin menghajar wajahnya. "Mereka bertiga, sedangkan aku sendiri. Beda lagi dengan sekarang, kita sama-sama sendiri." Tsakuya menangkup dagunya lalu mengembangkan senyum pada Shua Xie.
"Alasan macam apa itu! Tidak masuk akal!" balas Shua Xie kesal.
"Kamu saja yang tidak menganggapnya masuk akal."
"Aargg! Sudahlah, berbicara denganmu hanya semakin membuatku kesal." Shua Xie berbalik, berjalan meninggalkan Tsakuya yang sedang senyam-senyum melihat kepergiannya.
__ADS_1
"Kalau kau butuh bantuanku panggil saja aku! Aku akan dengan senang hati membantu menyembuhkan penyakit nadi dinginmu!!" teriak Tsakuya keras sebelum Shua Xie benar-benar jauh darinya. Karena perkataannya itu Shua Xie hampir jatuh karena tersandung batu. Tidak menyangka Tsakuya dengan santai berteriak hal menjijikan seperti itu.
"BODOH!!"