
Shua Xie menghela nafas pelan, dia lambat sedikit sebelum berhasil membakar lengan Kiseki yang telah berhasil ia potong, atau mungkin lebih tepat bedah. Tapi sayangnya Yue Jian datang lebih cepat dari yang dia perkirakan hingga akhirnya gadis polos itu melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Meski Yue Jian seorang Kultivator, tidak sekali pun dia pernah membunuh manusia apalagi sampai memotong bagian tubuh manusia seperti yang dilakukan Shua Xie sekarang.
"Yue Jian, kau salah paham. Sebenarnya aku-"
"Kyaaa! Xiu An ...." Belum selesai Shua Xie menjelaskan kesalah pahaman Yue Jian terhadap dirinya, sosok gadis itu sudah berlari pergi dengan ekspresi ketakutan. Terlihat Shua Xie baru saja membully gadis polos itu.
Shua Xie berdecak pelan, "Sudahlah, meski ku jelaskan dia juga tidak akan mengerti. Sebaiknya ku lanjutkan saja operasiku." Shua Xie segera menutup pintu tenda kemudian melanjut operasinya yang tertunda.
Shua Xie membakar potongan lengan Kiseki dengan teknik mantra sihir api, sihir api yang mampu membakar apapun tanpa sisa. Setelah membakar potongan lengan Kiseki, Shua Xie kembali bergelut dengan pekerjaannya, mengambil pisau bedah dan gunting.
Kalian harus ingat, di kehidupan pertama Shua Xie dia memang gadis yang nakal, pemimpin dari suatu anggota sekolahnya yang di mana seluruh anggotanya itu berisikan murid-murid nakal di sekolah Matahari. Selain menyandang gelar itu, Shua Xie juga memiliki gelar tersembunyi yang tidak banyak orang mengetahuinya, dia adalah asisten dari salah satu Dokter Forensik. Pamannya adalah Dokter Forensik, dan Shua Xie memilih memperlajari profesi Pamannya dibanding mengikuti jejak Ayahnya seorang Walikota tersohor. Jujur saja Shua Xie sangat mengagumi pekerjaan Pamannya itu, bahkan dia bercita-cita akan menjadi Dokter Forensik seperti Pamannya. Ya, singkatnya dari kebiasaannya yang selalu ikut dalam peroses pembedahan mayat membuat Shua Xie mahir dalam membedah apapun. Selain itu dia juga cukup mahir dalam hal mengobati, tapi hanya luka-luka yang masih bisa dia tangani.
Shua Xie menarik salah satu ulat yang masih tertinggal di lengan Kiseki yang telah terpotong, ular berwarna hitam berukuran sebesar jari kelingking menggeliat lebih kuat saat Shua Xie mengampit ulat tersebut dengan gunting.
Shua Xie memindahkan ulat tersebut ke dalam nampan perak, di mana ulat-ulat lainnya juga berada di dalam sana. Jujur saja Shua Xie tidak pernah melihat ulat menjijikan seperti ini, terlebih lagi setiap 30 detik ulat ini akan menyebutkan cairan berwarna hijau berbau tidak sedap. Seandainya Shua Xie tidak mendapatkan pengetahuan dari para pemimpin 9 ras, mana mungkin Shua Xie berani mengambil tindakan menangani ulat menjijikan ini.
"Secerdas apapun aku sekarang dalam ilmu medis, masih ada satu yang jauh lebih cerdas dariku, Raja ke Tiga ras Pheonix." Shua Xie bukannya merendah, ya meski Zusami mengatakan pengetahuannya sekarang tidak jauh berbeda dengan pengetahuan Tuhan, itu hanya pujian yang berlebihan bagi Shua Xie. Di matanya, Tuhan tentu lebih Agung darinya dan Shua Xie hanyalah manusia fana yang terlalu memandang dirinya tinggi. Terlebih lagi, Raja ke Tiga ras Pheonix ialah pewaris ilmu medis yang bisa Shua Xie katakan pengetahuannya tidak seberapa dengan Raja ke Tiga ras Pheonix. Kalau masalah teknik bertarung mungkin Shua Xie jauh lebih unggul, tapi dalam ilmu medis tentu tidak ada yang bisa melewati besarnya pengetahuan sang pewaris segala ilmu medis.
Tidak tahu di mana sekarang Raja ke Tiga ras Pheonix berada. Tapi jika ada kesempatan Shua Xie akan mencarinya lalu merekrutnya menjadi salah satu anggotanya, selain itu Shua Xie juga akan mempelajari ilmu medis yang tidak dia ketahui darinya.
Shua Xie memindahkan nampan perak itu ke sisi yang sedikit lebih jauh dari Kiseki dan Yurui, lalu memberikan mantra pelindung pada baskom perak itu agar ulat yang ada di dalam tidak melompat keluar. Tentu saja Shua Xie melakukan semua hal itu demi mencegah ulat ini mencari inang baru sebelum mereka mati karena kehilangan inang mereka.
Selepas itu, Shua Xie mulai melanjutkan kembali pekerjaannya, melakukan pengoperasian pada Yurui. Yang satu ini mungkin sedikit lebih lama sebab luka yang dimiliki Yurui berada di bahu kanan, tentu Shua Xie tidak bisa memotong bahu Yurui kan. Jadi mau tidak mau Shua Xie akan membuka bahu kanan Yurui lalu mengeluarkan ulat-ulat di sana sebelum para ulat itu menyebar.
Shua Xie mendekati Yurui, duduk sila di dekat Yurui sembari dia mengarahkan pisau bedah dan guntingnya ke bahu kanan Yurui. Tapi sebelum membadah Yurui, tidak lupa Shua Xie menusuk beberapa anggota tubuh Yurui dengan jarum akupunturnya. Gunanya mematikan sebagian meredian dan nadi agar saat proses pembedahannya Yurui tidak tiba-tiba terbangun karena rasa sakit yang dia terima. Alasan lain Shua Xie melakukan teknik akupunktur juga karena dia tidak memiliki obat bius dan obat kram. Ada, namun dalam bentuk pil, tentu tidak bisa ditelan oleh dua pasien yan tidak sadarkan dirinya, melarutkannya pun percuma karena mereka juga tiba bisa meminumnya. Tidak mungkin juga bukan Shua Xie melakukan adegan kiss demi menyalurkan obat bius dan obat kram pada mereka berdua.
Rugi di Shua Xie enak di mereka dong!
Namun sebelum gunting dan pisau bedahnya menyentuh kulit Yurui, tiba-tiba saja pintu tenda terbuka, tampaklah 4 orang di sana memandang terkejut ke arah Shua Xie.
"Apa apa?" tanya Shua Xie polos seakan tidak tahu maksud ke 4 orang itu.
"Astaga, kau benar-benar memotong tangan Kiseki, ku pikir perkataan Yue Jian hanyalah bualan," ungkap terkejut Xiu An sambil dia menutup mulutnya dengan ke dua tangannya.
"Shua Xie, apa yang kau lakukan? Apakah kau masih dendam pada mereka karena masalah di sekte Kunlun?" tanya Qixuan lemah, dipikirkannya hanyalah itulah yang terbesit kenapa Shua Xie memotong tangan Kiseki begitu saja.
Sedangkan Yue Jian, dia terlalu takut sampai tidak bisa mengucapkan apapun selain memperlihatkan raut wajah takut yang memucat. Dan untuk Zusami, dia terlihat tenang namun pandangannya teramat tajam kepada Shua Xie, tampaknya pria itu juga salah paham seperti yang lain.
"Kalian salah paham, aku melakukan ini juga demi kebaikannya," jelas Shua Xie tegas, dia tidak ingin mereka salah paham lebih jauh lagi, "Lagi pula aku tidak sembarangan memotong tangan Kiseki, meski aku sempat kesal dengannya tapi aku tidak serendah itu, menyerang di saat mereka terluka."
Kalian harus paham bukan salah paham, okey!
***
"Sampai berapa lama dia akan seperti itu?" tanya Xiu An pada Qixuan dengan nada khawatir. Sudut pandangnya terhadap Shua Xie mulai berubah, menurutnya Shua Xie tidaklah seburuk yang dia kira. Buktinya Shua Xie rela menghabiskan banyak tenaga hanya untuk menolong seseorang yang pernah membenci dan ingin melukainya.
Qixuan menggeleng pelan, "Aku juga tidak tahu, dia terlalu banyak menyimpan rahasia yang tidak kita ketahui," balasnya seadanya. Faktanya memang benar bukan? Qixuan saja yang merupakan ketua murid di sekte Kunlun tidak tahu banyak tentang identitas Shua Xie, yang dia tahu hanyalah Shua Xie seorang Kultivator pendatang di kota mereka. Selain itu tidak ada lagi informasi lebih tentang Shua Xie.
__ADS_1
"Aku hanya tidak menyangka, meski dirinya telah dibenci dia masih saja mau menolong mereka. Bukankah dia terlalu baik?"
Terlalu baik? Bagaimana menurut kalian? Apakah Shua Xie terlalu baik atau tidak? Author yang baca aja hampir tersedak ludah sendiri membacanya.
Qixuan terdiam, dia melipat ke dua tangannya di depan dadanya tanpa melepaskan pandangannya dari Shua Xie yang kini sedang fokus melakukan penyucian terhadap Genji dan Juan Yu. Qixuan terkagum setelah menyembuhkan Yurui dan Kiseki, tanpa beristirahat sedikit pun Shua Xie langsung menyembuhkan Genji dan Juan Yu. Mungkin Qixuan sedikit setuju dengan ucapan Xiu An kalau Shua Xie terlalu murah hati.
"Ketua! Xiu An!"
"Yue Jian, ada apa? Kenapa kau teriak begitu?!" sahut Xiu An yang juga ikut panik melihat Yue Jian datang dengan suara keras begitu, siapa yang tidak kaget kalau tiba-tiba diteriakin sekeras itu.
"Kiseki ... Yurui ... mereka, mereka sudah sadar!" balas Yue Jian keras, entah faktor bahagia atau karena hal lain hingga berbicara seperti itu, padahal jaraknya dengan Qixuan dan Xiu An tidaklah jauh.
"Benarkah!?" sahut Qixuan meninggi, teramat terkejut mengetahui Yurui dan Kiseki telah sadar lebih cepat dari apa yang Qixuan bayangkan. Bukankah hal ini menunjukkan kalau kemampuan medis Shua Xie sangat tinggi? Menyadarkan pasien setelah setengah selesai menangani mereka, benar-benar mengejutkan.
Yue Jian mengangguk keras sembari dia mengukir senyum bahagia membalas perkataan Qixuan. Qixuan dan Xiu An bergegas menuju tenda, tentu ingin mengetahui bagaimana keadaan mereka berdua.
Namun baru mereka sampai di tenda dua pemuda yang baru saja sadar, mereka bertiga dikejutkan dengan suara jeritan keras dari salah seorang di dalam tenda.
"Tanganku! Ke mana tanganku! Apa yang terjadi tanganku! Kenapa tanganku tidak ada!" Kalian seharusnya sudah tahu teriakan milik siapa itu.
Qixuan dan yang lain langsung mendengar jeritan milik Kiseki, dan melihat pemuda buntung sebelah menjerit hesteris melihat tangan kanannya sudah tidak ada lagi, entah apa yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri.
Yurui yang juga telah sadarkan diri sangat terkejut melihat kondisi Kiseki lebih mengerikan dari kondisinya, meski Yurui tidak bisa menggerakan tangan kanannya paling tidak tinggal tunggu waktu baru tangannya itu bisa digerakkan seperti semula. Berbeda Kiseki, bahkan sampai pemuda itu tua pun juga tangannya tidak akan bisa tumbuh kembali.
Qixuan mendekati Kiseki, memegang bahu pemuda itu agar dia bisa lebih tenang, "Tenanglah, itu hanya sepotong tangan, paling tidak kau masih bisa bernafas!" pekik Qixuan menyadarkan Kiseki yang terus menjerit menanyakan keberadaan tangannya.
Qixuan yang didorong diam saat Xiu An dan Yue Jian membantunya kembali berdiri. Mereka sudah tahu hal ini pasti terjadi, Kiseki pasti akan menggila mengetahui tangan kanannya sudah tidak ada, sangat wajar karena Kiseki begitu mengidam-idamkan menjadi Kultivator hebat di benua barat, kehilangan salah satu anggota tubuh terutama kaki dan tangan sudah pasti menjadi pukulan berat bagi para Kultivator. Jika sudah seperti ini maka Kiseki sudah tidak jauh berbeda dengan para Kultivator cacat. Mendapat gelar ini juga bukan pertanda baik, yang jelas jika sudah menjadi cacat semua orang pasti akan memandang dirinya rendah terlebih lagi Kiseki hanyalah pemuda dari keluarga petani sederhana. Tentu saja kehidupannya nanti tidak lagi seindah kehidupannya sekarang.
"Lalu kau mau apa? Mau bunuh diri?"
"Qixuan."
"Qixuan."
Yue Jian dan Xiu An terkejut hebat mendengar Qixuan berkata seperti itu, bahkan Yurui juga terdiam kaku mendengar ucapan Qixuan. Berbicara sekejam itu kepada Kiseki yang baru saja mendapat pukulan keras, bukankah terlalu kejam?
Kiseki terdiam mendengar perkataan Qixuan, dia memandang kosong kepada gadis yang jauh lebih muda darinya. Perkataan Qixuan membuat bingung harus berekspresi seperti apa.
"Bukankah tadi kau mengatakan kehidupanmu sekarang tidak jauh berbeda dengan mati, bukan? Kenapa kau tidak bunuh diri sekalian saja?!" Qixuan melanjutkan lagi perkataannya.
Hening.
Tidak ada yang berani berbicara jika Qixuan sudah marah, mereka semua tahu seperti apa seramnya Qixuan jika sudah marah, gadis itu tidak akan segan lagi menahan kata-kata kasarnya.
"Aku, aku tidak ingin mati," gumam Kiseki pelan dengan pandang menunduk, dia tarik kembali kata-katanya sebelumya. Meski dia tahu hidup cacat sebagai Kultivator tidak jauh berbeda dengan mati, tapi bukan berarti juga dia ingin mati. Perkataannya sebelumnya hanyalah emosi sesaat karena belum sanggup menerima kondisinya sekarang.
Lagi pun jika dia mati sekarang bagaimana dengan Ibu dan Adiknya? Siapa yang akan melindungi mereka jika dirinya tidak ada? Ibu dan Adiknya hanyalah manusia biasa, jika terjadi sesuatu pada mereka Kiseki tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena tidak berguna.
__ADS_1
"Dasar naif!" Qixuan meninggalkan tenda dengan perasaan buruk, tidak seorang pun berani mencegat kepergian gadis itu karena mereka tahu tidak ada yang bisa menghentikannya. Sebenarnya Qixuan pergi juga karena tidak ingin memperburuk suasana, dia juga merasa perkataannya tadi terlalu berlebihan, dia terlalu terbawa suasana karena sikap Kiseki begitu bodoh di matanya. Qixuan kesal, geram dan sedih tapi dia tidak bisa berbuat banyak selain memarahi Kiseki agar pria itu sadar, meski Kiseki cacat bukan berarti semua itu sudah menjadi akhir dari segalanya. Seharusnya Kiseki bersyukur nyawanya masih bisa diselamatkan karena banyak di luaran sana ingin tetap hidup namun takdir berkata lain.
***
"Siapa di sana?"
Tes!
Tes!
Tes!
Shua Xie mulai berjalan, mendekati satu sosok wanita berpakaian putih sedang duduk membungkuk membelakanginya. Shua Xie tidak tahu kenapa dia bisa tiba-tiba datang ke tempat aneh seperti ini, di sini gelap, lembab dan sunyi, Shua Xie yakin tidak akan ada seorang manusia mau tinggal di sini meski dibayar ribuan batang emas. Tapi, melihat seorang gadis tak jauh di sana, Shua Xie haris menarik kembali kata-katanya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa aku berada di sini?"
Shua Xie menajamkan indera pendengarnya ketika dia mendengar samar-samar gadis itu sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Shua Xie terus melangkah tidak berniat berhenti, dia penasaran kenapa bisa ada gadis lain di tempat aneh seperti ini.
"Permisi-"
"Siapa!?"
Gadis itu mendadak berbalik ketika mendengar suara Shua Xie. Mereka berdua saling bertatapan dengan pandangan terkejut. Shua Xie menutup mulutnya sembari ke dua bola mata cantiknya membulat sempurna. Begitu pun dengan gadis bergaun putih polos itu, dia bahkan tidak jauh lebih terkejut dari Shua Xie.
"Kau!" ucap Shua Xie dan gadis itu bersamaan.
"Kenapa bisa? Bagaimana mungkin! Tidak, ini terlalu aneh!" Shua Xie menggelengkan kepalanya pelan, tidak menerima apa yang dia lihat sekarang.
"Kau siapa?" tanya gadis bergaun putih itu. Gadis itu tampak waspada kepada Shua Xie seperti dia sedang melihat orang paling berbahaya di dunia.
"Kau yang siapa!" Shua Xie justru bertanya balik.
"Aku Shua Xie!" jawab gadis itu tenang.
"Aku juga Shua Xie!" sahut Shua Xie cepat membalas perkataan gadis itu.
Gadis itu tampak terkejut mendengar ucapan Shua Xie, dia mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya tak percaya, "Tidak, kau bukan Shua Xie! Akulah yang Shua Xie!" ungkap gadis itu keras, dia ingin membenarkan bahwa dirinyalah Shua Xie sebenarnya.
"Tidak, justru akulah yang Shua Xie, dan kau ... kau bukanlah Shua Xie." Elak Shua Xie cepat, tentu dia tidak setuju kalau dia bukan Shua Xie, jelas-jelas dirinyalah Shua Xie sebenarnya. Tapi gadis di depannya, berwajah mirip sepertinya, tidak ada satu fisik di antara mereka berdua yang berbeda terkecuali sikap mereka berdua.
"Sebenarnya ada apa ini!?" tanya Shua Xie dan gadis itu bersamaan.
_________
**A/N : Sori bat lama up, ta pikir udah up ternyata pas cek belum 😂 astoge markonah aku lupa, sori bat nih.
Oh ya gaes mampir donk ke novel Author yang berjudul Crazy Empress, tolong berikan dukungan kalian di novel sonoh, gak maksa vote tapi maksa baca 😂 pokoknya harus baca 😁 Shua Xie, Freya dan Qian Yue pun juga maksa kalian harus baca! Itu pemeran baru Huanran mau kenalan ama kalian 😆 dia nunggu jejak kalian di sana**.
__ADS_1