
Wang Xinian seketika berbalik saat mendengar ada suara menggiang di kepalanya, suara yang sangat dia kenal dan tidak akan bisa dia lupakan. Siapa lagi kalau bukan suara saudari yang paling dia tidak sukai, Shua Xie.
Namun saat dia berbalik, dia tidak menemukan Shua Xie di mana pun. Dia hanya melihat Fengying bersama para pasukannya membawa gadis itu masuk ke dalam kerajaan.
Wang Xinian mengerutkan keningnya, bersamaan dengan itu dia juga mengelus ke dua lengannya. Merasa merinding mendengar suara Shua Xie namun tidak Shua Xie di sekitarnya.
'Apakah aku hanya berhalusinasi saja?' tanya Wang Xinian dalam hatinya.
"Yang Mulia Putri, ada apa?" Seorang pelayan berpakain hijau dengan rambut yang disanggul dua bagian menepuk pundak Wang Xinian. Gadis pelayan itu adalah Hongli, pelayan pribadi Wang Xinian.
Wang Xinian menengok ke arah Hongli saat dia merasakan tepukan di bahunya, dia menatap Hongli sedikit terkejut karena pelayannya itu berdiri begitu dekat dengannya.
"Hongli, kau!" kejut Wang Xinian bersamaan dengan mengangkat tangan kanannya menunjuk ke arah Hongli.
Hongli menundukkan kepalanya saat satu jari Wang Xinian menyetuh rambutnya, bukan takut beneran tapi dia hanya ingin bersikap takut di hadapan banyak pelayan lainnya. Hongli sudah menjadi pelayan pribadi Wang Xinian sejak Wang Xinian berumur 10 tahun. Tentu saja kedekatan dua sejoli ini seperti saudara, sama-sama licik, dan sama-sama keras.
Karena status Wang Xinian sudah naik, tentu saja rasa angkuh Hongli juga naik. Dia bahkan tidak akan segan menghukum pelayan lain jika dia tidak suka, hanya karena majikannya kini menjadi Putri Mahkota dia bertindak sesuka hatinya.
Tapi di kerajaan Xuilin ada satu pelayan yang tidak bisa Hongli beri pelajaran, ialah Chi Su. Semenjak Chi Su ditinggal Shua Xie, sikap pelayan itu mendadak berubah, sangat waspada, cerdas, dan bisa lebih licik daripada Hongli sendiri. Ditambah lagi Chi Su ahli bela diri, tidak seperti Hongli, dia hanya pelayan biasa yang memiliki keberanian besar hanya karena majikannya berkedudukan tinggi.
Wang Xinian menurunkan tangannya saat melihat ada Shan Qiayu muncul bersama ibunya Selir ke Tiga, Wei Eri. Sikap Wang Xinian mendadak berubah, jadi anggun dan kalem dalam waktu cepat. Tentunya tidak ingin memperlihatkan sisi sikapnya yang melanggar etikat dari seorang Putri Mahkota.
Shan Qiayu dan Ibunya Wei Eri memberi hormat pada Wang Xinian, walau pun dalam hati mereka sangat enggan memberi hormat Wang Xinian. Kalau bukan karena status Wang Xinian sekarang adalah Putri Mahkota, tentu saja mereka tidak akan sehormat ini.
"Salam kepada, Putri Mahkota," sapa Shan Qiayu dan Wei Eri bersamaan.
Wang Xinian menatap sekilas dua sosok wanita itu, persaingan di antara mereka belum hilang sepenuhnya. Selama Kaisar belum memberikan kedudukan Putri Mahkota secara resmi, Wang Xinian belum bisa hidup dengan tenang. Apalagi dia tahu, selama dua sosok itu masih hidup tentu saja posisinya bisa saja terengut kapan saja.
Loh, Wang Xinian belum resmi menjadi Putri Mahkota? Ya, benar. Wang Xinian memang saat ini memegang gelar Putri Mahkota, tapi gelar itu belum bisa dia miliki secara resmi tanpa peresmian langsung dari Kaisar. Kaisar hanya merekomendasikan posisi itu kepada Wang Xinian karena Wang Xinian sudah memenuhi syarat menjadi Putri Mahkota. Dan pengumuman pengesahan itu akan diadakan 3 hari lagi.
Sangat kebetulan dengan datangnya Shua Xie bukan?
"Ya," balas Wang Xinian singkat. Dia menerima penghormatan dua sosok itu dengan wajah jutek.
Mendengar Wang Xinian mengatakan 'Ya' Shan Qiayu dan Wei Eri sama-sama kembali menegakkan tubuhnya. Shan Qiayu menebarkan senyumannya pada Wang Xinian, dan Wang Xinian membalas senyuman Shan Qiayu. Jika orang lain melihat ke dua sosok ini tersenyum, tentu saja banyak akan berpikir bahwa dua saudari ini sangat akur satu sama lain. Tapi kenyataannya senyuman mereka hanyalah kebohongan.
"Kakak, apakah kau juga akan masuk ke dalam?" Shan Qiayu berbasa-basi belaka, karena jika dia langsung pamit Wang Xinian akan mengklaimnya tidak sopan karena tidak berbicara padanya.
Wang Xinian memutar bola matanya malas, "Iya," balas Wang Xinian singkat dan ketus sambil melipat tangannya di depan dadanya.
Tanpa berbasa-basi lagi, Wang Xinian langsung menjagak para pelayannya masuk ke dalam tanpa peduli apakah Shan Qiayu masih ingin berbincang dengannya atau tidak.
Shan Qiayu mengepalkan tangannya geram melihat Wang Xinian pergi meninggalkan begitu saja. Sungguh angkuh hanya karena posisinya sedikit lebih tinggi dari Shan Qiayu.
__ADS_1
"Dasar ******! Tunggu saja, posisi Putri Mahkota akan jatuh di tanganku," gumam Shan Qiayu pelan dengan urat-urat leher yang tampak di dahi dan lehernya.
Shan Qiayu, dia lebih akrab dipanggil Putri ke Empat, dulu dia begitu bodoh dan mudah ditipu banyak orang. Namun karena pengalamannya di dunia ini, kekejaman yang dia hadapi secara langsung, dia mulai belajar menjadi wanita kejam. Kalau dulu hanya Ibunya Wei Eri yang biasanya berpikir keras melawan Putri Pertama dengan Selir ke Dua, tapi sekarang justru dia sering mengambil tindakan sesuai apa yang dia pikir itu bisa menguntungkan dan menyelamatkannya.
Wei Eri menggapai tangan Shan Qiayu, menggelengkan kepalanya saat Shan Qiayu menatapnya. Wei Eri tahu, Shan Qiayu sudah berubah dari yang dulu, namun bukan berarti Shan Qiayu harus bersikap di luar batasannya. Karena ada saat dan waktunya mereka bisa bermain dengan baik.
"Shan Qiayu, kau harus bisa menjaga amarahmu. Di sini, amarah tidak boleh meletup begitu saja."
***
Shua Xie masih berdiam dengan wajah datar semenjak memasuki ruang aula kerajaan utama. Sepanjang perjalanannya dia melihat begitu banyak prajurit menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Namun inti dari perjalanan Shua Xie dia tidak memperdulikan orang di sekitar, tapi dia lebih memilih melihat keadaan dan bangunan sekitar.
Shua Xie merasa tidak ada yang berubah dari kerajaan ini selain kata menua. Banyak bangunan yang menurut Shua Xie sudah seharusnya diganti dengan yang baru, dan entah hal apa yang membuat Kaisar tidak merenovasi beberapa bangunan atau barang.
Sampai tibalah Shua Xie di pintu berwarna hitam besar terbuat dari kayu khusus, berukiran buang lotus. Di depan pintu itu, dua prajurit penjaga pintu membukakan pintu dan tampaklah ruangan aula sebenarnya yang diisi begitu banyak jiwa pejabat. Fengying, dia menarik tali yang mengikat Shua Xie membawanya masuk ke dalam bersamanya, sedangkan para pasukannya itu menunggu di luar.
Kedatangan Fengying bersama seorang gadis cantik yang diikat dengan tali biasa, dan diikat tidak terlalu kencang. Menarik banyak perhatian para pejabat, siapa gadis yang bersama Fengying?
Setiba di depan singgasana Kaisar, Fengying memberi hormat terlebih dahulu sebelum dia menyampaikan apa tujuannya datang ke aula utama bersama seorang gadis.
"Hormat, Yang Mulia Kaisar, semoga anda selalu dilimpahkan kebahagiaan," ucap Fengying sambil berlutut layaknya ksatria.
Sosok pria paruh baya, berpakaian kuning dengan jubah berwarna hitam yang banyak diukiri ukiran cantik. Sosok itu memiliki mata yang cukup eksotis, berwarna abu-abu yang semakin memudar. Kaisar mengangkat tangannya, seakan berkata lewat angkatan tangannya kalau dia menerima hormat Fengying.
Melihat Kaisar mengangkat mengangkat tangannya, Fengying kembali berdiri seperti biasa. Lalu dia membuka suara, memperkenalkan sosok gadis yang ikut bersamanya.
Semua pejabat langsung terkejut saat mendengar penjelasan Fengying, bersamaan itu mereka semua sontak menatap Shua Xie dengan ekrpesi yang sulit untuk dijelaskan. Awalnya mereka berpikir Fengying membawa gadis itu karena kejahatan lain, seperti menggoda Fengying. Tapi ternyata jauh berbeda dengan apa yang mereka duga.
"Siapa gadis itu? Kenapa dia mengakui dirinya sebagai Putri Shua Xie?"
"Bukankah dari rumor yang beredar kalau Putri Shua Xie telah mati?"
"Aku dengar dari banyak orang, kalau Putri Shua Xie sangatlah buruk rupa. Tapi melihat gadis itu, aku rasa rumor salah mengatakan Putri ke Lima buruk."
"Bahkan banyak yang bilang, kalau Putri Shua Xie buta. Ya aku ingat saat perjamuan terakhir yang berakhir membuat Putri Hanabi mendapat kecelakaan, Putri ke Lima lah yang membantunya. Dan saat itu mata Putri tertutup kain, jadi wajahnya tidak terlalu terlihat, namun seperti dibalik banyak kain itu, kulitnya begitu mulus dan putih seharusnya Putri Shua Xie memanglah cantik."
"Walau pun saat itu aku hanya melihat sekilas Putri saat dia menggunakan akupuntur membantu Putri Hanabi. Dia memiliki bakat ilmu medis, dan jauh lebih cerdas dari apa yang dirumorkan."
Shua Xie dapat mendengar berbagai macam ucapan mulai bersuara, dan semua ucapan itu berasal dari berbagai pejabat. Ada sebagaian mereka pernah bertemu dengan Shua Xie saat terakhir pesta di adakan yang mengundang 4 tamu dari negara berbeda. Namun bagi mereka yang saat itu tidak hadir karena sedang bertugas yang kebetulan tugas mereka jauh dari kerajaan inti, mereka tidak pernah melihat atau mengenal sosok bernama Putri Shua Xie. Mereka hanya mendengar dari rumor yang beredar kalau Putri Shua Xie sangat buruk dari banyaknya Putri di dunia. Dan tidak pantas menyanggang gelar Putri karena keburukannya itu.
Apalagi Putri Shua Xie dibesarkan di kuil bersama seorang pelayan, dan kembali ke kerajaan Xuilin karena kematian Ibunya.
Jadi kalian bisa menebaklah, banyak tidak percaya bahwa sosok gadis yang datang bersama Fengying adalah Putri Shua Xie. Entah mereka yang melihat secara langsung atau tidak, sangat tahu jelas Putri Shua Xie memiliki wajah buruk dan mengalami kebutaan, tapi justru gadis yang satu ini jauh dari rumor yang beredar, cantik dan tidak buta sama sekali. Bahkan gadis ini memiliki warna mana unik yang menjadi pertanyaan banyak orang.
__ADS_1
Apa iya ada manusia memiliki mata seunik itu?
Di sisi lain, Shua Xie secara tidak langsung lebih fokus kepada Kaisar yang duduk disinggasana, tapi telinganya masih sangat tajam mendengar berbagai macam respon dari orang-orang di sekitarnya. Namun di sini, Shua Xie lebih fokus pada Kaisar, pasalnya sosok Kaisar yang duduk disinggasana saat ini bukanlah Feng Kim. Melainkan orang lain, lalu di mana Feng Kim berada? Sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga Kaisar telah berganti.
"Di mana Feng Kim berada?" ucap Shua Xie cukup lantang, semua orang di aula bisa mendengar suara Shua Xie jelas. Dan sontak mereka berhenti berbicara saat Shua Xie bertanya.
"Di mana Feng Kim berada, kenapa orang lain yang menduduki singgasana itu!" Sekali lagi Shua Xie berbicara kali ini nada suaranya naik satu oktaf.
Semua pandangan tertuju pada Shua Xie, gadis yang secara langsung menyebut nama Kaisar terdahulu dengan mudahnya, tidak meninggalkan kata Yang Mulia, tapi justru menyebut nama Feng Kim secara langsung. Para pejabat memandang Shua Xie tajam, tidak menduga kalau gadis itu aka secara langsung menyebut nama Feng Kim.
Sosok Kaisar yang duduk disinggasana merubah raut wajahnya ketika mendengar nama Feng Kim disebut begitu mudah oleh seorang gadis tak dikenal.
"Kau beraninya menyebut nama Kakak-ku secara langsung, apakah kau bosan hidup!" ucap Kaisar dengan nada mengancam.
"Aku tanya, di mana Feng Kim berada!? Apakah kau tuli sebagai Kaisar!" Shua Xie tidak menggubris ucapan Kaisar sebelumnya. Sangat tidak peduli akan ancaman dari Kaisar tesebut.
Semua mata membulat, lagi-lagi dibuat terkejut saat mendengar Shua Xie melawan Kaisar berbicara, dengan nada cukup keras dan kasar.
Fengying yang berada dekat dengan Shua Xie langsung menarik pedangnya, lalu mengarahkannya tepat ke leher Shua Xie. Pedang itu berada di posisi bagus, sehingga sedikit saja Shua Xie bergerak maka pedang itu akan menebas lehernya.
Tapi Fengying mengarahkan pedangnya pada orang yang salah!
Shua Xie menatap ujung pedang itu tajam, sorotan matanya berjalan menjalani pedang itu sampai dia menatap si pemilik pedang Fengying dengan tatapan yang sangat mengerikan. Sontak tangan Fengying bergetar hebat saat Shua Xie melemparkan tatapan sangat tajam, membuat pedangnya itu jatuh ke lantai. Fengying mundur beberapa langkah menjaga jarak dirinya dari Shua Xie.
"Kau! Seorang penyihir!?" pekik Fengying keras. Dia sadar tatapan Shua Xie mengandung hal mengerikan, dan itu sanggup membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Fengying pun berpikir kalau Shua Xie adalah seorang penyihir karena mampu membuat tubuhnya bergetar hanya karena tatapan.
Semua pejabat sontak berdiri sambil menarik pedang masing-masing, mereka semua mengarahkan pedang mereka pada Shua Xie saat Fengying mengatakan Shua Xie adalah seorang penyihir, dan mereka juga bisa melihat dengan mata kepala mereka kalau Shua Xie memang memiliki ilmu sihir.
Shua Xie memandang ke sekitarnya, melihat begitu banyak pedang tertuju padanya. Sungguh lucu mereka mau menghentikan Shua Xie dengan pedang rongsokan mereka, padahal Shua Xie hanya bertanya tidak ingin membuat kerusuhan.
"Aku tanya sekali lagi! Di mana Feng Kim!?" tanya Shua Xie dengan nada sangat terdengar mengancam.
Kaisar yang tadinya hanya duduk melihat aksi keberanian Shua Xie kini bangkit dari singgasananya, "Kaisar Feng Kim sedang berada di kediamannya. Dia mengalami sakit dan harus dirawat!" Kaisar menjawab pertanyaan Shua Xie, sontak membuat Shua Xie menatap Kaisar, "Dan posisi Kaisar jatuh padaku karena Kaisar Feng Kim sendiri yang memberikannya," jelas Kaisar lagi.
Shua Xie mengerutkan keningnya, Feng Kim jatuh sakit sampai menurunkan tahtanya pada pria bermata abu-abu itu? Kenapa bisa? Apakah sakit yang diderita Feng Kim sangat parah sampai dia berpikir memberikan tahtanya sebelum dia mati? Semua pertanyaan itu tidak bisa Shua Xie jawab sendiri, dia masih ingin dengar kenapa bisa Feng Kim jatuh sakit.
"Kenapa Feng Kim bisa jatuh sakit?" tanya Shua Xie lagi.
"Karena dia menyesali tidak bisa menjaga Putri Shua Xie. Tidak ada yang tahu jelas kenapa Kaisar Feng Kim bisa sesedih itu, tapi yang jelas Kaisar Feng Kim jatuh sakit karena Putri Shua Xie. Setiap dia mendengar kabar buruk tentang Putri Shua Xie, dia semakin terpuruk dan itu menggangu kesehatannya."
_________
**A/N: Feng Kim jatuh sakit? mungkin kah karena rasa penyesalan dia tidak bisa menjaga Shua Xie dengan baik. karena Shua Xie adalah Putri Langit yang dititip padanya oleh sahabat sendiri. atau karena ... kalau kalian penasaran tunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Yups, maaf mungkin bab ini kurang menarik karena saya menulis dengan keadaan mengantuk berat. Sungguh saya gak sanggup menulis karena ngantuk tapi demi kalian saya harus bisa 😅 apalagi siang nanti up lagi 😪 mataku berat banget jadi menulis super cepat dan mikirnya gak terlalu dalem 😪😪 maaf ya gaes. aku sadar kok tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, banyak kesalahan alur dan typo di mana-mana. maaf saya akan revisi setelah cerita sudah tamat.
gaes jangan lupa like dan komentar kalian, komentar aja biar singkat saya tetep akan baca 🙂 dan berikan like pada komentar kalian. mungkin ada sebagian yang saya balas :) oh ya jangan lupa dukungan Vote nya ya, maaf aku selalu menuntut untuk diberikan vote 😪 padahal ceritaku sangat tidak layak mendapat vote dari kalian 😪**