Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 117


__ADS_3

Semua orang tercengang hebat saat mendengar ucapan Zhang Ziyi. Bersamaan dengan itu, semua mata menatap Shua Xie terkejut.


Putri ke Lima berdiri di depan mereka tanpa mereka berikan penghormatan? Tapi, siapa yang bisa menduga kalau gadis berjubah hitam itu adalah Putri ke Lima kerajaan Xuilin? Terlebih lagi penampilan Putri ke Lima, sangat, sangat, sangat berbeda! Dari apa yang mereka dengar.


Bupati Qionglin sendiri tidak bisa menutupi keterkejutannya, dia menatap Shua Xie dengan mulut terbuka. Seakan tidak percaya kalau gadis cantik yang baru saja membuatnya hampir mati adalah Putri ke Lima, Shua Xie.


Tidak mungkin!


Itulah yang sebagian orang teriaki dalam hati mereka ketika mendengar ucapan Zhang Ziyi. Gadis berparas cantik bak Dewi itu, dan berkekuatan layak monster adalah Putri ke Lima! Sangat tidak mungkin.


Siapa bisa mempercayai itu!? Tapi kenyataannya, itulah kebenarannya! Tidak ada yang bisa menyangkal jika Zhang Ziyi sendiri selaku petugas Biro Keamanan mengatakan hal itu.


Satu persatu warga ikut bersujud memberikan penghormatan seperti Zhang Ziyi lakukan pada Shua Xie. Bahkan para rekan petugas Zhang Ziyi juga ikut melakukannya, termasuk Bupati Qionglin sendiri. Walaupun dia sangat enggan melakukannya, tapi ... ini sudah menjadi kewajibannya terlebih lagi setelah dirinya melakukan kesalahan.


Chi Su adalah orang terakhir yang memberikan penghormatan setelah semua warga memberikan penghormatan.


Shua Xie diam, ekspresinya masih dingin seperti biasa. Sambil menatap sekitarnya, melihat begitu banyak warga menghormatinya. Shua Xie menunggu ucapan apa lagi yang akan Zhang Ziyi ucapkan.


"Mohon maaf Putri ke Lima, saya hampir tidak mengenali anda! Saya pantas menerima hukuman! Hukum saya tuan Putri!" tegas Zhang Ziyi tanpa penuh rasa takut.


Para petugas lainnya juga ikut mengatakan apa yang Zhang Ziyi ucapkan dengan suara lantang dan tegas.


Tapi tampaknya Shua Xie seakan tidak peduli akan ucapan Zhang Ziyi, bukan tidak peduli, hanya saja Shua Xie tidak ingin menambah perhatian lagi. Sudah cukup dia menarik perhatian setelah menghajar Qionglin dan bawahan Qionglin.


"Aku memaklumi itu, tidak banyak dari kalian mengenalku. Kalian semua bangkitlah, sudah cukup penghormatan kalian," ucap Shua Xie cukup keras agar didengar semua orang di sekitarnya.


Mendengar perintah Shua Xie, mereka semua segera berdiri. Namun tidak ada satu pun dari mereka berani berbicara apalagi pergi meninggalkan tempat mereka. Bagi warga yang menyaksikan kekejaman Shua Xie menghajar Qionglin menjadi takut dan segan padanya. Atau lebih tepatnya tidak ingin mendapatkan masalah dari orang seperti Shua Xie.


Sedangkan petugas Biro Keamanan, mereka hanya tahu, Putri ke Lima baru saja membuat kegaduhan besar di kerajaan. Kedatangannya sudah membuat pelajaran besar untuk beberapa Menteri. Apalagi setelah Shua Xie memperlihatkan sedikit kekuatannya, siapa berani melawan penyihir seperti Shua Xie? Bahkan Kaisar sendiri tidak bisa berkutik di hadapannya.


Shua Xie menatap Chi Su, cukup lewat tatapan saja Chi Su bisa memahami makna tatapannya, Shua Xie akan pergi.


"Petugas Zhang, aku percayakan Bupati Qionglin padamu. Aku harus mengunjungi Paviliun Wuki, setelah itu." Shua Xie menatap Qionglin datar sambil mengukir senyum sinis, "Barulah kita bermain lagi, Qionglin."


Qionglin membulatkan matanya besar ketika mendengar ucapan Shua Xie, dia pun langsung menatap Shua Xie dengan raut wajah ketakutan.


"Tuan Putri ke Lima! Ampuni saya! Saya tidak sengaja mengganggu ketenangan anda! Ampuni saya! Saya tidak ingin mati!" pekik Qionglin keras sambil berusaha mendekati Shua Xie, tapi sayangnya para petugas menahan dirinya.


Sekali lagi Zhang Ziyi memberi hormat pada Shua Xie, "Baik, akan saya laksanakan."


Shua Xie berbalik tanpa memperdulikan teriakan dari Qionglin untuknya. Walaupun rasanya masih kurang puas menghakimi Qionglin, tapi masih ada hal lain yang harus Shua Xie lakukan. Menghabiskan waktu menghakimi Qionglin juga akan membuang-buang waktu, kalau Shua Xie mau dia bisa saja langsung membunuhnya untuk membalaskan dendam pemilik tubuhnya. Tapi, sayang sekali Shua Xie ingin menyiksa Qionglin lebih lama sebelum dia membunuhnya.


***


Di depan sebuah bangunan bertingkat tiga, Shua Xie menatap bangunan itu tanpa ekspresi. Di sekitarnya cukup banyak pendekar berkeliaran, entah membeli senjata ataupun menjual senjata.


Paviliun Wuki sangatlah cukup terkenal di kota Xuilin, Paviliun Wuki sendiri didirikan oleh seorang master bela diri yang asal-usulnya tidak ada yang ketahui. Namun dari berita yang beredar, pemilik Paviliun Wuki berasal dari wilayah Utara. Tempat yang selalu tertutupi salju sepanjang tahunnya.


Pandangan Shua Xie beralih lagi, menyapu wilayah sekitar Paviliun Wuki yang banyak di datangi para pendekar. Hal itu meyakinkan bahwa kualitas senjata dari Paviliun Wuki sangatlah bagus.


"Ayo masuk," ucap Shua Xie setelah cukup puas mengamati keadaan Paviliun Wuki. Shua Xie berjalan santai, melewati para pendekar memasuki pintu masuk bersama Chi Su.

__ADS_1


Setelah dia berhasil masuk, pandangannya dijamu oleh banyaknya senjata-senjata yang terpajang. Dan setiap senjata itu, dijaga oleh para pegawainya.


Chi Su terpukau saat dia melihat isi Paviliun Wuki, karena ini adalah pertama kalinya dia memasuki Paviliun Wuki. Dulu saat Chi Su dan Ogher  mendatangi Paviliun Wuki, Ogher memintanya menunggu di luar saja, dengan alasan tidak baik perempuan sepertinya masuk.


Chi Su tak tahu, kenapa Ogher memberinya alasan seperti itu, tapi setelah melihat bagaimana isi Paviliun Wuki tampak tidak berbahaya untuk seorang perempuan.


Sua Xie mengedarkan pandangannya, sampai ia melihat sebuah tangga naik ke bangunan ke dua. Shua Xie berjalan mendekati tangga itu dan menaikinya secara perlahan.


Keadaan Paviliun sangat ribut dikarenakan begitu banyaknya pendekar berdatangan. Shua Xie tidak tahu, kenapa Paviliun Wuki banyak dikunjungi pendekar hari ini, kemungkinan dikarenakan adanya senjata baru yang akan dijual?


Setelah berhasil naik ke lantai dua, kali ini keadaan di lantai dua tidak seramai lantai pertama. Shua Xie bisa melihat para pendekar di lantai dua, ialah pendekar dari keluarga bangsawan atau pendekar yang memiliki uang cukup banyak.


Jadi bisa Shua Xie definisikan, bahwa semakin tinggi tingkat lantai yang dinaiki, maka akan semakin tinggi harga senjata yang dijual.


Shua Xie menatap ke sekitarnya, cukup banyak para pendekar tengah melihat-lihat senjata. Tapi kedatangan Shua Xie bukanlah untuk membeli senjata, dia masih memiliki cukup banyak senjata yang bahkan lebih berkualitas dari senjata di Paviliun Wuki.


Pelan-pelan Shua Xie berjalan menuju lantai ke tiga, cukup penasaran seperti apa lantai tiga. Mengikuti salah satu rombongan pendekar yang berjalan di depannya. Namun saat dia akan menaiki tangga tersebut, seorang penjaga tangga itu menghentikannya.


"Maaf, silakan tunjukkan kartu khusus," ucap penjaga tersebut sambil memberikan tangannya pada Shua Xie. Meminta kartu khusus yang dia maksud.


Shua Xie terdiam, kemudian dia menatap Chi Su yang memberikan ekspresi tidak mengetahuinya apa-apa padanya. Shua Xie hanya bisa menghela nafas melihat Chi Su mengangkat bahunya.


Shua Xie kembali menatap penjaga di depannya, "Seperti apa kartu khusus?" tanya Shua Xie.


Penjaga itu mengerutkan keningnya, menatap Shua Xie dengan tatapan tidak percaya.


"Kau tidak tahu kartu khusus?" Penjaga itu bertanya balik, tapi Shua Xie tidak menjawab apapun. Membuat penjaga itu mengerti, sepertinya gadis berjubah hitam itu adalah pendatang baru di kota Xuilin.


"Bisakah biarkan aku sekali saja masuk, ada sesuatu yang harus kulakukan di atas sana," balas Shua Xie dengan nada dibuat polos. Menunjukkan karisma kelemahannya agar mampu membuat penjaga itu terpengaruh.


"Sudah tidak memiliki kartu masih saja ingin masuk, dasar tidak tahu malu. Kau pasti adalah orang miskin yang ingin bertemu Master besar!" Tiba-tiba saja muncul suara lain dari arah belakang. Dari seorang gadis berpakaian layaknya pendekar dari keluarga bangsawan.


Perempuan muda itu, datang bersama rombongannya yang berkisar 5 orang. Salah satu pria berbaju kuning mendekati perempuan muda itu lalu menepuk pundaknya.


"Laila, apa kau ingin mencari keributan lagi?" ucap pemuda berbaju kuning.


Perempuan muda yang bernama Laila itu memutar bola matanya, raut wajahnya semakin terlihat merendahkan seseorang.


"Aku hanya mengatakan kenyataannya. Tidakkah kau lihat penampilannya sangat miskin? Kau pasti lihat kan Tu Mo," balas Laila sinis seakan menyinggung Shua Xie.


Chi Su membulatkan bola matanya, dia menatap Laila cukup tajam penuh ketidaksukaan. Tentu saja tidak suka jika Nonanya yang merupakan Putri dari kerajaan Xuilin dihina miskin!


"Apa maksudmu mengatakan Nonaku miskin!" sahut Chi Su dengan nada tidak senang, bahkan Chi Su memberikan tatapan tajam.


"Ya memang kamu miskin!" balas Laila semakin keras.


Tu Mo menggelengkan kepalanya, kemudian dia melewati Laila menghadap pada Chi Su. Tentu saja Tu Mo ingin meminta maaf akan sikap temannya Laila, agar tidak terjadi keributan yang tidak seharusnya terjadi.


"Nona, maafkan kami. Dia memang seperti itu, aku harap kalian bisa memakluminya," ucap Tu Mo dengan sopan.


Melihat Tu Mo meminta maaf akan tindakannya, Laila memasang wajah tidak senang. Dia mendekati Tu Mo lalu memarahinya, "Kenapa kau minta maaf! Aku hanya mengatakan kebenarannya! Dia tidak mampu dan membuat kita harus menunggu seperti ini!"

__ADS_1


Di sisi lain, pemuda berpakaian hitam putih, berpirang merah di ujung rambutnya. Tampak menghela nafas, sepertinya pemuda itu tidak menyukai tindakan temannya, Laila. Dia pun berinisiatif akan mengajak ke dua Nona tersebut sebagai permintaan maaf atas tindakan tidak sopan dari temannya.


"Nona ikutlah dengan kami naik ke atas, anggap saja sebagai permintaan maaf atas tindakan temanku yang kurang mengenakan ini," ucap pemuda itu dengan sopan.


"Kakak Kun, kenapa kau mengajak mereka!?" sahut Laila tidak senang.


Chi Su menatap tajam pemuda itu, karena tindakan Laila sangat menyinggung perasaannya. Rasa sukanya pun tersebar pada rekan Laila, walaupun sebenarnya mereka tidak bersalah.


"Apa kau pikir Nonaku sangat miskin sampai kau membawa kami masuk!?" sahut Chi Su tidak senang.


"Aku setuju," sahut suara lain yang tidak lain adalah Shua Xie. Shua Xie tampak bereaksi biasa saja, setelah dirinya dihina oleh perempuan tidak dikenal. Karena tujuan Shua Xie ke Paviliun Wuki bukan untuk berkelahi.


Menurut Shua Xie, tidak ada untungnya dia memikirkan celoteh dari perempuan bernama Laila itu. Lebih baik dia menerima ajakan pemuda itu dari pada memperdulikan hinaan Laila. Akan ada untungnya jika dia merendah sedikit walau statusnya mungkin lebih tinggi dari rombongan pemuda itu.


"Dasar tidak tahu malu! Aku tauh kau pasti akan menerima ajakan Kakak Kun!" sahut Laila cukup keras.


Tu Mo memukul bahu Laila, benar-benar tidak senang akan sikap temannya itu. Sungguh kekanak-kanakan.


"Laila, berhentilah bersikap seperti bocah! Aku yakin Senior Kun tidak senang dengan sikapmu!" tegas Tu Mo.


Laila tidak menggubrisnya ucapan Tu Mo, justru dia menjulurkan lidahnya pada Tu Mo seakan meledek Tu Mo sangat banyak bicara. Tu Mo sendiri hanya bisa bersabar sambil menghela nafas pelan, memiliki teman seperti Laila memang membutuhkan kesabaran tinggi.


Kun pemuda yang mereka maksud berjalan mendekati Shua Xie atau lebih tepatnya berdiri dekat Shua Xie lalu memberikan kartu khusus pada penjaga tangga. Penjaga itu menerima kartu itu dengan ramah lalu mempersilahkan Shua Xie dan lainnya naik ke atas.


Kun menatap Shua Xie, "Jangan hiraukan Laila. Dia memang seperti itu," ucap Kun lalu dia berjalan meninggalkan Shua Xie.


Shua Xie menatap datar pemuda yang bernama Kun itu, walaupun ucapan Kun tadi memang ada benarnya, mengingatkan Shua Xie untuk tidak terpancing. Tapi tetap saja Shua Xie memasang sedikit ketidaksukaan, pasalnya Kun berbicara padanya dengan nada sedikit dingin. Seakan sedang mengintimidasi Shua Xie.


'Suka atau tidak dia telah membantuku. Tidak ada salahnya bukan aku bersikap baik sesekali,' ujar Shua Xie dalam hatinya.


Di depannya perempuan yang baru saja merendahkannya, melewatinya dengan cepat sambil memberikan tatapan sinis pada Shua Xie. Seakan memperingati Shua Xie untuk tidak bertindak macam-macam karena telah dibantu Kun.


Setelah perempuan muda itu, Tu Mo ikut menyusul. Namun sebelum itu, dia sempat menyapa Shua Xie dengan senyuman hangat.


"Jangan hiraukan dia, dia memang seperti itu. Aku yakin  suatu saat kau akan menyukainya," ucap Tu Mo cukup ramah.


Chi Su yang juga mendengar ucapan Tu Mo langsung menyahutinya dengan suara tidak terlalu keras. Namun bisa didengar oleh Tu Mo, "Bagaimana kami bisa menyukainya dengan sikap tidak tahu sopan santunnya itu!"


Chi Su sangat tidak setuju akan ucapan Tu Mo. Mengatakan bahwa Nonanya suatu hari akan menyukai Laila, bagaimana mungkin? Dengan sikap seperti itu, sangat mustahil Laila bisa menemukan banyak teman.


Berbeda dengan Shua Xie, dia justru memberikan tanggapan lain. Shua Xie tersenyum kecil mendengar ucapan Tu Mo, kemudian dia membalas Tu Mo dengan satu kata yang membuat Chi Su menatapnya terkejut.


"Mungkin," ucap Shua Xie.


"Nona, anda setuju dengan ucapannya?" sahut Chi Su setengah berbisik.


"Tidak juga, tapi bisa juga iya. Karena sudah mungkin suatu saat mereka menjadi pengikutku. Atau lebih tepatnya menjadi prajuritku," jelas Shua Xie di akhiri dengan senyuman sinis.


_____________


A/N : Baik di awal bukan berarti Shua Xie sudah berbaik hati. Hohoho kepo kelanjutannya, tunggu besok ya. Jangan lupa like dan vote gaes 😁 aku butuh dukungan kalian. Makasih juga udah mau baca cerita aku yg gaje ini, dan maap juga kemarin gak up karena data Author dah habis 😅 sekalian nunggu hp ku bagus. Dan alhamdulillah udah bagus. Aku usahakan ke depannya lancar upnya.

__ADS_1


__ADS_2