
"Kalian siapa? Kenapa menghalangi jalan kami?" Xingxing mengenyit heran menatap tiga orang yang tiba-tiba datang menghentikannya, seingat Xingxing dia tidak mengenal mereka bertiga. Bahkan wajah tiga pemuda itu terlihat sangat asing baginya.
Siang ini Xingxing berserta pengawalnya berniat pulang ke kota Haiyang karena panggilan mendesak dari Kaisar Wexin, Ayahnya. Bahkan mereka sudah dalam perjalanan dan beberapa hari lagi akan tiba di kota Haiyang.
Para pengawal Xingxing telah bersiap dengan senjata mereka, berdiri di depan Xingxing seperti tameng.
"Aku Menma, dan dua pria ini Kakakku. Kami hendak pergi ke kota Haiyang, tidak apakah kami ikut bersama kalian? Kami lihat tujuan kalian menuju kota Haiyang," jawab salah seorang dari tiga pemuda yang menghalang Xingxing. Gadis bermata perak mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya terkecuali wajahnya yang pucat.
"Jangan dengarkan mereka Tuan Putri. Bagaimana jika mereka adalah penjahat?"
"Benar, penampilan mereka juga sangat mencurigakan."
"Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan mereka, tapi demi mencegah hal buruk sebaiknya kita tidak membawa mereka."
Xingxing mendengar pendapat dari para pengawalnya yang sudah lebih awal menolak permintaan tiga pemuda itu. Sejujurnya dia juga sependapat dengan para pengawalnya, membawa seseorang yang tidak dikenal bukanlah hal baik, terlebih lagi penampilan tiga pemuda itu cukup mencurigakan, mengenakan jubah hitam di siang hari yang panas sedangkan semua orang merasa gerah karena cuaca.
Mendengar ucapan para pengawal Xingxing, salah satu dari tiga pemuda itu kembali berbicara. "Kami akan membantu kalian seandainya terjadi sesuatu pada kalian. Kami jamin akan hal itu."
"Kenapa kalian ingin ikut bersamaku? Kenapa kalian tidak berjalan sendiri?" Kini Xingxing yang bertanya. Dia masih memiliki rasa simpati meski rasa curiganya lebih besar.
"Kami bukanlah penduduk kota Haiyang, sedangkan jika ingin memasuki kota Haiyang harus memiliki plakat izin. Jadi kami hanya ingin ikut menumpang masuk bersama kalian."
"Kalian tidak perlu curiga dengan kami. Kalian bisa membiarkan kami berjalan kaki bersama prajurit yang lain, kami tidak berniat jahat pada kalian."
"Bagaimana aku bisa mempercayai ucapan kalian? Aku bahkan tidak mengenal kalian?" Xingxing menatap tajam perempuan yang terus membujuknya. Perempuan bermata perak itu, entah kenapa mengingatkan Xingxing dengan seseorang.
"Kamu bisa melakukan apapun kepada dua Kakakku. Apakah bukti itu masih belum cukup?" Ucapan gadis bermata perak itu membuat ke dua pemuda di sampingnya terbelalak menatapnya. Jangankan mereka berdua, Xingxing dan pengawalnya saja ikut terkejut karena perkataannya.
"A-apa yang kamu ucapkan?! Kamu pikir aku ini perempuan apaan!" Wajah Xingxing bersemu merah, tidak menyangka perempuan bermata perak itu rela memberikan ke dua kakaknya pada Xingxing tanpa Xingxing minta.
"Menma, apa yang kau katakan? Kau menjual kami pada bocah itu?" bisik salah satu pemuda di samping gadis bernama Menma itu. Tidak menyangka Adiknya ini menjual Kakaknya sendiri tanpa persetujuan atau pembicaraan sama sekali.
"Aku bahkan belum menganggapmu sebagai Adikku, tapi kau sudah dengan mudahnya menjual kami. Enak sekali dirimu, ya ...," bisik pemuda satunya di telinga kanan Menma.
"Sssttt ... tenanglah. Aku tahu apa yang aku lakukan, kalian ikut saja," balas Menma tanpa mengalihkan pandangnya dari Xingxing.
Xingxing malu karena perkataan Menma, alhasil pengawal pribadi Xingxing lah yang menggantikan gadis itu berbicara. Pria dengan rompi perang lengkap maju dengan langkah gagah, pria berambut pirang kuning itu memiliki iris mata jingga yang cantik.
"Kamu jangan bicara sembarang, Tuan Putri kami bukanlah gadis seperti itu. Sebaiknya kamu pergi dari pada aku membunuh kalian bertiga di sini," ancam pria itu tegas dengan raut wajah sangat dingin.
"Mundur Azura."
"Tapi, Tuan Putri."
"Kamu menentangku?" Xingxing menatap tajam pria bernama Azura itu yang tidak lain ialah pengawal pribadi Kaisar Wexin yang diutus untuk menjemput Xingxing di sekte Kunlun. Azura menunduk, tentu tidak berani menentang perkataan Xingxing, dengan rasa patuh sebagai bawahan dia pun mundur sesuai perintah sang majikan.
"Anak singa, aku tertarik padamu."
__ADS_1
"Apa?!" Semua menatap Menma bingung, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Menma. Tiba-tiba menyebut anak singa, siapa yang Menma maksud anak singa?
Melihat reaksi mereka sedikit berlebihan, Menma pun berdehem pelan, merasa kalau ucapannya tadi tampaknya telah membuat mereka semua salah paham, termasuk Azura yang kini menatapnya sangat tajam seakan sedang menatap mangsa.
"Maksudku, dia tampak seperti anak singa, sangat garang dan kuat. Tidak salah jika dia menjadi pengawal anda," jelas Menma menerangkan maksud perkataannya. "Bukankah begitu, Azura?" Menma mengedipkan sebelah matanya pada Azura, tentu membuat dua pemuda di dekatnya membelalak besar. Namun Azura tidak bergeming dengan godaan Menma, wajahnya masih saja dingin seperti biasa.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan," balas Azura datar, tidak berniat sependapat dengan ucapan Menma. Tapi Menma hanya tertawa kecil, mengerti sikap dingin Azura padanya. Siapa dia? Dikenal saja tidak tapi sudah bermain mata, tentu saja membuat citranya buruk di mata Azura.
"Lalu bagaimana? Apakah kalian mau membawa kami? Aku jamin ke dua Kakakku bisa memuaskan. Mereka tampan dan juga lembut-"
"Berhenti mengatakan hal menjijikan itu, kalian boleh ikut tapi kamu harus satu kereta denganku!"
"Tuan Putri?!!"
"Setuju!"
***
Suara ketukan kaki terdengar jelas, itu milik suara dari beberapa prajurit dan pengawal yang sedang berjalan di bawah terik matahari. Tiga pemuda yang beberapa waktu menghentikan rombongan mereka juga ada dalam rombongan prajurit itu. Sedangkan satu dari tiga pemuda ada di dalam kereta karena permintaan sang gadis kecil yang dituntun pulang ke kota kelahirannya.
Menma sejak tadi menyandarkan kepalanya di jendela dengan menopang menggunakan tangan kirinya. Pandangan Menma lurus menatap seorang pemuda bermata jingga yang jelas tidak memedulikan tatapannya.
"Ck, keras kepala juga tapi aku suka ... biasanya semakin sulit didapat akan semakin menyenangkan." Itu perkataan yang Menma ucapkan tanpa sadar. Gadis kecil bernama Xingxing juga terus menatapnya lekat seakan tengah mencari sesuatu darinya.
"Kamu menyukai, Azura?" tanya Xingxing yang sudah tidak tahan ingin tahu jawabannya, pasalnya sejak beberapa waktu mereka naik kereta pandangan Menma terus tertuju keluar, lebih tepatnya pada Azura.
"A-apa? Pria-mu?" Xingxing tidak bisa menutupi rasa terkejutnya karena perkataan Menma. Azura memang terlihat tampan, tapi dia tahu jelas Azura sangat tidak suka didekati gadis manapun. Bahkan saat berbicara dengan keluarga kerajaan pun Azura masih terlihat dingin dan acuh. Tak terpikirkan olehnya jika Menma akan meminta Azura secara terang di depannya.
"Ti-tidak bisa!" Xingxing langsung menolak permintaan Menma. Seketika saja raut wajah Menma berubah masam, seperti seseorang yang baru saja ditolak sehabis menyatakan cinta.
"Kenapa?"
"Karena dia bukan prajurit biasa. Jika kau ingin meminta prajurit lain, mungkin aku bisa mengabulkannya, tapi kalau Azura ... maaf kamu tidak akan bisa memilikinya." Xingxing berkata masih dengan nada lembut, sengaja karena dia tidak ingin membuat Menma kecewa atau pun marah. Lagi pula Xingxing bukan seperti saudaranya yang lain, yang tidak akan peduli perasaan para rakyat saat berkata.
"Apa karena dia kuat? Sepertinya Azura berbeda dengan prajurit lain. Apakah dia prajurit yang dikhususkan hanya untuk keluarga kerajaan Xin? (Nama marga keluarga Kaisar Wexin)." Menma menerka tanpa pandangannya beralih dari gadis kecil di depannya.
Sejenak Xingxing bungkam, bukan tidak ingin menjawab tapi karena dia tidak boleh menjawab pertanyaan yang satu ini. Keluarga Xin melarang mereka mengungkapkan tentang Azura kepada siapapun, bahkan tidak banyak pejabat kerajaan mengetahui jelas tentang Azura.
"Maaf aku tidak bisa memberimu jawaban. Namun yang pasti kamu tidak akan bisa memilikinya," balas Xingxing pelan.
Menma terdiam untuk waktu sesaat sebelum akhirnya dia berbicara setelah tersenyum tipis. "Waktu kali aku pertama melihatnya, aku tertarik padanya, tidak ... mungkin aku lebih tertarik pada matanya." Menma mulai menjelaskan dan tentu saja tidak dapat dipahami Xingxing dengan jelas.
"Kenapa kamu menceritakannya padaku?" Di antara banyaknya pertanyaan kata inilah yang lebih ingin Xingxing ketahui jawabannya. Xingxing bahkan tidak meminta Menma untuk menjelaskan alasan kenapa dia bisa menyukai Azura, tapi Menma sendiri yang ingin menjelaskannya dan tentu membuat Xingxing penasaran.
"Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja faktor karena aku menyukainya." Xingxing melenguh karena jawabannya. Jawaban yang memang sangat sering Xingxing dengar dari kaum wanita lainnya.
'Aku sudah duga dia tertarik dengan ketampanan Azura, tidak salah sih ... bahkan wanita-wanita kota Haiyang begitu mengagumi Azura. Tapi menurutku, ke dua Kakak yang bersama Kakak perempuan ini juga tidak kalah tampan. Jika mereka tiba di kota Haiyang, aku yakin akan terjadi kerusuhan.'
__ADS_1
"Gadis kecil, aku sangat ingin bertemu dengan keluarga kerajaan Xin. Sebab itulah aku sangat ingin ikut bersama rombongan kalian, tidak ku sangka kau akan dengan begitu mudahnya membawa kami." Menma tersenyum lagi dan membuat perasaan Xingxing mendadak aneh, bukan cinta namun takut karena perkataan Menma barusan.
"Jadi kalian memang seorang penjahat?" Tebak Xingxing sedikit panik, tentu sikapnya membuat Menma melepaskan tawa kecil sembari dia memegang perutnya.
"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Tidak ada, hanya saja aku tidak menyangka kamu adalah gadis sepolos ini. Kamu beruntung aku bisa ikut bersamamu." Menma menghentikan tawanya dan menggantinya dengan senyumannya lagi. Punggungnya bersandar begitu nyaman pada kursi kereta.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu?"
"Kamu akan tahu sendiri ... semua membutuhkan waktu. Oh ya, ku dengar kamu mengenal Shua Xie?" Mendengar topik lain dari Menma, raut wajah Xingxing berubah drastis. Antara senang dan sedih, dan tentunya sikapnya itu bisa dibaca jelas.
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia sudah ku anggap seperti Kakak perempuanku," balas Xingxing sedikit lirih.
"Lalu kenapa kamu bersedih begitu? Apa Kakakmu itu sudah mati?"
"Tidak mungkin! Dia sangat kuat!" Xingxing membantah dengan cepat.
"Lalu? Wajah sedihmu itu untuk apa?" Selidik Menma namun Xingxing tak menjawab, wajahnya muram terlihat jelas sangat bersedih ketika membahas tentang Shua Xie. Sepertinya ada yang telah terjadi pada gadis itu dan Shua Xie.
"Baiklah kalau kamu tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksa. Lagi pula aku tidak penasaran dengannya." Menma menghela nafas pelan, merasa sedikit bersalah membuat Xingxing mendadak sedih. Dari pada melanjutkan lebih baik diam dan menunggu waktu tepat bagi Xingxing untuk menceritakan. Lagi pula dia juga tidak penasaran apa yang terjadi di antara mereka berdua.
"Dia berubah!" Xingxing mendadak menjawab, tapi terlalu cepat.
"Hmm?" Alis Menma naik sebelah, tidak jelas ingin meminta Xingxing melanjutkan perkataannya.
"Dia berubah, sangat dingin dan acuh. Dia bertingkah seakan tidak mengenalku ... padahal dia pernah berjanji sesuatu padaku." Wajah murung itu kembali. Xingxing mengusap ke dua matanya yang terasa perih dengan cepat sebelum air jatuh dari pelupuk matanya itu. "Salahku juga percaya padanya! Tidak masalah, aku juga sudah melupakannya! Mari kita bahas topik yang lain saja."
Melihat gelagat Xingxing begitu aneh Menma juga merasa tidak ada salahnya mengganti topik sebelum gadis kecil itu menangis dalam keretanya. Meski pun sedikit terbesit di pikirannya apa yang diperbuat Shua Xie sehingga Xingxing menjadi seperti sekarang.
"Aahh ... dia memang pandai merusak karismaku. Dasar dia!" Entah sengaja atau tidak Menma seakan sedang mengumpat Shua Xie. Dan Xingxing sadar akan perkataannya itu.
"Kamu mengenalnya ya?"
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas kami tidak cocok, jika bertemu lagi dengannya aku mungkin akan menghabisi nyawanya. Tapi sayang sekali seseorang memintaku untuk mengampuninya." Jawaban Menma yang tak begitu bisa dipahami membuat kening Xingxing berkerut.
"Apa kalian berdua memiliki masalah?" Selidik Xingxing.
"Dia yang bermasalah denganku. Aku pikir dia gadis yang baik, ternyata aku saja yang salah menilai seseorang dari kehidupannya. Jika saja dulu aku tidak ... ah, lupakan saja. Aku malas membahas tentangnya. Oh ya, sepertinya kita kedatangan tamu-tamu tidak diundang."
"Tamu tidak diundang? Maksudmu?" Xingxing memperhatikan Menma begitu lekat, masih tidak paham apa yang dimaksud dari perkataan Menma. Tepat setelah itu, kereta kuda mendadak berhenti. Membuat rasa penasaran Xingxing untuk mengetahui kenapa prajurit menghentikan jalan kuda.
"PARA BANDIT MENYERANG!!"
_________
A/N : apa lagi yang ingin kau lakukan Shua, ups maksudnya Menma. Xingxing pula yang dia dekati. Btw Ogher apa kabar?
__ADS_1