
Kepala Shua Xie langsung miring ke samping, matanya menatap ke arah pintu, dia dapat melihat ada Xue Mire di sana, sedang berdiri dengan raut wajah sulit Shua Xie gambarkan. Shua Xie seketika bersikap tegang dan langsung berdiri dan mendorong Lou Yue sekuat mungkin, tiba-tiba saja tenaganya yang hilang entah kemana langsung kembali berkali puluh lipat.
Lou Yue yang terpukul mundur hanya bisa pasrah hingga punggungnya menabrak lemari kecil cukup leras, membuat mulutnya melepaskan ringisan kecil. Lou Yue membulatkan matanya sedikit terkejut, sebab kekuatan Shua Xie lebih kuat dari pada yang dia duga. Padahal dia sudah menyerang menggunakan jarum pelumpuh sementara saat dia menjentikkan jarinya, tapi ternyata jarum itu tidak cukup mampu menahan lebih lama kekuatan Shua Xie.
Semua dia lakukan agar di antara dia dan Shua Xie tidak ada pertarungan, mengingat Shua Xie semakin membenci Lou Zho saat kematian Shu Chin berakhir di depan matanya.
Shua Xie berjalan mendekati Xue Mire dengan raut wajah datar namun kentara kalau dia sedang tegang. Untunglah dia sedang mengalami prosesi menapaki jalan abadi, jadi semua perasaannya akan hal duniawi telah terlepas sementara, saaat ini wajahnya hanya bisa satu karakter saja, dingin. Namun walau wajahnya bersikap dingin, tapi tidak dengan hatinya. Semua emosional masih melekat di hatinya, bisa dikatakan wajahnya itu hanya topeng menutupi perasaanya.
Shua Xie menatap Xue Mire dingin, namun kebenaran di balik tatapannya itu dia sedang merasa canggung dan gugup. Bagaimana mungkin dia merasa malu sendiri seolah sedang tertangkap basa berpacaran dengan kekasihnya, tapi begitu untuk gadis yang tak pernah memikirkan masalah cinta, saat orang mulai berpikir dia sudah berbumbu cinta, dia tidak bisa menerima namun tak pandai bersilat mulut. Mungkinkah bocah ini sudah menyaksikannya dari awal? Tebak Shua Xie.
"Xue'er, kapan kau ada di sini?" tanya Shua Xie dengan nada datar.
Xue Mire sedikit mengerutkan keningnya, tidak suka mendengar nada bicara Shua Xie begitu dingin terhadapnya. Apakah dia ini orang asing di mata Shua Xie?
"Sejak aku melihat kekasih Kak Shua mencium kening Kak Shua," jawab Xue Mire jujur seperti yang mana pertama kali dia lihat. Gadis berawak polos sepertinya, jika ditanya apa saja mungkinkah dia akan jujur? Ah, betapa memalukannya Shua Xie saat mengetahui bocah ini sudah melihat yang tak seharusnya dilihat.
Sebenarnya Xue Mire datang ke kediaman Shua Xie sebab ingin memberitahukan Shua Xie bahwa Ayahnya diangkat menjadi Jenderal di kerajaan Bora. Tidak hanya itu, keluarganya juga diberikan tempat tinggal yang sangat besar daripada tempat tinggal dulu, kenyamanan dan keamanan pun dijamin, tidak ada lagi keributan seperti dulu lagi. Bahkan Raja Xui Sukong juga mengadakan pesta kecil beberapa jam lagi, mengingat hari sudah menjelang sore, beberapa jam lagi malam akan menyapa.
Xue Mire bertanya tempat kediaman Shua Xie berada pada setiap prajurit yang dia temui, walau pun cukup memakan banyak waktu, tapi akhirnya dia bisa tiba di kediaman yang bahkan lebih besar dari pada kediamannya. Xue Mire takjub melihat betapa besarnya kediaman yang Shua Xie tinggali. Sempat Xue Mire berpikir dia ingin tinggal bersama Shua Xie jika Shua Xie mengizinkannya, banyak hal ingin Xue Mire pelajari dari Shua Xie.
Namun siapa sangka, bocah 11 tahun akan melihat hal senonoh yang tak seharusnya dia lihat. Bukannya menutup mata karena malu, Xue Mire justru bertingkah sebaliknya, dia bahkan terharu melihat betapa romantisnya cinta Lou Yue pada Shua Xie. Namun sayangnya sang gadis memiliki kedinginan hati yang sulit disentuh.
Xue Mire menatap manik mata Shua Xie, dia sedikit terkejut baru menyadari dua bola mata memiliki warna iris mata yang berbeda, sungguh indah dan cantik, terlebih lagi wajah Shua Xie juga semakin bertambah cantik. Seakan pahatan indah ini sengaja dipertontonkan di dunia agar mereka merasakan, betapa tidak adilnya Dewa menciptakan kecantikan berbeda-beda.
"Xue'er, lain kali kalau ingin masuk jangan lupa ketuk pintu. Tidak sopan masuk sembarangan tanpa izin dari pemiliknya, untunglah kau melakukan hal ceroboh ini padaku, jika bukan. Aku yakin kau pasti akan dimarahi atau bahkan dituduh yang tidak-tidak. Lain kali jangan lakukan hal seperti ini, kau paham?" ujar Shua Xie memperingatkan untuk tidak bertingkah ceroboh di kerajaan Bora. Meski Shua Xie yang mengajak keluarga itu tinggal di kerajaan, namun bukan berarti mereka bisa bertindak sesukanya, hanya karena Shua Xie memiliki hak pemimpin di kerajaan ini. Shua Xie pun juga punya batas, lagi pun kerajaan Bora sepenuhnya milik Xui Sukong bukan miliknya, hanya saja Xui Sukong tunduk padanya.
Xue Mire menganggukkan kepalanya pelan, raut wajahnya berubah memperlihatkan ekspresi merasa bersalah, "Baik. Aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Xue Mire lemah sambil menundukkan kepalanya.
Shua Xie tersenyum tipis, kemudian dia mengangkat tangannya dan menjatuhkannya tepat di kepala Xue Mire. Xue Mire sedikit terkejut akan perlakukan Shua Xie, namun dia tidak menolak sebab merasakan kehangatan besar saat tangan itu menyentuh kepalanya.
"Anak baik. Aku tahu Xue'er pasti akan menurut." Tangan Shua Xie bergerak pelan mengelus rambut Xue Mire lembut, memperlihatkan di balik wajah dingin gadis ini memiliki kelembutan yang tak terduga namun jarang dia perlihatkan.
Xue Mire mengangkat kepalanya, menatap wajah Shua Xie penuh rasa kehangatan. Walau pun raut wajah Shua Xie terlihat begitu dingin seolah tidak ada rasa kasih peduli di hatinya, namun kenyataanya, gadis berwajah dingin itu mampu membuat Xue Mire merasa hangat.
Tapi yang membingungkan Xue Mire ialah kenapa raut wajah Shua Xie begitu dingin dan datar tapi sebaliknya sikap gadis itu terhadapnya sangat lembut penuh kasih. Apakah Shua Xie hanya punya satu ekspresi wajah saja? Tebak Xue Mire asalan.
Di sisi lain, Lou Yue menatap ke dua gadis itu hangat, hingga tak terasa bibirnya mengulum senyuman tipis. Seperti yang Lou Yue duga, Shua Xie tidaklah dingin seperti wajahnya. Tapi gadis itu benar-benar cerdik menyembunyikan perasaannya. Hingga banyak orang tak menyadari bahwa gadis berwajah dingin itu memiliki perasaan yang rapuh, jangan tertipu, dia mungkin dingin dan beringas saat bertarung, namun berbeda saat berhadapan dengan perasaanya sendiri.
Lou Yue berjalan mendekati dua gadis itu tenang tanpa mengingat kejadian yang baru saja dia buat, ketika sudah dekat, Lou Yue menatap ke arah Xue Mire sambil mengedipkan matanya, membuat bocah itu terkesima seketika.
"Nona kecil, kuharap apa yang kau lihat hari ini jangan pernah beritahu siapapun," ucap Lou Yue lembut dengan senyuman hangat.
Xue Mire mengedipkan matanya beberapa kali, melihat wajah Lou Yue begitu tampan membuat perasaannya tak menentu. Namun di satu sisi dia bahagia, melihat Shua Xie memiliki kekasih secara diam-diam.
Apakah gadis wajah dingin itu malu mengakui jika dia sedang kasmaran dengan seseorang?
"Kakak tampan, apakah kau kekasih Kak Shua?" tanya Xue Mire antusias tanpa berpikir panjang. Melihat betapa tampannya pria berambut putih dan bermata biru jika dilihat lebih dekat lagi, Xue Mire bahkan merasa jatuh hati melihat ketampannya Lou Yue. Apalagi Lou Yue memberikan senyuman hangat untuknya. Jika wanita tidak mengakui betapa tampannya Lou Yue, maka wanita itu sedang buta, itu hanya pemikiran Xue Mire saja.
Lou Yue semakin melebarkan senyumnya tatkala dia mendengar ucapan polos kekuar dari mulut bocah di hadapannya.
"Aku tunangannya, jadi apakah Nona kecil bisa menjaga rahasia ini?" tanya Lou Yue sekali lagi.
Terbelalak Xue Mire mendengar kalimat yang baru saja hinggap di telinganya, apakah dia tidak salah dengar tadi? Tunangan? Sejak kapan? Kenapa dia tidak sadar Shua Xie memiliki tunangan.
Semua orang pasti tidak akan sadar, bagaimana mungkin gadis dingin dan keras seperti memilik tunganan? Bahkan tidak ada satu pun orang yang akan berpikiran sampai ke situ. Kepandaian Shua Xie menyembunyikan perasaannya memang patut Xue Mire berikan tepuk tangan, siapa sangka gadis itu sangat piawai menyembunyikan kekasihnya.
Xue Mire kau saja yang terlalu berpikir banyak!
"Hah? Tunangan? Benarkah? Tentu saja aku bisa jaga rahasia, aku ini paling pandai menjaga rahasia seseorang," balas Xue Mire secepat mungkin. Dengan rasa bahagia bergejolak kuat, seakan Shua Xie ialah kakaknya yang telah lama tidak memiliki kekasih dan kini memilikinya membuat Xue Mire turut senang berkepanjangan.
__ADS_1
Berbeda dengan Shua Xie, dia justru tersedak nafasnya sendiri mendengar ucapan Lou Yue yang begitu tidak masuk akal menurutnya, alasan klasik macam apa itu? Kapan dia bertungang dengan pria seperti Lou Yue? Bahkan di dalam mimpinya saja itu tidak pernah terjadi. Jangankan tidak terjadi, memikirkannya saja Shua Xie enggan, seakan sedang memikirkan hal menjijikan yang tak seharusnya dia pikirkan.
Shua Xie menatap tajam ke arah Lou Yue, dua iris mata berbeda itu mengeluarkan tatapan yang begitu mematikan, membuat Lou Yue merasa seperti diintimidasi oleh sesuatu yang mengerikan. Namun Lou Yue tak kuasa menatap ke samping, alih-alih takut mendapat semburan rohani.
"Lou Yue ******** kau! Kau sudah menciumku seenaknya dan sekarang kau mengatakan kita tunangan! Apa kau pikir kita sedang bercanda?! Omong kosong macam apa itu!" Shua Xie menyembur sekeras mungkin membuat Lou Yue dan Xue Mire terbelalak diam seakan tidak memiliki nyawa. Gadis itu baru saja berteriak menggunakan aliran QI sampai ke dua orang ini tak kuasa menahan beratnya aura mematikan milik Shua Xie.
Wajah Shua Xie mungkin terlihat datar, namun pandangannya menjadi gelap, bagaimana mungkin pemuda di depannya ini seenaknya mengatakan dirinya tunangannya? Apa dia tidak memiliki malu sedikit pun? Kalau pun tidak memiliki malu, tolong jangan bawa Shua Xie ke dalam ketidak maluanmu itu.
Lou Yue memberanikan dirinya menatap ke samping, lebih tepatnya menatap seorang gadis yang sedang membara-bara terhadapnya. Lou Yue memaksakan bibirnya tersenyum, lalu berbicara.
"Anggaplah ini sebagai rasa tanggung jawabku karena telah menciummu. Sebagai pria bertanggung jawab, aku siap kapan pun menika-"
"Bicara apa kau!" Shua Xie segera memotong ucapan Lou Yue, bukan karena tak ingin mendengarkannya, tapi karena dia tidak ingin memperpanjang kesalahpahaman antara dia dan Xue Mire. Bisa-bisa bocah itu berpikiran yang tidak-tidak karena ucapan Lou Yue barusan.
Lou Yue langsung menutup mulutnya, sambil menggaruk lehernya yang tak gatal. Merasa frustasi sendiri akan sikap Shua Xie yang begitu keras, pria mana mau sama wanita galak seperti Shua Xie? Hanya pria berhati sabar saja yang mau, untunglah Lou Yue menerima kekurangan Shua Xie. Apa iya Lou Yue menerima semuanya? Itu masih menjadi perasaan pribadi pria itu.
"Baiklah, aku akan pergi. Anggaplah semua ini tidak pernah terjadi, kau tidak ingin aku bertanggung jawab, aku bisa apa? Memaksa perasaan seseorang bukanlah keahlianku. Tapi dikatakan sekali lagi, aku sudah mencintaimu. Dan kuharap kau juga mencintaiku, walau pun mustahil bagi semua orang, tapi tidak mustahil bagiku. Karena di hatimu saat ini, sudah tertanam namaku." Lou tersenyum semakin hangat, namun tidak bertahan lama. Setelah itu, Lou Yue langsung berjalan keluar kediaman Shua Xie dan menghilang di dalam kegelapan.
Ketika Shua Xie mendengar ucapan Lou Yue, dia hanya mampu terdiam, entah kenapa mulutnya terasa keluh membalas kalimat itu. Telinganya juga sudah mulai memerah padam, yak kuasa mendengar banyaknya gombalan keluar dari mulut seorang pria tegas sepertinya. Namun siapa sangka pria itu begitu lembut di hadapan sang wanita yang dia puja.
Ketika Lou Yue telah hilang, kesadaran Shua Xie kembali ke dalam jati dirinya. Shua Xie langsung mengumpat keras dalam hati, sekeras mungkin tidak akan memaafkan Lou Yue yang bertindak sesukannya, membuat Shua Xie menjadi malu di hadapan banyak orang. Bukan malu karena cinta, namun malu karena pria itu secara terang-terangan mengakui perasaannya tampa peduli tempat, hal itu sama saja merusak reputasi gadis mafia seperti Shua Xie.
"Kak Shua. Tunanganmu baik sekali, romantisnya hanya pada Kak Shua saja. Aku rasa kalian berdua memang sudah bertunangan," ucap Xue Mire sembarangan.
Shua Xie mengalihkan tatapannya pada bocah di depannya, "Jangan bicara sembarangan, kau tidak tahu, di balik sikap lembutnya itu, dia sedang menutupi betapa kejamnya dirinya."
Shua Xie tidak bisa memungkiri, dia bisa merasakan Lou Yue memiliki sisi sifat yang sama sepertinya, terus terang jika suka atau tidak suka. Di balik senyuman hangat mereka berdua, siapa sangka mereka sedang memikul sesuatu berat yang berlawanan.
Shua Xie menyindir dirinya sendiri, percayalah, dibalik semua sikapnya ini, dia adalah orang 0aling rapu di dunia. Tapi kepandaiannya dalam menutupi perasaanya, sapa bisa menduga itu. Dia kejam dan sulit dibaca, matanya tajam memperlihatkan gadis ini telah melewati sukarnya hidup yang dia terjang. Semua orang akan berpikir, gadis ini tidak memiliki perasaan dan kelemahan.
"Xue Mire apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Shua Xie langsung ke intinya, dia tahu bocah di hadapannya ini pasti ingin mengatakan sesuatu padanya, karena tidak mungkin Xue Mire datang ke kediamannya secara percuma.
Xue Mire membuka mulutnya, baru teringat akan tujuannya datang ke tempat ini, "Aku hanya ingin mengatakan terimakasih. Karena Kak Shua, Ayah memiliki pekerjaan lebih baik lagi. Aku dan keluargaku disambut baik di kerajaan ini, bahkan mereka memberikan kami rumah yang besar dan mewah. Aku sangat berterimakasih, atas bantuan Kak Shua," jawab bocah itu dengan senyuman penuh arti.
"Tapi sebentar lagi, Raja Xui Sukong akan memulai pesta. Apakah Kak Shua tidak ingin ikut bergabung?"
"Ah, seperti itu. Baiklah aku akan datang, kau tunggu saja," balas Shua Xie lembut.
Xue Mire memasang senyuman manis, "Baiklah, aku tunggu Kak Shua datang ya."
***
Malam tiba dihiasi sinar bulan, kali ini bulan bersinar lebih terang sebab sedang purnama. Di bawah sinar bulan purnama, sekelompok orang sedang melakukan pesta kecil-kecilan di dalam aula luas. Ruangan itu hampir dipenuhi sekumpulan manusia, sebab Rajanya sendiri mengundang para prajurit ikut berpesta.
Acara awal pesta diisi dengan sambutan kecil dari Raja, kemudian tak lama para pemain musik dan penari mulai menghibur suasana. Banyak canda tawa terdengar di mana-mana, tampaknya semua orang tengah melepaskan beban mereka untuk menikmati betapa nikmatnya pesta kecil ini.
Di pesta itu, hanya satu orang yang belum hadir, siapa lagi kalau bukan Shua Xie. Dia sengaja datang akhir sebab tak ingin menyaksikan pesta membosankan. Namun saat dipenghujung pesta, Shua Xie datang dengan anggunya, mengenakan pakaian hanfu berwarna hijau. Hanfu hijau itu dia dapatkan saat ia tak sengaja mengaktifkan sajak Kutukan di tangan kanannya, membuat pakaiannya berubah seketika. Hiasan kepala bertengger indah di kepalanya, di tambah bulu-bulu ekor merak turun menjuntai ke bawah seperti jubah bulu yang khusus dirajut oleh pengrajut ternaik. Memperlihatkan betapa anggunnya wanita ini.
Walau pun bajunya tidak menutupi betis dan bahu putihnya. Tapi tetap saja dia terlihat elegan di mata banyak orang daripada berpakain seksi.
Kedatangan Shua Xie menjadi pusat perhatian banyak orang, ada sebagian mengenalnya, ada pula tidak mengenalnya. Tidak disangka gadis bermanik mata berbeda itu, bisa memperlihatkan sisi anggunnya sebagai seorang wanita. Namun ekspresi dinginnya tidak hilang dari wajahnya. Sebagian dari mereka kagum akan kecantikan serta keanggunan gadis itu, separuhnya lagi bergidik ngeri melihat wajah dingin itu.
Xui Sukong tersenyum kecil melihat Shua Xie datang setelah lama menunggu kehadirannya, dengan sigap Xui Sukong berdiri dari singgasananya bersama Ratu, Pangeran dan Pejabat Kerajaan lainnya. Diikuti pula dengan para prajurit yang siap berdiri tegap menyambut lewatnya sang Ratu Besar.
Shua Xie berjalan menuju singgasana yang telah dipersiapkan untuknya, singgasana Ratu milik kerajaan Langit yang jatuh di dunia Bawah. Xui Sukong sudah pernah memberitahukannya bahwa singgasana itu akan dia letakkan di aula kerajaan Langit untuk Shua Xie gunakan sebagai bentuk dialah juga pemimpin di kerajaan Bora, di atas tangga paling tinggi di atas singgasana kerajaan Bora di situlah singgasana cantik milik Shua Xie diletakkan. Mungkin sebagian orang menganggap Xui Sukong ini terlalu menjunjung tinggi Ratunya, tapi apalah daya mereka, Xui Sukong sendirilah yang menginginkannya.
"Salam Yang Mulia Ratu Besar!" seru semua orang bersamaan, saat Shua Xie telah duduk di singgasananya dengan anggun.
Shua Xie tersenyum tipis sambil mengangkat tangannya seolah memberi isyarat sapa dari lambaian tangannya itu.
__ADS_1
"Apakah aku datang terlambat?" tanya Shua Xie melirik ke arah Xui Sukong. Tidak perlu ditanya lagi, Shua Xie sudah sadar dia sendiri telah datang terlambat atas kemauannya sendiri, anggaplah pertanyaannya itu sekadar basa-basi belaka.
"Tidak Yang Mulia Ratu Besar," jawab Xui Sukong tegas sambil berdiri dari singgasananya.
"Haih, tidak perlu terlalu formal begitu. Kalian membuatku gugup," ujar Shua Xie sambil memegang dadanya tepat di bagian jantungnya berdetak, "Oh ya ... sudah sampai di mana acara ini?" Lanjut Shua Xie lagi sambil menurunkan tangannya.
"Masih di pertengahan pertunjukan seni, Yang Mulia Ratu Besar," jawab Xui Sukong.
"Oh, lanjutkan. Aku akan melihatnya." Bohong, bukan Shua Xie namanya jika menonton sesuatu yang menurutnya membosankan. Dia tidak tertarik menonton hiburan apapun, kecuali menonton perkelahian, itulah yang menurut Shua Xie lebih seru ditonton.
Acara pesta kembali berjalan, suasana sedikit lebih berbeda dari sebelumnya semenjak Shua Xie telah datang, karena mereka tahu Ratu Besar sangat mudah marah dan tersinggung, jadi mereka lebih memilih menonton dalam diam. Acara berlangsung lumayan lama, membuat Shua Xie duduk termenung kebosanan.
'Inilah hal yang paling membosankan,' keluh Shua Xie dalam hatinya.
Beberapa jam terus berlangsung, hari semakin larut namun tidak menunjukkan adanya tamu merasa bosan dengan acaranya, mungkin hanya Shua Xie satu-satunya yang merasa bosan. Setalah acara selesai semua para tamu berdiri diikuti dengan Shua Xie.
"Sebelum itu, ada hal yang ingin kukatakan," ujar Shua Xie sebelum para tamu bubar dari dalam aula. Mendengar Shua Xie bersuara, banyak mata memandang ke arahnya. Penasaran apakah yang akan dikatakan Ratu Besar itu.
"Keamanan kerajaan ini sangat lemah! Bahkan lemah dari pada pertahanan monster spirit." Shua Xie mengedarkan pandangan dinginnya, siapa sangka Shua Xie akan membahas masalah keamanan kerajaan di akhir pesta, "Apa kalian tidak sadar ada penyusup datang ke kediamanku. Jika saja aku tidak ada, apa kalian tahu resikonya? Aku sungguh kecewa dengan keamanan kerajaan Bora. Lebih lemah dari pada pertahanan monster spirit!" tegasnya lagi sedikit lantang dengan pandangan menghina.
Para petinggi kerajaan dan prajurit geram mendengar ucapan Shua Xie yang menurut mereka berlebih, namun apalah daya, ini memang kesalahan mereka. Yang Shua Xie katakan memang benar, jika saja penyusup itu berhasil melakukan sesuatu di kerajaan Bora? Apa yang akan terjadi ke depannya.
Xui Sukong mendengar Shua Xie kecewa, segara berdiri kemudian membungkuk memberi hormat, melihat Raja mereka memberi hormat, semua orang juga ikut memberi hormat.
"Yang Mulia Ratu Besar, maafkan kami tidak terlalu memperketat keamanan. Hukumlah kami atas kesalahan kami," ujar Xui Sukong menunduk. Semua orang diam tidak ada berani berbicara, menunggu Rajanya itu yang menyelesaikan masalah pada Ratu Besar.
Shua Xie semakin mendinginkan wajahnya, "Apa dengan aku menghukum kalian semua, maka kejadian tadi tidak akan terjadi?" Shua Xie turun dari singgasananya, menuruni anak tangga yang berjumlah hampir puluhan.
"Aku tidak akan melakukan hal itu, tapi aku akan berbagi sesuatu pada kalian. Membantu kalian memperkuat kerajaan Bora, tapi sebelum itu. Kalian semua lawanlah aku, aku ingin melihat seberapa kuat kerajaan Bora yang katanya terkuat nomer dua di antara lima kerajaan. Jika mengecawakan, sebaiknya jangan pernah menganggap kerajaan ini kuat, bahkan kalian semua terlihat seperti semut di tengah kumpulan gajah!"
Semua orang mengangkat kepalanya, otot wajah mereka mengeras kuat tak tahan mendengar penghinaan yang Shua Xie sampaikan. Gadis itu terlalu merasa hebat hanya karena dia Ratu Besar. Ingin melawan semua? Apakah gadis itu tidak kehilangan akal!?
Ming Yun ingin mengangkat suara, namun duluan Xui Sukong berbicara, "Yang Mulia Ratu, kami tidak bi-"
"Lawan aku, bahkan kau pun ikut dengan mereka. Apa kau ingin menjadi kucing yang mengaku singa di tengah kumpulan domba berbulu serigala?" Shua Xie memotong ucapan Xui Sukong tegas dengan pandangan semakin merendah, memperlihatkan tatapan menghinanya pada semua orang.
Semua orang yang mendengar itu semakin geram tidak bisa menahan diri atas penghinaan itu. Berbeda dengan Xui Sukong, dia justru semakin menunduk, malu mengakui dirinya sebagai Raja jika sudah dikatakan seperti itu oleh Shua Xie sendiri.
"Yang Mulia Ratu Besar! Tolong jangan hina Raja kami! Kami tahu anda berkuasa! Tapi tolong jangan hina Raja kami!" teriak seluruh prajurit kerajaan keras.
Shua Xie menatap datar ke arah semua prajurit, namun di dalam hatinya dia turut senang, ternyata mereka begitu menghargai Xui Sukong selaku Raja mereka. Shua Xie sejak tadi sengaja memancing kemarahan mereka, agar para prajurit itu akan melawannya secara bersungguh-sungguh.
Shua Xie merendahkan pandangannya, lidahnya berdecak, "Ckck! Prajurit sama bodohnya dengan Rajanya! Sungguh mengecawakan!" sinis Shua Xie tajam membuat semua orang membulatkan matanya sempurna. Tak mereka sangka gadis itu sangat berani berterus terang menghina Raja mereka.
"Kumpulan sampah!" lanjut Shua Xie.
"Yang Mulia Raja! Mari kita tunjukkan bahwa kerajaan kita tidaklah lemah, kita tunjukkan pada Yang Mulia Ratu Besar bahwa kita bukanlah domba berbulu serigala," seri Jenderal Xiaotian yang sejak tadi sudah geram ingin berbicara.
"Benar Yang Mulia Raja! Ayo kita tunjukkan kerajaan kita sangatlah kuat!"
Xui Sukong mengangkat pandangannya melihat ke belakang, betapa banyak orang yang mendukungnya. Hal itu membuat semangat Xui Sukong kembali berdiri, Xui Sukong memberanikan dirinya berdiri dan menatap ke arah Shua Xie dengan pandangan tenang.
"Kami akan buktikan kerajaan Bora tidaklah lemah seperti Yang Mulia Ratu Besar katakan. Saya sebagai Raja mereka akan berdiri paling depan melawan Yang Mulia Ratu Besar."
Shua Xie menyungging senyuman sinis sedikit tertantang mendengar ucapan Xui Sukong, "Oh, aku cukup terkesan. Mari kita lihat apakah kerajaan Bora memang kuat seperti kalian ucapkan. Jika kalian kalah melawanku, maka kalian hanya sampah yang mengaku bijaksana!"
****
Hehehe maaf ya lama up, soalnya tadi malam saya jalan jadi menulis tidak selesai. Tapi saya tetap up walau terlambat seperti yang saja jadwalkan 😅 lope-lope buat kalian ❤ jaga kesehatan dan jangan lupa mampir ke karyaku yang satunya Pheonix Reincarnation 👑
__ADS_1
oh ya jangan lupa likenya ditinggalkan! saya sedih kalau likenya sedikit 😓 jangan jadi pembaca gelap ya, gak comment gak like lagi 😖 ayo dukung ya like aja gak masalah 😍 oh ya bantu saya meningkatkan rangking Perjalanan Melawan Dunia, sehari 10 vote saja gak papa 😊 kalau lebih saya malah senang.
oh saya memang up 1 bab perhari, namun jumkatnya sampai 2000 atau 3000 kata, bahkan lebih. jadi lebih banyak dari pada up 2 bab, biasanya saya up 2 bab hanya 1000 kata saja 😄 oke itu aja, bye bye sampai bertemu besok 😙