Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 146


__ADS_3

Shua Xie menyeringai tipis, lalu berbalik menatap ke Tetua yang kini menatapnya dengan pandangan terkejut. Dengan jalan santai Shua Xie mendekati Tetua itu.


"Apakah aku menang, Tetua?" tanya Shua Xie dengan nada sedikit angkuh.


Lama Tetua itu tertegun, dia kembali tersadar dan langsung menjawab, "Ah, itu, ya, kau, kau memenangkannya." Nada gugup yang Tetua itu keluarkan membuat Shua Xie semakin menyeringai sinis.


Shua Xie kembali menatap Paviliun Xionglue memberikan tatapan meremehkan pada semua orang yang di sana, tentu saja membuat beberapa penghuni paviliun itu berdecak geram. Seorang murid luar baru saja meremehkan mereka, tidak mungkin mereka hanya duduk diam di sana menyaksikan keangkuhan Shua Xie.


"Tetua, aku ingin menantang lagi murid dalam peringkat sembilan belas," ujar Shua Xie penuh percaya diri membuat para murid yang menonton kembali terkejut. Tidak hanya itu, bahkan Tetua itu merasakan hal yang sama.


"Ini ... terlalu cepat. Biasanya murid hanya diizinkan menantang satu murid dalam satu hari, jika kau ingin menantang murid lain kau bisa melakukannya besok," jelas Tetua itu dengan nada sedikit gugup. Dia hanya masih terkejut dengan kemampuan fisik yang dimiliki Shua Xie.


Shua Xie berdecak pelan, mendengar ucapan Tetua itu membuat semangatnya pudar. Bagaimana mungkin dia harus memerlukan sepuluh hari melawan sepuluh murid, yang benar saja, jika seperti itu maka Daratan Alam Abadi tidak akan pernah dia jumpai. Shua Xie benci situasi seperti di mana dia juga tidak bisa memaksa peraturan yang ada dengan statusnya masih murid luar meski dia telah mengalahkan Senlin murid dalam berperingkat.


Tepat pada saat itu, Jiang Liang dan Tetua Besar datang, mengejutkan banyak murid dan langsung memberi hormat kepada dua Tetua itu. Tidak menyangka Tetua Besar pengurus sekte Kunlun akan datang ke arena tanpa pemberitahuan dari Tetua lain.


"Tetua Fen, aku mengizinkan murid ini menantang murid dalam berperingkat. Jika dia masih ingin menantang biarkan saja," ucap Tetua Besar dengan senyuman tipis namun hangat, tangannya dengan lembut mengelus janggut putihnya, pandangan halus dia tujukan kepada Tetua bernama Fen, pengurus arena pertarungan.


Fen sedikit terkejut, selama hidupnya dia tidak pernah melihat Tetua Besar peduli dengan hal sepele seperti ini, bahkan Tetua Besar sangat jarang memunculkan dirinya dan hanya mengurung di kediamannya dengan alasan sedang meningkatkan kultivasinya, 'Tapi hari ini demi gadis itu, Tetua Besar rela datang ke sini dan memberikan kebebasan gadis itu menantang murid dalam. Apa hubungan gadis itu dengan Tetua Besar?' Fen melirik ke arah Shua Xie, meneliti lebih dalam hubungan apa yang dimiliki Shua Xie dengan Tetua Besar.


Di siai lain Jiang Liang tersenyum kepada Shua Xie memberikan makna tertentu pada gadis itu. Melihat senyuman itu, Shua Xie paham sesuatu, ini pasti ulah Jiang Liang kenapa Tetua Besar bisa datang ke sini. Tapi cukup menguntungkan Shua Xie juga, dengan begitu tantangannya tidak akan tertunda.


'Tetua Jiang, kebaikanmu tidak akan kulupa.' Shua Xie tersenyum tipis, merasa sedikit tersentuh akan kebaikan Jiang Liang kepadanya.


Shua Xie segera menoleh ke arah Fen kemudian berbicara, "Tetua Fen, bagaimana? Apakah aku bisa menantang murid dalam peringkat sembilan belas?"


Fen tersenyum canggung dan segera mengiyakan pertanyaan Shua Xie, "Baiklah, kau boleh melawannya, tapi tetap saja membutuhkan persetujuan dari pihak lawan." Meskipun Shua Xie sudah mendapatkan izin menantang murid dalam, tapi tetap saja Shua Xie tidak bisa main lawan tanpa persetujuan pihak yang dia tantang.


Shua Xie beralih menatap paviliun Xionglue, melihat penghuni paviliun itu tampak kaget sekaligus geram, sebuah ide muncul di pikirannya. Tentu saja bukan ide yang baik, namun dipastikan sangat efektif memancing kemarahan penghuni paviliun Xionglue.


"Apa kalian tidak lihat! Tetua Besar ada di sini, jika kalian tidak menerima tantanganku berarti reputasi murid dalam tidaklah sehebat yang kudengar!" Shua Xie berteriak sangat kencang, tidak hanya mengejutkan penghuni paviliun Xionglue dan murid di sekitar arena, tapi juga Tetua Besar, Jiang Liang serta Fen sendiri.


Kenekatan Shua Xie patut diajungkan empat jempol, tidak hanya memprovokasi para murid dalam namun juga mempermalukan guru yang mengajar para murid dalam itu. Tidak menerima tantangan Shua Xie para murid lain pasti akan mengiyakan ucapan Shua Xie dan menganggap para murid dalam tidaklah sehebat seperti berita yang beredar, tidak hanya mempermalukan murid dalam tapi juga guru mereka.


Fen membuka lebar mulutnya, sangat terkejut Shua Xie akan senekat itu memancing para murid dalam itu keluar dari sarang mereka. Namun bukan itu inti masalahnya, secara tidak langsung Shua Xie juga menyinggung guru yang mengajar murid dalam. Bersamaan dengan itu, telinga Fen menangkap suara cekikikan dan spontan saja dia segera menoleh.


'Ah?! Tetua Besar terlihat tenang meski gadis itu telah melakukan tindakan yang salah. Terlebih lagi, si Jiang itu justru tertawa! Apakah mereka tidak peduli dengan nasib gadis itu?' Fen sangat terkejut melihat Tetua Besar masih bisa bersikp tenang, sedangkan Jiang Liang tertawa kecil. Sikap mereka berdua membuat Fen segera berpikir, 'Gadis ini, dia memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Tetua Besar.' Pandangan Fen kembali tertuju kepada Shua Xie.

__ADS_1


Keadaan suasana paviliun Xionglue benar-benar suram setelah mendengar teriakan penghinaan dari seorang murid luar. Shua Xie telah meremehkan status mereka di hadapan para murid lain, tidak hanya itu bahkan di hadapan Tetua Besar pun juga. Bagaimana mungkin mereka masih bisa duduk tenang di kediaman mereka sementara seorang murid luar yang baru saja masuk menghina status mereka. Status murid dalam berperingkat sangat sulit dicapai, bahkan mempertahankannya juga membunuh kemampuan besar, tapi seorang murid luar dengan mudahnya meremehkan mereka. Jika tidak membalas murid luar itu, maka penghinaan ini tidak akan pernah hilang meski mereka telah keluar dari sekte Kunlun sekali pun. Dunia Kultivator sangatlah kejam, meski kekuatan adalah segalanya, tapi tetap saja gunjingan lebih efektif menyiksa seseorang, terutama kejiwaan.


"Dia telah kelewatan! Akan kubungkam mulut sombongnya itu dengan kekuatanku!" Pemuda berbaju hitam dengan rambut berwarna biru malam berdecak kesal, dia adalah Kiseki murid dalam peringkat sembilan belas yang ditantang Shua Xie.


"Ya, tunjukkan padanya, sebagai kucing liar dia tidak seharusnya memancing kemarahan sekelompok singa," sahut pemuda di samping Kiseki yang dikenal sebagai murid dalam peringkat dua belas, bernama Biming.


Kiseki mendengus kasar sebelum akhirnya dia melompat turun dan segera mendekati arena pertarungan. Dengan memikul kobaran kemarahan, Kiseki melompat naik ke arena sembari dia menatap Shua Xie tajam.


"Murid luar, kuterima tantanganmu!" ungkap Kiseki tegas sembari dia menarik pedangnya keluar dari sarungnya. Tanpa memberi aba-aba Kiseki langsung menyerang Shua Xie dengan kekuatan penuh. Kemarahan telah memenuhi pikirannya sehingga dia tidak peduli apakah Tetua Besar akan marah dengan tindakannya atau tidak, sekarang yang dia pikirkan membalas penghinaan yang Shua Xie lontarkan.


"Teknik Pedang-Tebasan Malam!"


Padang tipis milik Kiseki melepaskan tenaga kuat yang membela angin dengan cepat, tebasan horizontal itu dengan cepat melesat ke arah gadis di depannya.


Shua Xie tentu tahu, serangan itu sedikit berbahaya jika dia tidak segera menghindarinya, terlebih lagi dia tidak bisa menggunakan tenaga Qi-nya setelah perjanjiannya dengan Tetua Besar. Shua Xie segera melompat ke kiri, menjauhi serangan tebasan itu dengan cepat. Terlambat sedikit serangan itu bisa melukainya meski hanya luka ringan.


Serangan itu mendarat dengan kasar di panggung arena, membuat arena beton itu mengalami sedikit kehancuran, namun beberapa detik kemudian arena itu kembali membaik dan tidak meninggalkan sedikit goresan. Shua Xie sempat terkejut melihat hal itu, tidak mengira arena beton ini memiliki mantra sihir yang mampu memperbaiki kerusakan dengan sendirinya. Jika tebakan Shua Xie benar, seharusnya di sekte Kunlun ada seorang Kultivator ahli sihir.


Kesampingkan dulu soal pikirannya itu, Kiseki kembali melesatkan serangan tidak akan membiarkan Shua Xie mendapat celah menyerang balik. Shua Xie sedikit kesulitan, Kiseki tidak membiarkannya membalas serangan sedikit pun selain menghindar, tapi meskipun Shua Xie terdesak, tindakan Kiseki juga menguntungkannya.


'Kita lihat sampai mana batas tenaganya itu.' Sekarang ide mengulur waktu dan membuat Kiseki kelelahan adalah ide yang tepat. Kiseki tampaknya terlalu terbawa amarah karena ucapan Shua Xie, dengan begitu jika pemuda itu telah kelelahan dan kehabisan tenaga, Shua Xie akan membalasnya.


Kiseki semakin geram, mendengar Shua Xie menghina murid dalam lagi seakan membakar telinganya. Karena tersulut ucapan Shua Xie, Kiseki memperkuat serangannya, "Sialan! Akan kubuat kau menyesal telah menghina murid dalam!" Serangan Kiseki menjadi membabi buta, tidak peduli di mana Shua Xie mendaratkan kakinya dia langsung melesatkan serangannya, tapi setiap kali dia menyerang setiap itu juga Shua Xie menghindar.


Lima menit berlalu ...


"Murid dalam memang lemah!" pekik Shua Xie sambil menghindari serangan Kiseki dengan santai dan tenang.


"Tutup mulutmu!" pekik Kiseki keras.


Sepuluh menit berlalu ....


"Hehehe ... bahkan melukaiku saja tidak bisa. Murid dalam sangat mengecewakan!" ucap Shua Xie dengan nada meledek sembari tangannya itu menutup mulutnya.


"Diam! Kau yang lemah!" Kiseki semakin geram.


Dua peluh menit kemudian ....

__ADS_1


Shua Xie terus melompat ke sembarang sisi setiap serang terus melesat ke arahnya, Kiseki masih belum berhenti menyerangnya terus menerus, "Hoam ... memang lemah," ungkap Shua Xie sembari menguap, terlalu bosan terus menghindari dan menghindar namun Kiseki belum juga menyerah.


Meski Kiseki belum menyerah, tapi dia sudah mulai kehabisan tenaga, sudah dua puluh menit dia menyerang secara membabi buta tanpa berhenti tentu saja menguras banyak tenaganya. Walaupun begitu dia tetap tidak menyerah, "Huh! Huh! Huh! Kau, kau ... tutup mulutmu itu!" balas Kiseki dengan nafas tidak teratur.


Setengah jam kemudian ....


"Ah!" Kiseki jatuh terbaring, tubuhnya sudah kehabisan tenaga, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja dia sudah tidak sanggup. Dia telah menghabiskan semua tenaganya untuk menyerang Shua Xie, tapi bahkan sampai sekarang memberi sedikit goresan pada gadis itu saja dia tidak sanggup.


Shua Xie tersenyum lebar, sambil berjalan mendekati pemuda yang telah jatuh terbaring kehabisan tenaga, "Senior, bahkan sampai sekarang kau belum bisa mengalahkanku, ternyata murid dalam memang mengecewakan."


"Kau!-" Kiseki berniat membalas ucapan Shua Xie namun sebelum ucapannya itu selesai, Shua Xie langsung menendangnya keluar arena. Shua Xie sengaja tidak menendangnya dengan kuat, karena jika menggunakan kekuatan bisa-bisa Kiseki mati seketika. Pemuda itu telah kehabisan banyak tenaga, jadi menurut Shua Xie itu sudah cukup untuk mengajari pemuda itu.


Melihat Kiseki ditendang keluar dari arena, suasana hening namun setengah menit kemudian para murid luar berteriak keras menyoraki Shua Xie. Shua Xie telah mengalahkan Kiseki murid dalam peringkat sembilan belas, suatu kebanggaan bagi murid luar juga meski mereka belum kenal dengan Shua Xie.


"Wah! Hebat! Hebat! Nona Shua anda hebat!"


"Sebagai murid luar kami bangga memiliki seseorang sepertimu! Anda hebat Nona Shua!"


"Yey! Murid dalam memang lemah! Nona Shua hebat!"


"Huuu! ... murid dalam dasar lemah!"


Para murid dalam tentu tidak tinggal diam tenang mendengar ucapan para murid luar, meraka langsung membalas para murid luar dengan keras. Jika saja diizinkan perkelahian di sekte Kunlun, pasti dua kubu akan saling bertarung demi menjaga reputasi kubu mereka.


"Apa yang kalian bicarakan! Murid dalam tidaklah lemah!"


"Benar, sebagai murid luar kalian sangat tidak tahu sopan santun!"


"Dasar murid luar tidak tahu diri! Tunggu saja Senior kami akan menghabisi kalian!"


"Murid dalam berperingkat tentu tidak akan diam saja! Dia pasti membalas penghinaan ini!"


Mendengar sorakan dari para murid luar dan murid dalam saling bersahutan menghina satu sama lain, membuat Shua Xie menyungging senyum canggung. Meski memang niatnya merendahkan murid dalam berperingkat agar mereka menerima tantangnya, tapi bukan ini yang Shua Xie harapkan. Murid luar menjadi meremehkan murid dalam karena Shua Xie telah mengalahkan murid dalam berperingkat, jika seperti ini bukankah akan terjadi konflik antara murid dalam dan murid luar?


'Hehehe ...  sepertinya tindakanku akan memicu konflik besar. Tetua Besar ini salahmu, jangan sangkut pautkan denganku.' Shua Xie tersenyum canggung kepada Tetua Besar, di mana sosok Tetua itu mengeluarkan aura gelap murung di sekujur tubuhnya, mungkin merasa sedikit bersalah sebab konflik ini juga terjadi karena dirinya.


_________

__ADS_1


A/N : Hah! Konflik apa ini! 😂


__ADS_2