Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 162


__ADS_3

Suara seruan terus bergema, meminta kepada seorang gadis cantik yang sedang berlutut di tanah untuk segara bangkit. Mereka semua menuntut kepada gadis itu untuk terus memecahkan penghalang yang melindungi sebuah pagoda. Bersama-sama, dengan suara besar dan banyak, mereka terus berteriak minta gadis itu untuk kembali bangkit.


"Shua Xie!! Ayo bangkit! Hancurkan!!"


"Kami mau pulang!!"


"Hancurkan!! Hancurkan!!"


"Bangkit Shua Xie!! Bangkit!!


"Kalian hentikan! Ini tidak adil, kenapa kalian terus memaksa." Qixuan menentang ucapan para mereka yang terus mendesak Shua Xie. Tentu dia tidak terima Shua Xie dipaksa seperti ini, "Kalian tidak punya hak untuk memasaknya!"


"Diamlah kau!! Mau mati?!"


"Kami tidak butuh nasihatmu!!"


"Pergi sana!!"


"Huuuu!! Pergi!!"


Alih-alih didengarkan justru Qixuan mendapat hinaan dan pengusiran. Tapi meski pun begitu, Qixuan tetap kukuh melindungi Shua Xie. Di sisi lain, Zusami, Yue Jian dan Yurui juga melakukan hal yang sama, melindungi Shua Xie dari paksaan mereka.


Shua Xie mengepalkan tangannya, meremas pasir yang dia genggam. Dia pun beranjak berdiri, memasang tampang dingin seperti biasanya.


"Siapa kalian berani memaksaku?!"  tegas Shua Xie lantang. Seketika suasana menjadi hening, cukup terkejut mendengar suara tegas milik Shua Xie. Shua Xie menatap mereka yang memaksanya begitu tajam tanpa merasa takut. Dia melangkah keluar dari perlindungan Zusami dan lainnya.


"Aku tanya sekali lagi, siapa kalian berani memaksaku?!" Shua Xie berjalan menuju Yue Jian, mendempet pria itu sambil memandangnya tajam. "Apa aku peduli jika kau mati di tempat ini? Jika kau ingin keluar maka berusahalah sendiri. Aku bukan budak yang bisa kalian paksa." Shua Xie mendorong bahu Yue Jian, lalu menatap yang lainnya tajam.


"Siapa yang masih ingin mengancamku?! Jika berani lawan aku! Aku tidak akan sungkan membunuh kalian semua sekarang."


Suasana masih hening, tampaknya mereka tidak berani berbicara akibat gertakan Shua Xie. Shua Xie mendengus sinis, merasa lucu dengan ekspresi mereka semua yang memaksanya kini menjadi takut. Di mana mereka yang tadinya terus memaksanya? Di mana suara-suara paksaan bahkan hinaan yang mereka kemukakan? Ke mana semua keberanian mereka?


"Kenapa diam? Apa kalian takut?!" Shua Xie menggertak, kemudian tertawa sinis merendahkan mereka semua. "Woah! Kenapa kalian diam?! Aku ingin mendengar lagi paksaan kalian!! Ayok keluarkan!!"


Shua Xie terus memancing mereka dengan ucapannya, dia juga sudah sangat geram mendengar paksaan mereka. Sekarang giliran dia bersuara, bahkan tidak satu pun dari mereka berani mengangkat kepala.


"Astaga, ada apa ini? Kenapa kalian sudah seperti manusia bodoh?! Aku pikir kalian akan terus mendesakku?! Di mana keberanian kalian yang tadi?!"


Prok!


Prok!


Prok!


Seketika semua perhatian teralihkan ketika mereka mendengar suara tepuk tangan. Mereka menatap ke arah pagoda, tempat di mana suara tepuk tangan itu berasal. Mereka melihat seorang gadis berjubah hitam berdiri di atap pagoda tersebut.


"Hiburan yang menarik!" teriak gadis itu girang.


Semua terbelalak melihat gadis itu, bukan karena perkataannya tapi karena gadis itu berada di dalam penghalang yang melindungi pagoda itu. Semua pertanyaan mereka sama, bagaimana bisa gadis itu berada di dalam sementara mereka sudah berusaha masuk sejak tadi.


Gadis itu melompat turun, semua pandangan mengikuti ke mana gadis itu bergerak. Setelah turun, gadis itu berjalan santai mendekati mereka semua, namun langkahnya berhenti tepat di depan penghalang.


"Kalian semua menarik, aku merasa terhibur." Gadis itu tersenyum, padahal semua orang menatapnya begitu terkejut. "Ada apa? Apa kedatanganku mengganggu kalian?" tanyanya berlagak polos sembari dia melihat kiri dan kanan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau masuk?!" tanya Qixuan penuh dengan raut wajah kebingungan. Pasalnya dia tidak pernah merasakan kehadiran gadis bermata perak seperti rambutnya sejak tadi. Terlebih lagi yang menjadi pertanyaan besar, bagaimana bisa gadis itu masuk ke dalam tanpa sepengetahuan mereka semua.


Gadis itu menutup bibir mungilnya yang mulai mengeluarkan tawa, "Haih, aku lupa memberitahukan pada kalian kalau pelindung ini, aku yang buat." Dia mengibaskan tangannya, seketika saja pelindung itu hilang seperti debu yang tertiup angin.


Jangan tanya seperti apa reaksi mereka semua saat ini. Begitu banyak orang menatapnya dengan mulut terbuka, mata membulat, dan sikap yang begitu terkejut. Bahkan ada beberapa dari meraka jatuh berlutut di tanah karena terlalu terkejut.


"Kau! Bagaimana bisa?!"


"Ini mustahil!"


"Kapan?!"


"Aku tidak bisa percaya ini!"


Namun di antara banyak yang terkejut, ada satu yang paling terkejut sampai tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dia Zusami. Zusami memandang gadis itu sangat terkejut, seolah dia baru saja bertemu dengan kekasih yang telah lama pergi. Gadis yang Zusami pandang sadar kalau dia sedang diperhatikan, spontan perhatiannya langsung teralihkan pada Zusami.


"Oh, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya gadis itu berlagak polos. Bahkan dia melihat ke pakaian yang dia gunakan, berpikir jika Zusami terkejut karena baju yang dia gunakan. "Apa penampilanku buruk?" Dia bertanya pada dirinya sendiri.


Zusami berjalan mendekati gadis itu, merabah wajah gadis itu sedikit kasar. "Ini benar kau?!"  ungkap Zusami sambil dia memandang gadis itu lekat.


"Siapa?" Gadis itu bingung. Zusami tidak tahu apakah gadis ini sengaja mempermainkannya atau tidak. Tapi dia yakin dia mengenal gadis ini meski penampilannya berbeda.


"Kau-"


"Kau tidak diizinkan menyetuhnya." Tiba-tiba saja muncul pria yang entah dari mana datangnya, pria berjas hitam seperti gaya mafia itu memegang pergelangan tangan Zusami sedikit kuat.


Zusami spontan melirik pada pria itu, kali ini dia dibuat terkejut lagi karena dia mengenal pria itu. "Tsakuya!" pekiknya kaget.


"Mari bicara berdua."


Kembali ke topik, gadis itu melirik lagi pada Shua Xie, mengumbar senyuman manis seakan mengatakan kalau kedatangannya kemari tidak memiliki niat buruk sedikit pun.


"Shua Xie, " panggil gadis itu mengejutkan Shua Xie dan beberapa yang lain.


"Kau mengenalku?" balas Shua Xie sedikit kaget. Gadis itu mengangguk pelan dan masih tersenyum ramah seperti awal dia datang.


"Bagaimana mungkin aku melupakan orang sepertimu." Gadis itu berbicara lagi. "Seseorang yang membuatku bisa ada di sini, aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih atau marah padamu."


Semua mengernyit, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis berambut perak itu. Tapi Shua Xie mulai memahami alurnya, perasaan kacau dan takut mulai menggerogoti pikirannya. Shua Xie berharap apa yang dipikirkannya tidak lebih dari sebuah pikiran saja.


"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu denganmu," elak Shua Xie tenang.


"Tidak, tidak ... kita pernah bertemu. Namun hanya sekali." Gadis itu membalas semakin membuat perasaan Shua Xie tidak tenang.


"Ah, benarkah? Kenapa aku tidak mengingat pernah bertemu wanita secantik dirimu." Shua Xie tersenyum tipis sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sebenarnya dia sedang berusaha mengingat kapan dia pernah bertemu gadis itu.


"Pada saat itu aku bahkan tidak yakin, kenapa aku bisa terlahir cantik." Gadis itu menunduk, tersenyum lagi membuat semua orang bingung akan apa yang sedang dibahas gadis berambut perak itu. Alur pembicaraan mereka sedikit tidak dimengerti banyak orang.


"Hahaha ... lalu apa kau menyesal terlahir cantik?"


"Tidak juga, dengan begini aku tidak akan kesulitan mencari suami. Tapi aku benci mata yang terus memandangku sedangkan aku tidak menampilkan kecantikanku pada mereka."


"Sebenarnya apa yang dia bahas?" Qixuan membisik pelan pada Yue Jian. Bertanya yang mungkin bisa dijawab Yue Jian. Namun Yue Jian membalasnya dengan gelengan, pertanda dia juga tidak mengetahuinya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka berdua saling kenal. Tapi Shua Xie ... dia seperti baru pertama kalinya bertemu gadis itu," balas Yue Jian berbisik.


"Ah ... mari langsung ke intinya saja. Aku tidak suka basa-basi." Shua Xie tersenyum tipis, menampilkan semirik wajah yang memang tidak suka menghabiskan waktu hanya untuk membahas sesuatu hal yang tidak penting, seperti topik sekarang. "Apa yang kau inginkan? Kenapa kau mendirikan mantra pelindung pada Pagoda itu. Tidakkah kau sadar perbuatanmu bisa membuat semua orang di sini mati?"


"Mereka saja tidak peduli padamu, lalu buat apa kau peduli pada mereka? Kenapa jika mereka mati di dalam Daratan Alam Abadi? Bukankah kedatangan mereka ke sini karena kemauan mereka sendiri?" Balasan gadis itu membuat Shua Xie tersadar.


Shua Xie mendengus pelan, "Aku bukannya peduli, tapi karena perbuatanmu mereka terus mendesakku."


"Lalu kenapa kau tidak membunuh mereka? Bukankah dengan begitu tidak akan ada lagi yang memaksamu?"


Shua Xie menatap terkejut gadis itu, tidak akan menyangka gadis itu akan secara terang-terangan mengatakan hal sekejam itu di hadapan mereka. Ya, meski Shua Xie sempat berpikiran seperti itu, tapi dia masih ragu membunuh mereka semua hanya karena desakan kecil mereka telah mengganggu ketenangannya.


Jangankan Shua Xie, yang lain juga terkejut karena perkataan gadis itu. Bukannya apa, sebagian dari mereka saja sudah setengah mati takut pada Shua Xie, apalagi dengan gadis yang membuat mantra pelindung. Sudah dipastikan kekuatan gadis itu jauh lebih hebat dari Shua Xie.


"Benar juga." Shua Xie tersenyum tipis lagi sembari dia menatap semua orang yang telah mendesaknya. Mendapat tatapan dari Shua Xie seperti mendapat pandangan kematian dari malaikat, mereka semua langsung mengalihkan perhatian dan bersikap seolah tidak melihat apa-apa. "Tapi aku bukanlah manusia sekejam itu yang mengambil nyawa seseorang sesuka hati. Meski aku membenci mereka, aku juga tidak berniat membunuh mereka." lanjut Shua Xie lagi ketika pandangannya bertemu dengan Xiu An. Xiu An memalingkan wajah malu, sangat tersinggung akan perkataan Shua Xie.


Gadis berambut perak itu tersenyum. "Jika aku jadi dirimu aku tidak akan sungkan membunuh mereka semua, karena aku bukan tipe manusia yang suka didesak oleh sekumpulan sampah."


Deg!


Semua terkejut karena perkataan gadis itu. Spontan sana dia mendapat pandangan tajam dari mereka semua.


"Apa maksudmu memanggil kami sampah!?"


"Kami bukanlah sampah! Kami Kultivator!"


"Kau yang sampah!"


"Dasar wanita tidak tahu malu!!"


Beberapa dari mereka kembali menghujat, tidak terima dikatakan sampah oleh seorang wanita. Bagi pria harga diri mereka tidak pantas direndahkan oleh seorang wanita. Terlebih lagi wanita seperti gadis berambut perak itu.


"Ah ... kalian marah?" tanya gadis itu polos.


"Tentu saja kami marah!"


"Kau hanya seorang wanita tapi begitu sombong mengatakan kami sampah!"


"Kaulah yang sampah!! Jika kami melawanmu bersama-sama, kau pasti akan mati hari ini juga!!"


"Ya, benar!! Kau pasti akan mati!!"


"Benarkah? Menarik sekali. Kalau begitu aku ingin melihat seperti apa cara kalian membunuhku bersama-sama. Jika kalian bisa membunuhku, kalian bisa memasuki Tujuh Pagoda Kembar." Gadis itu melangkah mundur, lalu mengibaskan tangannya sudah seperti mengibas udara kotor. Seketika saja sebuah pelindung berwarna hitam muncul menutupi kembali seluruh pagoda, bahkan mereka tidak lagi dapat melihat pagoda itu lagi.


"Tapi sebelum kita memulainya, izinkan aku mengambil semua barangku kembali." Gadis itu menatap Shua Xie, diulurkannya tangannya ke depan dan sesuatu hal aneh terjadi. Cincin dan katana milik Shua Xie terbang kepadanya.


Tentu saja mengejutkan Shua Xie selaku pemilik barang tersebut.


"Kenapa kau merebut barang milik Shua Xie?!" sahut Qixuan tegas, tidak terima gadis itu mengambil barang seseorang begitu saja.


Cincin dan katana itu sudah jatuh ke genggaman gadis itu, dia segera memakai cincin hitam milik Shua Xie dan memasukkan dua katana ke dalam cincin Ruang itu. "Kau salah paham, semua barang ini milikku. Aku sudah meminjamkannya selama seminggu ... sekarang sudah saatnya barang ini kembali kepada pemilik aslinya."


"Apa maksudmu?!" Kini giliran Shua Xie yang bertanya. Dia hanya tidak paham kenapa gadis itu mengatakan cincin dan katana miliknya ialah milik gadis itu. Jelas-jelas dialah pemilik katana dan cincin Ruang itu. "Siapa sebenarnya dirimu!?"

__ADS_1


"Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum santai seperti tidak ada masalah pada dirinya. "Kalian bisa memanggilku, Menma. Soal katana dan cincin ini memang milikku, kau mungkin anak dari Raja Langit, tapi aku adalah pemimpin Ayahmu."


__ADS_2