Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 198


__ADS_3

Hampir 2 jam Menma dan Azura mengevakuasi seluruh penduduk di kerajaan Dilie mulai dari bangsawan hingga ke rakyat biasa. Meski awalnya para bangsawan Dilie mengatakan tidak perlu menyelamatkan rakyat biasa dan fokus saja mengevakuasi para bangsawan, tapi semua sudah terkendali ketika Menma mengancam akan meninggalkan semua bangsawan kerajaan Dilie, terkecuali keluarga kerajaan.


Akibat ancaman tersebut, walaupun para bangsawan masih sempat mempertentangkan sikap Menma yang tidak menunjukkan sedikit pun sikap para bangsawan, para bangsawan kerajaan Dilie pun mau tidak mau harus menerima perkataan Menma. Tetapi mereka tetap akan mempermasalahkan hal itu ketika sudah berhadapan dengan kaisar kerajaan Xuilin nantinya.


Sekian jam setelah hampir selesai mengevakuasi semua penduduk kerajaan Dilie beserta para bangsawannya. Menma dan Azura menerima sinyal bahaya dari pelindung yang mereka pasang, berjaga-jaga jika ada sesuatu berbahaya menyerang mereka.


Menma menatap ke arah langit dengan wajah yang serius. Dia merasakan adanya kehadiran sesuatu yang mengerikan sedang mendekatinya. Azura menatap Menma dengan serius, sebab dirinya pun juga merasakan apa yang Menma rasakan saat ini. Sesuatu yang sangat berbahaya sedang mendekat ke arah mereka.


“Ada sesuatu yang sedang mendekat, aku merasakan energinya yang sangat kuat,” kata Menma dengan wajah serius.


“Aku tidak menyangka ada seseorang sekuat ini di dunia Tengah,” ujar Azura sedikit khawatir. Azura hanya tidak menyangka, selama ia berada di dunia Tengah, tidak satu pun orang luput dari pengawasannya, dan Azura pun sudah mengetahui, di dunia Tengah tidak ada yang lebih kuat darinya selain Menma dan Lou You. Namun sekarang, muncul sesosok yang sangat kuat, sosok yang tidak pernah Azura rasakan keberadaannya.


'Dia pasti pengunjung dari luar,' tebak Azura dalam hati.


“Kita harus menyelesaikan evakuasi terakhir dan membawa mereka ke kerajaan Xuilin sekarang juga. Aku akan menangani situasi ini, kau fokus saja memindahkan orang-orang yang tersisa,” jawab Menma sambil menunjuk ke arah rombongan terakhir yang harus dievakuasi.


"Apa kau sudah gila, Menma?" Azura membalas Menma keras. Dia sangat tidak setuju dengan ucapan Menma. "Aku tidak akan meninggalkanmu karena kau tidak akan bisa menang melawannya sendirian."


"Kau pikir aku tidak tahu?" Menma menatap Azura tajam. Dia mengerti dan paham dengan kondisi saat ini, tapi tetap saja masih ada nyawa-nyawa yang harus mereka utamakan. "Sudah tidak ada waktu, pergi sekarang sebelum sosok itu tiba di tempat ini," tegas Menma penuh penekanan.


"Kau—" Azura tidak bisa lagi berkata-kata melihat Menma begitu keras kepala. Ia pun juga tidak tahu harus memberikan alasan apalagi selain menerima perintah Menma. "Tidak bisakah kita pergi bersama?"


"Kali ini kau yang sudah gila, Azura." Menma menatap Azura marah. "Kau ingin kerajaan Xuilin hancur?" lanjut Menma kesal. Sangat kesal karena Azura malah memberikan ide yang lebih gila dari pada idenya. Pun Azura sudah seharusnya tahu, membawa Menma pergi ke mana pun tidak akan membuat sosok itu berhenti mengejar mereka. Apalagi sosok itu sepertinya benar-benar telah mengunci Menma sebagai targetnya.


"Men—"

__ADS_1


"Sekali lagi kau membalas, akan kupastikan kita tidak akan bertemu lagi," sela Menma. Azura pun terdiam tanpa bisa membalas apa-apa, karena sudah pasti Menma tidak asal-asalan mengancamnya.


Dengan perasaan sangat berat, Azura memaksakan diri menerima perintah tersebut. “Baiklah, aku akan membawa mereka ke kerajaan Xuilin. Harap berhati-hati, Menma dan segera kembali, kau tidak perlu melawannya, kabur saja ke mana pun sampai aku datang membantumu” kata Azura cemas.


"Aku tidak bodoh melawannya seorang diri, jadi tenang saja," balas Menma sambil tersenyum.


Azura mulai mengevakuasi rombongan yang tersisa sekaligus. Setelah mengucapkan beberapa mantra, sinar kuning muncul bersamaan sebuah segel yang melingkar dan membesar. Beberapa detik setelahnya, Azura dan para rombongan hilang begitu saja.


Menma hanya bisa melihat Azura pergi dan membawa rombongan terakhir untuk dievakuasi. Dia merasa khawatir dan was-was, tapi dia tidak bisa meninggalkan situasi ini begitu saja. Dia harus siap menghadapi bahaya yang sedang mendekat.


***


Beberapa jam sebelumnya.


"Ternyata, dunia Tengah cukup luas juga," ujar Lang Yun setelah merasakan bahwa perlu waktu beberapa jam baginya agar bisa menemukan seseorang yang dia cari.


Hampir 2 jam berlalu dan Lang Yun masih fokus menyebarkan mananya. Lalu tidak lama setelah itu, sebuah sinyal memberikan pemberitahuan kepada Lang Yun.


“Ini dia, akhirnya aku menemukannya.” Dengan perasaan sangat senang, Lang Yun menghentikan penyebaran mana. Lalu tanpa basa-basi lagi terbang ke arah yang sudah ditetapkan sebagai target pencariannya.


Dengan kecepatan yang sangat tinggi, tidak butuh waktu lama bagi Lang Yun tiba di lokasi tersebut. Bahkan sebuah sihir perlindungan yang terpasang di wilayah itu hancur tanpa sempat melakukan perlawanan akibat kekuatan dan kecepatan Lang Yun yang tidak masuk akal.


Beberapa menit berikut, Lang Yun tiba di sebuah padang luas. Di Padang tersebut berdiri seorang perempuan dengan penuh keberanian. Lang Yun tersenyum dan segera mendarat beberapa meter dari gari tersebut.


Untuk sesaat suasana di tempat tersebut terasa kaku dan canggung. Akibat Lang Yun yang tidak berkata apa pun dan hanya menatap berbinar perempuan di depannya.

__ADS_1


Lang Yun berdehem pelan sambil merapikan pakaiannya yang sebenarnya sudah rapi dan tidak mengalami kekusutan sama sekali. Lang Yun cukup gugup karena dia belum mempersiapkan kata-kata untuk perempuan di depannya.


'Mungkin ini terlalu jauh.' Lang Yun merasa jaraknya dengan perempuan di depannya agak sedikit jauh. Serta merasa dengan jarak seperti ini akan sulit memulai percakapan yang baik, terlebih lagi perempuan di depannya pun seperti tidak ingin mengatakan apapun selain menuggu percakapan dari Lang Yun.


Ketika jarak di antara mereka berdua hanya tersisa 2 meter, barulah Lang Yun berhenti mendekati perempuan tersebut. Namun, setelahnya tidak ada percakapan yang dia rencanakan. Lang Yun masih gugup dan tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.


'Apa aku harus bertanya apa kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana kehidupanmu selama ini? Atau ... apakah kamu tidak merindukan aku?' Sejuta macam pertanyaan mengalir di kepala Lang Yun, tapi tidak ada satu pun yang terasa cocok untuk memulai percakapan baginya.


"Siapa kamu?" Karena Lang Yun terlalu lama memulai percakapan dan juga tidak berniat melakukan apapun, akhirnya perempuan di depannya yang mulai berbicara.


Lang Yun terkejut karena belum siap dengan pertanyaan tersebut. Namun, belum sempat ia menjawab pertanyaan perempuan itu, Lang Yun langsung tersadar ada yang aneh dengan pertanyaan tersebut.


"Tunggu, tadi kau bertanya siapa aku?" Lang Yun menunjuk dirinya.


"Y-ya, begitulah," jawab si perempuan ragu.


"Apa sungguh kau tidak mengenaliku?" Lang Yun bertanya lagi. Kali ini sedikit keras.


"Aku rasa memang begitu. Aku belum pernah bertemu dengan orang sekuat dirimu," jawaban perempuan itu membuat Lang Yun terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah sangat terkejut.


"Ini aku, Lang Yun." Lang Yun mencoba memperkenalkan dirinya lagi. Berharap si perempuan tersebut segera mengenali Lang Yun. Namun di luar harapan, perempuan itu hanya diam dengan ekspresi wajah kebingungan. "Ini aku kakakmu, apa kau sungguh tidak mengingat aku? Apa mungkin karena kita telah berpisah sangat lama?"


Lang Yun berucap lagi, "Ya, tidak salah kalau Nushen sedikit melupakanku. Kita sudah sangat lama terpisah akibat si pria biadab itu. Tapi lupakan saja soal itu. Nushen, ikutlah denganku kembali ke dunia Atas."


"Nushen? Sepertinya Anda salah orang. Saya bukan Nushen, tetapi Menma."

__ADS_1


__ADS_2