Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 171


__ADS_3

"Kamu mengenalku?" tanya pria itu dengan raut wajah sedikit terkejut. Sedikit tidak menyangka dari lima anak muda itu ada yang mengenal dirinya. Padahal dirinya tidak mengenal satu pun lima anak muda itu terkecuali targetnya, Xingxing.


Menma terkekeh pelan, namun sesaat raut wajahnya berubah dingin. Tentu saja perubahan raut wajahnya membuat pria bernama Lou Zhou itu sedikit bereaksi.


"Tidak. Aku tidak mengenal anda. Aku hanya menduga saja, soalnya anda mirip dengan seseorang," jawab Menma datar.


"Aku bisa menganggap itu pujian?" Lou Zhou mengangkat sebelah alisnya. Tampak sedikit tertarik dengan gadis berambut perak itu.


"Mungkin lebih baik anggap hinaan. Sebab seseorang itu begitu rendah dan hina." Menma terkekeh pelan lagi. Sedangkan yang lain terdiam karena perkataannya. Yang benar saja? Menma masih bisa bercanda di saat seperti ini?


Lou Zhou ikut terkekeh. "Anak muda, candaanmu sungguh lucu. Tapi aku tidak punya waktu bercanda dengan kalian."


"Tidak, tidak ...." Menma menggeleng pelan. "Aku tidak sedang bercanda. Seseorang itu memang sangat hina," jelasnya dengan nada cukup serius. Sekejap saja perkataannya membuat suasana mencekam, pasalnya Lou Zhou langsung menekan atmosfer di sekitar dengan aura membunuh yang begitu pekat. Saking pekatnya membuat Zusami dan yang lain bergidik ngeri, tapi tidak bagi Menma. Ia justru terkekeh lagi.


"Ah, maaf sepertinya candaanku kali ini berlebihan. Aku pikir anda akan menganggap perkataanku sebagai candaan seperti sebelumnya," ujar Menma dengan nada sedikit bersalah. Seakan turut menyesal membuat sosok itu marah.


Lou Zhou menarik kembali aura membunuhnya. Dia tidak memiliki urusan dengan yang lain, tapi karena perkataan Menma barusan sudah sanggup menarik kemarahannya meski hanya sesaat. Untungnya Lou Zhou bukan tipe manusia yang pendendam hanya karena sebuah candaan. Satu, dua candaan mungkin masih bisa dia toleransi. Lagi pula dia tidak berniat membunuh siapa pun saat ini, tujuannya hanya mengambil Xingxing lalu kembali ke dunia Atas.


"Anak muda, mumpung aku masih bermain baik dengan kalian, bagaimana jika kalian menyerahkan gadis itu padaku. Aku berjanji tidak akan melukai seorang pun dari kalian." Lou Zhou mengulurkan tangannya pada Azura, meminta secara baik-baik. Sebenarnya Lou Zhou tidak pernah berlaku baik seperti ini kepada siapapun, tapi karena keadaan begitu mendesak, untuk kali ini saja dia akan bersikap baik.


"Hanya orang bodoh yang mau menuruti perintahmu!" balas Azura tegas, dan semakin menyembunyikan Xingxing di belakangnya. Sementara itu Tsakuya dan Zusami juga mulai bergerak melindungi Xingxing. Meski mereka tidak punya urusan menjaga Xingxing, tapi mereka berdua lebih tidak terima jika Xingxing jatuh kepada orang seperti Lou Zhou. Bisa dirasakan dari aura Lou Zhou saja mereka yakin pria itu tidak bermaksud baik dengan Xingxing.


Tubuh Bulan terlalu istimewa untuk manusia seperti Lou Zhou.


Lou Zhou terkekeh pelan dan kembali menurunkan tangannya yang tidak mendapat sambutan ramah. "Kalian ini bermain kasar? Sebenarnya aku tidak tertarik membunuh seseorang saat ini, tapi karena kalian begitu ingin mati maka akan aku kabulkan."


Sekejap saja Lou Zhou melepaskan semua aura membunuhnya, membuat suasana hutan seketika suram dan menyeramkan. Bahkan untuk lebarnya hutan tersebut, semua penghuni hutan itu merasa tertekan berat dari auranya. Apalagi mereka yang berjarak begitu dekat dengan Lou Zhou.


Zusami merasa seperti tertimpa benda paling berat di pundaknya. Tapi berkat Qi-nya dia masih bisa berdiri meski sangat kesulitan. Begitu pun dengan Azura dan Tsakuya. Tapi Xingxing justru tak merasakan apapun selain tatapan menakutkan dari Lou Zhou.


"Benar-benar istimewa." Lou Zhou berdecak kagum melihat Xingxing tidak bereaksi apapun pasa tekanan yang dia berikan, padahal tiga pemuda lainnya merasa begitu tertekan karena auranya. Ia pun semakin menekan aura membunuh membuat tiga pemuda itu kewalahan dan akhirnya jatuh berlutut ke tanah.


"Tsk! Sial!" Tsakuya berdecak kesal. Benar-benar merasa tidak bisa berbuat apapun di hadapan seorang manusia. Padahal situasi seperti ini tidak pernah terjadi padanya meski hanya sekali. Namun Lou Zhou mampu membuatnya berlutut seperti sekarang.


Sebenarnya siapa, Lou Zhou? Kenapa bisa seorang manusia memiliki kekuatan semengerikan itu? Dari mana dia mendapatkannya? Itulah yang menjadi pertanyaan Tsakuya dan yang lain.


"Berhenti bermain-main. Aku beri kesempatan sekali lagi, serahkan gadis itu dan aku akan melepaskan kalian." Tawar Lou Zhou untuk yang terakhir kali.


"Br*ngsek! Sampai mati pun aku tidak akan memberikannya padamu!" balas Azura tegas sambil meludah kasar ke tanah. Tentunya balasannya ini membuat rahang wajah Lou Zhou mengeras marah.


"Jika kau mati kau tidak akan bisa menghalangiku lagi bodoh! Berpikirlah dulu sebelum berucap!" Lou Zhou mengumpat. Dan setelah itu dia mengangkat tangan kanannya sedikit tinggi, hingga sejajar dengan wajahnya. Seperti magnet, Xingxing mendadak terbang di udara dan bergerak menuju Lou Zhou.


"A-apa yang terjadi?!" Xingxing panik. Tentu saja panik, tiba-tiba melayang di udara dan lebih buruknya mendekat pada pria yang menginginkannya, siapa tidak panik jika berada di situasinya?


"Bedebah!" Azura memaksakan tubuhnya berdiri, alih-alih berdiri dia justru membuat tubuhnya tersiksa dan bahkan memuntahkan seteguk darah segar. Tak kuasa menahan tekanan aura akhirnya jatuh terkapar di tanah dan hanya bisa menatap Xingxing yang semakin mendekat pada Lou Zhou.


"Ehem! Jangan melupakan keberadaanku. Aku masih hidup loh di sini," sahut suara merdu yang diawali dengan deheman singkat. Siapa lagi juga bukan Menma. "Jangan bangga jika mendapatkan kekuatan dari seorang budak."


"Maksudmu?"

__ADS_1


Menma tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya ke udara. Sekejap saja Xingxing berubah haluan mendekati Menma dan justru menjauhi Lou Zhou. Jangan tanyakan seperti apa reaksi mereka semua sekarang, yang pastinya terkejut bukan main.


Sekejap saja Xingxing sudah jatuh dalam pelukan Menma. Lalu mendorong Xingxing mendekati Azura dan yang lain.


"Kamu?!"


"Ya? Aku!" Menma masih tersenyum, dan kali ini senyumannya sedikit melebar dari sebelumnya. "Tidak bagus rasanya jika bertarung dalam keadaan seperti ini. Menekan seseorang dengan aura membunuh bukanlah cara bertarung yang baik. Bagaimana kalau kita saling menguji kekuatan."


"Maksudmu?"


Sekejap aura membunuh yang menekan seluruh hutan ini pun runtuh, kalah tekanan dengan aura aneh yang Menma keluarkan. Aura Menma tidak bersifat menekan namun memberikan kenyamanan terhadap yang merasakannya. Lou Zhou sedikit terpental mundur akibat perlawanan balik aura yang Menma keluarkan.


"Sedari awal kau tampak berbeda. Aku tertarik padamu," ujar Lou Zhou dengan kekehan pelan merias wajahnya. Dia mengusap pinggir bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah segar. "Setelah sekian lama tidak melihat darahku sendiri, akhirnya ada yang berhasil melakukannya." Lou Zhou semakin menyungging senyuman. Dia benar-benar tertarik dengan Menma.


"Tapi aku tidak tertarik pada pria tua sepertimu." Ekspresi Menma kembali mendingin membuat Lou Zhou semakin tertarik padanya.


"Sepertinya tidak masalah jika aku membawa gadis sepertimu ke istanaku. Kau bisa menjadi wanita pemuasku."


"Bahkan aku tidak akan membiarkan kau berpikir seperti itu meski kau berada di neraka sekali pun." Menma mengibas tangannya di udara kosong, seketika saja muncul dimensi gelap yang mengeluarkan aura pekat. Kemunculan dimensi itu mengejutkan Azura dan Lou Zhou.


"Hahaha! Ternyata kau juga mempelajari teknik iblis? Pantas saja kau berani melawanku!" Lou Zhou tertawa keras. Sangat kagum dengan kekuatan Menma. "Tapi, mari kita lihat teknik iblis siapa yang paling hebat." Lou Zhou mengibaskan tangannya, lalu muncul dimensi serupa seperti milik Menma.


"Boleh juga." Menma menyeringai lebar. Adrenalinnya berpacu kuat, tidak sabar beradu kekuatan dengan Lou Zhou. Ah, apakah sisi lainnya akan bangkit? Sekarang jantungnya terasa berdebar, seakan tidak tahan ingin menyayat setiap kulit yang dimiliki Lou Zhou. Terlebih lagi dia sangat ingin memegang jantung pria itu. Arg! Menma hampir frustasi membayangkan betapa gilanya dirinya sekarang. Dia sungguh ingin memainkan setiap organ tubuh milik Lou Zhou.


Duar!!


Duar!!


Duar!!


Duar!!


Bang!!


Duar!!


Keadaan sekitar tidak lagi baik, tanah dan pohon pun ikut menjadi korban keganasan mereka berdua bertarung. Bahkan langit di atas ikut menggelap lalu berkilat, menyambar ganas ke bawah seakan ikut menjadi saksi pertarungan dasyat hari ini.


Menma semakin tertarik dengan pertarungannya. Entahlah, dia merasa Lou Zhou begitu menarik untuk dibunuh, akan sangat disayangkan jika Lou Zhou tidak dapat dia bunuh hari ini juga. Semantara Lou Zhou mulai berdecak kesal, tidak menyangka kekuatan Menma jauh lebih di atasnya. Tapi dia tidak akan menyerah, dia akan pastikan Menma mati di tangannya setelah dia puas menyiksa gadis itu.


Duar!!


Bang!!


Menma mengangkat tangan kirinya, dan entah bagaimana, muncul sebuah tombak berwarna ungu gelap di sana. Tombak yang cukup indah namun mampu membuat udara terasa menipis, mencekat kerongkongan siapapun. Tombak itu mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat, bahkan Zusami dan yang lain ikut merasa sesak akibat aura tombak itu.


"Tombak Kematian Iblis King Zhan? Bagaimana mungkin dia bisa memilikinya?" gumam Azura pelan, antara kagum dan takut melihat senjata gagah itu bertengger indah di tangan Menma.


"Iblis King Zhan, salah satu algojo terhebat di dunia Iblis. Dari kabar yang beredar bahkan Raja Iblis King Huan kewalahan menyaingi kekuatan algojo itu. Semua kaum Iblis mengakui kekuatan tombak King Zhan." Tsakuya ikut menambahkan.

__ADS_1


"Perlu kalian ketahui, tombak Kematian itu telah mencabut jutaannya nyawa Iblis lainnya dalam waktu singkat, sewaktu King Zhan mendapat perintah membunuh semua ras Iblis. Tapi sayangnya, King Zhan tewas di tangan adik King Huan," timpal Zusami yang tak kalah kagum melihat tombak Kematian berada di tangga Menma.


"Mengerikan." Xingxing bergidik ngeri. Seluruh tubuhnya terasa bergetar sejak awal kemunculan tombak itu, dan sampai sekarang Xingxing sulit mengendalikan dirinya sendiri. Baru kali ini dia bergidik ngeri hanya karena sebuah senjata.


Di sisi lain Lou Zhou terpanah kaget melihat tombak Kematian berada di tangan Menma. Tentu dia mengenal tombak itu, sebagai pengikut Raja Iblis yang sekarang, dia pernah mendengar tentang tombak Kematian yang kabarnya pernah membunuh jutaan ras Iblis dalam waktu singkat. Bahkan Raja Iblis yang sekarang mengakui senjata itu bukan senjata biasa, mampu menghancur leburkan segalanya sesuai keinginan sang pemilik. Bahkan Lou Zhou ikut penasaran sehebatnya apa senjata itu sehingga Tuannya memuji senjata itu.


"Kau boleh merasakan seberapa hebatnya senjata ini." Tanpa aba-aba Menma meluncurkan tombak Kematian. Kecepatan yang sangat di luar nalar, bahkan mata Kultivator pun akan sulit melihat kecepatan tombak itu melayang.


Lou Zhou yang belum siap tidak bisa menghindar. Terlebih lagi tombak itu datang terlalu cepat.


Dam!!!


Duar!!!


Kepulan debu melambung tinggi ke udara. Bagaimana tidak? Tanah yang mereka pijak saja sudah retak tak beraturan hingga membuat lubang besar. Mereka semua terjerumus masuk ke dalam lubang sedalam ratusan meter itu. Menma akui, kekuatan tombak Kematian benar-benar dasyat. Ia bahkan belum mengeluarkan seluruh kekuatan dan itu masih 2% dari kekuatan aslinya. Gila tapi mengasikkan bagi Menma. Di mana lagi dia bisa mendapatkan senjata sehebat itu?


Sembari menunggu kepulan debu menghilang. Menma menarik kembali tombak Kematian ke tangannya. Awalnya Menma juga terkejut akan kemunculan tombak Kematian di tangannya, dia bahkan tidak pernah berpikir senjata ini akan datang karena yang terlintas di pikirannya saat itu hanyalah senjata terkuat dari ras Iblis. Dan siapa bisa sangka senjata ini yang akan muncul?


"Sangat menarik. Seorang manusia bisa memanggil tombak Kematian." Setelah kepulan debu pelahan mulai menghilang. Menma dapat merasakan seorang pria lain muncul yang datangnya entah dari mana. Cukup menggunakan kepekaannya saja dia bisa tahu siapa pria itu.


"King Lan? Ternyata kau yang membuat senjata ini meleset dari bidikannya," timpal Menma datar.


Ya, seharusnya senjatanya ini sudah menghancur leburkan Lou Zhou, tapi satu serang lain muncul menepis sang tombak Kematian. Menma bisa merasakan hal itu karena kesadarannya dengan tombak Kematian telah bersatu sejak awal dia mengontrak tombak Kematian sebagai senjatanya.


"Aku terkejut manusia sepertimu bisa memunculkan senjata yang pernah hampir membunuhku. Jika aku tidak gerak cepat kamu mungkin telah menghabisi bawahanku ini."


Menma menatap tajam pemuda tampan bermata ungu pudar yang berdiri di samping Lou Zhou. Dialah King Lan, Raja Iblis sekarang yang mengantikan posisi Kakaknya, King Huan. Sosok yang juga ingin mengusai semua dunia lalu mengendalikannya.


"Aku tidak sangka hampir membunuh bawahannya bisa membuat pemimpinnya muncul. Apakah ini sebuah keberuntungan beruntun?" Menma terkekeh pelan.


"Tapi kita tidak akan bertarung sekarang. Lain kali aku akan meladenimu, kamu membuatku tertarik." King Lan tersenyum singkat, setelah itu dia menepuk pundak Lou Zhou berniat membawa Lou Zhou pergi sejauh mungkin dari Menma. Karena dia sadar Menma bukanlah lawan sembarangan.


"Tidak akan kubiarkan kau membawanya pergi!" Menma melayangkan kembali tombak Kematian. Namun sialnya penyakitnya mendadak kambuh sehingga membuat konsentrasinya mengendalikan tombak Kematian memudar.


Duar!!


Bruak!!


Getaran kembali terjadi, lobang pun kembali mendalam akibat tombak Kematian. Namun sosok yang seharusnya tombak itu terjang sudah menghilang pergi. Lemparan Menma meleset sehingga membuat targetnya kabur. Sial! semua karena penyakit nadi dinginnya. Menma mendadak jatuh ke bawah, kendali terhadap tubuhnya sendiri pelahan menghilang. Penyakit nadi dinginnya menerjang lebih kuat dari biasanya.


'Sial, kenapa harus di saat seperti ini?!' umpatnya kesal sembari dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Perlahan tapi pasti tubuhnya mulai mengeluarkan serpihan es yang membungkus kulitnya, dan meluapkan uap dingin di setiap pori-pori kulitnya. Bahkan bibirnya sudah terasa membeku untuk berbicara.


"Menma!!"


Zusami dan yang lain segera berlari ke arah Menma. Zusami yang pertama menggapainya dan langsung memangku kepalanya. Meski sangat berbahaya berada dekat Menma karena mereka juga bisa ikut mati membeku, tapi tidak mungkin mereka membiarkan Menma tergeletak kesakitan di tanah.


"Gawat, penyakitnya meluap hebat. Segera buat kubangan lava, dia harus segera mendapat penghangatan! Jika tidak jantungnya bisa ikut membeku!"


________

__ADS_1


A/N : wkwkwk penyakit kambuh di saat yang tidak tepat


__ADS_2