Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 32


__ADS_3

Tolong jangan lupa beri like ya ^-^


_________________________________


Di antara bangunan sebaya tingginya, ada satu bangunan yang lebih tinggi dari sekitarnya. Penginapan kayu bertingkat 2, luasnya juga lumayan mencangkup 3 atau 4 luasnya rumah biasa jika digabungkan. Di lantai bawah sebagai rumah makan, sedangkan lantai atas sebagai penginapan. Di depan penginapan begitu banyak orang-orang berkerumunan, mereka adalah orang-orang yang menyewa di penginapan itu. Mereka berlari keluar dari penginapan beberapa menit yang lalu karena mengira mendapat serangan mendadak.


Shua Xie semakin mempercepat langkah kakinya saat melihat begitu banyak kerumunan di depan penginapan, di mana ada Xiao Mei di dalamnya. Sambil bertanya apa yang terjadi pada orang-orang di depan penginapan itu. Dan seorang perempuan salah satu pekerja di penginapan itu menjawab bahwa ada serangan mendadak dari lantai atas, tepatnya di kamar ke 9.


"Serangan mendadak? Jangan-jangan ...." Shua Xie bergegas masuk ke dalam menerobos kerumunan orang yang berlari keluar. Semakin cepat langkah kakinya saat ia melihat begitu banyak orang di depan kamarnya yang tak lain pekerja di penginapan.


Shua Xie memegang salah satu punggung mereka lalu menariknya mundur ke belakang, "Ada apa di dalam?" tanya Shua Xie, sorotan matanya tajam bak elang sedang memantau mangsanya.


Belum sempat pria itu menjawab, tiba-tiba letupan angin dingin berhembus kuat dari dalam kamar. Orang-orang di depan pintu kamar itu terpental mundur karena angin itu, hanya Shua Xie saja yang masih berdiri.


Shua Xie menurunkan punggung tangannya yang sebelumnya menutup wajahnya, tampak seorang gadis kecil yang tak lain Xiao Mei sedang berjalan pelan mendekatinya.


"Xiao Mei, kau tidak apa-apa? Aku dengar ada serangan? Siapa yang menyerang?" tanya Shua Xie, sedikit raut wajah khawatir tergambar jelas di wajahnya.


Xiao Mei melihat ke sekitarnya lalu melihat lagi ke arah Shua Xie sambil menggaruk belakang telinganya, "Maaf kak, sebenarnya tidak ada yang menyerang. Mereka salah sangka, mereka kira aku mau menyerang penginapan ini," jawab Xiao Mei sambil tertawa kaku.


Alis Shua Xie naik sebelah, "Maksudnya?"


"Aku memperlajari jurus yang Kak Shua berikan. Ternyata setelah aku memahaminya dan tak sengaja tekanan dari aura spirit-ku merembes keluar mengakibatkan penginapan ini bergetar. Aku, aku juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Aku minta maaf, aku tidak sengaja membekukan beberapa fasilitas penginapan, dan juga membuat para tamu jadi panik. Kekuatanku ternyata begitu besar sampai aku pun sulit mengendalikannya, hanya sedikit saja tak terkendalikan," jelas Xiao Mei lemah, kepalanya menunduk merasa bersalah. Shua Xie melihat ke dalam kamar, semua membeku sama seperti yang dijelaskan Xiao Mei. Itukah kekuatan tubuh Kristal Es?


Shua Xie menatap Xiao Mei takjub, dipegangnya dahinya tanpa disadarinya. Padahal baru beberapa jam saja Shua Xie memberikannya gulungan, tapi Xiao Mei sudah berhasil menguasainya. Bahkan Shua Xie saja belum memberikan arahan padanya, inilah yang dinamakan jenius di antara jenius.


Shua Xie mendekati Xiao Mei lalu menepuk kepalanya, setelah itu tangannya bergerak menutup kepala Xiao Mei dengan penutup kepala jubah milik Xiao Mei, "Tidak apa-apa. Aku akan mengganti kerugiannya, kau sudah melakukan yang terbaik. Aku takjub dengan kepintaranmu dalam memahami gulung pemberianku, hanya lima jam saja kau sudah bisa menguasainya," ujar Shua Xie lembut.


Di sisi lain beberapa orang yang terpental tadi menatap Shua Xie dan Xiao Mei merinding setelah mendengar pembicaraan mereka berdua. Bahkan dari mereka ada yang berhenti bernafas karena takut.


"Woah, apa kalian dengar itu? Gadis kecil itu, dan gadis bermata merah itu. Mereka, benar-benar monster!"


"Apa aku tidak salah dengar tadi?"


"Ternyata, gadis kecil itu mempunyai Guru hebat dan dia seorang gadis muda masih berusia tujuh belas tahun!"


"Monster terlahir. Jurus apa yang dia ajarkan!"


"Lebih baik tidak menyinggung dua Kultivator hebat itu! Ayo kita pergi!"


Shua Xie berbalik setelah mendengar ungkapan orang-orang di belakangannya. Shua Xie menatap mereka satu persatu tanpa ekspresi membuat para para pekerja itu semakin takut.


"Sebagai permintaan maaf Adikku, aku akan mentraktir kalian semua. Kalian boleh memesan apa saja di lantai bawa, aku akan membayarnya. Kami tidak ingin mencari masalah, dan Adikku ini tidak sengaja melukai kalian," ungkap Shua Xie sambil merangkul bahu Xiao Mei. Xiao Mei mengangguk sambil tersenyum manis kepada semua orang di depannya.


Orang-orang itu saling memandang satu sama lain cukup lama, tampak sedikit tidak mengerti maksud dari Shua Xie dan Xiao Mei. Tapi mereka tidak berani bertanya, mereka hanya membalas dengan ucapan terimakasih.


***

__ADS_1


Akibat dari perbuatan yang tidak disengaja Xiao Mei, penginapan lantai 2 hampir membeku sepenuhnya. Shua Xie pun harus mengganti kerugian yang diderita pemilik penginapan, dan sebagai ucapan minta maaf pada pengunjung lainnya, Shua Xie mentraktir semua pengunjung penginapan.


Banyak pengunjung terkejut ketika Shua Xie mengatakan mentraktir mereka semua dalam semalam. Kira-kira berapa banyak uang yang dimiliki Shua Xie? Paling tidak itulah pemikiran sama dari semua pengunjung.


Selang beberapa hari, keadaan mulai membaik. Shua Xie masih melatih Xiao Mei sesuai dengan apa yang Phoe katakan. Kemajuan Xiao Mei semakin pesat seiring waktu berjalan, dan semua itu berkat arahan yang Phoe katakan.


Shua Xie juga memberikan pedang Bulan Es yang dia dapatkan dari seorang Master yang dikenal. Master yang cukup aneh dan tidak berwajah hangat, namun sedikit berbeda setelah mendengar nama Shua Xie. Entah apa yang terjadi pada Master itu setelah mendengar nama Shua Xie, seolah-olah nama Shua Xie itu adalah pantangan baginya.


Hari mendekati pertandingan pun tiba, tidak terasa hari-hari berlalu begitu cepat bagi mereka berdua. Setelah kejadian di penginapan, Shua Xie melakukan pelatihan tertutup untuk Xiao Mei, dengan melatihnya di hutan yang tak jauh dari kota gunanya mencegah kekacauan seperti hari lalu. Shua Xie khawatir itu akan mengundang perhatian kelurga Ye dan malah mempersulit rencana mereka.


Di alun kota, tepatnya di tepat pendaftaran para petarung yang akan mengikuti semacam ujian pemilihan yang akan mewakili kota Brotavia sudah ramai sejak pagi. Acara pertandingan akan dilangsungkan beberapa jam lagi, sudah banyak warga berkumpul di stadion tak sabar menonton acara yang sudah lama ditunggu.


Di tengah-tengah ada 1 arena yang tak lumayan luas, dan arena itulah yang akan digunakan nantinya. Shua Xie berjalan berdampingan dengan Xiao Mei melewati kerumunan peserta Kultivator yang akan mengikuti pertandingan. Ada banyak peserta lainnya yang menatap Shua Xie dan Xiao Mei karena tajam sebab Shua Xie menggunakan topeng berwajah sangar, sedangkan Xiao Mei yang menggunakan topeng berwajah datar. Seolah-olah mereka berdua itu adalah Master yang menutupi diri.


"Apa kalian lihat dua gadis itu? Apakah mereka juga ikut pertandingan?"


"Apa mereka berdua tidak takut kah? Dari tahap pelatihannya mereka jauh di bawah kita, dasar dua orang bodoh!"


"Ah, biarkan saja! Hanya orang bodoh yang akan mengikuti pertandingan ini padahal tahap pelatihan mereka sangat rendah.".


"Hahaha ... aku jadi takut melukai mereka."


"Ssstt! Awas mereka dengar!"


"Lalu kenapa? Hanya sekumpulan sampah! Apa yang harus ditakutkan?"


"Mereka yang sampah! Biar aku beri sedikit pelajaran pada mereka, Kak! Biar mereka tahu kita tidak selemah yang mereka pikirkan!" seru Xiao Mei.


"Jangan pedulikan mereka, mereka hanyalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Kita hanya perlu berjalan sesuai rencana," balas Shua Xie. Kembali dia melangkah mendekati meja pendaftaran sambil menarik tangan Xiao Mei.


Xiao Mei mendengus kesal karena tidak bisa membalas orang-orang yang merendahkannya dan Shua Xie. Rasanya panas kepalanya jika tidak membalas, tapi kalau dia tidak mendengarkan Shua Xie, maka dia tidak akan bisa menolong keluarganya. Begitulah yang dijelaskan Shua Xie sebelumnya padanya, agar tidak bertindak ceroboh.


Pria paruh baya berpakain khas baju orang-orang bawahan keluarga Ye. Pria itu menatap Xiao Mei dan Shua Xie bergantian, sedikit lucu baginya 2 orang gadis di tahap pelatihan Bumi berani mengikuti pertandingan ini, padahal peserta lainnya paling tidak sudah berada di tahap Langit bahkan ada yang berada di tahap Raja Putih.


Semakin kesal lagi Xiao Mei melihat tatapan pengurus di hadapannya, tatapan pengurus itu seperti sedang merendahkan dirinya dan Shua Xie. Shua Xie menekan pergelangan tangan Xiao Mei saat Xiao Mei ingin sekali memukul meja pendaftaran dari bawah. Terdengar ringisan pelan dari Xiao Mei karena tekanan Shua Xie, menunduk Xiao Mei karena merasa malu kali ini. Lagi-lagi Shua Xie mengingatkannya untuk tenang.


"Apakah dua Nona ini mau ikut pertandingan?" tanya pria itu.


Shua Xie menggelengkan kepalanya, "Aku tidak, tapi adikku," balas Shua Xie. Tersedak pria itu mendengar balasan Shua Xie.


"Nona apa kau tidak salah? Dia hanyalah anak kecil, maksudku kau-"


"Namanya Rui, tulis saja. tidak ada peraturan mengatakan anak kecil tidak boleh mengikutinya kan?" Shua Xie menyela ucapan pria itu, tertegun pria itu karena Shua Xie. Tanpa berbicara lagi dia menulis nama Xiao Mei dalam daftar peserta.


Xiao Mei menyeringai sinis melihat pria itu, setelah mendapat gertakan dari Shua Xie dia jadi diam membuat Xiao Mei ingin tertawa keras. Sungguh pemandangan yang lucu! Tiba-tiba ....


Suara dentuman keras menggema, semua orang termasuk Shua Xie sendiri melihat ke arah sumber suara itu. Di atas sebuah lapangan kecil, ada sebuah kubus berukuran besar tapi tidak terlalu besar juga, bisa dikatakan ukurannya sedang. Di depan kubus berwarna putih itu, ada 1 pemuda tengah membanggakan dirinya. Kubus yang baru saja dipukulnya mengeluarkan warna lain, yaitu warna merah.

__ADS_1


Kubus itu adalah alat pengukur kekuatan, gunanya mengukur kekuatan peserta sebelum mengikuti ujian. Ada 5 sesi warna dari kubus itu, warna biru level 1, warna hijau level 2, warna merah level 3, warna hitam level 4 dan warna emas level 5, level paling tinggi. Peserta akan lolos sesi pertama jika bisa memberi warna pada kubus itu, dan setiap warna kubus masih dibedakan dari warna yang berbeda dari pukulan. Peserta akan memukul kubus itu hingga membuat kubus berwarna putih itu berubah warna.


"Itukan Ye Guan Yu? Pemuda paling jenius di kelurga Ye."


"Aku dengar dia juga jenius nomer satu di kota ini."


"Wah hebat sekali, Aku jadi pesimis apa bisa menang atau tidak?"


"Dialah monster dari keluarga Ye, sekarang dia berada di tahap Raja Putih level 9. Benar-benar jenius!"


"Aku yakin dialah yang akan mewakili kota Brotavia berguru di sekte Kilat!"


Bisikan demi bisikan tantang kekuatan Ye Guan Yu semakin riuk. Sebagian dari peserta jadi pesimis setelah melihat kekuatan Ye Guan Yu, sangat jelas perbedaan dari mereka sangat jauh berbeda. Ibarat jangkrik yang ingin memangsa burung.


Ye Guan Yu sendiri, dia tampak semakin sombong. Dengan gaya sombongnya dia turun panggung dan melewati kerumunan peserta, tak lupa mulutnya mendengus pelan, lebih tepatnya merendahkan mereka dengan dengusannya.


'Kubus Diagram, kubus itu memiliki lima warna berbeda. Biru level satu, hijau level dua, merah level tiga, hitam level empat dan emas level lima. Setiap warna memiliki aturan kekuatan yang berbeda-beda, semakin tinggi warnanya maka semakin kuat kekerasannya.' Phoe sedikit menjelaskan tentang kubus berwarna putih itu.


'Menurutmu kalau Xiao Mei memukul kubus itu sekuat tenaganya, warna apa yang akan keluar?' tanya Shua Xie lewat telepati.


'Kubus itu bukanlah kubus pengukur kekuatan sebenarnya. Aku bisa katakan kubus itu adalah anak pecahan dari kubus sebenarnya. Kalau Xiao Mei memukulnya tentu saja akan berwarna emas, dengan kekuatannya sekarang itu sangat mudah baginya. Tapi jika Xiao Mei memukul kubus aslinya, tentu saja tidak akan ada warna yang keluar,' jawab Phoe.


'Begitukah.'


Shua Xie menatap kubus berwarna putih itu, tak lama dia menatapnya beralih lagi dia ke Xiao Mei.


"Xiao Mei, aku mau kau menahan lima puluh persen kekuatanmu. Agar kubus itu berwarna merah sama seperti Ye Guan Yu," ujar Shua Xie pelan.


Xiao Mei menatap Shua Xie terkejut, "Kenapa Kak? Bukannya lebih bagus kalau aku menggunakan semua kekuatanku, agar si Ye Guan Yu itu tahu diri!"


"Jangan terlalu mencolok, nanti para Tetua dari keluarga Ye akan menyingkirkanmu. Kau tahu keluarga Ye sangat tidak suka jenius dari keluarga mereka dikalahkan, lagi pun ini hanya sesi pertama. Bukan babak sebenarnya, ketika di arena nanti, kau boleh menggunakan semua kekuatanmu ...."


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Sampai bertemu di ban berikutnya ....

__ADS_1


__ADS_2