
Shua Xie menatap kereta kuda berwarna putih dan emas yang tak jauh di depannya. Kereta kuda itulah yang akan mengantarnya pergi ke kota Yufeng bersama Xui Sukong dan lainnya. Sebenarnya Shua Xie bisa saja pergi lebih awal dengan terbang menuju kota Yufeng, itu lebih menyingkat waktu dibandingkan naik kereta kuda. Namun Shua Xie masih merasa sedikit lelah, sehingga dia berpikir akan tidur di kerata kuda nantinya sekaligus memulihkan tenaganya.
Shua Xie berbalik ke belakang, melihat Chen Xui, Xui Cuisha dan Xui Miaoyu sedang berpamitan dengan keluarga mereka. Drama keluarga memang paling harmonis dari drama apapun, melihat mereka berpelukan dengan keluarga mereka membuat Shua Xie sedikit iri.
Iri? Ya, dia iri dengan kehidupan orang lain. Mungkin di kehidupan ini dia berperan sebagai pemeran utamanya, namun adakah kebahagian yang dia dapatkan bahkan sekali pun dia pemeran utamanya? Tidak ada. Semuanya hanya ada tantangan, kesulitan dan keterkejutan. Tapi walau pun begitu, Shua Xie tidak terlalu memikirkannya. Sekarang hatinya sudah beku, dia sudah memantapkan perasaannya untuk tidak memperdulikan masalah duniawi terutama perasaanya sendiri.
Benarkah begitu?
Shua Xie menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya, "Apa kalian sudah selesai?" tanya Shua Xie pada 3 pemuda yang sedang sibuk berpamitan dengan keluarga mereka.
Chen Xui beralih menatap Shua Xie, kemudian dia tersenyum. Ternyata Ratu Besar tidak sabaran juga, pikir Chen Xui.
"Kami telah selesai," jawab Chen Xui sambil melirik ke arah Xui Cuisha dan Xui Miaoyu. Ke dua pemuda yang dia lirik langsung menganggukkan kepala pelan membalas tatapan Chen Xui.
"Kalau begitu ayo pergi." Shua Xie langsung berjalan meninggalkan 3 pemuda itu, memasuki kereta kuda yang dipersiapkan khusus untuknya.
Xui Sukong melirik ke arah Sakura lalu tersenyum hangat, "Kami pergi. Jaga dirimu baik-baik, jika ada masalah segera beri kabar." Kemudian Xui Sukong beralih menatap 3 pejabat yang berdiri tidak jauh darinya," Jenderal Wang Xue, Jenderal Xiaotian dan Penasihat Ming Yun, jaga kerajaan Bora dengan baik. Jika ada masalah segera beri kabar," teriak Xui Sukong pada 3 pejabat itu.
Xiaotian, Wang Xue dan Ming Yun segera membungkukkan tubuh mereka bersamaan, "Baik Yang Mulia."
Xui Sukong dan 3 pemuda yang tak lain anak dan keponakannya itu berjalan memasuki kereta kuda berwarna merah putih, kerata itu disediakan untuk mereka berempat. Setelah mereka masuk, kapala Xui Sukong muncul di jendela kerata kuda lalu memaparkan senyumannya pada semua orang.
Letnan Go Fei dialah yang akan menjadi pemandu jalan, sekaligus ketua pengawalan menuju kota Yufeng. Keberangkatan mereka dikawal 20 prajurit tingkat Langit, Shua Xie sendiri yang memilih 20 prajurit itu. Dia lebih berpikir meninggalkan prajurit terbaik di kerajaan Bora, sebab tidak ada yang tahu saat kepergian mereka nanti kerajaan Bora akan diserang. Jika pengawal terbaik ikut bersama dengan mereka, bagaimana dengan nasib kerajaan Bora nantinya jika ada penyerangan?
Di dalam kerata putih emas, Shua Xie segera mengambil posisi baring. Dan mulai tidur, tapi kewaspadaannya tidak akan hilang. Karena jarak antara kota Bora dan kota Yufeng memakan waktu cukup lama tapi tidak sampai sehari, mungkin sore atau malam mereka akan tiba di kota Yufeng.
***
Di rimbunnya pepohonan, sekumpulan bandit berpakaian hitam dan bermasker hitam sedang sibuk memantau sejak pagi tadi. Sosok kerata kuda yang mereka tunggu belum juga tiba, hal itu sempat membuat mereka berpikir, apakah kerata kuda itu tidak akan melewati jalur ini?
Salah satu pria turun dari puncak pohon, lalu dia berjalan menuju pria berbaju hanfu hitam putih yang sedang duduk di kursi kayu. Pria bermata abu-abu, berambut hitam pekat. Wajah pria itu tidak kalah tampan, wanita mana pun pasti akan tertarik menatap wajahnya itu.
Pria berbaju hitam segera memberi hormat dengan satu lutut ditekuk di tanah, "Hormat, ketua. Kereta kuda kerajaan Bora belum juga tiba, mungkinkah kereta kuda mereka tidak akan melewati jalur ini?"
Su Tumo mengangkat tinggi wajahnya, menatap terik matahari yang sudah tinggi. Keningnya sedikit berkerut memikirkan kalimat yang baru saja dikeluarkan bawahannya itu. Mungkinkah kerata kuda itu memang tidak akan lewat jalur yang telah mereka blokir?
Su Tumo kembali menatap ke arah bawahannya itu, "Tunggu beberapa menit lagi. Jika memang tidak ada, kita sebaiknya kembali, menyusun rencana lagi," balas Su Tumo dengan suara dingin.
"Siap, Ketua," jawab pria itu kemudian langsung menghilang dari hadapan Su Tumo.
Su Tumo menatap ke depan dengan pandangan kosong, namun kepalanya sedang memikirkan sesuatu. Genggaman Su Tumo mendadak menguat, memperlihatkan urat-urat tangan dan lehernya yang menonjol keluar.
"Xui Sukong! Wang Xue! Tunggu saja, jika kalian memang tidak lewat jalur ini. Maka kerajaan kalian akan kedatangan sosok Agung!" gumam Su Tumo dengan mata melotot, memperlihat bola mata putih yang kini sudah memerah.
Di tempat lain, para pasukan bandit Su Tumo sedang sibuk memantau situasi, cukup lama mereka menunggu kedatangan sosok yang mereka tunggu, namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan mereka. Para pasukan bandit itu sempat berpikir, sepertinya misi membunuh mereka tidak akan terjadi hari ini.
"Kurasa mereka tidak akan lewat jalur ini," ucap salah satu pasukan bandit.
"Lalu, mereka akan lewat jalur apa? Laut? Itu tidak mungkin, sangat lama jika mereka lewat jalur laut. Sebab kota Bora berada tengah daratan, butuh waktu lama mengitari sungai hingga tembus ke Laut."
"Tapi kenapa mereka belum muncul juga? Apa mereka tidak akan mengikuti pertandingan di kota Yufeng?"
"Hah! Itu mustahil, Raja Xui Sukong sendirilah yang mengusulkan pertandingan dilakukan secara bersamaan antara lima kerajaan. Tidak mungkin dia tidak datang."
"Kau benar juga, tapi kena-"
Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba suara siulan keras berbunyi memberi kode lewat bunyi. Seketika pasukan bandit itu langsung bereaksi, mereka semua segera melompat turun dari tempat persembunyian mereka, dan menghampiri sang Ketua yang sudah siap berdiri di tengah jalan.
Semula wajah Su Tumo datar, namun ketika melihat rombongan kereta kuda bersama dengan beberapa prajurit, dia langsung mengulum senyum lebar. Kereta kuda berwarna putih keemasan dan putih merah, Su Tumo sangat mengenal dua kereta kuda itu. Kereta kuda milik kerajaan Bora.
"Kalian semua bersiap, bunuh siapa saja. Jangan sisahkan seorang pun," ucap Su Tumo dengan suara sedikit keras sambil memasang topeng berwajah burung gagak.
Kereta kuda di depan sana semakin dekat, saat jarak sudah sangat dekat. Kereta kuda itu berhenti. Salah satu pria berbaju jirah keemasan lengkap turun dari kereta kuda. Dia adalah Letnan Go Fei.
"Siapa kalian?! Apa yang kalian inginkan?!" teriak Go Fei sambil menatap tajam sekumpulan pria yang tak jauh di depannya.
Su Tumo tersenyum di balik topengnya, "Siapa kami? Kau tidak perlu tahu, karena kami akan menghabisi kalian semua di sini! Hahaha ....," balasnya dengan gelak tawa besar.
__ADS_1
***
Shua Xie menggeliat tak nyaman, raut wajahnya benar-benar terlihat tidak nyaman. Ternyata tidur di kerata kuda memang bukan pilihan bagus, bukannya membuatnya merasa nyaman justru membuatnya semakin menderita. Tapi walau pun begitu, Shua Xie tetap menutup matanya, rasa kantuknya mengalahkan rasa sakit yang dia rasakan. Cukup lama Shua Xie tertidur, tiba-tiba saja dia mendengar suara bising dari luar, suara tawa keras yang menggangu telinganya.
Alis Shua Xie berkerut, dia sudah sadar dari jarak puluhan kilometer ada beberapa pasukan tengah menunggu kedatangan kerata ini. Shua Xie tidak ambil pusing, atau bahkan memperingati rombongannya. Sebab Shua Xie pikir mereka bukan masalah besar prajuritnya. Namun setelah merasakan ada satu sosok berkekuatan besar di kerumunan kelompok itu, Shua Xie menjadi terganggu.
Shua Xie bangkit dari tidurnya, kemudian menatap ke arah pintu. Dia bisa mendengar jelas suara-suara sedang bersahutan keras, membuat telingannya semakin sakit mendengarnya.
"Apakah aku tidak bisa tenang sehari saja? Aku hanya ingin tidur, kenapa sulit sekali!" pekik Shua Xie kesal sambil menendang keras pintu kereta. Pintu kereta yang dia tendang lepas dari tempatnya dan terlempar jauh.
Banyak sosok terkejut saat pintu kerata terbang dengan sendirinya dari tempatnya. Mereka para prajurit kerajaan Bora tahu, kereta itu ialah kerata kuda yang Shua Xie tumpangi.
Xui Sukong dan lainnya, yang sudah lebih awal keluar kerata kuda, juga cukup terkejut saat pintu kerata terbang lewat di depan mereka. Tapi mereka sudah bisa menebak siapa pelaku yang menendang pintu kereta kuda itu. Sepertinya yang berada di kerata itu merasa terusik kenyamannya.
Dari pintu kereta kuda berwarna putih emas, keluar seorang gadis berbaju hitam minim. Berambut panjang sepinggang dan bermata mencolok, ungu dan merah. Gadis itu turun dengan wajah dingin, namun dalam hatinya dia menggerutu kesal.
"Para ******** kecil! Beraninya kalian mengganggu tidurku!" teriak gadis itu keras.
Pandangan semua orang tertuju pada suara menggerutu kesal, pada seorang gadis yang sedang menguap lebar sambil menutup mulutnya itu. Su Tumo mengejutkan keningnya, dia berpikir Xui Sukong lah yang ada di kereta kuda itu, namun ternyata seorang gadis berwajah cantik dengan mata unik. Su Tumo langsung tertarik akan kecantikan gadis itu.
"Kalian semua sisahkan gadis cantik itu untukku, sisahnya kalian bunuh saja." Su Tumo menatap ke depan, tepatnya ke arah Shua Xie penuh hawa nafsu.
Xui Sukong yang mendengar suara itu langsung memasang wajah marah, tak terima mendengar para bandit itu berpikir macam-macam pada Ratunya. Semua prajurit bersiap, tidak akan memberlakukan para bandit itu mendekati Shua Xie, Xui Sukong dan para pangeran putri.
Namun sebelum itu, Shua Xie mengangkat tangannya, membuat prajuritnya tidak jadi mendekatinya. Mereka paham kode tangan yang Shua Xie berikan ialah jangan mendekat.
"Kalian bukan lawannya. Para bandit itu berada di tahap jauh lebih tinggi dari kalian, jika kalian maju kalian akan mati sia-sia. Biar aku yang urus," ujar Shua Xie pelan dengan nada dingin, sorotan matanya semakin tajam.
"Kalian para bandit kecil! Seenaknya mengatakan bunuh semuanya sisahkan gadis itu untukku? Kalian pikir aku ini barang!? Kuperingatkan, maju ke depan sama ja menuju ke jurang kematian." Shua Xie memasang wajah semakin dingin, jari tangannya itu menunjuk kasar ke arah sekumpulan bandit tak jauh darinya.
Awalnya Su Tumo sedikit terkejut melihat keberanian gadis itu menghentikan para prajurit bahkan Xui Sukong sendiri, dengan melihat keberaniannya itu Su Tumo bisa menebak status gadis itu sangat dipandang tinggi.
'Oh ... jadi gadis itu yang menjadi pemimpin utama kerajaan Bora. Tidak aku sangka lebih cantik dari yang kuduga,' ucap Su Tumo dalam hatinya penuh nafsu.
Su Tumo semakin tertarik dengan gadis di depannya, tidak hanua cantik namun juga berani
"Kalian semua maju serang!" teriak Su Tumo keras. Bersamaan dengan itu, para pasukannya berlari ke depan menyerbu dengan senjata mereka masing-masing.
Sedangkan di sisi lain, para prajurit kerajaan Bora hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Tidak mampu berpikir cara kejam apa yang akan Shua Xie gunakan membunuh mereka. Para bandit itu terlalu bodoh menyerang Ratu Besar mereka. Hal itu membuat mereka hanya menghela nafas pelan, seakan tak tega melihat pembunuhan berantai.
Shua Xie tersenyum kecut sambil memutar bola matanya malas, dia tidak ingin berlama-lama, dan juga tidak ingin mengotori tangannya. Shua Xie mengaktifkan tato aura elemen kayu, lalu melentangkan tangannya ke depan.
"Teknik Kayu - Akar Kematian." Setelah berucap begitu, tiba-tiba muncul akar besar dari dalam tanah dan langsung menyerang ke arah pasukan para bandit itu. Tidak butuh waktu lama, semua pasukan bandit itu terikat akar besar itu.
Teknik itu sudah pernah Shua Xie gunakan pada saat dia berada di kota Kekai. Walau saat itu tubuhnya dikendalikan Phoe, tapi kesadarannyaย masih dia rasakan, dia juga mengingat jelas teknik kayu kematian.
Para bandit itu meronta dalam genggaman akar Cahaya Surga, bahkan mereka berusaha memotong akar itu dengan senjata mereka masing-masing. Namun percuma, tidak ada yang pernah bisa lolos dari genggaman akar Cahaya Surga. Tidak butuh waktu semenit, para pasukan bandit itu langsung mengering hanya menyisakan tulang dan kulit mereka. Semua energi mereka terserap masuk ke dalam lautan spirit Shua Xie. Shua Xie bisa merasakan lautan spiritnya bertambah walau tidak terlalu banyak. Setelah semua mayat itu telah mengering, Shua Xie segara menarik kembali akar itu ke dalam tanah. Bergelatakanlah puluhan mayat para bandit itu di tanah.
Semua orang yang menyaksikan itu membulatkan mata sempurna sambil menganga lebar. Tidak disangka akan melihat cara membunuh secepat ini, bahkan lebih sadis daripada memotong tubuh. Secara pandangan, mereka bisa menebak akar itu menyerap habis energi kehidupan sampai habis.
Letnan Go Fei mengerjap matanya berkali-kali, berharap yang dilihatnya tadi hanya ilusi belaka. Tapi nyatanya, semua itu bukanlah ilusi. Letnan Go Fei beralih menatap Shua Xie ngeri, bagaimana mungkin gadis itu memilki teknik berbahaya seperti itu? Bukankah tidak mudah dia menguasai dunia Bawah?
Xui Sukong menatap sinis melihat pria bertopeng yang tak lain ialah Su Tumo. Hanya tinggal pria bertopeng itu seorang diri, apakah dia bisa menghentikan Shua Xie? Itu mustahil.
Su Tumo melihat begitu cepat pasukannya dibunuh hanya bisa diam pasrah, dia tahu dia tidak akan bisa menolong mereka. Lagi pun sudah nasib mereka mati jika terlalu lemah. Su Tumo menghela nafas pelan, lalu menatap ke arah Shua Xie. Tidak dia sangka gadis itu ternyata lebih kuat dari dugaannya. Tapi bukan berarti Su Tumo kalah hebat darinya.
"Kau, Ketuanya! Maju!" panggil Shua Xie datar sambil menunjuk ke arah Su Tumo. Senyuman tipis menyeringai di wajahnya, memperlihatkan betapa arogannya Shua Xie.
Su Tumo melebarkan senyumannya, rasa ketertarikannya pada Shua Xie semakin dalam. Dia ingin melihat seberapa kuat gadis cantik itu, namun di sisi lain dia juga harus waspada, gadis itu bukanlah gadis biasa. Kemungkinan setara dengannya atau di atas kekuatannya.
Su Tumo menggerakkan tangannya dengan gerakan yang tak dimengerti semua orang, terkecuali Shua Xie. Gerakan tangan Su Tumo semakin cepat tatkala dia maju selangkah ke depan.
Semua orang tampak waspada saat Su Tumo melakukan gerakan aneh yang tak dimengerti mereka. Berbeda dengan Shua Xie, dia sedikit mengerutkan keningnya tapi tidak meningkatkan kewaspadaannya. Gerakan tangan Su Tumo bukanlah gerakan asing lagi di mata Shua Xie, dia tahu jurus yang akan dikeluarkan Su Tumo ialah jurus mantar pemanggil roh Sesat
Roh Sesat ialah roh yang ada di dunia tidak ikhlas akan kematiannya, adapun mati namun penuh kebingunan merasa hidup namun tidak dapat bergaul dengan manusia. Roh Sesat akan merasuki tubuh manusia lalu mengacau alam roh mereka, bagi manusia biasa yang belum membersihkan roh mereka dengan pil pembersih roh akan sangat cepat dikalahkan roh sesat.
Mengonsumsi atau tidak juga tergantung dengan kualitas pilnya, jika pilnya sudah sepenuhnya membersihkan alam roh mereka, maka roh sesat itu yang akan menjadi nutrisi mereka dan mengambil energi kehidupan mereka. Tapi jika tidak maka akan sebaliknya.
__ADS_1
Setelah gerakan aneh Su Tumo berhenti, dia mengigit ibu jarinya hingga terluka lalu meneteskan darahnya itu di tanah. Beberapa tetes terjatuh tak lama muncul cahaya terang dari tanah yang dia pijak, semakin lama tanah itu semakin terang, lalu keluarlah benda dari dalam tanah bersinar itu. Benda berbentuk gelang namun ukurannya lebih besar dari ukuran gelang, ukurannya hampir sebesar lingkaran ban mobil. Lingkaran perak itu berputar-putar di udara, mengeluarkan aura pekat yang membuat siapa saja akan tertekan. Setelah lingkaran perak itu berhenti berputar, muncullah di tengah lubang lingkaran itu sebuah portal. Dari dalam portal keluar puluhan roh Sesat berwarna merah pekat seperti kulit dibalut darah, roh sesat itu mengambang di udara seperti hantu, memiliki mata hitam pekat dan gigi taring yang panjang, tak lupa pula dengan kuku kaki serta tangan yang panjang.
Su Tumo tertawa lantang melihat roh yang dia panggil telah datang, "Hahaha ... mati kalian semua. Tapi khusus untukmu gadis manis, aku tidak akan membunuhmu!" peliknya keras sambil merentangkan tangannya. Karena Su Tumo berpikir akan lebih cepat mengalahkan rombongan Shua Xie, dia tidak ambil pusing lagi.
Tapi Su Tumo memilih lawan yang salah!
Roh sesat langsung melesat secepat mungkin ke arah rombongan Shua Xie saat melihat begitu banyak manusia di depan mereka. Roh sesat begitu haus akan energi kehidupan manusia, jadi tidak salah jika mereka melihat manusia mereka akan menyerang manusia secara langsung.
Shua Xie tersenyum sinis melihat puluhan roh Sesat beterbangan ke arahnya. Bagi Shua Xie yang bisa memakan segala energi kehidupan, roh sesat itu adalah santapan besar baginya. Secara umum energi kehidupan roh sesat memiliki lebih banyak energi kehidupan dari pada energi kehidupan manusia atau pun hewan, karena roh sesat telah memakan banyak energi kehidupan manusia sehingga Jumlah energi kehidupan mereka membanyak.
"Kemarilah, dan jadi santapanku." Shua Xie menggerakan tangan kanannya, dengan gerakan tak dimengerti. Gerakan begitu cepat hanya membutuhkan waktu sepuluh detik saja. Setelah selesai menggerakan tangan kanannya, Shua Xie langsung mengibaskan tangannya di ruang kosong, dan tak lama muncul puluhan rantai berwarna ungu keluar dari telapak tangan Shua Xie. Rantai ungu itu menjalar keluar dengan sangat cepat dan langsung menangkap puluhan roh Sesat itu dalam sekali kejaran.
Rantai ungu atau Rantai Neraka ialah rantai Pengikat Roh, yang mana jika roh sudah terikat tidak akan bisa lepas lagi. Rantai Neraka langsung berasal dari neraka, yang bertugas menarik paksa roh sesat kembali ke alam yang seharusnya, dan bereinkarnasi kembali lagi. Namun siapa sangka gadis itu memiliki rantai Neraka yang mana hanya Iblis King Huan yang memilikinya, selaku Raja Neraka penguasa alam neraka. Karena Shua Xie pewaris selanjutnya kekuatan Raja Iblis King Huan, maka bukan tidak dia juga bisa memanggil rantai Neraka.
Para roh sesat saat mereka terikat rantai Neraka, mereka langsung menjerit keras sambil berusaha melepaskan diri mereka dari rantai Neraka, walau mereka sudah tahu percuma berusaha melepaskan diri dari rantai Neraka, sekali tertangkap tidak akan bisa terlepas.
"Rantai Neraka! Manusia itu punya rantai Neraka! Bagaimana mungkin! Dia bukan Raja Iblis King Huan, bagaimana mungkin bisa memilikinya!"
"Tidak! Aku tidak ingin pergi ke neraka! Aku masih mau di sini!"
Mendengar jeritan dari para roh sesat, Shua Xie melebarkan senyumannya, "Sudah terlambat! Sudah saatnya kalian kembali ke alam kalian!" Shua Xie menarik kembali rantai Neraka bersamaan, dan dalam sekali tarikan saja semua roh sesat itu langsung masuk ke dalam telapak tangan Shua Xie.
Shua Xie bisa merasakan ratusan energi kehidupan masuk ke dalam tubuhnya, tidak Shua Xie sangka puluhan roh Sesat itu miliki banyak energi kehidupan. Berapa banyak manusia telah mereka bunuh? Shua Xie tidak bisa menebak, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Su Tumo yang menyaksikan puluhan roh Sesat panggilannya telah dilalap habis Shua Xie hanya bisa melotot lebar dengan mukut terbuka. Tidak hanya dia, bahkan rombongan Shua Xie juga sama terkejutnya dengan Su Tumo.
Siapa sangka gadis itu memiliki banyak trik yang tidak bisa mereka tebak, bahkan tanpa mengeluarkan keringat gadis itu sudah berhasil mengalahkan puluhan roh Sesat dalam beberapa detik saja.
Su Tumo melihat tak percaya, dia sudah begitu percaya diri bisa mengalahkan gadis itu, tapi sekarang dia harus menarik kepercayaannya itu. Sudah jelas kekuatan gadis itu jauh di atas nalar pikirannya.
"Rantai Neraka, bagaimana mungkin gadis itu memilikinya? Aku tidak pernah mendengar dari Tuan Mo Fan kalau ada gadis memiliki rantai Neraka. Mungkinkah dia keturunan ras Iblis?" Su Tumo langsung menepis pertanyaanya itu, tidak ada waktu bertanya lagi. Sekarang dia harus melarikan diri dulu barulah dia berkelebat dengan pikirannya sendiri. Dia sudah mengeluarkan jurus terkuatnya namun bisa dikalahkan dalam beberapa detik saja. Sudah jelas dia akan kalah jika melawan lagi.
Su Tumo berbalik kemudian berlari secepat mungkin menjauh rombongan Shua Xie. Shua Xie menatap Su Tumo yang mulai menjauh rombongannya hanya bisa tersenyum dingin.
"Kalau sudah datang kenapa harus kembali lagi?" Shua Xie langsung mengejar Su Tumo. Saat Shua Xie menghilang, hembusan angin menerpa wajah semua rombongan Shua Xie yang sedang terbengong. Melihat kecepatan Shua Xie jauh di atas nalar pikiran mereka, mereka hanya bisa terdiam sambil terkagum dalam hati akan kekuatan Shua Xie.
Di sisi lain, Su Tumo beberapa kali melirik ke belakang memastikan tidak ada yang mengerjanya. Dan benar saja, dia tidak melihat adanya tanda-tanda sedang mengejarnya. Su Tumo mengulum senyum lega, berhasil lolos dari gadis mengerikan itu membuatnya merasa lebih baik. Ternyata kecantikan gadis itu memang benar-benar bisa menipu, wajah gadis itu begitu cantik bahkan terlihat hangat, sudah pasti menunjukkan gadis itu tidaklah kasar. Namun siapa sangka ternyata kecantikan gadis itu benar-benar mematikan.
Setelah merasa cukup jauh berlari, Su Tumo segera berhenti kemudian menarik nafas sedalam mungkin. Berlari ratusan kilometer dengan kecepatan penuh benar-benar menguras tenaga, apalagi tenaganya banyak terkuras saat memanggil roh sesat.
"Akhirnya, aku-"
"Sudah selesai berlari?" Tiba-tiba suara lembut memotong ucapan Su Tumo, saat ada suara memotong ucapannya Su Tumo langsung terpenjat kaget dan langsung melirik ke sumber suara. Dia menatap ke dahan pohon, di mana di dahan pohon itu ada seorang pria sedang duduk santai melirik ke arahnya.
Su Tumo membulatkan matanya saat dia melihat ada pria bermata biru terang sedang duduk menatapnya. Pria yang sudah tidak asing lagi di matanya, pria yang mengenalkannya dengan gua Merah tempat dia mendapat kekuatan iblis Mo Fan.
"Tu-tuan-" Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, sebuah pedang langsung melesat memotong lehernya. Su Tumo terkejut bukan main saat merasakan benda dingin memotong lehernya, sebelum kepalanya itu menggelinding ke tanah, Su Tumo menatap ke arah pria bermata biru terang itu dengan tatapan tak percaya. Kenapa pria itu membunuhnya tanpa alasan?
Pria bermata biru terang itu turun dari dahan pohon, berjalan dia mendekati mayat Su Tumo yang sudah tergeletak tak bernyawa sambil menatapnya rendah.
"Dasar tidak berguna. Aku memberikanmu kekuatan tidak secara percuma, tapi kau ... ah, dia datang lebih cepat dari yang kuduga." Pria bermata biru terang itu melihat ke depan, dia merasakan ada sosok datang ke arah dengan sangat cepat. Pria itu melirik ke arah mayat Su Tumo kemudian melirik lagi ke depan.
"Baiklah, tidak baik dia melihatku di sini," ucap Pria itu hangat sambil tersenyum tipis, kemudian menghilang saat sosok seorang gadis telah datang.
Shua Xie menatap ke arah mayat tergeletak di tanah dengan pandangan berkerut, "Dia sudah mati, tapi siapa yang membunuhnya?"
Shua Xie mendekati mayat Su Tumo lalu memegang darahnya. Shua Xie bisa menebak Su Tumo baru saja mati sebelum tidak lama dia datang. Darah mayat itu masih sangat segar. Shua Xie segera melihat ke arah kepala Su Tumo. Dia dapat melihat wajah Su Tumo seperti sedang mengekpresikan raut wajah tak percaya. Dalam artian pria ini telah dibunuh oleh rekannya sendiri.
"Dia dibunuh karena gagal membunuh rombongan kerajaan Bora, atau ...."
***
Pertama-tama saya mau ucapin makasih buat kalian yang mendukung cerita ini ๐๐ udah vote juga, apalagi beri tip โค komenan kalian menjadi penyemangatku ๐ช๐ buat kalian jangan lupa jaga kesehatan, maaf belum bisa menyajikan cerita yang bagus buat kalian :) tapi saya sedang berusaha memperbaiki setiap tulisan walau masih banyak kesalahan. intinya lope-lope buat pembaca PMD โคโค
Jangan lupa like dan vote ya, gak banyak juga gak masalah ๐๐ asalkan ada dukungannya saya seneng. Dan jangan donk jadi pembaca gelap ๐ paling tidak beri like lah kalau gak bisa vote ๐ oke bye bye sampai bertemu di bab berikutnya ๐๐๐
oh ya buat pembaca yang penasaran sama pic Shua Xie saat mengaktifkan sajak Kutukan seperti apa? sebenarnya itu cuman hanyalan saya saja ๐ jadi gak bisa kasih picnya, tapi saya akan cari pic sajak sesuai dengan imajinasi saya, setelah itu saya perlihatkan pada kalian ๐
__ADS_1