Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 184


__ADS_3

"Sial! Tidak berguna!" Lou Zhou mengumpat sembari membanting apa saja yang ada di atas meja kerjanya. Kemudian setelah itu dia langsung meninggalkan ruang kerjanya dengan tergesa-gesa, tentunya menggunakan pintu dimensi.


Mengetahui para prajuritnya tidak dapat menghentikan dua tamu tak diundang itu, perasaan Lou Zhou semakin tidak tenang, pikirannya berkecamuk resah. Yang ia takutkan hanyalah satu, dia akan mati di tangan gadis itu.


Tentu Lou Zhou tidak ingin hal itu terjadi, sebagai penguasa dunia Atas mana mungkin dia rela mati di tangan seorang gadis belia yang bahkan terlihat masih sangat muda. Apa kata para pengikutnya jika mereka tahu akan hal memalukan ini. Terlebih lagi, Raja King Lan tentu tidak akan memaafkan dirinya jika mati di tangan seorang gadis.


Lou Zhou berhasil berpindah tempat, ke sebuah padang rumput hijau yang lokasinya sangat jauh dari kerajaan Langit. Bermil-mil, jauhnya. Setelah tiba di tempat pelariannya, tentunya Lou Zhou bergegas mengirim sinyal bantuan pada Jenderal Bulan yang ada di dunia Tengah. Namun, sial! Sinyal yang dia kirim pada putra angkatnya itu tidak tersampaikan, begitu pun pada para pengikutnya yang lain.


Rasa was-was semakin menghantui Lou Zhou, keringat dingin bercucuran deras membasahi wajahnya, bahkan hingga telapak tangannya. Ia mondar-mandir sambil berpikir bagaimana cara menghindari pertengkaran dengan dua tamu itu.


"Raja King Lan, aku membutuhkan bantuanmu." Lou Yue memberi sinyal pada King Lan, dan sialnya lagi, sinyalnya tidak digubris oleh Raja iblis itu. Seketika itu juga Lou Zhou mengumpat kesal sambil melemparkan separuh kekuatannya pada udara kosong yang mengenai pepohonan hutan.


Duar!


Dalam sekejap waktu saja, rimbunan pepohonan itu terbakar hangus dan hanya menyisakan arang-arang pepohonan serta sisa-sisa api yang masih menyalah. Lou Zhou tentu tak memedulikan hal itu, dia butuh sesuatu untuk melepaskan segala emosinya.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan entah milik siapaberhasil menarik perhatian Lou Zhou, berpaling ia ke kiri dan melihat seorang gadis dan pemuda tampan keluar dari pintu dimensi. Gadis bergaun perak seperti rambutnya itu melekuk senyum indah, tapi bukan senyuman yang mengerikan tanda baik, baik bagi gadis itu, tapi buruk bagi Lou Zhou.


"Jangan pergi lagi, karena percuma," ucap gadis itu, yang tak lain adalah Menma.


"Hei, Pak Tua! Kau membuat kami repot saja! Cukup diam dan biarkan kami merenggut nyawamu, dari pada kau harus kabur seperti ini. Pergi ke mana pun kau tetap akan bisa kami kejar. Aku sudah menandai baumu sejak hari itu." Azura bergumal kesal. Kesal karena Lou Zhou membuatnya harus kerepotan.


"Aku tahu apa maksud kedatangan kalian ke sini." Lou Zhou berbicara santai dan halus, sengaja hanya untuk mengulur waktu, supaya Raja King Lan ada kesempatan membantu dirinya. "Bagaimana jika kita bernegoisasi?"


"Negoisasi? Kau pikir ada hal pantas yang bisa kau negosiasikan pada kami?" Azura menyahut sinis, delik matannya sudah jelas mengartikan ketidak tertarikannya pada tawaran Lou Zhou. Negoisasi? Ck, Azura bukan tipikal orang yang mudah diajak negosiasi dengan seseorang yang tidak ia sukai. Seperti Lou Zhou contohnya.


Lou Zhou meringis pelan mendengar penolakan Azura, tapi bukan pemuda itu yang ia harapkan, Lou Zhou lebih berharap Menma mau mendengarkan perkataannya. Namun, melihat reaksi gadis itu sangat biasa seakan tidak peduli dengan ajakannya, membuat Lou Zhou kehilangan harapan.


Dia pikir seperti itu, tapi berbeda lagi setelah gadis itu berbicara.


"Katakan padaku apa yang ingin kau negoisasikan?" Pertanyaan Menma ini seketika membuat Azura menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Tak mengerti kenapa Menma masih mau mendengarkan ucapan Lou Zhou.


"Menma?!-" Azura ingin bertanya, tapi Menma segera memotong ucapannya.


"Ssttt! Diamlah, aku tahu apa yang aku lakukan."


Sementara Lou Zhou, pria itu sudah melukis senyum bahagia yang amat lebar. Senang mengetahui Menma masih ingin mendengarkan ajakannya, dengan begitu, kesempatannya hidup dalam keadaan sempit ini masih ada.


"Banyak! Jika kau ingin harta dan kedudukan, aku bisa memberikannya! Apapun itu!" balas Lou Zhou cepat penuh semangat, sambil melangkah, bermaksud mendekati Menma dan Azura, tapi terhenti ketika Menma berbicara lagi.

__ADS_1


"Jangan maju, atau negoisasi ini batal," ucap Menma santai. Namun, terdengar seperti alarm bahaya bagi Lou Zhou.


"Ah, baiklah. Maafkan aku." Sesegera mungkin Lou Zhou meminta maaf, takut gadis itu berubah pikiran dan justru ingin mempercepat pembunuhannya.


"Lanjutkan." Menma meminta Lou Zhou untuk melanjutkan ucapannya.


"Aku akan memberikanmu sebagian besar otoritasku, juga kedudukan yang terbaik di kerajaanku. Uang, harta, dan kesenangan bisa aku berikan, apapun itu, asalkan kau tidak meminta nyawaku," ucap Lou Zhou tenang dan tak lupa ditemani senyuman penuh rasa bangga di sana. Tentu tawarannya ini bukan bualan belaka, dia sungguh bisa memberikan sebagian kekuasaannya pada Menma jika memang keadaan mendesaknya. Lebih baik dari pada harus kehilangan nyawa, begitu pikir Lou Zhou sekarang.


Selain itu, Lou Zhou rasa, dengan mengajak negosiasi Menma juga bisa memberinya pengaruh besar, terutama dalam segi kekuatan. Karena mau bagaimana pun kekuatan Menma tak bisa dipungkiri lagi, bahkan Raja King Lan sedikit gentar padanya. Membuat Lou Zhou berpikir, lebih baik dia mengikuti Menma dari pada King Lan yang jelas lebih lemah dari pada Menma.


Tapi masalah lain tentu saja ada, dengan kekuatan Menma yang sekarang, Lou Zhou tak yakin gadis itu mau bekerja sama dengannya. Karena pada intinya, semua orang tahu kekuatanlah yang lebih diutamakan. Kekuasaan dan harta berada di urutan ke dua.


"Dengan bergabungnya kita, kamu juga bisa menguasai dunia lain bersamaku. Bagaimana? Apakah tawaranku kurang menggiurkan?" Lou Yue tersenyum penuh arti.


Siapa yang tidak akan bertekuk jika ditawarkan harta dan kedudukan. Di dunia seperti ini, jika tidak memiliki kekuatan hebat maka harta dan kedudukan lah yang menjadi penentu ke dua. Selain itu, dengan dua materi ini, bukan tidak muda bagi seorang Kultivator bisa memenuhi kebutuhan pelatihannya untuk terus berkembang pesat.


Jika yang ditawarkan adalah orang berhati lemah, yang muda tergiur harta dan kedudukan, sudah pasti ia akan menerimanya. Dan akankah Menma menerima tawaran itu?


"Ppfftt! Hahahaha! Jangan bercanda kamu!" Azura tertawa keras, merasa ada yang lucu dengan ucapan Lou Zhou. Bahkan air mata Azura ingin keluar akibat saking kerasnya ia tertawa, bahkan hingga terpingkal-pingkal. "Harta? Kedudukan? Ppfft ... kerajaanmu bahkan tidak sebanding dengan kekuasannya!" Lanjut Azura sembari menghapus air matanya yang berhasil keluar. Ucapan Lou Zhou benar-benar menggelitik perutnya.


Raut wajah Lou Zhou seketika berubah masam, perkataan Azura benar-benar membuatnya tertohok, tepat di jantungnya. Emang panah itu gak kelihatan, tapi rasa malu dan sakitnya tuh kentara banget!


Ingin rasa Lou Zhou berteriak marah lalu membunuh pemuda itu, jika saja tidak mengingat ada Menma sang malaikat kematiannya, sudah pasti Lou Zhou tidak akan bersikap sesabar ini.


Seketika tawa Azura terhenti, pandangannya yang tajam tertuju pada Menma. Sementara di sisi lain, Lou Zhou mengulum senyum lebar, jika bisa dia ingin tertawa keras membalas ledekan Azura sebelumnya.


"Menma!-" Dan lagi, Menma menahan Azura untuk ikut campur masalahnya. Azura mengepalkan tangannya geram, ingin sekali rasanya dia mencengkeram tangan Menma itu lalu menurunkannya, tapi Azura sadar, jika dia melakukan itu pasti Menma akan marah padanya.


"Tawaranmu cukup membuatku tertarik, terutama tentang mengusai dunia yang kau maksud itu." Menma menopang dagunya, seutas senyum masih mengambang indah di wajahnya. Tatapannya yang penuh hasrat itu masih tertuju pada Lou Zhou. "Tapi kurasa, dibandingkan dengan itu, aku lebih ingin kau menjadi pengikutku, bagaimana?"


"Menma!" Azura tidak lagi dapat menahan kemarahannya, atau mungkin lebih tepatnya kecemburuannya. "Tidakkah cukup ada Tsakuya dan Zusami di sisimu? Dan sekarang kau ingin merekrut pak tua ini?! Aku rasa standaritas priamu cukup rendah!" oceh Azura kesal.


Tapi sayang Menma tidak menggubris ucapannya. Hal itu semakin membuat Azura kesal. Tak bisa berbuat apa-apa lagi, Azura membuang pandangannya sambil menggembungkan ke dua pipinya. Persis seperti anak kecil ketika merajuk.


"Jadi pengikutmu?" Lou Zhou tersenyum ketir. Bagaimana mungkin dia bisa mengiyakan perkataan Menma sementara King Lan adalah seseorang yang memberinya kekuatan. Jika Lou Zhou berkhianat, yang ada dia akan dibunuh oleh King Lan. Dan pada akhirnya semua tetap saja sama, mati di tangan orang yang tak Lou Zhou inginkan.


"Aku memberimu sedikit waktu, lima detik. Lima detik sudah cukup, bukan?"


"A-apa? Lima detik?" Terbelalak Lou Zhou karena perkataan Menma.


"Satu."

__ADS_1


"Tunggu dulu!"


"Dua."


"Biarkan aku-"


"Tiga."


'Sial!' Lou Zhou berdecak kesal dalam hati. Bukan ini yang dia inginkan, didesak untuk sesuatu yang tak dia inginkan. Padahal seharusnya semua berjalan sesuai rencananya, Menma menerima negosiasi itu, lalu dia dan King Lan akan membunuhnya di waktu yang tepat.


Tapi apa sekarang? Sial! Bahkan untuk berpikir saja Lou Zhou tidak memiliki waktu.


"Empat."


"Lim-"


"Aku terima tawaranmu!" Demi apapun, di dalam hati, Lou Zhou sudah berdoa agar dia tidak dibunuh oleh King Lan sebab telah mengkhianati Raja iblis itu. "Tapi, bisakah kau pasti aku tidak akan dibunuh oleh Raja King Lan? Aku khawatir dia akan membunuhku jika tahu aku mengkhianatinya."


"Tentu bisa." Tanpa pikir panjang Menma mengiyakan ucapan Lou Zhou. Bahkan Lou Zhou hampir mengulum senyum lagi jika Menma tidak segera kembali berbicara. "Bukankah kau hanya perlu membunuhnya?" Perkataan Menma yang satu ini sungguh membuat Lou Zhou terkejut. Bahkan Azura pun ikut terkejut mendengarnya.


"Ba-bagaimana mungkin aku bisa membunuhnya sementara darinya lah aku mendapat kekuatan," balas Lou Zhou ketir. Dia sangat ragu akan ucapan Menma tadi.


Membunuh Raja King Lan? Yang benar saja! Yang ada Lou Zhou yang akan terbunuh oleh Raja King Lan. Lou Zhou sendiri tahu seperti apa hebat dan kuatnya Raja King Lan, yang jelas tidak bisa Lou Zhou lampaui.


"Itu mudah, kau hanya perlu membunuhnya tanpa sepengetahuannya. Panggil dia ke sini, dan saat dia tiba, segera hujam jantungnya dengan senjatamu."


_________


**A/N : Eaakk, setelah sekian minggu gak up akhirnya up lagi 😆🙂 ada yg cari gak?


Show singkat!


Author : Pernah aku baca komenan salah satu pembaca setia kita, katanya siapa pemeran utama cerita ini? 🤔


Menma : Pake segala ditanya lagi, ya aku dong!! 😏 (sombong penuh keangkuhan sebagai Ratu Dunia)


Author : 😒 Kok pengen nabok ya?


Shua Xie : Sama 🙂 aku juga pengen nabok seseorang deh.


Menma : Idih! ini siapa main masuk aja, sana keluar lu! (Menma segera mengusir Shua Xie, sementara Author diam aje)

__ADS_1


Shua Xie : Sombong banget! Aku doakan semoga kamu kalah lawan Raja King Lan 😝😒**


__ADS_2