
"Kota Tiankong?"
"Ya, setelah kota ini kita akan sampai di kota Haiyang. Kita akan singgah hanya untuk mengisi perbekalan untuk esok, kemungkinan esok sore kita baru tiba di kota Haiyang," jelas Xingxing lagi. Menma hanya mengangguk pelan mengiyakan segala perkataan Xingxing, lagi pula tidak ada yang bisa dia katakan tentang kota Tiankong.
Kereta kuda terus berjalan, menyisiri kota terbesar ke dua di kekaisaran Hou. Karena kota cukup luas, kemungkinan menyusuri kota ini bisa memakan waktu berjam-jam untuk kendara kereta kuda, apalagi karena padatnya kota Tiankong.
Menma tidak memiliki ketertarikan dengan kota Tiankong, yang dia pikirkan sekarang cepat bertemu dengan Kaisar Wexin lalu menunaikan janjinya pada Xingxing tentang kelumpuhan meredian yang disengaja. Setelah semua selesai dia akan segera kembali ke dunia Tengah mengatasi perang yang mungkin tinggal beberapa hari lagi.
Lama kuda terus berjalan, kereta berhenti di depan sebuah toko sederhana yang sepertinya sebuah toko penjual makanan. Azura turun dari kuda yang dia tunggangi, berjalan masuk ke dalam toko tersebut diikuti dua prajurit lainnya.
"Apa kalian sering membeli di toko ini?" tanya Menma. Pandangannya terus terfokus pada toko yang terbuat dari kayu, di tembok toko itu terpampang jelas dua kalimat sederhana 'Roti Hangat'.
"Tidak juga, hanya pada saat waktu tertentu saja. Kebetulan perbekalan habis, dan hanya toko ini yang bisa kami percaya," jelas Xingxing yang juga ikut menatap toko kue itu.
Menma diam, tidak bertanya lebih. Namun di sela rasa diamnya dia melihat seorang pria berdiri di depan pintu sedang menatap ke arahnya. Tidak, mungkin lebih tepat ke arah Xingxing.
"Ada apa?" Xingxing balik bertanya.
Menma menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya singkat. Sebenarnya ada yang ingin dia katakan, tapi sepertinya tidak di waktu sekarang.
Tidak lama setelah itu Azura keluar bersama dua prajurit dengan menenteng dua keranjang yang mungkin isinya beberapa roti hangat. Dua keranjang roti tersebut di taruh di bagian belakang kereta yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang. Baru setelah itu rombongan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
***
Matahari kembali meninggi, tepat di atas kepala. Memancarkan cahaya dan panas yang lebih menyengat dari biasanya. Rombongan prajurit yang mengawal Xingxing kembali beristirahat atas perintah majikan mereka. Sementara itu Menma memanfaatkan situasi lagi, menjauhi rombongan. Tapi kali ini tidak sendirian melainkan bersama dengan Xingxing. Mereka berdua menuju sungai yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat peristirahatan mereka.
Sesampai di sungai itu, Xingxing mencuci wajahnya dengan riang, seakan baru bertemu dengan air setelah lamanya tak pernah bertemu. Menma hanya memperhatikan apa yang dilakukan Xingxing di pinggir sungai.
"Airnya sangat sejuk. Ingin sekali rasanya aku mandi," ujar Xingxing sambil terus menyibukkan dirinya dengan air sungai.
"Lalu kenapa tidak mandi?" sahut Menma santai. Tengah menyandarkan tubuhnya di bawah pohon sebagai tempat perteduhan.
"Tapi ...."
"Aku akan berjaga untukmu. Tenang saja," sahut Menma lagi. Xingxing melebarkan senyuman manis ketika mendengarnya.
"Baiklah. Aku tidak akan sungkan lagi." Bergegas Xingxing memasuki air sungai lalu berendam tanpa melepas bajunya. Bermain air dengan begitu riangnya, sesekali juga dia melepaskan tawa yang membuat Menma geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Sangat persis seperti bocah 6 tahunan.
Namun senyum Menma perlahan memudar tatkala telinganya itu mendengar suara kegaduhan yang berasal dari arah rombongan. Meski dia tahu sepertinya terjadi sesuatu di sana, dia tetap berusaha untuk tidak peduli. Ditutupnya matanya sembari dia menghayati desiran angin yang membelai wajahnya. Namun belum lama dia terdiam menikmati angin sejuk, suara-suara aneh datang mengganggunya.
Srak!
Bruk!
"Menma!" Zusami tiba-tiba muncul dengan wajah terlihat sedikit panik. Menma membuka matanya, tapi masih bersikap tenang seperti biasa.
"Bawa bocah itu pergi!" seru Zusami lagi. Xingxing yang kebetulan sedang berbalik dapat melihat raut wajah panik Zusami, ia pun bergegas naik ke tepian, ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini?!" tanya Xingxing setelah dekat dengan Zusami dan Menma. Zusami berbalik, menatap suara yang bertanya yang ternyata Xingxing.
"Ada apa?!" tanya Xingxing lagi. Namun Zusami tetap bungkam, sedangkan Menma masih terlihat tenang.
"Apa terjadi sesuatu?! Katakan padaku!" desak Xingxing lagi, tapi tetap saja tidak ada yang menjawab pertanyaan. Kesal tidak mendapat jawaban, Xingxing berniat menuju tempat rombongannya. Tapi langkahnya itu terhenti ketika Menma membuka suara.
"Tunggu di sini saja."
__ADS_1
"Kamu melarangku?! Jelaskan dulu padaku apa yang terjadi!" Namun Menma tidak membalas apapun lagi. Sementara itu Zusami masih bungkam.
"Jika kalian tidak ingin menjelaskan, jangan larang aku pergi." Xingxing menghentakkan kaki kesal. Sangat kesal dengan sikap Menma dan Zusami yang tidak ingin menjawab pertanyaannya. Dia pun berlari menuju arah rombongannya, namun lama dia berlari, datang Azura bersama Tsakuya.
"Azura, apa-"
"Lari, Tuan Putri!" Bukannya menjawab pertanyaan, Azura justru merangkul Xingxing di atas pundaknya. Membawa Xingxing berlari sejauh mungkin. Di samping Azura, ada Tsakuya yang juga ikut berlari.
"Ada apa, Azura?! Kenapa lari!!"
"Tidak ada waktu menjelaskannya, Tuan Putri!!"
"Sebenarnya ada apa?!" Xingxing bertanya pada Tsakuya. Dia tidak bisa diam jika tidak tahu apa yang terjadi. Lari terbirit-birit seperti sedang dikejar kematian, apa yang terjadi di sana? Namun yang ditanya justru bungkam seperti Zusami dan Menma. Sepertinya memang menunggu waktu yang tepat untuk mengetahui apa yang terjadi sehingga membuat Azura dan yang lain ketakutan.
***
"Kau mengetahuinya?"
"Apa?"
"Tentang itu!" Menma mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Zusami. Zusami menjambak rambutnya frustasi, tidak menyangka Menma menyembunyikan rahasia sebesar ini. "Kenapa tidak mengatakan dari awal?" tanyanya sedikit kesal.
"Aku tidak menyangka dia akan secepat ini beraksi," balas Menma santai.
"Bukankah tujuanmu mengikuti bocah itu untuk menjaganya?"
"Benar. Tapi spekulasiku lebih lambat dari pergerakannya," jelas Menma tenang. Sementara Zusami hampir frustasi karenanya.
"Kalian!" Azura muncul bersama Tsakuya dan Xingxing. Seperti yang Menma duga, Xingxing tidak akan pergi lama. Azura berhenti tepat di depan Menma, nafasnya memburu lemah.
"Kenapa? Kamu bertanya kenapa? Segera lari!!" bentak Azura kesal. Ia pun segera berlari masih dengan memikul Xingxing di pundaknya. Tsakuya menyetujui perkataan Azura, dia pun bergegas menarik Menma berlari mengejar Azura. Begitu pun dengan Zusami.
Menma tidak menghentikan mereka, membiarkan Tsakuya membawanya pergi sejauh mungkin bersama yang lain. Meski sebenarnya dia tahu apa yang telah terjadi, tapi dia tidak ingin merancau keadaan. Setelah merasa mereka berlari cukup jauh, barulah Azura berhenti lalu menurunkan Xingxing yang terus berceloteh di sepanjang jalan.
"Kenapa kalian terus berlari?! Sebenarnya apa yang terjadi!!"
"Azura, jelaskan padaku!"
"Cepat!!"
"Tenanglah, Tuan Putri. Kami membawa anda pergi bukan tanpa alasan pasti, semua demi kebaikan anda," balas Azura di sela rasa letihnya. Xingxing semakin berwajah masam mendengar balasan yang terdengar seperti pengalihan. Yang dia ingin adalah jawaban, bukan pengalihan.
"Berikan aku jawabannya!!" desak Xingxing keras.
"Ada sesosok yang sedang mengincarmu. Ah, tidak, mungkin lebih tepat mengincar tubuhmu," sahut Menma tenang. Semua pandangan langsung tertuju padanya, namun pandangan yang paling tajam milik gadis yang dia bicarakan.
"Siapa?! Kenapa dia mengincarku? Apa dia suruhan Kakakku?" tanya Xingxing tegas, antara takut dan marah.
"Bukan. Dia datang atas kemauannya sendiri. Aku pun sempat terkejut mengetahui kedatangannya, jika aku tidak melihatnya di toko kue tadi, kemungkinan hasil akhir akan sedikit berbeda." Xingxing mengenyit tak paham akan penjelasan Menma yang begitu berbelit. Kenapa tidak langsung katakan intinya saja? Pikir Xingxing.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi dari auranya, dia bukan manusia biasa," sahut Zusami. Zusami sendiri sudah melihat sosok itu, seorang pria berusia sekitar 40 tahunan. Memang terlihat biasa, tapi aura pekat pria itu bahkan mampu membuatnya bergidik ngeri. Itulah kenapa Zusami muncul lebih awal sebelum Azura dan Tsakuya. Dia ingin mengingatkan Menma untuk segera pergi.
"Dia berbahaya!" Tsakuya ikut menimpali. "Aku yakin dia menginginkan dirimu." Tsakuya menatap Xingxing lekat. Tentu membuat Xingxing semakin kebingungan.
"Kenapa dia menginginkan diriku?! Siapa sebenarnya dia?! Apakah aku pernah menyinggung dirinya?!"
__ADS_1
"Ini bukan soal singgung menyinggung. Tapi soal kekuatan yang ada di dirimu." Azura bersuara. "Ada alasan lain kenapa Kaisar Wexin memintaku menjemput anda, karena dia tidak ingin anda kenapa-kenapa."
"Tubuh Bulan memang sangat langkah dari tubuh spesial lainnya. Tidak salah jika dia langsung turun tangan mencari dirimu." Menma kembali bersuara sambil mengelus dagunya.
"Sejak tadi kamu terlihat begitu tenang! Aku rasa kamu mengenal pria itu?" sindir Azura tajam, dan justru mendapat balasan senyuman dari Menma.
"Kamu pikir kenapa aku begitu ingin mengikuti rombongan kalian?" Menma tersenyum sinis, alisnya terangkat sebelah memperlihatkan raut wajah licik. Azura dan Xingxing langsung tertegun karena perkataannya. Meski pun perkataan Menma hanyalah sebuah alasan, tapi Azura dan Xingxing merasa ngeri mendengarnya.
"Kamu! Sudah aku duga, kalian memang sekelompok orang jahat!" hardik Azura keras. Bahkan dia sudah menyembunyikan Xingxing di belakang punggungnya.
"Sejak kapan kamu peduli dengan manusia?" Tsakuya membalas, tidak terima atas tuduhan Azura. "Aku pikir para singa tidak menyukai manusia?!"
"Jaga ucapanmu, Tsakuya!" sela Azura tegas sembari dia menatap Tsakuya sengit. "Kami tidak seperti kalian!"
Xingxing menepuk pelan bahu Azura. "Sebenarnya apa yang terjadi, Azura?" bisik Xingxing pelan. Takut dan khawatir dengan situasinya sekarang.
"Mereka orang-orang jahat, Tuan Putri," balas Azura setengah berbisik.
"Kamu salah paham terhadap kami. Kami mengikuti kalian karena kami-"
"Ingin mendapatkan tubuh Bulan?! Begitu bukan?!" Azura menyela ucapan Zusami. Padahal Zusami belum menyelesaikan ucapannya tapi keburu terpotong dengan tuduhan yang tidak jelas. Azura mendengus sinis, dia yakin kalau tebakannya itu benar.
"Kenapa kalian para singa begitu sensitif terhadap kami? Apa kalian pikir kami tertarik dengan tubuh Bulan?" Tsakuya menyahut kesal. Mana mungkin dia mau kalah debat dengan Azura musuh bebuyutannya. Terlebih lagi Azura telah melepaskan tuduhan yang tak masuk akal baginya. Peduli apa Tsakuya dengan masalah manusia jika bukan karena keinginan Menma?
"Kalian pasti ingin memanfaatkannya sebagai penyembuh gadis itu? Bukankah dia memiliki penyakit nadi dingin!" Lagi. Azura menuduh. Kali ini tatapan sengitnya tertuju pada Menma.
"Tubuh Bulan memang sangat berharga. Tapi tubuh Bulan tidak akan berguna untuk penyakit nadi dingin, pikirkan itu bodoh! Kamu kira kamu sedang berbicara dengan siapa?! Aku ini alkimia terhebat di dunia Surgawi!" timpal Tsakuya tak kalah keras.
"Kamu pikir aku percaya dengan ucapan burung pembohong seperti kalian? Heng! Kalian semua sangat licik, suka memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi. Semua penghuni dunia Surgawi pun tahu akan hal itu!"
"Kamu!"
"Cukup! Kalian ini bahas apa sejak tadi? Tubuh Bulan? Memanfaatkan? Penyakit nadi dingin? Apa malsudnya! Aku tidak paham!!" Xingxing yang sudah pusing mendengar ocehan Azura dan Tsakuya akhirnya menjerit kesal. Sejak awal dia tidak memahami apa-apa, dan sekarang terjadi pertengkaran yang semakin membuatnya kebingungan. Tapi, lagi, tidak ada yang ingin menjelaskan kepada gadis itu. Lagi-lagi mereka semua bungkam setiap kali Xingxing bertanya.
Hening.
"Kalian terlalu lama berdebat, sekarang dia datang," sahut Menma Memecahkan keheningan. Tepat setelah itu munculnya pria yang sejak tadi mereka hindari dari balik pohon besar. Mendadak mereka jadi waspada setelah kemunculan pria itu.
Prok!
Prok!
Prok!
"Wah-wah ... perdebatan yang menarik. Tapi aku tidak tertarik dengan perdebatan kalian. Kalian serahkan saja gadis itu dan kalian bisa melanjutkan perdebatan kalian lagi. Aku tidak akan menggangu," ujar pria itu setelah sambil bertepuk tangan. Senyum lebar penuh arti tidak pudar dari wajahnya. Dan tatapannya hanya tertuju kepada Xingxing.
"Akhirnya aku bertemu denganmu." Menma terdiam sejenak. "Lou Zhou?"
"Hem?"
________________
A/N : What?!
unek-unekin semua komenan kalian pada bab ini 😜 yakin deh banyak yg gak paham
__ADS_1