Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 178


__ADS_3


...Jangan lupa tekan like dan beri hadiahnya...


......Happy Reading......


...___________________________________...


"Bagaimana ini? Apa kita akan terus membantu?" Yihua khawatir jika terus melawan pasukan Lou Yue mereka akan ketahuan. Meski mereka menggunakan sepotong kain menutupi wajah mereka, tapi masih belum cukup aman rasanya jika terus ikut bergelut dalam peperangan. Bisa saja ada sebagian prajurit yang mengenal mereka bertiga.


Trang!


"Tentu saja! Ini demi Ibu dan Kakek. Lagi pula Ayah tidak pernah mengatakan kita tidak boleh menggangu perangnya," timpal Jiazhen keras. Dia sibuk melawan para prajurit yang terus mendesaknya.


Duak!


"Jadi?" Minghao berteriak dari sisi lain. Dia pun sama sibuknya melawan pasukan perang dunia Atas.


Bam!


"Apa maksudmu?" Yihua menimpali tak kalah keras.


"Tujuan lain kenapa Ayah menerjunkan kita ke dunia Tengah adalah karena ini. Ayah ingin kita berpihak pada Ibu."


"Hah?! Apa benar!" Terkejut Yihua mendengar opini Jiazhen.


"Tentu saja, kau pikir kenapa Ayah membiarkan kita pergi di saat waktu perang dekat? Jika bukan karena ini apa kau berpikir karena banyaknya pria yang mendekati Ibu? Ck, pertama kali bertemu Ibu, aku sudah tahu, wanita sepertinya tidak akan mudah terjatuh dalam gombalan buaya pria." Jiazhen menjelaskan sambil berteriak keras. Takutnya Yihua tak dapat mendengar suaranya karena ributnya suara pertarungan.


"Buaya?" Yihua tak paham kenapa Jiazhen menyambut gombalan buaya pria. "Apa pria itu buaya?" tanyanya polos. Er, Jiazhen dan Minghao terdiam tak ingin membahas yang seharusnya tak Yihua ketahui.


"Intinya Ibu bukan wanita yang mudah jatuh cinta pada pria hanya karena rayuan semata," jelas Jiazhen lagi. Yihua manggut pelan, mengerti sudah makna ucapan Jiazhen tadi.


"Aku tak mengerti kenapa kau menyebut pria itu buaya? Kenapa tidak sekalian kadal atau biawak? Bukankah dua jenis hewan itu lebih cocok untuk kalian berdua sebagai seorang pria?" Karena perkataan Yihua, Jiazhen dan Minghao hampir terpelanting ke depan. Seolah perkataan Yihua barusan, merupakan pukulan telak untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Lupakan tentang itu, lebih baik fokus mengamankan rakyat dan menahan sebagian pasukan," timpal Minghao mengganti topik pembicaraan yang menurut tak penting. Yihua mengangguk paham, sementara Jiazhen tak merespon karena salah bicaranya pada Yihua.


Emang perempuan gak pernah gak nemu sisi telak pria saat berdebat!


"Bagaimana jika kita berpencar?" Minghao dan Yihua mengangguk setuju. Berpencar memang hal yang baik di situasi sekarang, jika tidak cepat mengungsikan para rakyat, yang ada mereka bisa menjadi korban perang berdarah. "Aku akan pergi ke timur." Lanjut Jiazhen.


"Aku akan pergi ke selatan!" timpal Minghao.


"Kalau begitu aku akan pergi ke barat. Kita ungsikan terlebih dahulu wanita dan anak kecil," sahut Yihua. Minghao dan Jiazhen mengangguk setuju, setelah itu mereka bertiga pun berpencar sesuai arah yang mereka pilih.


***


"Huaa! Mama! Mamaa!"


"Berhentilah menangis atau aku akan memotong lidahmu!" Ancam salah satu prajurit dunia Atas yang sedang menarik seorang bocah perempuan. Namun, alih-alih didengarkan, bocah perempuan itu justru menangis semakin kencang.


"Berisik! Apa kau sudah tidak ingin hidup lagi!" bentak prajurit itu, tapi si bocah masih tetap menangis dan tak memedulikan ancamannya.


Kesal tak didengarkan, dia pun mengangkat pedangnya, berniat mengakhiri tangis bocah itu dengan memenggal kepalanya. Pedang panjangnya berkilau terterpa cahaya matahari ketika dia mengangkatnya.


Trang!


"Sialan! Arg!"


Bocah perempuan itu segera meraih anak kecil dari tangan prajurit itu. Kemudian membawanya berlari sejauh mungkin. Tapi tampaknya kesialan mengikuti mereka, saat dia dan bocah itu berlari, tak sengaja mereka menabrak prajurit musuh yang baru saja keluar dari gang sambil berbawakan pedang. Sepertinya prajurit itu baru saja membunuh seseorang, bisa dilihat dari pedangnya yang berlumuran darah.


"Hehehe ... ada dua bocah ingusan. Mau lari ke mana kalian, hah?!" ujar prajurit itu dengan semirik senyuman jahat di wajahnya.


"Lari! Aku akan menahan pria ini untukmu! Cepat lari sejauh mungkin dari kota!" Bocah perempuan itu mendorong bocah yang baru dia selamatkan. Meminta si bocah itu untuk segera pergi sejauh mungkin. Sementara dia akan menahan prajurit ini untuknya.


Bocah itu mendengarkan perintahnya, berlari terbirit-birit sambil menahan tangis yang tak lama lagi kembali meledak.


"Bodoh! Kau yang akan mati jika tetap di sini. Kau tidak akan mampu menahan diriku."

__ADS_1


Bocah perempuan itu menggigit bibirnya kuat. Dia tahu suatu kebodohan besar mencegat prajurit terlatih dengan tubuh kecilnya, terlebih lagi dia tidak mengetahui ilmu bela diri apapun. Tapi demi menolong bocah tadi, dia rasa tidak ada salahnya mengorbankan nyawanya. "Aku menang tidak akan mampu melawanmu. Tapi aku masih mampu melukaimu!" Setelah berkata demikian dia melempar sekantung bubuk cabe ke wajah prajurit itu. Dan setelahnya, dia berlari secepat mungkin menjauhi prajurit itu. Tapi naas, kesialan menimpa kakinya yang tersandung tiang rumah rubuh akibat pemberontak para prajurit dunia Atas.


"Ckckck! Kau pikir bubuk itu sanggup melukaiku? Heh! Bodoh sekali dirimu, aku ini Kultivator, tidak mungkin bisa terluka hanya karena bubuk seperti itu." Prajurit itu sudah mendekatinya sambil terkekeh merendahkan.


"Kalau begitu matilah kau bocah sialan!" Prajurit itu mengangkat pedangnya sangat tinggi, lalu mengayunkannya secepat mungkin ke arah bocah perempuan itu.


Trang!


Pedang prajurit itu berputar-putar di udara dan kemudian jatuh menancap di tanah. Seseorang bocah laki-laki yang kedatangannya tak sadari langsung menepis pedang prajurit itu dengan pedangnya.


"Segera berdiri." Jiazhen, dia bocah laki-laki yang menepis pedang prajurit itu. Dia meminta bocah perempuan yang masih termenung kaget karena kemunculannya yang tiba-tiba untuk segera berdiri.


Tersadar, dia pun bergegas berdiri. "Terima kasih."


"Tunggu di belakang. Jika tidak ingin melihat darah, tutup matamu," balas Jiazhen datar, sedatar wajahnya yang sangat jarang tersenyum. Dia melangkah ke depan mendekati prajurit tadi. Mengangkat pedangnya sangat tinggi lalu mengayunkannya secepat mungkin.


Srahs!


Prajurit itu tak sempat menghindar apalagi menahan serangan yang diluncurkan Jiazhen. Akhirnya, kepalanya yang menjadi korban tebasan singkat dari pedang milik Jiazhen. Jiazhen mengibas pedangnya sekali putaran hingga darah yang menempel di sana tanggal.


Sring!


Pedangnya kembali disarungkan. Dia pun membalikkan badannya dan sedikit terkejut melihat bocah perempuan yang dia pinta untuk menutup mata kini sedang menatapnya dengan pandangan kaget bercampur kagum. Jiazhen pikir bocah itu terkejut karena melihat darah sehingga dia tak berbicara apapun. Tapi detik berikutnya, tiba-tiba saja bocah perempuan itu menghampiri dan menjabat tangannya.


"Kau hebat! Bisakah kau mengajarkan padaku teknik pedangmu tadi? Sungguh aku tidak pernah melihat ada seseorang seumuranmu sanggup membunuh dalam sekali ayunan pedang," puji gadis itu sambil terus menjabat tangan Jiazhen naik turun. Jiazhen sempat tertegun, tapi detik berikutnya dia kembali tersadar.


"Aku tidak pernah mengajari anak kecil," balas Jiazhen menolak permintaan bocah perempuan.


"Tapi kau juga anak kecil, bahkan aku yakin usia kita hanya bertaut dua atau satu tahun saja!" timpal bocah perempuan yang masih tak mau melepaskan Jiazhen.


Jiazhen menghela nafas pelan. "Kita berbeda, kau manusia biasa dan aku seorang Kultivator. Jadi lupakan keinginanmu itu, dan juga lepaskan tanganku." Jiazhen menghentak tangannya hingga pegangan bocah perempuan itu lepas. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan bocah perempuan itu begitu saja.


__ADS_1


A/N : Visual baru gaes 😂 maksudku ada tambahan fitur, bukan cast pemeran yang baru.


__ADS_2