
Pandangan Shua Xie sedikit menajam, dia telah tahu sesepuh di depannya memiliki kultivasi di atasnya. Meski sesepuh itu tidak mengeluarkan aura jahat, tapi tetap saja aneh seorang Kultivator sehebat sepertinya berada di dunia Bawah. Seperti kata Phoe, seharusnya sesepuh itu berada di dunia yang mendukung basis kultivasinya.
Mencurigakan!
Lama Shua Xie memperhatikan sesepuh itu, tiba-tiba saja mata sesepuh yang Shua Xie perhatikan terbuka lebar mengejutkan Shua Xie dan Jiang Liang. Tidak hanya itu, ketika matanya sudah terbuka sesepuh itu langsung melompat dari pondok kecil yang dia duduki, ke sisi kiri di dekat kolam. Ketika sesepuh itu mendarat angin berputar cukup cepat di dekatnya, membuat Shua Xie dan Jiang Liang mengambil langkah mundur menjauhi debu yang dibawa angin.
Sesepuh bermata biru itu menatap ke arah Shua Xie sangat tajam, membuat senyuman canggung terlukis di wajah gadis cantik itu. Sedikit heran saja, kenapa sesepuh menatapnya begitu tajam, apakah ada yang salah?
"Jiang Liang, tinggalkan kami berdua," ungkap sesepuh yang tak lain Tetua Besar itu dengan nada tegas tanpa menoleh sedikit pun kepada Jiang Liang.
Jiang Liang membuka mulut, ingin menolak perintah sesepuh itu sebab dia takut Shua Xie akan terluka melihat cara tatapan sesepuh terlalu tajam, tampak seperti sedang melihat musuh besar. Tapi meskipun mulutnya sudah terbuka, tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Jiang Liang. Dia juga menjadi ragu, kalau dia membantah takutnya Tetua Besar akan marah padanya. Jadi memang alangkah baiknya dia tidak menganggu apa yang ingin dilakukan Tetua Besar kepada Shua Xie, lagi pun tidak mungkin juga sesepuh melukai apalagi sampai membunuh Shua Xie, kan?
Jiang Liang memberi hormat, "Baik, Tetua Besar." Setelah berkata demikian Jiang Liang langsung pergi tanpa melirik ke arah Shua Xie, takutnya Shua Xie akan mencegatnya.
Benar saja, Shua Xie ingin mencegatnya namun Jiang Liang keburu pergi. Shua Xie terdiam, tidak ingin bergerak sebab tidak ingin memancing kemarahan sesepuh di depannya. Meski dia tahu sesepuh itu tidak memiliki niat jahat sedikit pun, tapi tatapannya teramat tajam bahkan Shua Xie tidak berani melirik sedikit pun ke arahnya. Inilah yang disebut perbandingan kekuatan begitu besar.
Karena tidak ada alasan lagi Shua Xie menolak, dengan terpaksa dia beralih menatap sesepuh itu sembari bibirnya tersenyum kaku begitu lebar, 'Sial, baru pertama kali aku mengeluarkan sikap memalukan seperti ini.' Shua Xie memaki dirinya sendiri dalam hati.
Sesepuh yang tidak lain Tetua Besar itu masih terdiam, cukup lama membuat suasana semakin canggung. Namun beberapa menit kemudian suasana canggung itu hilang ketika sesepuh itu mulai berbicara.
"Anak muda, basis kultivasimu sungguh di luar tebakanku. Ternyata tidak salah Jiang Liang mengatakan kau gadi berbakat." Entah itu pujian atau ancaman, Shua Xie merasakan dua sensasi itu bersamaan. Sesepuh itu memang memujinya namun nada berbicaranya terdengar seperti sedang mengancamnya.
Shua Xie menghela nafas pelan berusaha menetralisirkan kegugupan yang terus melanda tubuhnya. Perasaan gugup ini wajar, sesepuh itu berusaha menekan Shua Xie dengan aura yang dia miliki.
Shua Xie kembali berdiri tegak, sembari wajahnya kembali seperti biasa, begitu datar dan dingin, "Tetua Besar memuji diriku aku sangat merasa senang." Dengan sopan Shua Xie membalas ucapan sesepuh itu, "Tapi tampaknya Tetua Besar tidak sesederhana yang kukira. Berada di tingkat Abadi Perunggu level dua, perlukah aku mengatakan Tetua Besar memiliki niat lain di dunia Bawah?"
Meski Shua Xie sengaja memprovokasinya tapi tampaknya sesepuh itu tidak terpancing sedikit pun oleh provokasi Shua Xie. Sesepuh itu menatap Shua Xie begitu datar, "Kau mengetahui basis kultivasiku, sungguh hebat," puji sesepuh datar, "Tapi seharusnya aku yang bertanya, apa yang diinginkan Kultivator hebat sepertimu di sekte lemah seperti ini?" Perlahan tatapan datar itu berubah menjadi tatapan mencurigai begitu dalam.
Wajar saja Tetua Besar mencurigai Shua Xie, mengetahui basis kultivasi Shua Xie berada tidak jauh di bawahnya seharusnya Shua Xie memang memiliki niat lain memasuki sekte Kunlun. Tidak mungkin bukan Shua Xie benar-benar ingin masuk sekte Kunlun dengan niat belajar menjadi lebih kuat lagi. Jika memang seperti itu, tidak seharusnya juga Shua Xie memilih sekte lemah seperti sekte Kunlun.
Shua Xie menyeringai tipis ingin terlihat tidak tertekan namun kenyataannya dia benar-benar tertekan oleh aura yang dikeluarkan Tetua Besar, "Sepertinya Tetua Besar salah paham, aku masuk ke sini tidak lain tidak bukan seperti murid lainnya, menambah pengalaman dan pelajaran," balas Shua Xie dengan sopan.
Alasan Shua Xie memang benar, dia masuk ke sekte Kunlun tidak lebih selain menghilangkan rasa penasarannya terhadap Daratan Alam Abadi, bukankah itu juga sama halnya menambah pengalamannya? Shua Xie tidak pernah berniat jahat apapun pada sekte Kunlun, lagi pun apa gunanya dia mencari masalah dengan sekte Kunlun lebih baik diajak menjadi rekan dari pada menjadi lawan.
"Alasanmu sangat tidak masuk akal, mencari pengalaman? Pelajaran? Dengan basis kultivasimu sekarang tidak seharusnya kau kekurangan pengalaman di dunia Bawah." Meski Shua Xie telah jujur menjawab pertanyaan Tetua Besar tapi tetap saja Tetua Besar tidak bisa mempercayainya begitu saja, Shua Xie memiliki basis kultivasi tinggi tidak mungkin dia kekurangan pengalaman di Tanah Kultivator bukan?
Ah, jika diingat-ingat lagi basis kultivasi yang Shua Xie dapatkan bahkan tidak melewati pelatihan besar, tidak melewati sepak terjang sebenarnya dunia Kultivator. Apa yang Shua Xie miliki sekarang hanya karena keberuntungan, tidak lebih selain keberuntungan selalu bersamanya.
"Tapi, melihat dirimu, kau memiliki takdir yang begitu rumit." Lanjut Tetua Besar sedikit mengejutkan Shua Xie yang terdiam tidak bisa beralasan lagi di hadapannya, "Terlahir sebagai ...."
"Apa?" tanya Shua Xie penuh rasa penasaran, Tetua Besar baru saja ingin mengatakan tentang takdirnya tapi kenapa di pertengahan jalan berhenti begitu saja membuat Shua Xie begitu penasaran. Phoe juga pernah seperti ini, mengungkit tentang takdir yang dia pikul namun tidak ingin menceritakan takdir seperti apa yang Shua Xie miliki.
__ADS_1
"Takdir adalah rahasia kehidupan," jelas Tetua Besar penuh wibawa besar.
'Menjengkelkan!' pekik Shua Xie dalam hatinya. Dia bertanya lain namun Tetua Besar menjawab lain, benar-benar menjengkelkan bukan. Ya, Shua Xie tahu takdir adalah rahasia lalu kenapa di awal tadi Tetua Besar seakan ingin memberitahukannya namun pada akhirnya tidak memberitahukannya juga, membuat Shua Xie jengkel saja.
Di dalam batin Shua Xie, suara tawa terdengar pecah, tampaknya itu tawa dari Phoe yang ikut mentertawakan sikap Tetua Besar terhadap Shua Xie.
'Hahahaha! Lucu sekali, tidak kusangka akan ada orang berani membuatmu jengkel.' Tidak bisa Phoe tutupi dia benar-benar terhibur melihat akhir perbincangan Shua Xie dan Tetua Besar sangat menghibur dirinya.
'Hentikan tawa menjengkelkanmu, atau kupotong paruhmu itu,' pekik Shua Xie keras, dia sudah jengkel karena Tetua Besar datang pula Phoe menambah kekesalannya.
Dengan cepat Phoe menghentikan tawanya, bukan karena takut tapi sengaja biar Shua Xie semakin kesal. Kapan lagi Phoe bisa melihat Shua Xie sekesal ini, kan.
Kembali ke Tetua Besar, Shua Xie tidak menyangka Tetua Besar memiliki kepribadian seperti itu, tampak sekali Tetua Besar itu sengaja memancing kekesalan Shua Xie. Yah, meski Shua Xie tidak niatan membalas Tetua Besar mengingat sesepuh itu memiliki basis kultivasi di atas kultivasinya, tapi tidak seharusnya juga Tetua Besar melakukan itu.
Shua Xie mengukir senyuman paksa, tampak menahan kekesalan sekaligus menampilkan sikap yang baik di depan seniornya, "Tetua Besar memanggilku ke sini tentu memiliki maksud?" Shua Xie mengganti topik tentunya tidak ingin membuang waktu begitu saja.
"Oh, tidak ada maksud apapun," balas Tetua Besar langsung, membuat alis Shua Xie berkedut cukup kuat, "Tapi kudengar dari Jiang Liang kau ingin menjadi murid dalam dengan cepat, jika kau bisa memberikan alasan cukup masuk akal, mungkin aku bisa mempertimbangkan permintaanmu itu. Dengan basis kultivasimu sekarang sekarang aku bisa saja menjadikanmu murid dalam sekarang juga, tapi aku butuh alasan." Lanjut Tetua Besar lagi dengan tenang.
'Alasan?' Shua Xie mengulang satu kalimat itu. Tetua Besar baru saja memintai alasan padanya kenapa Shua Xie ingin menjadi murid dalam dengan cepat. Sebenarnya alasan Shua Xie cukup sederhana, tapi apakah tidak masalah jika Shua Xie memberikan alasan ini kepada Tetua Besar.
Alasan Shua Xie hanya ingin ikut ke Daratan Alam Abadi, tidak lain tidak lebih hanya itu, lagi pula apa yang diinginkan Shua Xie dengan sekte Kunlun? Tidak ada barang berharga di tempat kecil ini. Jika saja kalau bukan karena rasa penasarannya terhadap Daratan Alam Abadi, tidak mungkin Shua Xie berakhir di sekte Kunlun.
'Beritahukan saja bahwa kau ingin ikut bersama murid dalam ke Daratan Alam Abadi. Bukankah tujuanmu datang ke sini untuk itu?' Phoe membuyarkan lamunan Shua Xie, sedikit membuat gadis cantik itu terkejut.
Shua Xie ragu, alasan ini sangat tidak masuk akal bagi beberapa orang, sebegitu inginnya Shua Xie masuk ke Daratan Alam Abadi sehingga dia memaksa kehendak peraturan sekte Kunlun. Bukankah sikapnya itu akan mengundang kecurigaan?
'Lalu untuk apa kau meminta cepat menjadi murid dalam kalau pada akhirnya kau tidak ingin memberikan alasan, benar-benar tidak masuk akal!' sahut Phoe sedikit kesal dengan sikap Shua Xie yang kurang kompeten.
Yang benar saja, Shua Xie ingin cepat-cepat menjadi murid dalam namun tidak siap dengan pertanyaannya sederhana yang dilontarkan Tetua Besar, sebenarnya apa yang dipikirkan Shua Xie?! pikir Phoe.
Shua Xie tersenyum canggung, di sinilah letak kesalahannya, dia memang berniat menjadi murid dalam dengan waktu cepat hanya saja dia tidak mengira akan secepat ini Tetua Besar menyetujuinya. Shua Xie berpikir paling tidak butuh sehari atau dua hari baru permintaannya itu direspon, tapi nyatanya pemikirannya di luar tebakannya. Shua Xie baru menjadi murid sekte Kunlun hari ini, dan hari ini pula Tetua Besar menyetujuinya menjadi murid dalam, tidakkah ini terlalu cepat baginya? Paling tidak Shua Xie butuh waktu memikirkan alasan kenapa dia ingin menjadi murid dalam dengan cepat.
Phoe mendengus pelan, mendengar alasan Shua Xie membuatnya ingin memaki Shua Xie lebih parah lagi, 'Dasar tidak kompeten, jika sudah mengajukan seharusnya kau punya rencana. Bagaimana bisa kau mengajukan diri tanpa rencana?' Phoe sungguh ingin memaki Shua Xie lebih!
'Siapa yang tahu jika Tetua Besar akan secepat ini merespon permintaanku. Paling tidak seharusnya dia memberimu sedikit misi kecil baru mau menyetujui permintaanku,' balas Shua Xie dengan nada pasrah.
'Bodoh!' sahut Phoe sangat kesal, sehingga hanya kata itu saja yang bisa diutarakan sebagai bentuk rasa kesalnya.
Shua Xie tertawa kecil, sedikit merasa lucu melihat Phoe begitu kesal padanya, 'Hehehe ... Phoe tampaknya kau lebih pemarah dari biasanya.'
Alis Phoe berkedut kuat, Shua Xie baru saja meledeknya di saat waktu yang tidak seharusnya bercanda, 'Kesampingkan masalah ini, lebih baik berikan alasan kepada pria tua itu. Katakan padanya bahwa kau mengincar sesuatu di Daratan Alam Abadi.' Pada akhirnya memang ingin yang Shua Xie harapkan, Phoe memberinya saran.
__ADS_1
Namun saran itu terlalu terbuka menurut Shua Xie. Jika dia mengatakan seperti itu, apakah tidak ada masalah yang dia dapatkan dari Tetua Besar.
'Pria tua itu menjunjung tinggi kejujuran, jika kau jujur padanya dia tidak akan marah,' ungkap Phoe menghancurkan keraguan Shua Xie dalam hatinya.
'Dari mana kau tahu? Mungkinkah kau mengenal Tetua Besar?' sahut Shua Xie sedikit penasaran, Phoe bisa tahu sikap Tetua Besar seharusnya memang benar Phoe mengenal sesepuh itu.
'Bodoh, aku telah berkultivasi membuat separuh kekuatanku kembali pulih. Di antara saudaraku, akulah yang paling peka terhadap emosional manusia, mana mungkin aku mengenal manusia awam seperti dia. Meskipun dia kuat, tapi tetap saja di mataku, dia hanyalah manusia awam,' balas Phoe memberi alasan.
Shua Xie mengangguk pelan beberapa kali, mengerti kenapa Phoe bisa tahu Tetua Besar menjunjung tinggi kejujuran. Ternyata sebagian keahlian Phoe ialah peka terhadap perasaan, terutama perasaan manusia. Pantas saja Phoe bisa tahu sifat Tetua Besar dengan mudah.
Kembali ke Tetua Besar, Shua Xie menatap pria sesepuh bermata biru itu penuh ketenangan sembari perlahan bibir mungilnya mulai terbuka, "Aku sedang mencari sesuatu di Daratan Alam Abadi," ucap Shua Xie sangat tenang.
"Daratan Alam Abadi? Seperti yang kuduga, kau tampaknya ingin menjadi murid dalam dengan cepat karena alasan itu. Secara kebetulan dua hari lagi seluruh sekte di negara Feng akan pergi ke Daratan Alam Abadi." Ternyata apa yang dipikirkan Tetua Besar tidak jauh dari apa yang dijawab Shua Xie, setelah dia melihat Shua Xie dia langsung paham, seorang gadis kuat seperti Shua Xie pasti tertarik dengan Daratan Alam Abadi mengingat dua hari lagi Daratan Alam Abadi akan terbuka.
"Lalu bagaimana? Apakah Tetua Besar, mengizinkanku?" tanya Shua Xie dengan sangat berhati-hati, takut pertanyaan menyinggung sosok hebat itu.
Tetua Besar terdiam sejenak sembari tangan kanannya itu mengelus janggut putihnya, beberapa kali juga dia menatap Shua Xie seperti sedang mencari sesuatu dari Shua Xie. Setelah cukup lama Tetua Besar memikirkan, akhirnya dia memberi jawaban.
"Bisa saja, asalkan dalam satu hari besok kau bisa mengalahkan sepuluh murid dalam yang berada di peringkat dua puluh sampai sepuluh. Jika kau bisa mengalahkan mereka, aku akan mengabulkan permintaanmu." Saran yang diajukan Tetua Besar membuat Shua Xie ingin tertawa kencang.
Yang benar saja? Meminta Shua Xie mengalahkan sepuluh murid dalam yang berperingkat, apakah Tetua Besar tidak sedang merendahkannya. Shua Xie adalah Kultivator hebat memiliki basis kultivasi paling tinggi di seluruh murid sekte Kunlun dan seharusnya Tetua Besar tahu akan hal itu.
"Apakah Tetua Besar tidak sedang bercanda? Yang benar saja, aku melawan sepuluh murid dalam berperingkat. Tidakkah Tetua Besar ingin mempermalukan murid anda sendiri?" balas Shua Xie dengan nada terdengar sangat meledek.
Bahkan Phoe saja terbingung-bingung dengan syarat yang diajukan Tetua Besar. Meminta Shua Xie mengalahkan sepuluh murid dalam, huh, bahkan dua puluh murid dalam berperingkat sekaligus bisa Shua Xie kalahkan.
Tapi rasanya ada yang aneh juga, kenapa Tetua Besar memilih syarat semudah itu. Tidak mungkin bukan dia sengaja mempermudah masuknya Shua Xie menjadi murid dalam, jika benar seperti itu akan membuat para Tetua lainnya menjadi ribut.
'Ada yang aneh,' gumam Phoe pelan penuh kecurigaan.
Bersamaan dengan itu, setelah Shua Xie selesai berbicara, Tetua Besar mengulum senyum tipis di wajahnya, "Nona sepertinya kau terlalu bahagia, aku bahkan belum menyelesaikan semua ucapanku." Perkataan Tetua Besar membuat Shua Xie mengernyit, "Maksudku melawan sepuluh murid dalam berperingkat tanpa menggunakan kekuatan ataupun senjata, selain dengan kekuatan fisik."
"Apa?" Mata Shua Xie terbuka lebar, rasanya puncak kebahagian yang baru saja dua duduki kini hancur membuatnya terperosok begitu cepat ke bawa, "Yang benar saja, ini namanya penindasan," ucap Shua Xie lagi dengan nada tidak terima. Tentu saja dia tidak terima dengan syarat yang diajukan Tetua Besar, syarat itu seakan ingin membunuhnya.
Shua Xie memang kuat, tapi tanpa menggunakan kekuatan spirit atau pun senjata basis kultivasinya itu terasa tidak ada gunanya. Meskipun Shua Xie kuat, tetap saja dia akan kesulitan melawan tanpa kekuatan ataupun senjata sedangkan seseorang yang dia lawan mungkin saja berada di tingkat kultivasi lumayan tinggi. Syarat ini ibarat kata, induk kucing melawan induk harimau.
Tetua Besar mendengus pelan, dia berbalik berniat meninggalkan Shua Xie. Dia tidak ingin mendengar penolakan.
"Jika kau keberatan, aku tidak masalah meski kau tidak mau menjadi murid di sekte Kunlun. Tapi percaya atau tidak, pendaftaran di sekte lain sudah tidak ada lagi yang terbuka, secara kebetulan hanya sekte Kunlun yang masih terbuka sampai besok hari. Sedangkan masuk ke Daratan Alam Abadi hanya diperbolehkan untuk murid-murid perguruan," ucap Tetua Besar begitu tenang, bersamaan dengan itu dia mulai berjalan meninggalkan Shua Xie.
Shua Xie merapatkan rahangnya kuat, benar-benar Tetua Besar selalu ada cara membuatnya kesal, "Siapa bilang aku keberatan. Hanya melawan sepuluh semut kecil, bagiku mereka bukanlah apa-apa, lagi pun kapan lagi aku bisa berada di situasi ini."
__ADS_1
_______________
A/N : Penindasan kah? 😨 Hahaha rasakan Shua Xie 😂😈 makanya jan belagu amat 😎😈 kupadamu Tetua Besar 😆👻