
"Penyihir?" Shua Xie mengulang kalimat itu dengan wajah terlihat bingung, bertingkah lugu ketika mendengar kata 'penyihir'.
Semua menjadi sangat waspada terhadap Shua Xie, tidak termasuk Master Gu sendiri. Bahkan Chi Su sendiri yang merupakan pelayan pribadinya sedikit menjaga jarak sebab terkejut, sedikit tidak menyangka Shua Xie mampu mengangkat pedang hitam itu, tidak hanya itu, Shua Xie juga mengeluarkan aura yang cukup membuat semua orang tidak bisa bernafas bebas.
Master Gu mundur beberapa langkah, dia meminta para pengawalnya untuk segera pergi dan memberitahukan semua pengunjung bawah untuk segera keluar. Melihat Shua Xie mampu mengangkat hitam miliknya, membuat Master Gu sangat waspada terhadapnya.
Setelah berbisik pelan pada para pengawalnya, semua pengawal itu pun segera pergi keluar lewat pintu yang sebelumnya mereka masuki. Kini tinggal Master Gu dan juru bicaranya yang tinggal, untuk memastikan Shua Xie tidak akan melakukan sesuatu hal buruk.
Di sisi lain, pandangan Kun terhadap Shua Xie sangat berubah, tajam dan penuh kewaspadaan. Dia tidak lupa meminta para rombongannya untuk berdiri tidak jauh di belakangnya, demi menjauhi sedikit resiko jika Shua Xie mendadak menyerang.
Melihat sikap semua orang begitu waspada, Shua Xie tertawa kecil dalam hatinya, mentertawai ketakutan mereka terhadapnya, padahal Shua Xie sendiri tidak ada niat untuk bertarung. Dia hanya ingin memperingati Laila untuk tidak meremehkan orang lagi.
Shua Xie memutar pedang di tangannya dengan lihai, kemudian di akhir gerakan Shua Xie kembali menancapkan pedang itu ke lantai.
Shua Xie menopang tangan kanannya di pedang, sambil bergaya seperti sedang meledek ketakutan mereka.
"Tenanglah, aku tidak ada niatan untuk bertarung, kalian tidak perlu sewaspada itu." Shua Xie membuka suara, meyakinkan para tamu maupun Master Gu, dia tidak memiliki sedikit pun niat bertarung. Lagi pun tidak ada untungnya juga Shua Xie bertarung dengan mereka, mereka hanya tampak seperti semut di mata Shua Xie. Tanpa menggunakan kekuatan sajak Kutukan pun dia yakin bisa membunuh semuanya dalam waktu singkat.
Meskipun telah mendengar Shua Xie tidak ada niatan untuk bertarung, namun tidak satu dari mereka berani menurunkan kewaspadaan, tapi berbeda dengan Chi Su. Dia sudah mulai kembali mempercayai Shua Xie, lagi pun dia yakin Shua Xie tidak mungkin membunuhnya.
"Nona, aku tidak tahu mau bicara apa lagi," ujar Chi Su penuh keterkejutan, tidak sanggup berkata seperti apa lagi, dia hanya tidak pernah menyangka kekuatan Shua Xie jauh dari pikirannya.
Pandangan Shua Xie teralihkan, dia menatap Chi Su dengan senyuman penuh makna, "Bukankah sudah kukatakan kita akan melihat sesuatu menarik di sini?" balas Shua Xie singkat. Pernyataannya itu hanya Chi Su yang bisa pahami, karena memang hanya Chi Su yang tahu apa tujuan Shua Xie ke Paviliun Wûkì.
Shua Xie kembali menatap sekitarnya, masih melihat tidak seorang pun selain Chi Su menurunkan kewaspadaan darinya, hal itu membuat Shua Xie tidak bisa memudarkan senyumannya.
Jadi inikah rasanya ditakuti? Pikir Shua Xie.
Melihat ekspresi mereka semua membuat Shua Xie sedikit terhibur, entah kenapa sifat jahilnya muncul saat ini. Semakin ingin membuat para tamu lainnya termasuk Master Gu semakin takut padanya. Tapi dia sadar tidak ada waktu untuk bermain-main.
"Katakan apa tujuan Nona datang ke Paviliun Wûkì, apa kami pernah membuat sosok sepertimu terganggu?" Master Gu melontarkan pertanyaan, mengenai alasan Shua Xie datang ke Paviliun Wûkì membuat keributan. Master Gu yakin, pihaknya tidak pernah menyinggung sosok seperti Shua Xie.
Shua Xie berbalik menatap Master Gu, sekilas Shua Xie mengukir senyum, "Aku pernah menawarkan kerja sama dengan kalian, tapi kalian menolaknya. Untunglah aku tidak menyimpan dendam pada kalian, jika iya akan kupastikan Paviliun Wûkì rata saat ini juga."
__ADS_1
Jawaban Shua Xie membuat pihak mana pun melotot kepadanya, bukan karena tidak percaya Paviliun Wûkì menolak kerja sama padanya, tapi karena pernyataan Shua Xie yang ingin meratakan Paviliun Wûkì.
Apa mereka tidak salah dengar? Shua Xie baru saja mengancam.
Juru bicara Master Gu yang sedari tadi masih menahan amarahnya melihat keangkuhan Shua Xie masih bisa menahannya, tapi untuk yang satu ini dia tidak bisa berdiam lagi meski Master Gu sendiri yang akan menghentikannya.
Dia tidak rela jika Paviliun Wûkì direndahkan!
"Gadis muda, kau pikir kau siapa sanggup membuat Paviliun Wûkì hancur? Bahkan Kaisar kota ini pun tidak bisa bersikap angkuh sepertimu terhadap kami!" sahut Juru bicara Master Gu keras, namanya adalah Jian Lue.
"Siapa aku?" Shua Xie sedikit terkesan mendengar pertanyaan itu. Dia sendiri bertanya pada dirinya, siapa dia?
Shua Xie tidak bisa menjelaskan secara rinci siapa dirinya, tapi yang jelas di wilayah ini dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya anak angkat dari Kaisar Feng Kim, kedudukannya di kerajaan juga cukup dipandang rendah, di wilayah ini dia juga tidak memiliki kekuasaan besar untuk mengguling pihak mana pun. Jadi dia bukanlah siapa-siapa!
Tapi ....
Dengan kekuatannya sekarang, dia bisa saja menjadi tuan di wilayah ini. Atau bahkan di seluruh dunia Tengah, karena Shua Xie cukup yakin dengan kekuatannya.
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi, bahkan jika satu kota Xuilin pun melawanku, kalian bukanlah masalah besar bagiku." Lanjut Shua Xie dingin disertai tatapan tajam ke arah Jian Lue.
Chi Su menutup mulutnya, dia memandang tidak percaya ke arah Shua Xie, "Nona ...."
"Apa Nona sadar dengan apa yang Nona ucapkan tadi? Nona memang kuat tapi tidak sepantasnya Nona berkata seperti itu, mau bagaimana pun karma pasti berlaku," sahut Master Gu sambil menggeleng-geleng kepalanya melihat keangkuhan Shua Xie. Antara menyumpahi atau mengingatkan Shua Xie untuk tidak bersikap angkuh.
Bukannya marah atau geram mendengar ceramah Master Gu, Shua Xie justru mengukir senyum, "Karma memang berlaku, tapi aku tidak akan sombong jika apa yang kumiliki bukan punyaku."
Shua Xie memang sadar, dia sedikit berlebihan dalam bersikap, terlalu memandang dirinya tinggi di hadapan siapapun, walaupun itu mungkin sudah kenyataannya. Hanya saja, Shua Xie sedang memperingati seseorang, sombong pada seseorang bukan hal baik. Apalagi yang disombongkan tidak cukup membuat semua pihak bungkam.
Lagi pun Shua Xie tahu apa yang dia lakukan akan berdampak besar atau tidak. Shua Xie bukan orang bodoh yang bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Bagaimana, apa pedang ini sudah menjadi milikku?" Shua Xie memberikan tatapan sedikit menghina ke arah Jian Lue dan Laila. Masih sangat ingin memprovokasi dua orang itu.
"Nona, kami sangat membutuhkan pedang itu, jika Nona berkenan kami bisa membelinya dengan harga cukup fantasti," sahut suara lain dari sorang pemuda berpirang merah, Kun.
__ADS_1
Sesuai dengan perjanjian awal, siapa yang bisa mengangkat pedang itu akan mejadi miliknya. Dan sekarang Shua Xie adalah pemilik pedang hitam itu, Master Gu sendiri tidak boleh menarik ucapannya kembali. Mau ditaruh di mana mukanya jika dia menarik kembali ucapannya. Yang jelas reputasinya akan rusak jika dia melakukan itu.
Tapi ....
Tampaknya Master Gu masih belum bisa mempercayai pedang itu pada Shua Xie, dengan temperamen dan sifat Shua Xie yang sangat angkuh, Master Gu kurang percaya pedang Pembelah Langit akan aman di tangan Shua Xie.
Kemungkinan Master Gu berpikir, Shua Xie akan menggunakan pedang Pembelah Langit untuk suatu hal buruk atau kesenangan pribadi.
"Aku akan memberikan pedang itu padamu jika kau bisa memenuhi satu syarat dariku," sahut Master Gu membuat semua pandangan tertuju padanya.
Alis kiri Shua Xie naik, dia menatap Master Gu sedikit tidak percaya, padahal Master Gu terkenal tidak akan melupakan apa yang dia ucapkan. Tapi ini kali pertamanya Master Gu seperti menarik kembali kata-katanya.
"Syarat? Apa alasanku harus memenuhi syarat darimu?" Shua Xie bukan tidak mau menerima syarat dari Master Gu, hanya saja dia tidak sungguh-sungguh menginginkan pedang Pembelah Langit, dia masih memiliki dua Katana yang kualitasnya masih jauh di atas pedang Pembelah Langit.
"Jika Nona bisa membuktikan kegunaan pedang Pembelah Langit maka aku bersedia memberi pedang Pembelah Langit." Master Gu tidak menjawab pertanyaan Shua Xie, dia langsung memberitahukan syarat yang dia maksud.
"Master Gu, apa anda benar-benar ingin memberikan pedang itu pada gadis sepertinya? Aku tidak yakin dia akan menggunakannya untuk kebaikan," bisik Jian Lue, sangat tidak bisa percaya Master Gu masih memberikan kesempatan untuk orang angkuh seperti Shua Xie memiliki pedang Pembelah Langit.
Master Gu tidak menjawab pertanyaan Jian Lue, karena baginya menemukan orang seperti Shua Xie sangat sulit di dapatkan. Master Gu seperti menaruh sedikit harapan pada Shua Xie walaupun masih kurang percaya.
"Bagaimana, apa Nona setuju?" tanya Master Gu tanpa menjawab pertanyaan Jian Lue.
Tampak Shua Xie mengukir senyum, sebuah senyuman penuh kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Kenapa tidak?" balas Shua Xie sambil menaikkan sebelah alisnya singkat. Tapi Shua Xie juga memiliki satu persyaratan untuk Master Gu, "Tapi, aku juga ingin Master Gu menerima satu syarat dariku." Lanjut Shua Xie disertai senyuman tipis.
"Syarat? Syarat apa?" Master Gu tidak menolak syarat dari Shua Xie secara langsung.
"Jadilah pengikutku jika aku bisa menggunakan pedang Pembelah Langit dengan baik."
_________________
Dukungannya Author tunggu ^-^
__ADS_1
like dan hadiah ya 👑😄